BagindaSultan Hassanal Bolkiah Baginda Pangeran Mohammed Bolkiah Baginda Pangeran Sufri Bolkiah BagindaPangeran Jefri Bolkiah Baginda Putri Masnah Baginda Putri Norain Baginda Putri Umi Kalthum Al Islam Baginda Putri Amal Rakiah Baginda Putri Amal Nasibah Baginda Putri Amal Jefriah
Tahun 1953, mulai bersidang membahas Perlembagaan Bertulis bagi Negeri Brunei, mulai mendirikan Sekolah Inggris di lingkungan Kerajaan, mulai mendirikan Masjid Besar di Bandar Brunei yang selesai pada tahun 1958, yang dinamakan Masjid Omar Ali Saifuddien. Tahun 1954, mendatangkan dua orang pakar Pengajian Islam ke Brunei. Tahun 1955, membuat Rancangan Kemajuan Negara Lima Tahun Pertama. Tahun 1957, Radio Brunei mulai mengudara. Tahun 1959, menandatangani Perlembagaan Bertulis bagi Negeri Brunei, Syarikat Minyak Shell Brunei Sendirian Berhad memulai pertambangan minyak di lepas pantai. Tahun 1961, membentuk Askar Melayu Brunei, cadangan bagian dari Persekutuan Malaysia. Tahun 1962, menunaikan Ibadah haji kali kedua. Tahun 1962, terjadi pemberontakan di Brunei. Tahun 1967, Brunei mengeluarkan mata uangnya sendiri. lebih 33 kali berangkat ke luar negeri antara Tahun 1951-1967. Tahun 1967, mengundurkan diri dari Takhta Kerajaan, bergelar Paduka Seri Begawan Sultan Haji Omar 'Ali Saifuddien Sa'adul Khairi Waddien. Tahun 1984, menjadi Menteri Pertahanan Negara Brunei Darussalam yang pertama. Wafat 1986. Terkenal dengan nama Arsitek Brunei Modern.[2]
Sultan Brunei
Kebijakan luar negeri
Sengketa Limbang
Setelah penobatan sebagai Sultan Brunei, Omar Ali Saifuddien III menetapkan sikap sama seperti pendahulunya bahwa wilayah Limbang dan Labuan dikembalikan kepada Brunei. Walaupun Sabah dan Sarawak telah lama berpisah dengan Brunei, sang Sultan berharap bahwa kedua wilayah bisa bersatu kembali dengan Brunei Darussalam untuk menciptakan kembali negara bekas Borneo Britania Raya.[3] Pemerintah Brunei terus menuntut pengembalian distrik tersebut dari pemerintah Malaysia hingga tahun 1950. Sengketa Limbang muncul kembali pada tahun 1973 setelah Zaini Ahmad dari PRB melarikan diri bersama tujuh tahanan lainnya melalui Limbang. Zaini diberikan suaka politik di Malaysia dan juga diizinkan untuk membuka kantor PRB. Sebagai tanggapan, pemerintah Brunei menghidupkan kembali klaim mereka terhadap Limbang.[4][5]
Kehidupan setelah Sultan
Bahkan setelah turun taktha pada 1967, Omar Ali Saifuddien III masih aktif terlibat masalah-masalah yang berkaitan dengan kehidupan rakyat, membantu dan menasehati Sultan Hassanal Bolkiah baik sebagai seorang politikus maupun sebagai seorang ayah.[4]
Pada tengah malam 31 Desember 1983 di acara umum yang diselenggarakan di Taman Haji Sir Muda Omar 'Ali Saifuddien, Sultan Hassanal Bolkiah secara resmi memproklamasikan kemerdekaan Brunei, menyatakan bahwa Brunei telah merdeka setelah 97 tahun dilindungi oleh Inggris. Setelah membacakan deklarasi tersebut, Omar Ali Saifuddien memimpin massa rakyat meneriak takbir tiga kali. Takbir kemudian diikuti dengan penyanyian lagu kebangsaan, penembakan kehormatan dengan meriam oleh Angkatan Darat Kerajaan Brunei, dan pembacaan doa oleh Mufti Negara Brunei kepada Tuhan untuk memberkahi negara yang baru merdeka tersebut.[6]
Pada 7 September 1986 jam 8.45 malam, Omar Ali Saifuddien wafat di Istana Darussalam pada usia 71 tahun.[11][12] Dilaporkan bahwa dia telah sakit selama berminggu-minggu sebelum kematiannya.[12][13] Brunei memulai 40 hari berkabung setelah kematian tersebut.[11] Berita kematiannya dirilis pada pukul 12.25 dini hari tanggal 8 September 1986. Pengumuman awal kematian seorang bangsawan sampai kepada rakyat Brunei melalui gangguan pada acara-acara televisi dan radio yang dijadwalkan secara rutin, termasuk pembacaan Al-Quran.[11] Pada hari yang sama adalah pemakaman kenegaraan,[14] di mana jasadnya diletakkan di Istana Nurul Iman selama 8 jam.[11]
Sultan Hassanal Bolkiah beserta saudara-saudaranya membawa peti mati ayahnya yang ditutupi beludru hijau dengan tulisan Al-Quran, ke tempat peristirahatannya. Doa dan penghormatan yang tulus disampaikan sepanjang hari saat ratusan warga Brunei dan pejabat internasional, termasuk Presiden Wee Kim Wee dan Brigadir JenderalLee Hsien Loong, memberikan penghormatan terakhir.[11] Sementara para pemimpin agama berdoa tanpa henti, empat penjaga dari Kepolisian dan Angkatan Bersenjata Kerajaan Brunei menjaga peti jenazahnya. Peti jenazah diletakkan di bawah lampu kristal di atas alas yang dibalut kain emas dan dihiasi kaligrafi Al-Quran.[15]
Peti jenazah dibawa keluar istana dengan Presiden Wee, Sultan Ahmad Shah dari Pahang, Brigadir Jenderal Lee Hsien Loong, Perdana Menteri Mahathir Mohamad, dan putra sulungnya Mukhriz Mahathir diposisikan dibelakang.[15] Peti jenazah diangkut dengan kereta yang ditarik tangan ke makam, di mana penghormatan senjata dilepaskan, sementara ratusan orang berbaris di jalan-jalan di tengah hujan lebat,[14][15] dan prosesi pemakaman yang dipimpin Hassanal Bolkiah yang sepanjang 2 kilometer dari Bandar Seri Begawan menuju Mausoleum Diraja lebih lanjut mengklarifikasi dengan anggota Angkatan Bersenjata Kerajaan Brunei dan pembawa tanda kebesaran kerajaan. Pembawa keranda yang ditunjuk adalah Pangeran Mohamed Bolkiah dan Pangeran Jefri Bolkiah.[11]
Di makam tersebut, Hassanal Bolkiah dan saudara-saudaranya meletakkan jenazah ayah mereka di dalam liang lahat,[11] bersama istri, ayah, kakek, dan kakak tuanya.[16] Kadi Negara Abdul Hamid Bakal memimpin upacara pemakaman dengan ayat Al-Quran dibacakan. Presiden Wee, Sultan Pahang, dan Tunku Ibrahim Ismail ikut bersama pelayat, dengan Lee Hsien Loong duduk dibelakang mereka.[11] Setelah upacara selama 90 menit, Sultan memimpin upacara pemercikan air suci ke makam. Malam itu, upacara doa diadakan di istana, dengan doa malam terus berlanjut selama masa berkabung 40 hari.[11] Tokoh dan negarawan asing yang berkunjung ke Brunei untuk memberikan penghormatan, doa, dan penghormatan terakhir kepada mendiang Omar Ali Saifuddien adalah:[15][17]
Ditambah dengan ucapan belasungkawa, beberapa pemimpin dunia memberikan pandangan mereka mengenai mendiang Sultan. Perdana Menteri Britania RayaMargaret Thatcher menyatakan bahwa sang sultan memegang "sebuah posisi unik di sejarah Brunei di hati semua yang mengenalnya di Britania". Presiden IndonesiaSoeharto, Presiden FilipinaCorazon Aquino, dan Presiden PakistanMuhammad Zia-ul-Haq semuanya menyatakan terkejut atas kepergiannya, dan menggambarkannya sebagai kehilangan yang tidak dapat diperbaiki bagi Brunei. Selain kontribusinya yang luar biasa kepada rakyatnya, Presiden BangladeshHussain Muhammad Ershad menyampaikan penghargaan yang mendalam kepadanya atas visi, pandangan ke depan, dan kepemimpinannya yang bijaksana.[18] Sejumlah kepala negara asing juga turut memberikan kutipan, yang paling menonjol adalah:[18][19]
Mendiang Sultan Omar Ali Saifuddien adalah teman spesial buat Britania Raya. Kematiannya sangat dirasakan di Britania Raya.
—Ratu Elizabeth II, Borneo Bulletin, 13 September 1986
Hubungan pribadi tersebut adalah hasil sejarah. Hubungan itu sangat pribadi. Ini dimulai dari mendiang Sultan, Seri Begawan saat itu, mengundang saya dan saya dapat mengenalinya, dan hubungan tersebut melanjut dan kita berdua sedang bernegosiasi bergabung dengan Malaysia. Kami masuk (Malaysia) pada '63 dan Brunei tidak. Pada Agustus 1965, kami dikeluarkan dan saya merasa Seri Begawan cukup berbaik hati untuk tidak menyebut kepada saya bahwa 'Sudah saya bilang!' Ada pemahaman tertentu tentang kepentingan bersama dan sikap bersama. Ia tidak pernah berkata kepada saya, 'Saya benar'. Saya menyimpulkan bahwa ia memang benar. Tapi itulah bagaimana kami belajar.
—Lee Kuan Yew, The Straits Times, 9 September 1986
Walaupun masa berkabung resmi selama 40 hari sudah berakhir, demikian, sebagai putra dari ayah tercinta, saya masih menderita perasaan kesedihan, dan saya akan selalu menderitakan itu, artinya, tidakada batas waktu. Ini karena meninggalnya Al-Marhum menandakan sebuah kehilangan hebat, yang tidak bisa digantikan dan telah membawa kesedihan luar biasa kepada saya dan keluarga. Terlebih lagi karena Al-Marhum bukan sekadar sosok ayah yang mencurahkan kasih sayang penuh kelembutan kepada anak-anaknya, Al-Marhum juga merupakan sosok mentor yang tiada henti-hentinya memberi tuntunan, menunjukkan jalan dan memberi nasihat kepada saya hingga akhir hayatnya.
—Sultan Hassanal Bolkiah Mu’izzaddien Waddaulah, 20 October 1986