Gambang adalah alat musik gamelan terbuat dari bilah-bilah kayu maupun bambu,[1] biasanya terdiri dari 17 hingga 21 bilah yang dimainkan dengan alat pukul.[2][3] Gambang dapat menjangkau dua oktaf nada atau bahkan lebih. Gambang digunakan untuk memperindah gendhing serta digunakan sebagai pembuka suatu penampilan tertentu.[4] Gambang digunakan dalam komposisi berirama lembut (gendhing lirihan dan lagon), dan dimainkan bersama dengan rebab[5], gendèr, celempung/siter, suling, dan bernyanyi (gerong dan sinden).
Gambang merupakan alat musik pukul yang termasuk dalam kelompok idiofon, terdiri atas bilah-bilah kayu yang disusun di atas kotak resonansi dan dimainkan menggunakan dua tabuh.[7] Dalam satu perangkat gamelan Jawa, gambang biasanya memiliki sekitar 18 hingga 21 bilah dengan wilayah nada yang relatif luas dibandingkan instrumen balungan lainnya.[8]
Selain dalam gamelan Jawa, gambang juga menjadi instrumen utama dalam ansambel gambang kromong di Betawi yang memadukan unsur musik Tionghoa dan Nusantara.[9]
Sejumlah alat musik Nusantara yang berkerabat dengan gambang, misalnya calung dari masyarakat Sunda dan Banyumas,[10] jatung utang dari masyarakat Dayak,[11] atau kolintang dari Minahasa.[12][13] Alat musik ini terkadang disetarakan dalam keluarga xilofon oleh pakar etnomusikologi ataupun karawitan, misalnya oleh Sumarsam.
Gambang merupakan bilah-bilah kayu yang dipasang pada kotak resonansi yang disebut rancakan.[15] Bilah-bilah tersebut dipaku pada rancakan agar bilah tersebut tidak bergeser. Gambang dipukul menggunakan tabuh dengan gagang panjang.
Arkeologi dan ikonografi mengenai gambang tampak dalam relief batu pada stupa Buddha di Borobudur.[16]