Gereja perdana
Rujukan tertua mengenai acara santap-bersama yang disebut agape terdapat di dalam surat pertama Rasul Paulus kepada umat Kristen di Korintus. Banyak ahli kajian Perjanjian Baru yakin bahwa umat Kristen Korintus mengamalkan kebiasaan berkumpul pada malam hari untuk makan bersama sekaligus untuk melaksanakan upacara sakramen roti dan anggur.[16] 1 Korintus 11:20-34 Ayat ke-20 sampai ayat ke-34 dari bab 2 surat tersebut mengindikasikan bahwa upacara sakramen roti dan anggur dirangkai dengan acara santap-bersama yang lebih umum sifatnya.[17] Agaknya hadirin membawa makanan sendiri dari rumah untuk disantap bersama-sama, dan makanan tersebut adalah hidangan lengkap yang mengenyangkan. Tidak heran jika acara ini kadang-kadang merosot menjadi acara makan-makan biasa, bahkan menjadi ajang pamer bagi warga jemaat yang berpunya, sebagaimana yang terjadi di Korintus, sampai-sampai Rasul Paulus merasa perlu menyampaikan teguran berikut ini:
"Aku mendengar, bahwa apabila kamu berkumpul sebagai Jemaat, ada perpecahan di antara kamu, dan hal itu sedikit banyak aku percaya. Sebab di antara kamu harus ada perpecahan, supaya nyata nanti siapakah di antara kamu yang tahan uji. Apabila kamu berkumpul, kamu bukanlah berkumpul untuk makan perjamuan Tuhan. Sebab pada perjamuan itu tiap-tiap orang memakan dahulu makanannya sendiri, sehingga yang seorang lapar dan yang lain mabuk. Apakah kamu tidak mempunyai rumah sendiri untuk makan dan minum? Atau maukah kamu menghinakan Jemaat Allah dan memalukan orang-orang yang tidak mempunyai apa-apa?"[18]
Istilah agape (ἀγάπη) juga digunakan sebagai sebutan bagi acara bersantap di dalam surat Yudas (Yudas 1:12) dan di dalam sejumlah kecil naskah surat Rasul Petrus yang kedua (2 Petrus 2:13).
Tidak lama selepas tahun 100, Ignasius dari Antiokhia menyebut-nyebut perjamuan agape dalam karya tulisnya.[19] Keterangan Plinius Muda dalam Surat 97 yang dialamatkan kepada Kaisar Traianus[20] agaknya mengindikasikan bahwa sekitar tahun 112, acara bersantap tersebut lazim diselenggarakan secara terpisah dari Perjamuan Kudus (tanpa menyebutkan nama acaranya). Plinius Muda melaporkan bahwa umat Kristen membubarkan diri seusai menaikkan doa kepada Kristus selaku Allah pada pagi hari tertentu, dan nantinya berkumpul sekali lagi untuk santap bersama.[21] Perubahan waktu penyelenggaraan perjamuan agape dipicu oleh keegoisan dan kelobaan orang-orang Korintus.[22] Tertulianus agaknya juga menulis tentang acara santap-bersama ini,[23][24] meskipun tidak begitu jelas.[7]
Klemens dari Aleksandria (ca. 150–211/216) membedakan acara makan-makan mewah yang disebut agape dari perjamuan agape (cinta-kasih) di mana "hidangannya berasal dari Kristus sehingga mengisyaratkan bahwa kita wajib turut serta di dalamnya".[25] Dakwaan-dakwaan perbuatan tidak senonoh kadang-kadang dilontarkan terhadap bentuk yang lebih permisif dari perjamuan agape.[26] Berdasarkan keterangan Klemens dari Aleksandria di dalam Stromata (Jilid III, Bab 2),[27] Philip Schaff berpendapat bahwa "lekas hilangnya agapæ mungkin sekali adalah dampak dari penyalahgunaan yang keji atas kata tersebut oleh kaum pengikut Karpokrates yang leluasa mengumbar syahwat. Agapæ yang sejati adalah amalan warisan para rasul (2 Petrus 2:13, Yudas 1:12), tetapi kerap disalahgunakan oleh orang-orang munafik, bahkan pada masa hidup para rasul (1 Korintus 11:21). Sisa-sisa atau jejak peninggalan masa silam dari acara-acara kenduri cinta-kasih ini tampak pada tradisi pain béni di Gereja Galia, dan pembagian-bagian antidoron di Gereja Ortodoks Timur. Antidoron adalah sisa roti persembahan yang tidak dikonsekrasi tetapi diberkati dan dibagi-bagikan kepada nonkomunikan seusai Liturgi Ilahi."[28]
Agustinus dari Hipo juga menentang pelestarian amalan santap-bersama ini di tanah kelahirannya, Afrika Utara, karena pelaksanaan amalan ini kadang-kadang berakhir dengan mabuk-mabukan. Ia juga membedakannya dari Perjamuan Kudus ketika mengimbau, "hendaklah kita menyantap tubuh Kristus dalam persekutuan dengan orang-orang yang juga dilarang untuk makan, bahkan untuk makan roti yang berguna bagi kelangsungan tubuh kita."[29] Agustinus melaporkan bahwa amalan tersebut sudah lama dilarang di Milan, bahkan sebelum ia tinggal di kota itu.
Kanon 27 dan kanon 28 yang diundangkan Konsili Laodikia tahun 364 melarang peserta perjamuan membawa pulang santapan ke rumah maupun menggelar perjamuan agape di dalam gereja.[30] Konsili Kartago III tahun 393 dan Konsili Orléans II tahun 541[b] kembali melarang umat Kristen menggelar perjamuan agape di dalam gereja, sementara Konsili di Trullo tahun 692 menetapkan bahwa madu dan susu tidak boleh dipersembahkan di atas altar (Kanon 57), dan orang-orang yang menyelenggarakan perjamuan cinta kasih di dalam gereja harus dikucilkan dari jemaat (Kanon 74).
Umat Kristen Santo Tomas di India sampai sekarang masih menyelenggarakan perjamuan agape, dengan menyajikan hidangan khas mereka yang disebut apam.[12][13]
Selepas Reformasi Protestan, muncul suatu gerakan di dalam sejumlah kelompok umat Kristen untuk kembali kepada amalan-amalan Gereja Perjanjian Baru. Salah satu kelompok tersebut adalah Serikat Persaudaraan Schwarzenau (terbentuk tahun 1708), yang menjadikan perjamuan kasih, yang terdiri atas upacara pembasuhan kaki, perjamuan agape, dan Perjamuan Kudus, sebagai salah satu ordinansi mereka yang bersifat "lahiriah tetapi kudus". Kelompok lainnya adalah Jemaat Moravia di bawah pimpinan Pangeran Zinzendorf, yang mengadopsi suatu bentuk perjamuan agape yang terdiri atas acara santap-bersama sederhana, dan penyampaian kesaksian-kesaksian atau ceramah agama, dan pembacaan surat-surat dari para misionaris.
John Wesley, pengasas Gereja Metodis, berkunjung ke Amerika bersama anggota-anggota Jemaat Moravia, dan sangat mengagumi iman maupun amalan mereka. sesudah "bertobat" pada tahun 1738, ia memperkenalkan amalan perjamuan kasih, yang kemudian hari terkenal sebagai gerakan Metodis. Keterbatasan jumlah pelayan tertahbis di dalam Gereja Metodis membuat perjamuan kasih kerap diselenggarakan, karena jemaat jarang sekali berkesempatan menerima Komuni Kudus. Demikianlah jemaat Metodis mula-mula merayakan perjamuan kasih, sebelum acara tersebut menjadi langka pada abad ke-19 seiring meredupnya gerakan kebangunan rohani.