Caius Plinius Caecilius Secundus, lahir sebagai Gaius Caecilius atau Gaius Caecilius Cilo (~61 - 112 M.), lebih dikenal sebagai Plinius yang Muda (bahasa Inggris:Plinius the Youngercode: en is deprecated ) adalah seorang penulis sejarah yang lahir di Como, dekat Milan, Italia. Ia menjabat sebagai konsul pada zaman Kaisar Trajan (memerintah 98–117 M)[1] dan kemudian diangkat menjadi gubernur provinsi Romawi di Pontus dan Bitinia (Turki) tahun 101-110 M. Pamannya, Plinius yang Tua, membantu membesarkan dan mendidiknya. Mereka berdua menjadi saksi meletusnya gunung Vesuvius tanggal 24 Agustus 79 M. Ratusan tulisannya sekarang menjadi sumber informasi penting untuk sejarah Romawi kuno. Ia adalah teman baik penulis sejarah Tacitus.
Kota dan Danau Como ("Lake Como") lukisan tahun 1834 oleh Jean-Baptiste Camille CorotComo tahun 2003, pemandangan danau
Salah satu tulisannya yang banyak dikenal saat ini adalah suratnya kepada Kaisar Romawi meminta instruksi khusus untuk menginterogasi orang-orang Kristen yang ditangkapnya.[2][3] Dalam bagian "Epistles X 96", ia menyatakan bahwa orang-orang Kristen ini tidak mau menyembah Kaisar Trajan dan tidak mau mengutuki pemimpin mereka, Yesus Kristus, meskipun di bawah siksaan berat sampai mati. Plinius menulis bahwa orang-orang Kristen: [4]
mempunyai kebiasaan untuk berkumpul pada hari-hari tertentu sebelum fajar, dimana mereka menyanyi bait-bait lagu bergantian kepada Kristus seperti kepada seorang dewa, dan mengikat diri dengan sumpah takzim, bukan untuk melakukan perbuatan jahat, melainkan untuk tidak pernah melakukan kejahatan, pencurian, perzinahan, tidak pernah bersaksi dusta, tidak mengingkari kepercayaan bilamana mereka dipanggil untuk diserahkan. Ketika ini berakhir, mereka mempunyai adat untuk pergi dan berkumpul kembali untuk makan bersama, yang hanya berupa makanan biasa dan sederhana.
—Plinius. Epistles 10:96
Plinius menggambarkan orang-orang Kristen sebagai orang-orang yang mencintai kebenaran dengan harga apa pun. Mereka bersedia mati syahid daripada mengingkari iman mereka kepada Yesus, anak Allah. Dari sini didapat informasi, bahwa pada sekitar tahun 100 (jadi belum sampai 70 tahun setelah kematian Yesus), Yesus sudah disembah sebagai Allah oleh orang-orang Kristen.[5][6][7]
Referensi
↑Julian Bennett, Trajan: optimus princeps: a life and times(New York & London: Routledge, 1997), pp. 113–125.