Prof. Ana Nadhya Abrar, M.E.S., Ph.D. (lahir 20 Februari 1959) adalah seorang akademisi Indonesia di bidang jurnalisme dan komunikasi. Ia merupakan guru besar jurnalisme di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol) Universitas Gadjah Mada (UGM) , Yogyakarta.[1] Ia dikenal luas atas kontribusinya dalam kajian jurnalisme, komunikasi politik, media digital, dan narasi biografi.[2]
Kehidupan awal dan pendidikan
Ana Nadhya Abrar lahir di Bukittinggi, 20 Februari 1959 sebagai anak tertua dari empat bersaudara pasangan Hasan Basri St. Maruhun dengan Nursyam. Ayahnya yang bersuku Piliang berasal dari Nagari Pandam Gadang, sedangkan ibunya yang bersuku Simabua adalah asli Birugo Puhun, Bukittinggi.[2]
Setelah menamatkan SD, SMP, dan SMA di Bukittinggi, ia pernah ikut seleksi masuk ITB tahun 1978, tapi gagal. Akhirnya ia kuliah di Jurusan Bahasa dan Sastra Inggris Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Padang. Namun, tahun 1980 muncul aturan, semua lulusan IKIP harus menjadi guru. Ia terseleksi masuk program DIII dan tamat 1981.[2]
Karier
Ana Nadhya Abrar mula-mula bekerja sebagai guru bahasa Inggris di SMA Negeri 1 Bukittinggi sebelum memutuskan mendalami dunia jurnalisme. Persiunggungannya terjadi pada tahun 1982, saat mengikuti Kursus Jurnalistik Tingkat Dasar yang diadakan oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Bukittinggi. Telanjur jatuh cinta kepada dunia kewartawanan, ia meninggalkan profesinya sebagai guru, lalu merantau ke Yogyakarta dan mengulang kuliah lagi dari semester awal di Jurusan Publisistik Fisipol UGM. Semasa kuliah, Abrar terus mengasah kemampuan jurnalistiknya dengan menjadi pemimpin redaksi Majalah Mahasiswa Fisipol Sintesa dan ketua dewan redaksi Majalah Mahasiswa UGM Balairung.[1]
Tamat dari UGM pada 1987, ia semula hendak mengejar keingannya menjadi jurnalis profesional. Ia melamar ke surat kabar Jawa Pos. Setelah melalui penyaringan tiga tahap, ia dinyatakan lulus dan berhak mengikuti pendidikan untuk menjadi wartawan Jawa Pos. Namun, kesempatan itu tidak jadi dimanfaatkannya, karena ibunya lebih suka dia menjadi dosen daripada menjadi wartawan. Mematuhi saran ibunda, maka sejak Maret 1988 Abrar menjadi pengajar jurnalisme di Jurusan Ilmu Komunikasi Fisipol UGM.[2]
Mantap sebagai akademisi yang terus mempelajari ilmu jurnalisme, tahun 1991 Abrar berangkat ke Kanada untuk melanjutkan studi master di York University, Toronto hingga memperoleh gelar M.E.S. dalam jurnalisme lingkungan hidup (1994). Enam belas tahun kemudian, ia memperoleh gelar Ph.D, masih di bidang jrnalisme, dari Universiti Malaya, Kuala Lumpur, Malaysia (2010).
Meskipun gagal jadi jurnalis profesional, namun naluri Abrar untuk terus mempraktikkan jurnalisme terpuaskan juga dengan jabatannya sebagai Pemimpin Redaksi Berita Kagama (1990-1997) dan Pemimpin Redaksi Kabar UGM (2002 2009).[1]
Selain mengajar dan praktik jurnalisme, ia juga punya pengalaman di bidang administrasi dan jabatan struktural di lingkungan UGM. Antara lain ia pernah menjadi Ketua Jurusan Ilmu Komunikasi Fisipol (1999-2003), Kepala Unit Humas dan Keprotokolan UGM (2002- 2003), dan Direktur Gadjah Mada University Press (2003-2006).[1]
Karya
Menggunakan teknik jurnalisme dalam menulis biografi dan profil lembaga, Ana Nadhya Abrar telah menulis 5 biografi, 1 obituari, 3 profil lembaga, 1 mozaik profil, dan 1 autobiografi. Di luar itu, ia telah menulis 38 judul buku dan menyunting 11 judul buku sejak 1992. Buku terbarunya berjudul Susila Wartawan Muslim, diterbitkan oleh Gadjah Mada University Press (2021).[1]
Di luar buku, sejak 1983 sampai dikukuhkan sebagai guru besar (2022), Abrar tercatat telah menulis 318 artikel dan 40 kolom tentang media massa, jurnalisme, cerita perjalanan, dan dunia virtual di banyak media dalam maupun luar negeri. Media massa yang pernah memuat tulisannya antara lain surat kabar Kedaulatan Rakyat, Bernas, Radar Yogya, Yogya Post (Yogyakarta); Jawa Pos, Surabaya Post (Surabaya); Suara Merdeka (Semarang); Kompas, Jayakarta, Pelita, Gatra, Matra, Gamma, Tarbawi, Kompas.com, Koran Tempo, The Conversation Indonesia (Jakarta); Solopos (Solo); Haluan (Padang); dan News Network Asia (Tokyo).[1][3][4][5][6]