NSB didirikan di Utrecht pada tahun 1931, saat banyak partai nasionalis, fasis, dan Nazi bermunculan. Pendiri utamanya adalah Anton Mussert (pemimpin partai) dan Cornelis van Geelkerken. Programnya terinspirasi fasisme Italia dan Nazisme Jerman, tetapi sebelum tahun 1936 partai ini belum antisemit dan bahkan memiliki anggota Yahudi.
Pada tahun 1933, setelah setahun membangun organisasi, partai mengadakan rapat umum pertama (Landdag) di Utrecht yang dihadiri 600 anggota, menandai kemunculan resminya. Dukungan kemudian meningkat, meski pemerintah melarang pegawai negeri menjadi anggota pada tahun yang sama.
Dalam pemilu provinsi tahun 1935, partai meraih hampir 8% suara[5] dan dua kursi di Senat, didukung situasi krisis ekonomi DepresiBesar yang meningkatkan popularitasnya hingga tahun 1937.[5] Citra Mussert sebagai politikus pragmatis membantu menyatukan berbagai aliran fasis dan mendorong keberhasilan partai. Strateginya menekankan perebutan kekuasaan secara demokratis dan legal, bukan revolusi. Pada tahun 1936, partai rutin mengadakan rapat massa tahunan dekat Lunteren di Gelderland, dan pada tahun 1938 membangun Tembok Mussert, tembok yang dirancang sebagai bagian kompleks bangunan terinspirasi dari lapangan rapat Nazi di Nürnberg.[6]
Pengaruh Nazi (1936–1940)
Pada tahun 1936, di bawah pengaruh Meinoud Rost van Tonningen, NSB menjadi lebih radikal dan secara terbuka menjadi antisemit. Rost van Tonningen mulai mempertanyakan kepemimpinan Anton Mussert dengan dukungan dari Partai Nazi Jerman, sehingga memperdalam perpecahan internal partai. Radikalisasi ini justru menurunkan dukungan publik dan memicu reaksi anti-fasis yang kuat dari partai politik lain, serikat pekerja, dan gereja.
Dalam pemilihan umumtahun 1937, partai NSB hanya memperoleh sekitar 4% suara dan empat kursi di DPR, meskipun kursinya di Senat meningkat menjadi lima. Setelah tahun 1937, pamor partai terus merosot dan banyak anggota keluar.[5]
Di parlemen, anggota NSB menunjukkan sedikit penghormatan terhadap prosedur dan aturan. Banyak anggota NSB beberapa kali ditegur oleh ketua parlemen karena tindakan kekerasan fisik maupun verbal.
Pada pemilihan provinsi tahun 1939, partai NSB kembali meraih sekitar 4% suara, menandakan bahwa dukungannya tetap rendah dan tidak pulih.
Perang Dunia II (1940–1945)
Topi pet NSB Belanda pada Perang Dunia II
Setelah Perang Dunia II pecah, partai NSB bersimpati kepada Jerman dan menganjurkan netralitas ketat bagi Belanda. Pada Mei 1940, setelah invasi Jerman, sekitar 800 anggota dan simpatisan NSB ditahan oleh pemerintah Belanda. Pendukung partai di Hindia Belanda juga diinternir; sebagian bahkan dideportasi ke Suriname dan ditahan di kamp Jodensavanne. Namun, setelah kekalahan Belanda pada 14 Mei 1940, pasukan Jerman membebaskan anggota NSB yang ditahan di Eropa. Pada Juni 1940, Anton Mussert berpidato di Lunteren, menyerukan agar Belanda menerima Jerman dan meninggalkan monarkiBelanda yang telah melarikan diri ke London.
Pemerintahan pendudukan Jerman kemudian melarang semua partai sosialis dan komunis, dan pada 1941 melarang semua partai kecuali NSB. Partai ini secara terbuka berkolaborasi dengan pendudukan Jerman, dan keanggotaannya meningkat hingga sekitar 100.000 orang. NSB berperan penting dalam pemerintahan lokal dan birokrasi; setiap wali kota baru yang ditunjuk pemerintah pendudukan adalah anggota NSB. Meski demikian, di tingkat nasional kekuasaan nyata berada di tangan Arthur Seyss-Inquart, pejabat Nazi asal Austria yang memimpin pemerintahan pendudukan, karena ia menilai NSB kurang dukungan rakyat dan kader yang kompeten.
Mussert berharap menjadi Perdana Menteri Belanda merdeka yang bersekutu dengan Jerman, bahkan beberapa kali bertemu Adolf Hitler untuk tujuan tersebut, tetapi gagal. Ia hanya diberi gelar kehormatan "Pemimpin Rakyat Belanda" tanpa kekuasaan nyata. Pengaruhnya di dalam partai pun menurun seiring meningkatnya pengaruh tokoh pro-Jerman seperti Meinoud Rost van Tonningen, yang menginginkan Belanda dimasukkan ke dalam Reich Jerman Raya. Sejak musim panas 1943, banyak anggota pria NSB dimasukkan ke dalam organisasi Landwacht untuk membantu pengawasan penduduk.
Pada 4 September 1944, pasukan Sekutu merebut Antwerpen, dan NSB memperkirakan Belanda akan segera jatuh. Keesokan harinya, sebagian besar pimpinan dan anggota NSB melarikan diri ke Jerman dalam peristiwa yang dikenal sebagai Dolle Dinsdag ("Selasa Gila"), yang menyebabkan organisasi partai runtuh. Mussert sendiri menghabiskan musim dingin tahun 1944–1945 di Bellinckhof dekat Almelo. Pada bulan-bulan terakhir perang, gerakan ini semakin terpecah, dan pada awal tahun 1945 Mussert bahkan memecat Rost van Tonningen dan Cornelis van Geelkerken dari keanggotaan. Namun pada saat itu kekuasaannya sudah sangat melemah akibat situasi perang dan perpecahan internal NSB.
Pembubaran (1945)
Ban lengan NSB Belanda pada Perang Dunia II
Setelah Jerman menyerah pada 6 Mei 1945, NSB dinyatakan ilegal. Mussert ditangkap keesokan harinya. Banyak anggota NSB ditangkap, tetapi hanya sedikit yang dihukum.
Tidak ada upaya untuk melanjutkan organisasi tersebut secara ilegal. Mantan anggota dikucilkan dan terkadang dipenjara. Setelah itu, mereka dan anak-anak mereka tetap distigmatisasi dalam masyarakat untuk waktu yang lama. Kepemimpinan senior partai ditangkap dan menghadapi dakwaan: Mussert dihukum mati pada 7 Mei 1946, Van Geelkerken dipenjara, dan Rost van Tonningen bunuh diri saat menunggu persidangan.
Para tokoh
Seperti halnya organisasi politik lainnya, NSB juga memiliki beberapa tokoh-tokoh penting,[1][7] antara lain:
Seperti halnya Partai Nazi, NSB juga berkembang cukup pesat, khususnya ketika Fasisme menjadi ideologi yang populer di Eropa kala itu. NSB memiliki perwakilan di Kamar Pertama (Kamerfractie) Parlemen Belanda dari tanggal 15 September 1935 sampai Mei 1940 (secara formal sampai 12 September 1945). Setelah pemilihan, NSB mendapatkan dua kursi di Parlemen. Pada tahun 1937 angka itu berlipat, yaitu pada saat Pemilu Parlemen Belanda pada 1937, NSB mendapatkan sekitar 8 persen suara dan berhak atas empat kursi di Parlemen.[1]
Saat Jerman Nazi melakukan invasi ke Belanda pada 10 Mei 1940 dan menjadikannya daerah pendudukan pada Perang Dunia II, pengaruh Partai Nazi semakin kuat di Belanda. Satu-satunya partai politik Belanda yang diakui oleh Jerman Nazi adalah NSB. Hal ini berdampak pada meningkatnya jumlah kader mereka secara signifikan, menjadi kurang lebih 100.000 orang, dan itu hanya di Belanda. Di Hindia Belanda sendiri kader NSB sudah menyentuh angka 12.000 orang, karena justru ternyata di Hindia Belanda banyak Orang Belanda yang mengagumi Adolf Hitler meskipun negara mereka sedang diduduki oleh Jerman.[1][7]
12Nino Oktorino, Nazi di Indonesia: Sebuah Sejarah yang Terlupakan, (Jakarta: Elex Media Komputindo, 2015) hal. 16
↑Wilson, Orang dan Partai Nazi di Indonesia: Kaum Pergerakan Menyambut Fasisme, (Jakarta: Komunitas Bambu, 2008) hal. 115 - 118
↑Srivanto, Fernando. R (2008). Kolaborator Nazi: Sepak Terjang Para Simpatisan Nazi Selama Perang Dunia II. Yogyakarta: Narasi. hlm.2. ISBN9791680981. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
123Rietbergen, P. J. A. N. (2000). A Short History of the Netherlands: From Prehistory to the Present Day (Edisi 4). Amersfoort: Bekking. hlm.141. ISBN90-6109-440-2. OCLC52849131. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)