Mempelajari penyakit-penyakit iklim panas di Leiden (memperoleh gelar Dokter, 1923).[3]
Peran Profesional
Setelah lulus dari STOVIA, Sardjito menjadi dokter di Rumah Sakit Djakarta dan ikut dalam riset mengenai penyakit influenza pada tahun 1918 hingga 1919. Sebelum melanjutkan studi ke Universitas Amsterdam, Ia juga menjadi dokter di Institute Pasteur Djakarta dari tahun 1916 hingga 1920.
Sepulangnya dari Amsterdam dan Leiden, Sardjito diberikan kepercayaan sebagai dokter di Laboratorium Pusat Djakarta (1924-1929), Kepala Laboratorium di Makasar (1930). Ia juga mempunyai kesempatan untuk bekerja di Laboratorium Reichsgesundheitsamt (Kantor Kesehatan Reich) Berlin, Jerman pada tahun 1931.[3]
Pulang dari Jerman, ia diberi tanggung jawab untuk memimpin Laboratorium Semarang (1931-1944) dan menjadi Kepala Institute Pasteur Bandung (1945). Dengan adanya pemindahan Institute Pasteur dari Bandung ke Klaten, akhirnya Sardjito pindah ke Klaten pada tahun 1946. Di mana 3 tahun setelahnya (1949), ia bersama Hamengkubuwana IX, Prof.Dr. Prijono, Prof.Ir. Wreksodiningrat, Prof. Ir. Harjono dan lain-lain sepakat untuk membentuk Universitas Gadjah Mada.
Sardjito terpilih menjadi rektor pertama UGM dari tahun 1949 hingga 1961.
Pergerakan politik
Ketua Boedi Oetomo Cabang Jakarta dan anggota Pengurus Pusat (1925)
Ketua Palang Merah Indonesia Klaten, di mana saat Agresi Militer Belanda ia mengatur cara mendapatkan obat-obatan dan uang untuk Pejuang dan Masyarakat umum.[3]
Pada tanggal 5 Mei 1970, Sardjito wafat di RS Panti RapihYogyakarta pada usianya ke-80. Ia meninggalkan seorang istri dan seorang putra dengan dua orang cucu. Begitu banyak jasanya terhadap ilmu pengetahuan, kemanusiaan, dan perjuangan kemerdekaan Indonesia. Ia dimakamkan dengan upacara militer dengan diberangkatkan dari Balairung UGM ke Taman Makam Pahlawan Kusuma Negara.
Referensi
Buku Apa dan Siapa Magetan, diterbitkan oleh Pemerintah Kabupaten Daerah Tingkat II Magetan, tahun 1987