Nazir Alwie lahir dari pasangan Minangkabau di Sumanik. Ayahnya bernama H. Alwie. Ia mengenyam pendidikan HIS Muhammadiyah di Batusangkar, lalu menyambung ke Padang Panjang, dan kemudian masuk sekolah guru HIK Muhammadiyah Solo.[1] Pada masa pendudukan Jepang, ia menjadi mahasiswa Meidcal Collage (Ika Daiku) di Singapura.[butuh rujukan]
Tahun 1946, ia kembali ke Tanah Air dan melanjutkan pelajaran di Perguruan Tinggi Kedokteran Gigi di Malang hingga mencapai tingkat CI (Propadeuse). Namun, karena perang yang berkecamuk, ia meninggalkan studinya dan bergabung dengan satuan ketentaraan pelajar/mahasiswa di front Jawa Timur.[butuh rujukan]
Ia akhirnya baru menyelesaikan pendidikannya pada Fakultas Kedokteran dan Farmasi Universitas Gadjah Mada (UGM) pada tanggal 9 Desember 1954. Pada saat mahasiswa, Nazir pernah terpilih sebagai Ketua Dewan Mahasiswa UGM (1950-1951) dan kepala sekolah di SMA Negeri 3 Yogyakarta.[butuh rujukan]
Karier
Riwayat pekerjaan Nazir Alwie dimulai pada saat ia bekerja di tambang batu bara Tanjung Enim, Sumatera Selatan. Kemudian dia pindah ke Jakarta, dan menjabat sebagai Kepala Kesehatan Gigi. Dia pernah pula bekerja sebagai dokter gigi untuk perusahaan minyak Caltex di Rumbai dan Pertamina di Palembang. Pada tahun 1965 dipercaya oleh Universitas Sumatera Utara (USU) untuk menjabat rektor universitas tersebut, sekaligus merangkap sebagai Dekan Fakultas Kedokteran Gigi USU. Pada tanggal 13 Juni 1966, Nazir diangkat menjadi Rektor Universitas Gadjah Mada, menggantikan Herman Johannes.[butuh rujukan]
Msa kepemimpinan Nazir Alwie di UGM berlangsung dalam suasana pembersihan anasir komunis. Menurut catatan Ana Nadhya Abrar, sebayak 3.059 mahasiswa dipecat atau dipecat sementara setelah G30S/PKI. 2.034 di antaranya dinyatakan bisa diterima kembali pada akhir Desember 1966.
Ia berhenti dari jabatannya sebagai Rektor UGM pada 2 Juni 1967. Untuk beberapa saat, ia masih mengajar di UGM, sebelum pindah ke Universitas Tri Sakti, Jakarta. Kemudian, ia diangkat menjadi Atase Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia di Jerman Barat. Sepulang dari sana, dari tahun 1975 sampai 1979, ia bekerja sebagai dokter gigi di perusahaan tambang nikel INCO, Saroako, Sulawesi Tengah sembari membuka poliklinik gigi.
Nazir Alwie menghabiskan hari tua di Jakarta sampai wafat pada 7 Desember 1979. Jenazahnya dimakamkan di TPU Jeruk Purut.[2]
Kehidupan pribadi
Kehidupan pribadi maupun keluarganya tidak banyak diketahui. Nazir Alwie menikah dengan Roostina yang merupakan putri dari Sjamsuddin Mangkuto Sati. Istrinya wafat pada 15 Desember 2009 dalam usia 78 tahun.[butuh rujukan] Pasangan ini dikaruniai empat anak, salah seorang diantaranya bernama Nazimuddin (1956-2025).[butuh rujukan]