Pakpour bergabung dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) tak lama setelah Revolusi Iran pada tahun 1979. Ia bertugas selama Pemberontakan Kurdi 1979 di Iran dan Perang Iran–Irak yang berlangsung selama delapan tahun. Tanggung jawabnya meliputi lima tahun di Komando Operasi Angkatan Darat, komandan Divisi Najaf ke-8, komandan Divisi Ashura ke-31, serta menjabat sebagai kepala Komando Utara Angkatan Darat. Di antara tugas-tugas utamanya adalah memerangi terorisme di Iran barat laut, memulihkan keamanan di Iran tenggara, dan mengawasi latihan militer khusus.[8][9]
Brigadir Jenderal Mohammad Pakpour (tengah, memegang senapan), setelah pasukan khusus melumpuhkan pelaku Serangan Teheran 2017 yang merupakan anggota ISIS.
Menurut Pakpour, IRGC berupaya meningkatkan keamanan di kawasan melalui taktik militer baru.[10] Ia meyakini bahwa pesawat tanpa awak (drone) seperti Hemaseh membantu menjaga kesiapsiagaan Korps Garda Revolusi Islam serta menunjukkan konsistensi dan kesiapan pasukan tersebut.[11]
Pada tanggal 24 Juni 2019, Departemen Keuangan Amerika Serikat menjatuhkan sanksi kepadanya, membekukan seluruh aset miliknya di Amerika Serikat serta melarang warga AS untuk melakukan bisnis dengannya.[13] Ia juga dijatuhi sanksi oleh Uni Eropa, Australia, Jepang, dan Kanada karena keterlibatannya dengan IRGC dan operasi-operasinya yang lebih luas. Meskipun sanksi-sanksi ini sempat dicabut sementara menyusul kesepakatan nuklir tahun 2015, sanksi tersebut diberlakukan kembali setelah Amerika Serikat menarik diri dari perjanjian tersebut.[14]
↑"Israel meluncurkan serangan terhadap fasilitas nuklir dan militer Iran". France 24. 13 Juni 2025. Diakses tanggal 13 Juni 2025. Dalam dekrit terpisah, Khamenei menunjuk Mohammad Pakpour untuk menggantikan Hossein Salami sebagai komandan Korps Garda Revolusi Islam, dan Abdolrahim Mousavi untuk menggantikan Mohammad Bagheri sebagai kepala staf umum angkatan bersenjata.