Marpaung atau Morpaung (Surat Batak: ᯔᯒ᯲ᯇᯥᯰ ) adalah salah satu margaBatak yang terdapat dalam masyarakat Batak Toba dan Batak Angkola yang berasal dari daerah Balige, Toba. Leluhur marga Marpaung merupakan keturunan dari Raja Marpaung (Paung Mangaraja).
Etimologi
Secara etimologi, nama Marpaung dalam bahasa Batak Toba secara harfiah merujuk kepada kata mar dan paung yang memiliki arti menggunakan payung. Hal tersebut mengacu kepada:
Kata mar dalam bahasa Batak Toba merupakan prefiks yang dipakai sebagai penekanan atau penggunaan,
Kata paung dalam bahasa Batak Toba memiliki arti sebagai payung.
Asal
Berikut merupakan Tarombo (Silsilah) keturunan Raja Marpaung (Paung Mangaraja):
Menurut silsilah garis keturunan orang Batak (tarombo), Raja Marpaung (Paung Mangaraja) adalah generasi ketujuh dari Si Raja Batak dan anak kedua dari Sonak Malela.
Dalam perkembangannya, Keturunan Raja Marpaung mengklasifikasikan diri ke dalam dua kelompok:
Simanampang
Pangasean
Hingga saat ini terdapat perdebatan antara sesama marga Marpaung dari kelompok Simanampang dan Pangasean mengenai siapa yang lebih tua di antara keduanya. Perdebatan ini acap kali memicu polemik antar dua belah pihak, sehingga ketika sesama marga Marpaung bertemu cenderung tidak akan menanyakan satu sama lain berasal dari kelompok mana.
Marpaung Parsuratan adalah keturunan Raja Marpaung (Paung Mangaraja) yang berasal dari kelompok Simanampang. Marpaung Parsuratan merupakan keturunan marga Marpaung yang bermukim di Tapanuli Selatan dan telah mengadopsi sepenuhnya adat istiadat Batak Angkola.
Berikut merupakan Tarombo (Silsilah) keturunan Raja Marpaung Parsuratan:
Keturunan Raja Marpaung (Paung Mangaraja) memiliki hubungan erat dengan marga-marga keturunan Sonak Malela lainnya; keempat marga tersebut (Simangunsong, Marpaung, Napitupulu, dan Pardede) memegang teguh ikatan persaudaraan untuk tidak menikah antar satu dengan yang lain. Dikarenakan Raja Marpaung (Paung Mangaraja) merupakan anak kedua dari Sonak Malela, maka seluruh marga Marpaung dianggap lebih muda oleh marga Simangunsong, dan juga dituakan oleh marga Napitupulu dan Pardede. Oleh sebab itu setiap keturunan dari marga Marpaung harus memanggil abang/kakak ketika bertemu dengan marga Simangunsong dan memanggil adik ketika bertemu dengan marga Napitupulu dan Pardede tanpa memperhatikan usia.
Raja Marpaung (Paung Mangaraja) menikah dengan boru Pasaribu, oleh sebab itu hula-hula (mataniari binsar) dari seluruh marga Marpaung adalah marga Pasaribu.
Keturunan Raja Marpaung (Paung Mangaraja) memiliki ikatan Padan (ikrar janji) dengan marga Siagian yang terkhusus berasal dari kelompok Pandean Duri keturunan Raja Situtu (Siagian Huta Gurgur). Bagi keturunan Raja Marpaung (Paung Mangaraja) memegang teguh padan dengan tidak menikah dengan marga Siagian Huta Gurgur tersebut.
Meskipun berasal dari etnis Batak Toba, tetapi terdapat sejumlah keturunan Raja Marpaung yang telah bermukim ke daerah etnis Batak Angkola di Tapanuli Selatan dan mengadopsi sepenuhnya adat istiadat Batak Angkola ke dalam kehidupan sehari-hari mereka.
Kawasan marga Marpaung di Tapanuli Selatan tepatnya berada di Kecamatan Saipar Dolok Hole. Kelompok Marga Marpaung yang merantau ke Tapanuli Selatan merupakan keturunan Raja Simorongorong Marpaung dari daerah Sipallat, Siantar Narumonda. Anak Bungsu Raja Simorongorong yang bernama Parsuratan merantau ke Tapsel dan membuka kampung disana, kampung tersebut saat ini adalah Kelurahan Sipagimbar yang merupakan ibukota Kecamatan Saipar Dolok Hole.
Raja Parsuratan Marpaung memiliki lima anak, di mana tiga anak menghuni Sipagimbar, dan dua anak lainnya membuka kampung lain di dekat Sipagimbar.
Ompu Marsait Lipan mendiami kampung Sipagimbar
Ompu Pangulitan membuka dan mendiami kampung Galanggang
Ompu Andaliman membuka dan mendiami kampung Damparan
Ompu Guru Mangaraja mendiami kampung Sipagimbar
Ompu Mangaraja Ihutan mendiami kampung Sipagimbar
Tokoh
Beberapa tokoh yang bermarga Marpaung, di antaranya adalah: