Naskah tua Tarombo (tahun 1968) Raja Toga Sirait - Sirait Sihahaan, hasil dari tim peneliti yang dibentuk oleh punguan Ompu Raja Sirait / Br. Naibaho.
Sirait merupakan salah satu marga keturunan Tuan Sorbadijae yang bergelar Nai Rasaon atau dikenal juga sebagai Datu Pejel. Dengan kata lain, marga Sirait merupakan salah satu marga yang tergabung dalam perkumpulan atau Parsadaan Nai Rasaon. Tuan Sorbadijae memiliki seorang putra, yaitu: Raja Narasaon yang menikah dengan Boru Limbong, dan memiliki dua orang putra yang kembar dalam satu balutan (disebut sebagai: linduat sabalutan atau dongan sahali tubu) yang mana hal ini menyebabkan ketidakpastian tentang siapa yang lebih tua dan lebih muda di antara keduanya. Kedua orang putra tersebut, yaitu: Raja Mangarerak dan Raja Mangatur.
Raja Mangarerak menikahi Si Boru Hutahot, putri dari Si Raja Borbor, dan memiliki seorang putra, yaitu: (1) Toga Manurung yang menurunkan marga Manurung; dan Raja Mangarerak juga memiliki seorang putri bernama Similing-iling (Nailing) Boru Narasaon yang dinikahi oleh Raja Silahisabungan dari Silalahi Nabolak, Dairi. Kemudian mereka memperoleh seorang putra, yaitu: Raja Tambun (Tambun Raja) yang menurunkan marga Tambun atau Tambunan.
Raja Mangatur menikahi Si Boru Deak Bintang Harugasan Boru Sagala, dan memiliki tiga orang putra, yaitu: (1) Toga Sitorus yang menurunkan marga Sitorus; (2) Toga Sirait yang menjadi leluhur dari marga Sirait; dan (3) Toga Butarbutar yang menurunkan marga Butarbutar.
Guru Manduppas pergi ke Simalungun; menikah dan bermukim di sana
Naskah tua Tarombo (tahun 1979) Raja Toga Sirait - Sirait Sianggian, hasil dari tim peneliti yang dibentuk oleh punguan Ompu Metur Sirait / Br. Ambarita, Ompu Metur merupakan salah satu keturunan dari Sirait Sianggian.
Kontroversi tahun 2014 - 2020:
Beberapa pihak mengklaim bahwa Raja Toga Sirait memiliki dua orang istri dan tiga orang putra. Menurut klaim tersebut, anak ketiga dari Toga Sirait bernama Sirait Nalomloman, yang merupakan hasil pernikahan dengan istri kedua, Boru Naibaho dari Pangururan. Mereka juga mengklaim bahwa Raja Mardobur bukan anak dari Ompu Raja, melainkan anak dari Sirait Nalomloman. Namun, klaim yang beredar pada tahun 2014 hingga 2020 ini tidak diterima oleh sebagian besar keturunan Sirait lantaran tidak disertai bukti ataupun sumber data. Sebagian besar keturunan Sirait dengan tegas menyatakan hanya mengakui literatur yang diterima secara umum.[2][3]
Pada awalnya leluhur marga Sirait bermukim di Sibisa, yang kemudian generasi berikutnya menyebar dan membuka perkampungan baru. Pada masa eksisnya kerajaan-kerajaan Simalungun, populasi marga Sirait yang menyebar di Tanah Simalungun berafiliasi dengan marga Sinaga. Hingga saat ini, marga Sirait umumnya mewarisi salah satu dari dua ciri kebudayaan, yakni Batak Toba atau Batak Simalungun, tergantung pada daerah persebarannya.[5]
Huta Sirait
Keturunan Raja Toga Sirait terkenal perantau ulung, pemberani dan penolong, sehingga banyak menguasai lahan dan mendapat tanah dari upaya menolong orang, sehingga memiliki banyak tanah ulayat / huta. Huta Sirait tersebar seluas yang dijelajahi di beberapa Kabupaten Sumatera Utara, berikut daftarnya:
Wilayah ulayat bius Sirait di Samosir; pada zaman kolonial Belanda, Sirait dibagi ke dalam lima bius, yakni bius Sirait, biusSinaga, biusSitumorang, biusPandiangan, dan biusNainggolan; kini Sirait secara administratif masuk ke dalam Kecamatan Nainggolan.
Huta Sirait, Pardamean Sibisa, Kecamatan Ajibata, Kabupaten Toba (Bona Pasogit Sirait) (terdiri dari: Sibisa, Lumban Sihahaan, Lumban Gambiri)
Huta Sirait, Parsaoran Sibisa, Kecamatan Ajibata, Kabupaten Toba (Tambak Raja Toga Sirait dohot Ripena; Manotalan Boru Limbong) (terdiri dari: Sibisa, Onan Sampang)
Lumban Sirait di Parsaoran Ajibata, Kecamatan Ajibata, Kabupaten Toba
Huta Sirait di Horsik, Kecamatan Ajibata, Kabupaten Toba
Peninggalan
Terdapat beberapa peninggalan leluhur marga Sirait yang teridentikasi keberadaannya.
Dalam sejarah marga Sirait, mengenai riwayat Sirait Sihahaan, saat ketiga anaknya telah beranjak dewasa, maka ia mewariskan berupa benda pusaka sebagai simbol kesejahteraan dan pertanda kepada anaknya; bagiannya Ompu Raja menerima piso batak (pisau tradisional batak), bagiannya Datu Ronggur menerima hujur siringis (tombak tradisional batak), dan bagiannya Guru Solomoson menerima sapa bolon (piring tradisional batak). Mengenai keberadaan fisik benda-benda pusaka tersebut, beberapa sumber menyatakan bahwa benda-benda pusaka tersebut masih ada hingga saat ini di mana leluhur tersebut bermukim.
Dua benda pusaka peninggalan Ompu Raja Sirait, yakni Pagar Silintong Boru-boru serta Pagar Silintong Tunggal yang sudah tidak diketahui lagi keberadaannya. Berikut penjelasannya:
Pagar Silintong Boru-boru adalah benda pusaka milik Ompu Raja Sirait. Menurut beberapa sumber, Pagar Silintong Boru-boru adalah Batu sakti yang dikenal sebagai pangulubalang, konon pada masa lampau Pagar Silintong Boru-boru sangatlah berfungsi menjaga huta (area) Ompu Raja, yang konon dapat berbicara, memberitahukan jika ada musuh atau pencuri yang datang, dengan seruan "Musu! Musu! Musu!". Konon kesaktian Pagar Silintong Boru-boru ini dikabarkan sudah tidak ada lagi karena sudah tidak lengkap dengan pasangannya, yakni Pagar Silintong Tunggal yang dibawa pergi oleh Raja Mardobur. Meski demikian, Pagar Silintong Boru-boru tersebut masih ada hingga saat ini dan tetap tinggal di tambak (makam) Ompu Raja di Sibisa (lumban sihahaan).
Pagar Silintong Tunggal adalah benda pusaka milik Ompu Raja Sirait, nama Pagar Silintong Tunggal abadi sebagai benda pusaka yang mengiringi riwayat Raja Mardobur Sirait. Saat beranjak dewasa Raja Mardobur berniat untuk merantau, seiring waktu ia mulai merantau dari Sibisa (lumban sihahaan) ke Lintong Julu (lumban lintong) hingga tiba di Harungguan (sirait holbung), kemudian ia menikah dan bermukim serta berketurunan di sana. Kala itu, ia pergi sembari membawa Pagar Silintong Tunggal yang telah diwariskan oleh ayahandanya, Ompu Raja, sebagai sebuah pertanda baginya. Menurut beberapa sumber, Pagar Silintong Tunggal adalah Batu sakti yang sudah diberikan kekuatan magis, yang konon berfungsi sebagai penangkal Racun dan Bisa hewan. Mengenai keberadaan fisik Pagar Silintong Tunggal tersebut sudah tidak diketahui lagi di mana keberadaannya.[6][7]
Tokoh
Beberapa tokoh yang bermarga Sirait, di antaranya adalah: