ENSIKLOPEDIA
Novelis
Artikel ini membutuhkan rujukan tambahan agar kualitasnya dapat dipastikan. Mohon bantu kami mengembangkan artikel ini dengan cara menambahkan rujukan ke sumber tepercaya. Pernyataan tak bersumber bisa saja dipertentangkan dan dihapus. Cari sumber: "Novelis" – berita · surat kabar · buku · cendekiawan · JSTOR (Juni 2025) |
Novelis adalah pengarang atau penulis novel; novelis juga dapat menulis dalam genre lain, baik fiksi maupun nonfiksi. Sebagian novelis adalah novelis profesional, sehingga mencari nafkah dengan menulis novel dan karya fiksi lainnya, sementara yang lain bercita-cita menopang hidup dengan cara ini atau menulis sebagai kegiatan sampingan. Sebagian besar novelis berjuang agar novel debut mereka diterbitkan, tetapi setelah berhasil diterbitkan mereka sering terus berkarya, meskipun sangat sedikit yang menjadi selebritas sastra sehingga memperoleh prestise atau penghasilan besar dari karya mereka.

Deskripsi
Novelis berasal dari beragam latar belakang dan kelas sosial, dan hal ini sering membentuk isi karya mereka. Penerimaan publik terhadap karya seorang novelis, kritik sastra yang mengulasnya, serta penggabungan pengalaman pribadi penulis ke dalam karya dan tokoh dapat menyebabkan kehidupan pribadi dan identitas pengarang dikaitkan dengan isi fiksi dalam novel. Karena alasan ini, lingkungan tempat seorang novelis berkarya dan penerimaan terhadap novel mereka, baik oleh publik maupun penerbit, dapat dipengaruhi oleh demografi atau identitas mereka. Demikian pula, sebagian novelis memiliki identitas kreatif yang berasal dari fokus mereka pada genre fiksi tertentu, seperti novel kejahatan, romansa, atau sejarah.
Meskipun banyak novelis menulis fiksi untuk memenuhi keinginan pribadi, para novelis dan pengamat sering mengaitkan tanggung jawab sosial atau peran tertentu kepada penulis novel. Banyak pengarang menggunakan tuntutan moral semacam itu untuk membenarkan berbagai pendekatan dalam penulisan novel, termasuk aktivisme atau berbagai cara dalam merepresentasikan realitas secara "jujur".
Etimologi
Novelis (diserap dari kata bahasa Inggris novelistcode: en is deprecated ) adalah istilah turunan dari kata "novel" yang menggambarkan "penulis novel". Oxford English Dictionary mengakui definisi lain dari novelistcode: en is deprecated , yang pertama kali muncul pada abad ke-16 dan ke-17 untuk merujuk pada "Seorang inovator (dalam pemikiran atau keyakinan); seseorang yang memperkenalkan sesuatu yang baru atau menyukai kebaruan" atau "Orang yang tidak berpengalaman; seorang pemula".[1] Namun, OED menyatakan bahwa makna utama kontemporer, yaitu "penulis novel", pertama kali muncul dalam buku East-India Colation (1633) karya C. Farewell dengan mengutip bagian: "Merupakan sebuah pengamatan yang menyenangkan (dari kejauhan) untuk mencatat urutan kereta kuda dan kereta angkut mereka.. Seakan-akan (jika disuguhkan kepada seorang novelis) itu adalah rampasan kemenangan yang menawan, atau persiapan menuju sebuah eksekusi yang menyedihkan".[1] Menurut Google Ngrams, istilah novelistcode: en is deprecated pertama kali muncul dalam pangkalan data Google Books pada tahun 1521.[2]
Proses, publikasi, dan profesi

Perbedaan antara novelis profesional dan amatir sering kali terletak pada kemampuan penulis untuk menerbitkan karya. Banyak orang menulis novel sebagai hobi, tetapi kesulitan menyelesaikan karya fiksi berkualitas dalam skala besar sering menghambat penyelesaian novel. Setelah penulis menyelesaikan sebuah novel, mereka biasanya akan berusaha menerbitkannya. Industri penerbitan menuntut novel memiliki pasar yang mudah dijangkau dan menguntungkan, sehingga banyak novelis memilih menerbitkan sendiri untuk menghindari kendali editorial penerbit. Penerbitan mandiri telah lama menjadi pilihan bagi penulis, dengan penerbit swasembada mencetak buku berjilid melalui biaya yang dibayar oleh penulis. Dalam sistem ini, tidak seperti industri penerbitan tradisional, kegiatan yang biasanya menjadi tugas penerbit, seperti distribusi dan promosi buku, menjadi tanggung jawab penulis. Meningkatnya penggunaan internet dan buku elektronik membuat penerbitan mandiri jauh lebih murah dan menjadi cara realistis bagi penulis untuk memperoleh penghasilan.
Novelis menerapkan sejumlah metode berbeda dalam menulis novel mereka, dengan mengandalkan berbagai pendekatan untuk memicu kreativitas.[3] Beberapa komunitas secara aktif mendorong para amatir untuk berlatih menulis novel guna mengembangkan praktik unik tersebut, yang berbeda-beda pada setiap penulis. Sebagai contoh, kelompok berbasis internet National Novel Writing Month mendorong orang-orang untuk menulis novel sepanjang 50.000 kata pada bulan November, guna memberi latihan kepada novelis dalam menyelesaikan karya demikian. Pada acara tahun 2010, lebih dari 200.000 orang ikut serta, menulis total lebih dari 2,8 miliar kata.[4]
Usia dan pengalaman
Novelis biasanya tidak menerbitkan novel pertama mereka hingga usia yang lebih matang. Namun, banyak novelis mulai menulis sejak usia muda. Sebagai contoh, Iain Banks mulai menulis pada usia sebelas tahun, dan pada usia enam belas tahun menyelesaikan novel pertamanya, The Hungarian Lift-Jet, tentang para pedagang senjata internasional, "ditulis dengan pensil dalam buku catatan berukuran lebih besar dari kertas folio".[5] Namun, ia baru berusia tiga puluh tahun saat menerbitkan novel pertamanya, The Wasp Factory, yang sangat kontroversial, pada 1984. Keberhasilan novel ini memungkinkan Banks menjadi novelis penuh waktu. Juvenilia seorang penulis sering kali, meskipun tidak diterbitkan, dihargai oleh para sarjana karena memberikan wawasan tentang biografi pengarang dan pendekatan mereka terhadap penulisan; misalnya, juvenilia keluarga Brontë yang menggambarkan dunia imajiner Gondal, yang saat ini berada di Perpustakaan Britania, telah memberikan informasi penting mengenai perkembangan mereka sebagai penulis.[6][7][8]
Terkadang, novelis menerbitkan karyanya sejak usia remaja. Sebagai contoh, Patrick O'Brian menerbitkan novel pertamanya, Caesar: The Life Story of a Panda-Leopard, pada usia 15 tahun, yang memberinya perhatian kritis yang besar.[9] Demikian pula dengan The House Without Windows karya Barbara Newhall Follett yang diterima dan diterbitkan pada 1927 ketika ia masih berusia 13 tahun oleh penerbit Knopf dan mendapat pujian kritis dari The New York Times, Saturday Review, dan H. L. Mencken.[10] Terkadang, karya-karya ini juga meraih keberhasilan populer. Sebagai contoh, meskipun Eragon karya Christopher Paolini (diterbitkan saat masih berusia 15 tahun) tidak terlalu berhasil secara kritis, popularitasnya di kalangan pembaca menempatkannya dalam daftar buku terlaris anak New York Times selama 121 minggu. [11]
Novelis pemula dari usia berapa pun sering tidak mampu menerbitkan karya mereka karena berbagai alasan yang mencerminkan kurangnya pengalaman penulis dan realitas ekonomi penerbit. Sering kali penulis harus menemukan pendukung di industri penerbitan, biasanya agen sastra, agar dapat berhasil menerbitkan novel debut mereka.[12] Kadang-kadang novelis baru memilih menerbitkan secara mandiri, karena rumah penerbitan tidak mau mengambil risiko modal yang dibutuhkan untuk memasarkan buku karya penulis yang belum dikenal kepada publik.[13][14]
Sebagai tanggapan atas sulitnya menulis dan menerbitkan novel pertama dengan sukses, terutama pada usia muda, terdapat sejumlah penghargaan bagi novelis muda dan novelis debut untuk menyoroti karya luar biasa dari penulis baru dan/atau muda.

Pendapatan

Dalam pasar penerbitan Britania Raya dan Amerika Serikat kontemporer, sebagian besar penulis hanya menerima uang muka kecil sebelum penerbitan novel debut mereka; dalam pengecualian yang jarang terjadi ketika tiras besar dan volume penjualan tinggi diperkirakan, uang muka itu bisa lebih besar.[15] Namun, setelah seorang penulis berhasil menempatkan dirinya di dunia penerbitan, sebagian dapat memperoleh penghasilan tetap selama mereka tetap produktif sebagai penulis. Selain itu, banyak novelis, bahkan yang telah diterbitkan, tetap mengambil pekerjaan lain, seperti mengajar penulisan kreatif di lembaga akademis, atau menjadikan penulisan novel sebagai hobi sampingan.[16][17]

Hanya sedikit novelis yang menjadi pesohor sastra atau menjadi sangat kaya hanya dari penjualan novel mereka. Biasanya penulis yang kaya dan sukses menghasilkan fiksi genre yang sangat populer. Contohnya termasuk James Patterson, yang merupakan penulis dengan bayaran tertinggi pada 2010, dengan pendapatan $70 juta, melampaui novelis lain maupun penulis nonfiksi.[18] Jutawan sastra terkenal lainnya mencakup nama-nama populer seperti J. K. Rowling, penulis seri Harry Potter; Dan Brown, penulis The Da Vinci Code; novelis sejarah Bernard Cornwell; dan penulis Twilight, Stephenie Meyer.
Pengalaman pribadi
"kejujuran [sang novelis] terikat pada tiang pancang kekejian dari megalomanianya [...]
Sang novelis adalah penguasa tunggal atas karyanya. Ia adalah karyanya sendiri."
Pengalaman pribadi seorang novelis sering membentuk apa yang mereka tulis dan bagaimana pembaca serta kritikus menafsirkan novel mereka. Penerimaan sastra sejak lama bergantung pada praktik membaca sastra melalui kritik biografis, yang menganggap kehidupan pengarang memengaruhi persoalan topikal dan tematik dalam karya.[20][21] Sejumlah aliran kritik menggunakan informasi tentang novelis ini untuk memahami niat pengarang di dalam karyanya. Namun, para kritikus sastra pascamodern sering mengecam pendekatan semacam itu; kritik yang paling terkenal berasal dari Roland Barthes yang berpendapat dalam esainya "The Death of the Author" bahwa pengarang seharusnya tidak lagi menentukan penerimaan dan makna yang ditarik dari karya mereka.
Pendekatan teoretis lain terhadap kritik sastra berusaha menelusuri pengaruh tidak disengaja pengarang terhadap karyanya; metode seperti teori psikoanalitik atau kajian budaya menganggap bahwa karya yang dihasilkan seorang novelis merepresentasikan bagian mendasar dari identitas pengarang. Milan Kundera menggambarkan ketegangan antara identitas pribadi novelis dan karya yang dihasilkan pengarang dalam esainya di The New Yorker berjudul "What is a novelist?"; ia mengatakan bahwa "kejujuran sang novelis terikat pada tiang pancang kekejian dari megalomanianya […] Karya tak sesederhana apa pun yang ditulis novelis - buku catatan, jurnal, artikel. Karya adalah hasil akhir dari kerja panjang atas sebuah proyek estetis […] Sang novelis adalah penguasa tunggal atas karyanya. Ia adalah karyanya sendiri."[19] Kedekatan erat antara identitas dan karya novelis memastikan bahwa unsur-unsur tertentu, baik kelas, gender, seksualitas, kebangsaan, ras, maupun identitas berbasis tempat, akan memengaruhi penerimaan terhadap karya mereka.
Kelas sosial ekonomi
Secara historis, karena banyaknya waktu luang dan pendidikan yang dibutuhkan untuk menulis novel, sebagian besar novelis berasal dari kelas atas atau kelas menengah terdidik. Namun, laki-laki dan perempuan dari kalangan buruh mulai menerbitkan novel pada abad ke-20. Contohnya di Britania Raya Love on the Dole (1933) karya Walter Greenwood, dari Amerika Serikat The Death Ship (1926) karya B. Traven dan Daughter of Earth (1929) karya Agnes Smedley, serta dari Uni Soviet How the Steel Was Tempered (1932) karya Nikolai Ostrovsky. Kemudian, di Britania Raya pada tahun 1950-an, muncul kelompok penulis yang dikenal sebagai "Angry young men" (pemuda-pemuda marah), yang mencakup novelis seperti Alan Sillitoe dan Kingsley Amis, yang berasal dari kelas buruh dan menulis tentang budaya kelas buruh.[22][23]
Sebagian novelis sengaja menulis untuk pembaca kelas pekerja demi tujuan politik, dengan menampilkan "kelas buruh dan kehidupan kelas buruh; mungkin dengan maksud membuat propaganda".[24] Sastra tersebut kadang disebut sastra proletar, dapat dikaitkan dengan agenda politik Partai Komunis atau simpatisan sayap kiri, serta dipandang sebagai "alat revolusi".[25] Namun, tradisi sastra kelas pekerja di Britania, tidak seperti di Rusia dan Amerika, tidak secara khusus terinspirasi oleh Partai Komunis, melainkan berakar pada gerakan Chartist, sosialisme, dan lain-lain.[26]
Identitas nasional atau identitas berbasis tempat
Novelis sering diklasifikasikan berdasarkan afiliasi kebangsaan mereka, yang menunjukkan bahwa novel memiliki karakter tertentu berdasarkan identitas nasional para pengarangnya. Dalam beberapa sastra, identitas nasional membentuk definisi diri banyak novelis. Sebagai contoh, dalam sastra Amerika Serikat, banyak novelis berupaya menciptakan "Great American Novel", yaitu novel yang mendefinisikan pengalaman Amerika Serikat pada zamannya. Novelis lain terlibat secara politik atau sosial dengan identitas anggota lain dari bangsa mereka, dan dengan demikian membantu membentuk identitas nasional tersebut. Misalnya, kritikus Nicola Minott-Ahl menjelaskan bahwa Notre-Dame de Paris karya Victor Hugo secara langsung membantu pembentukan identitas politik dan sosial Prancis di pertengahan abad ke-19.[27]
Sebagian novelis menjadi sangat terkait dengan tempat atau wilayah geografis tertentu dan karena itu memperoleh identitas berbasis tempat. Dalam pembahasannya mengenai sejarah keterkaitan novelis tertentu dengan tempat dalam sastra Britania Raya, kritikus D. C. D. Pocock menjelaskan bahwa rasa tempat dalam kanon tersebut baru berkembang satu abad setelah bentuk novel pertama kali mapan pada awal abad ke-19.[28] Sastra regional Britania Raya sering kali menangkap watak sosial dan lokal dari suatu wilayah tertentu di Britania Raya, dengan berfokus pada ciri khas seperti dialek, adat, sejarah, dan lanskap (juga disebut warna lokal): "Lokasi seperti ini kemungkinan bersifat pedesaan dan/atau provinsial."[29] Novel-novel Thomas Hardy (1840-1928) dapat digambarkan sebagai regional karena cara ia menggunakan unsur-unsur tersebut dalam kaitannya dengan bagian Inggris Barat yang ia sebut sebagai Wessex. Penulis Britania lain yang juga digolongkan sebagai novelis regional adalah Brontë Bersaudari, serta penulis seperti Mary Webb (1881-1927), Margiad Evans (1909-58), dan Geraint Goodwin (1903-42), yang terkait dengan wilayah perbatasan Wales. George Eliot (1801-1886), di sisi lain, sangat diasosiasikan dengan pedesaan Midlands Inggris, sedangkan Arnold Bennett (1867-1931) adalah novelis dari daerah Potteries di Staffordshire, atau "Five Towns" (lima kota; meskipun sebenarnya enam) yang kini membentuk Stoke-on-Trent. Demikian pula dengan kontribusi novelis dan pesyair Walter Scott (1771-1832) dalam menciptakan identitas terpadu bagi Skotlandia menjadikan karya-karyanya termasuk yang paling populer di seluruh Eropa pada abad berikutnya. Novel-novel Scott berpengaruh dalam membangun kembali identitas Skotlandia yang dapat diterima oleh masyarakat Britania Raya kelas atas.

Dalam fiksi Amerika Serikat, konsep regionalisme sastra Amerika Serikat memastikan bahwa banyak genre novel yang terkait dengan wilayah tertentu sering kali menentukan penerimaan terhadap para novelisnya. Sebagai contoh, dalam penulisan novel Barat, Zane Grey digambarkan sebagai "novelis pembentuk tempat", yang dianggap berjasa mendefinisikan perbatasan Barat dalam kesadaran Amerika Serikat pada awal abad ke-20 sekaligus melekatkan dirinya secara pribadi dengan penggambaran ruang tersebut.[30]
Demikian pula dengan novelis seperti Mark Twain, William Faulkner, Eudora Welty, dan Flannery O'Connor yang sering digambarkan menulis dalam tradisi sastra Amerika Serikat Selatan tertentu, ketika pokok bahasan yang relevan dengan Amerika Serikat Selatan dikaitkan dengan identitas mereka sebagai pengarang. Sebagai contoh, William Faulkner menempatkan banyak cerita pendek dan novelnya di County Yoknapatawpha,[31] yang didasarkan pada dan hampir secara geografis identik dengan County Lafayette, tempat kota asalnya Oxford, Mississippi berada.[32] Selain unsur geografis dalam sastra Amerika Serikat Selatan, tema-tema tertentu juga muncul karena sejarah serupa negara-negara bagian Amerika Serikat Selatan terkait perbudakan, Perang Saudara Amerika, dan Rekonstruksi. Budaya konservatif di Amerika Serikat Selatan juga menghasilkan fokus kuat dari para novelis setempat terhadap pentingnya keluarga, agama, komunitas, penggunaan dialek Selatan, serta rasa keterikatan tempat yang kuat.[33] Sejarah Amerika Serikat Selatan yang rumit terkait persoalan ras juga terus menjadi perhatian para novelisnya.[34]
Di Amerika Latin, sebuah gerakan sastra yang disebut Criollismo atau costumbrismocode: es is deprecated aktif sejak akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20, dan dianggap setara dengan regionalisme sastra Amerika Serikat. Gerakan ini menggunakan gaya realis untuk menggambarkan suasana, bahasa, adat, dan kebiasaan negara asal penulis, terutama kalangan bawah dan petani. Criollismocode: es is deprecated melahirkan sastra asli yang didasarkan pada unsur-unsur alam benua tersebut, yang sebagian besar bersifat epik dan mendasar. Gerakan ini sangat dipengaruhi oleh perang kemerdekaan dari Spanyol dan juga menunjukkan bagaimana setiap negara dengan caranya sendiri mendefinisikan criollo, yang di Amerika Latin merujuk pada orang kelahiran setempat berdarah Spanyol.[35]
Gender dan seksualitas
Novelis sering dinilai dalam kritik kontemporer berdasarkan gender mereka atau cara mereka memperlakukan isu gender. Hal ini sebagian besar berkaitan dengan dampak harapan budaya mengenai gender terhadap pasar sastra, pembaca, dan kepengarangan.[36][37] Kritik sastra, terutama sejak bangkitnya teori feminis, memberi perhatian pada bagaimana perempuan secara historis mengalami seperangkat tuntutan penulisan yang sangat berbeda berdasarkan gender mereka; misalnya, para editor The Feminist Companion to Literature in English menyatakan: "Teks-teks mereka muncul dari dan campur tangan dalam kondisi yang biasanya sangat berbeda dari kondisi yang melahirkan sebagian besar tulisan laki-laki."[37] Ini bukan persoalan tema atau sikap politik pengarang tertentu, melainkan gendernya: posisinya sebagai perempuan dalam pasar sastra. Namun, orientasi pasar penerbitan yang cenderung mengutamakan pembaca utama perempuan dapat semakin menggeser pasar ke arah novelis perempuan; karena alasan ini, novelis Teddy Wayne berpendapat dalam artikel Salon tahun 2012 berjudul "The agony of the male novelist" bahwa novelis laki-laki tingkat menengah lebih kecil kemungkinannya meraih keberhasilan dibanding novelis perempuan tingkat menengah, meskipun laki-laki cenderung mendominasi ranah "fiksi sastra".[17]
Posisi perempuan dalam pasar sastra dapat mengubah percakapan publik tentang novelis dan tempat mereka dalam budaya populer, sehingga memicu perdebatan mengenai seksisme. Sebagai contoh, pada tahun 2013, novelis perempuan Amerika Serikat Amanda Filipacchi menulis editorial di The New York Times yang menantang pengategorian novelis perempuan Amerika Serikat di Wikipedia dalam kategori tersendiri, yang kemudian memicu liputan pers luas yang menggambarkan pendekatan kategorisasi Wikipedia sebagai bentuk seksisme. Bagi Filipacchi, representasi publik terhadap novelis perempuan dalam kategori terpisah memarginalkan dan mendefinisikan novelis perempuan seperti dirinya di luar ranah "novelis Amerika Serikat" yang didominasi laki-laki.[38] Namun, komentator lain yang membahas kontroversi tersebut juga mencatat bahwa dengan menghapus kategori seperti "novelis perempuan" atau "penulis lesbian" dari deskripsi minoritas berbasis gender atau seksual, kemudahan menemukan para pengarang tersebut bagi orang lain yang memiliki identitas serupa akan menurun drastis.[39]
Demikian pula, karena percakapan yang dibawa oleh feminisme, kajian mengenai subjek maskulinitas dan bagaimana seorang pengarang menampilkan "kelaki-lakian" menjadi pendekatan baru yang semakin menonjol dalam studi kritis terhadap novel.[40][41] Sebagai contoh, beberapa akademisi yang meneliti fiksi era Victoria menghabiskan banyak waktu untuk menelaah bagaimana maskulinitas membentuk dan memengaruhi karya-karya tersebut, karena menonjolnya tema itu dalam fiksi dari periode Victoria.[42]
Genre
Secara tradisional, industri penerbitan membedakan antara "fiksi sastra", yaitu karya yang dipuji karena dianggap memiliki nilai sastra lebih tinggi, dan "fiksi genre", yaitu novel yang ditulis sesuai harapan genre tertentu serta diterbitkan sebagai produk konsumsi.[43] Karena itu, banyak novelis kemudian ditempatkan sebagai penulis salah satu dari keduanya.[43] Namun, novelis Kim Wright mencatat bahwa baik penerbit maupun novelis sastra tradisional mulai beralih ke fiksi genre karena potensi keberhasilan finansialnya dan penerimaannya yang semakin positif di kalangan kritikus.[43] Wright memberi contoh penulis seperti Justin Cronin, Tom Perrotta, dan Colson Whitehead yang melakukan peralihan tersebut.[43]
Namun, menerbitkan novel genre tidak selalu memungkinkan novelis untuk terus menulis di luar genre tersebut atau sesuai minat pribadi mereka. Dalam menggambarkan posisinya di dalam industri, novelis Kim Wright mengatakan bahwa banyak penulis, terutama yang biasanya menulis fiksi sastra, khawatir terhadap "bahaya bahwa genre adalah jalan buntu", ketika penerbit hanya akan menerbitkan fiksi genre serupa dari penulis itu karena harapan pembaca, "dan begitu seorang penulis masuk ke dalamnya, ia tidak akan pernah keluar."[43] Demikian pula, sangat sedikit penulis yang memulai dari fiksi genre lalu beralih ke publikasi yang lebih "sastra"; Wright menggambarkan novelis seperti Stephen King sebagai pengecualian, bukan kebiasaan umum.[43] Kritikus dan penulis lain yang membela nilai fiksi genre juga sering menunjuk King sebagai contoh yang menjembatani kesenjangan antara genre populer dan mutu sastra.[44][45]
Peran dan tujuan
Baik kritikus sastra maupun novelis mempertanyakan peran apa yang dimainkan novelis dalam masyarakat dan dalam seni. Sebagai contoh, Eudora Welty dalam esainya tahun 1965 "Must the Novelist Crusade?" membedakan antara novelis yang melaporkan realitas dengan "mengambil kehidupan sebagaimana adanya, bukan untuk melaporkannya, melainkan untuk menjadikannya suatu objek, agar karya yang selesai dapat memuat kehidupan itu di dalamnya, lalu menawarkannya kepada pembaca" dan wartawan, yang perannya adalah menjadi "pejuang" yang membela posisi tertentu serta menggunakan keterampilan mereka sebagai alat politik.[46] Demikian pula dengan Ralph Ellison dalam esainya pada tahun 1950-an yang berjudul "Society, Morality, and the Novel". Ia memandang bahwa novelis perlu "menciptakan kembali realitas dalam bentuk yang diasumsikan oleh visi pribadinya ketika ia bermain dan bergulat dengan citra ilusioner yang hidup, menyerupai eidetik, yang tertinggal dalam mata batin akibat proses perubahan sosial."[47] Namun, Ellison juga menilai novelis Generasi yang Hilang, seperti Ernest Hemingway, tidak sepenuhnya memanfaatkan bobot moral dan pengaruh yang tersedia bagi novelis, serta menunjuk Mark Twain dan Herman Melville sebagai contoh yang lebih baik.[47] Berbagai esai, seperti "Responsibilities of a Novelist" karya kritikus sastra Frank Norris, menyoroti pembenaran moral dan etis terhadap pendekatan mereka dalam menulis novel maupun mengkritiknya.[48]
Dalam mendefinisikan perannya tentang novelis modernis dalam esai "Modern Fiction", Virginia Woolf berpendapat bahwa representasi kehidupan tidak seharusnya terpaku pada rincian spesifik yang menyeluruh sebagaimana dalam realisme, melainkan mengutamakan penggambaran "segudang kesan" yang tercipta dalam pengalaman hidup.[49] Definisi yang ia kemukakan dalam esai ini, dan dikembangkan dalam tulisan lain, membantu membentuk gerakan sastra modernisme. Ia berpendapat bahwa novelis seharusnya menggambarkan "bukan serangkaian lampu kereta yang tersusun simetris; melainkan kehidupan adalah lingkar cahaya, selubung setengah tembus pandang yang mengelilingi kita sejak awal kesadaran hingga akhir. Bukankah tugas novelis adalah menyampaikan semangat yang berubah-ubah, yang tak dikenal dan tak berbatas ini, apa pun penyimpangan atau kerumitan yang ditampilkannya, dengan sesedikit mungkin campuran unsur asing dan eksternal?"[49]
Lihat pula
- Pengarang
- Kategori:Novelis, kategori yang berisi semua artikel Wikipedia tentang novelis
- Imajinasi
- Narasi
- Bercerita
Referensi
- 1 2 "novelist, n." OED Online. Oxford University Press. Desember 2013. Diakses tanggal 11 Februari 2014.
- ↑ "Google Ngrams "Novelist" 1680-2014". Diakses tanggal 11 Februari 2014.
- ↑ Alter, Alexandra (13 November 2009). "How to Write a Great Novel". Wall Street Journal. ISSN 0099-9660. Diakses tanggal 15 Februari 2014.
- ↑ Grant, Lindsey (1 Desember 2010). "The Office of Letters and Light Blog – The Great NaNoWriMo Stats Party". Blog.lettersandlight.org. Diakses tanggal 29 November 2011.
- ↑ "Doing the Business: Iain Banks", The Guardian, Sabtu 7 Agustus 1999.
- ↑ Bernard, Robert; Bernard, Louise, ed. (2007). A Brontë Encyclopedia. Oxford: Blackwell. hlm. 126–127. ISBN 9780470765784.
- ↑ Brontë, Emily Jane (1938). Helen Brown and Joan Mott (ed.). Gondal Poems. Oxford: The Shakespeare Head Press. hlm. 5–8.
- ↑ The Brontës' secret science fiction stories, Perpustakaan Britania, 11 Mei 2011
- ↑ King, Dean (2000). Patrick O'Brian:A life revealed. London: Hodder & Stoughton. hlm. 50. ISBN 0-340-79255-8.
- ↑ Paul Collins (Desember 2010). "Vanishing Act". Lapham's Quarterly. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 1 Januari 2011. Diakses tanggal 2 Januari 2011.
- ↑ "New York Times Best Seller List". The New York Times. 6 Januari 2008.
- ↑ Woodroof, Martha (8 Oktober 2013). "First Novels: The Romance Of Agents". Monkey See. NPR. Diakses tanggal 9 Oktober 2013.
- ↑ "The Big Question: What should you do if you want to get your first novel published? - Features, Books". The Independent. 4 Januari 2008. Diarsipkan dari asli tanggal 6 Juni 2008. Diakses tanggal 23 Mei 2011.
- ↑ Kapur, Niraj (26 Januari 2007). "How to sell your debut novel | Books | guardian.co.uk". The Guardian. Diakses tanggal 23 Mei 2011.
- ↑ Kellaway, Kate (25 Maret 2007). "Kate Kellaway: That difficult first novel | Books |". The Observer. Diakses tanggal 23 Mei 2011.
- ↑ St. John Mandel, Emily (6 Oktober 2009). "Working the Double Shift". The Millions. Diakses tanggal 15 Februari 2014.
- 1 2 Wayne, Teddy (18 Januari 2012). "The agony of the male novelist". Salon. Diakses tanggal 19 Februari 2014.
- ↑ Smillie, Dirk (19 Agustus 2010). "The Highest-Paid Authors". Forbes.
- 1 2 Kundera, Milan (9 Oktober 2006). "What is a Novelist?". The New Yorker (Life and Letters Section) - Subscriber Only. Diakses tanggal 8 Januari 2014.
- ↑ "Biographical Criticism", Writing essays about literature: a guide and style sheet (2004), Kelley Griffith, Universitas Carolina Utara di Greensborough, Wadsworth Publishing Company, halaman 177-178, 400
- ↑ Benson, Jackson J. (1989) "Steinbeck: A Defense of Biographical Criticism" College Literature 16(29): hlm. 107-116, halaman 108
- ↑ Bruce Weber (26 April 2010). "Alan Sillitoe, 'Angry' British Author, Dies at 82". New York Times. Diakses tanggal 5 Juni 2013.
- ↑ "Sir Kingsley Amis". Encyclopædia Britannica Online. 19 Oktober 2013. Diakses tanggal 5 Februari 2014.
- ↑ J. A. Cuddon; A Dictionary of Literary Terms and Literary Criticism. (London: Penguin Books, 1999) hlm. 703.
- ↑ Encyclopædia Britannica."Novel." Encyclopædia Britannica Online Academic Edition. Encyclopædia Britannica Inc., 2013. Web. 13 April 2013. https://www.britannica.com/EBchecked/topic/421071/novel
- ↑ Ian Hayward, Working-Class Fiction: from Chartism to Trainspotting. (London: Northcote House, 1997), hlm. 1-3
- ↑ Minott-Ahl, Nicola (2012). "Nation/Building: Hugo's Notre-Dame de Paris; and the Novelist as Post-Revolutionary Historian". Partial Answers: Journal of Literature and the History of Ideas. 10 (2): 251–271. doi:10.1353/pan.2012.0024. S2CID 145170286.
- ↑ Pocock, D. C. D. (1 Januari 1981). "Place and the Novelist". Transactions of the Institute of British Geographers. 6 (3): 337–347. Bibcode:1981TrIBG...6..337P. doi:10.2307/622292. ISSN 0020-2754. JSTOR 622292.
- ↑ J.A Cuddon, A Dictionary of Literary Terms. Harmondsworth: Penguin, 1984, hlm.560.
- ↑ Blake, Kevin S. (April 1995). "Zane Grey and Images of the American West". Geographical Review. 85 (2): 202–216. Bibcode:1995GeoRv..85..202B. doi:10.2307/216063. hdl:2097/4213. JSTOR 216063.
- ↑ The Nobel Prize in Literature 1949: Biography Nobelprize.org.
- ↑ The Oxford Companion to English Literature, ed. Margaret Drabble. Oxford: Oxford University Press, 1996, hlm.346.
- ↑ Kate Cochran, review of Remapping Southern Literature: Contemporary Southern Writers and the West by Robert H. Brinkmeyer. College Literature Vol. 29, No. 2 (Spring, 2002), hlm. 169-171.
- ↑ Fred Hobson. But Now I See: The White Southern Racial Conversion Narrative, Louisiana State University Press, 1999.
- ↑ Criollismo www.memoriachilena.cl Dirección de Bibliotecas, Archivos y Museos Copyright 2013© MEMORIA CHILENA ®. Todos los Derechos Reservados May 16, 2009 Retrieved September 04, 2013 (dalam bahasa Spanyol)
- ↑ Murfin, Ross C.; Smith, Johanna M. (1996), Murfin, Ross C. (ed.), "Feminist and Gender Criticism and Heart of Darkness", Heart of Darkness: Joseph Conrad, Case Studies in Contemporary Criticism (dalam bahasa Inggris), London: Macmillan Education UK, hlm. 148–184, doi:10.1007/978-1-349-14016-9_5, ISBN 978-1-349-14016-9, diakses tanggal 7 Oktober 2021
- 1 2 Blain, Virginia; Isobel Grundy; Patricia Clements, ed. (1990). The Feminist Companion to Literature in English. New Haven and London: Yale University Press. hlm. viii–ix. ISBN 9780300048544.
- ↑ Neary, Lynn (29 April 2013). "What's In A Category? 'Women Novelists' Sparks Wiki-Controversy". NPR.
- ↑ S.E. Smith (26 April 2013). "Is Wikipedia's "American Women Novelists" Category Horribly Sexist? Some people seem to thinks so". XO Jane. Diakses tanggal 8 Februari 2013.
- ↑ Mallett, Phillip, ed. (2015). The Victorian Novel and Masculinity (dalam bahasa Inggris Britania Raya). doi:10.1057/9781137491541. ISBN 978-1-349-32313-5. Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
- ↑ Hobbs, Alex (2013). "Masculinity Studies and Literature". Literature Compass (dalam bahasa Inggris). 10 (4): 383–395. doi:10.1111/lic3.12057. ISSN 1741-4113.
- ↑ Dowling, Andrew (2001). Manliness and the Male Novelist in Victorian Literature. Ashgate Press. ISBN 9780754603801.
- 1 2 3 4 5 6 Wright, Kim (2 September 2011). "Why Are So Many Literary Writers Shifting into Genre?". The Millions. Diakses tanggal 15 Februari 2014.
- ↑ Nelson, Erik (7 Juli 2012). "Stephen King: You can be popular and good". Salon. Diakses tanggal 11 April 2013.
- ↑ Jacobs, Alan (24 Juli 2012). "A Defense of Stephen King, Master of the Decisive Moment". The Atlantic. Diakses tanggal 11 April 2013.
- ↑ Welty, Eudora (1965) [1965]. "Must the Novelist Crusade?". PBS. Diakses tanggal 7 Januari 2014.
- 1 2 Ellison, Ralph (2003) [1957]. "Society, Morality and the Novel"". Dalam John F. Callahan (ed.). The Collected Essays of Ralph Ellison. The Modern Library. hlm. 698–729.
- ↑ Davies, Jude (20 Oktober 2001). "The Responsibilities of the Novelist". The Literary Encyclopedia. Diakses tanggal 8 Februari 2014.
- 1 2 Woolf, Virginia (1 Juni 2004). "Modern Fiction" (text). The Common Reader. EBooks @ Adelaide. Diakses tanggal 26 Maret 2014.
Daftar pustaka
- Kundera, Milan (9 Oktober 2006). "What is a Novelist?". The New Yorker (Life and Letters Section): 40.
- O'Conner, Flannery. "Novelist and Believer". CatholicCulture.org.
| Internasional | |
|---|---|
| Nasional | |
| Lain-lain | |