Metodisme, juga disebut gerakan Metodis, adalah tradisiKristen Protestan yang asal-usul, doktrin, dan praktiknya berasal dari kehidupan dan ajaran John Wesley.[1]George Whitefield dan saudara laki-laki John, Charles Wesley, juga merupakan pemimpin awal yang penting dalam gerakan tersebut. Mereka disebut Metodis karena "cara sistematis yang mereka terapkan dalam menjalankan iman Kristen mereka".[2][3] Metodisme bermula sebagai gerakan kebangkitan dalam Anglikanisme yang berakar di Gereja Inggris pada abad ke-18 dan menjadi denominasi terpisah setelah kematian Wesley.[4] Gerakan evangelis menyebar ke seluruh Kekaisaran Inggris, Amerika Serikat, dan sekitarnya karena pekerjaan misionaris yang giat,[4][5] dan saat ini memiliki sekitar 50 juta pengikut di seluruh dunia.[nb 1][6] Sebagian besar denominasi Metodis adalah anggota Dewan Metodis Dunia.[nb 2]
Teologi Wesley, yang dianut oleh denominasi Metodis, berfokus pada pengudusan dan pengaruh transformatif iman terhadap karakter seorang Kristen, yang dicontohkan dengan menjalani kehidupan yang penuh kemenangan atas dosa.[7][8] Yang unik dari Metodisme Wesleyan adalah definisinya tentang dosa: "pelanggaran sukarela terhadap hukum Allah yang diketahui."[9][10] Doktrin pembeda meliputi kelahiran baru,[11][12] kepastian,[13][14] kebenaran yang diberikan, dan ketaatan kepada Allah yang dimanifestasikan dalam melakukan perbuatan-perbuatan saleh. John Wesley berpendapat bahwa pengudusan secara menyeluruh adalah "grand depositum", atau doktrin dasar, dari iman Metodis, dan penyebarannya adalah alasan mengapa Allah menciptakan kaum Metodis.[15][16][8]Kitab Suci dianggap sebagai otoritas utama, tetapi umat Metodis juga merujuk pada tradisi Kristen, termasuk kredo-kredo historis. Sebagian besar umat Metodis mengajarkan bahwa Yesus Kristus, Putra Allah, mati untuk seluruh umat manusia dan bahwa keselamatan dapat dicapai oleh semua orang.[17] Ini adalah doktrin Arminian,[nb 3] berbeda dengan posisi Calvinis (Reformasi) yang menyatakan bahwa Allah telah menetapkan keselamatan sekelompok orang tertentu. Namun, Whitefield dan beberapa pemimpin awal gerakan lainnya dianggap sebagai kaum Metodis Calvinis dan menganut posisi Calvinis.
Teologi
Secara teologis, Gereja Methodis mengikuti garis teologi yang dikembangkan oleh John Wesley yang mengikuti pandangan Arminian (Jacobus Arminius) dalam hal Urutan Proses Keselamatan (Ordo Salutis). Bedanya Arminian dan Calvinis adalah tentang kebebasan manusia dalam menerima karunia keselamatan. Calvinis percaya bahwa manusia tidak punya kehendak bebas dalam hal ini, jadi kalau Tuhan mau menyelamatkan seseorang, orang itu tidak bisa menolak. Arminian percaya bahwa Tuhan mau menyelamatkan semua orang dan memberi kebebasan untuk menerima atau menolak keselamatan kepada manusia.
Sejarah
John Wesley adalah seorang pendetaAnglikan di Inggris. Ia dilahirkan dalam sebuah keluarga besar. John Wesley adalah anak ke-14 di dalam keluarganya. Ayahnya adalah seorang pendeta miskin, tetapi John berhasil belajar di Universitas Oxford dan menjadi pendeta. Selama itu, ia berusaha menemukan kepuasan imannya dengan jalan melakukan semua perintah agama serta aturan Gereja secara ketat. Namun pada suatu persekutuan doa di Aldersgate di Inggris pada tanggal 24 Mei1738, ia merasakan ada sesuatu di dalam hatinya yang membakar dirinya. Saat itu ia merasa diingatkan oleh kata-kata Rasul Paulus di dalam Surat Roma bahwa ia tidak mungkin menemukan kesempurnaan imannya dan keteduhan kehidupannya selain melalui iman kepada kasih Allah.
Sejak itu John Wesley mengajarkan pengalamannya yang baru ini dan banyak orang yang sebelumnya tidak ke gereja mulai tertarik akan ajarannya. Banyak orang yang meminta Wesley untuk mengajar dan mengarahkan kehidupan dan iman mereka. Wesley mengumpulkan orang-orang ini dalam “persekutuan-persekutuan untuk berdoa bersama, mendengarkan firman, dan saling mengawasi di dalam kasih, agar mereka dapat mengerjakan keselamatan mereka masing-masing.” Persekutuan yang dinamai Holy Club ini dipimpin oleh John Wesley bersama saudaranya, Charles. Mereka menetapkan jadwal doa harian, jam-jam untuk mengunjungi orang-orang sakit dan para tahanan di penjara, membuka sekolah-sekolah untuk orang-orang miskin, dan menjalankan jam-jam doa Gereja. Tiga kali sehari mereka berdoa dengan suara keras dan setiap jam mereka menghentikan pekerjaan mereka untuk berdoa di dalam hati. Aturan-aturan ini menyebabkan mereka diejek oleh teman-teman mereka sebagai orang-orang yang “bermetode” atau “Methodis.”
Gerakan ini segera menyebar ke Irlandia dan belakangan ke Amerika. Wesley tidak bermaksud mendirikan gereja baru, melainkan sekadar menata kelompok-kelompoknya di dalam Gereja Inggris. Para pengkhotbahnya tidak ditahbiskan, dan anggota-anggotanya diharapkan berpartisipasi dalam sakramen-sakramen Gereja Anglikan (baptisan, perjamuan kudus, pernikahan, pengakuan dosa, perminyakan, dll.). Namun demikian, Uskup London tidak mau menahbiskan para pendeta yang akan melayani dalam perhimpunan-perhimpunan Metodis. Ia pun tidak mau menahbiskan tempat-tempat pertemuan mereka. Melihat keadaan ini, Wesley menyadari bahwa kalau ia ingin mengembangkan pelayanannya, ia harus melanggar aturan-aturan Gerejanya sendiri, seperti menahbiskan para pendeta dan tempat-tempat perhimpunannya.
Selain itu, Wesley juga diperhadapkan dengan pengikut-pengikutnya di Amerika, yang tidak lagi dilayani oleh pendeta-pendeta Anglikan yang telah kembali ke Inggris karena pecahnya Perang Kemerdekaan Amerika. Untuk mengatasi masalah itu, Wesley kembali menghubungi Uskup London untuk menahbiskan pendeta-pendeta di Amerika. Namun sekali lagi permintaan Wesley ditolak, sehingga akhirnya Wesley sendiri memutuskan untuk menahbiskan dua orang untuk memimpin jemaat di Amerika.
Tanpa disadari, Gereja Methodis banyak sekali memengaruhi Gereja-gereja Kristen lainnya, baik di dalam teologinya, maupun melalui liturgi mereka, khususnya melalui nyanyian-nyanyian yang disusun oleh kedua Wesley bersaudara – John dan Charles. Kedua bersaudara Wesley ini, khususnya Charles, menghasilkan sekitar 9.000 buah nyanyian rohani. Pengaruh teologi dari nyanyian-nyanyian ini sangat terasa di dalam teologi gereja-gereja khususnya dalam penekanan hubungan yang akrab antara manusia dengan Allah atau jaminan keselamatan yang dijanjikan Tuhan kepada manusia – ciri-ciri teologi yang sangat khas Methodis.
Kepemimpinan
Pimpinan tertinggi di Gereja Methodis dipegang oleh seorang Bishop (uskup). Oleh karena itu, dari sistem pemerintahannya, Gereja Methodis bisa disebut episkopalis. Namun demikian, kekuasaan legislatif di Gereja terletak di dalam Konferensi Agung yang diadakan empat tahun sekali, dan dihadiri baik oleh para pendeta maupun kaum awam, masing-masing dalam jumlah yang sama. Para utusan ke Konferensi Umum ini ditetapkan oleh Konferensi Tahunan.
Secara tradisional, jabatan-jabatan di dalam Gereja dibagi atas diaken dan penatua. Jabatan diaken adalah tahap pertama menuju jabatan penatua atau pendeta. Sementara itu tugas sehari-hari di dalam jemaat dilaksanakan oleh suatu Komisi Setempat yang dipilih dari jemaat.
Keterlibatan sosial
Gereja Methodis banyak sekali memberikan penekanan pada pembaruan sosial, seperti perbaikan kondisi kerja, larangan terhadap praktik-praktik kehidupan yang dianggap merusak, penghapusan peperangan, dll. Oleh karena itu, Gereja ini banyak sekali mengembangkan pelayanan kesehatan dan pendidikan. Banyak sekolah, dari tingkat yang paling rendah hingga universitas, didirikan oleh Gereja Methodis.
Bishop (Uskup) Gereja Methodist Indonesia (GMI) Wilayah 1, periode 2017 - 2021 adalah Bishop Kristi Wilson Sinurat dan Bishop (Uskup) Gereja Methodist Indonesia Wilayah 2, adalah Bishop Sabam Lumban Tobing.
↑Garrison, Stephen O. (1908). Probationer's Handbook (dalam bahasa English). Eaton and Mains. hlm.21, 41. Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
12Ingersoll, Julie (2009). Baptist and Methodist Faiths in America (dalam bahasa Inggris). Infobase Publishing. hlm.15. ISBN978-1-4381-0250-4. With both the Baptists and the Methodists agreeing that a person could react to a call to salvation, the job became getting more people to respond to the message of Christ's love for them. The revival tradition was based on evangelism, or the process of getting others to believe as you do. From the time of the First Great Awakening, it became much more important to spread the word about Christian beliefs. Preachers, revival meetings, camp meetings, and other events were held around the country more often as various Baptists and Methodist denominations tried to help their congregations grow by attracting more and more people to accept their faiths. The spread of the evangelical Christian faiths followed the sperad of America westward
↑American Methodism. S. S. Scranton & Company. 1867. hlm.29. Diakses tanggal 18 October 2007. But the most-noticeable feature of British Methodism is its missionary spirit, and its organized, effective missionary work. It takes the lead of all other denominations in missionary movements. From its origin, Methodism has been characterized by its zeal for Propagandist. It has always been missionary.
↑"Member Churches". World Methodist Council. Diarsipkan dari versi asli pada 3 March 2013. Diakses tanggal 17 June 2013.
↑Black, Brian (2023). Properly Defining Sin. Heritage Publications. hlm.viii, 5. The Wesleyan position teaches that one is actually made righteous and cleansed from sin through the grace of God and the power of the Holy Spirit. One must live a victorious, sinless life to be eligible for heaven. This doctrine is based upon the biblical principle that sin is a willful choice to rebel against God. If after being converted a person returns back to a life of rebellion against God, he has rejected salvation and is no longer eligible for heaven. ... the Methodist message believed that the grace of God enabled a person to choose salvation; furthermore, it taught that one could be delivered from committing sin as well as obtain heart purity from the corruption of indwelling sin.
12Black, Brian (2023). Properly Defining Sin. Heritage Publications. hlm.viii, 5. The eradication of the sin nature and complete victory over willful sin were two of the key beliefs of the Methodist Church.
↑Black, Brian (2023). Properly Defining Sin. Heritage Publications. hlm.6–7. He said, "Every sin is a voluntary act, because, as Augustine states, so true is it that every sin is voluntary, that unless it be voluntary, it is no sin at all." ... Wesley's definition has been commonly accepted among those who heritage is from a Methodist background.
↑Stokes, Mack B. (1998). Major United Methodist Beliefs (dalam bahasa Inggris). Abingdon Press. hlm.95. ISBN978-0687082124.
↑"First Steps" (dalam bahasa Inggris). New Brighton Free Methodist Church. 2022. Diakses tanggal 31 May 2026.
↑Abraham, William J.; Kirby, James E. (2009). The Oxford Handbook of Methodist Studies (dalam bahasa Inggris). Oxford University Press. ISBN978-0191607431.