Ini adalah nama Melayu; nama "Abdul Jalilul Akbar" merupakan patronimik, bukan nama keluarga, dan tokoh ini dipanggil menggunakan nama depannya, "Abdul Jalilul Jabbar". Kata bin (b.) atau binti (bt.), jika digunakan, berarti "putra dari" atau "putri dari".
Abdul Jalilul Jabbar عبد الجليل الجبارcode: ms is deprecated
Abdul Jalilul Jabbar ibni Abdul Jalilul Akbar (Jawi: عبد الجليل الجبار ابن عبد الجليل الأكبر; meninggal 1660) adalah sultan Brunei dari tahun 1659 hingga 1660.[1] Ia terkenal karena keadilannya, keharmonisan, dan perdamaian sebelum pecahnya Perang Saudara Brunei pada akhir abad ke-17, yang menyebabkan wilayah Brunei terpecah-belah di banyak tempat.[2]
Memerintah
Suksesi
Sebelum naik takhta, ia dikenal sebagai Raja Tengah Aliuddin. Setelah Sultan Abdul Jalilul Akbar meninggal, terjadi perang saudara dan perebutan suksesi antara Raja Besar Pangiran Abdul (Abdullah), putra tertua, yang mungkin memerintah sebentar tetapi tidak diakui dalam Sisilah, dan Raja Tengah Aliuddin, putra kedua. Raja Tengah Aliuddin menggulingkan Raja Tengah dan mengambil alih gelar Sultan Abdul Jalilul Jabbar. Meskipun Sisilah tidak membuktikan tanggal untuk peristiwa-peristiwa ini, sejarah Sulu pada periode ini membuktikannya.[3]
Sultan Muwallil Wasit I setuju untuk menghadiri perundingan dengan Sebastián Hurtado de Corcuera, Panglima TertinggiSpanyol, di Zamboanga pada tahun 1637, sebelum pertempuran yang menentukan antara Spanyol dan Sulu. Ini menunjukkan bahwa Sultan Muwalil Wasit mendukung keponakan seniornya, Raja Besar, dengan ikut campur dalam perang saudara di Brunei. Dia kemudian memerintahkan pembunuhan Raja Besar Pangiran Abdul yang berhasil dilakukan di Madang-Madang, Labuan. Sultan Abdul Jalilul Jabbar menyarankan bahwa Sulu milik Sultan Muwalil Wasit tidak layak diserang. Namun, Sultan Sulu tidak mungkin menyukai Sultan yang baru, yang mengancam akan menyerangnya sementara Spanyol mengganggunya.[3]
Perjanjian
Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Syariah Sultan Hasan dibiarkan utuh oleh ayahnya dalam surat wasiatnya.[4][5]
Kematian
Sultan Abdul Jalilul Jabbar hanya memerintah selama satu tahun dari tahun 1659 hingga 1660, sebelum meninggal dunia dan digantikan oleh pamannya Muhammad Ali, meskipun memiliki dua keturunan.[6][7]
Kehidupan pribadi
Sultan Abdul Jalilul Jabbar memiliki dua orang anak yaitu: