Dolok Imun sebagai tempat lahir dan dibesarkannya putra-putri Raja Naipospos dan dari tempat tersebutlah keturunan Raja Naipospos tersebar atau merantau ke daerah lain.
Silsilah Naipospos
Berikut ini bagan silsilah keturunan Raja Naipospos sesuai dengan penuturan para tetua dan tokoh adat marga-marga keturunan Naipospos yang bermukim di daerah Dolok Imun, Hutaraja, dan Sipoholon sebagai sentral Naipospos.[4]
Penamaan Toga Sipoholon sering menjadi nama kumpulan yang diidentikkan untuk marga-marga keturunan Raja Naipospos dari istri pertama, yakni: Sibagariang, Hutauruk, Simanungkalit, dan Situmeang. Versi lain silsilah Naipospos yang berkembang mengatakan bahwa Raja Naipospos memiliki 2 (dua) putera dari 2 (dua) istri. Istri pertama melahirkan satu putera yang dinamai Sipoholon, dan istri kedua melahirkan satu putra yang diberi nama Marbun.[5]
Menurut para tetua dan tokoh adat Naipospos khususnya yang bermukim di daerah Sipoholon sendiri menyatakan bahwa Toga Sipoholon bukanlah nama salah satu putera Raja Naipospos.[6] Para tetua tersebut mengatakan bahwa tidaklah benar pendapat yang mengatakan bahwa Raja Naipospos mempunyai 2 (dua) orang putra, yaitu: Toga Sipoholon dan Toga Marbun. Pendapat ini dikatakan muncul sejak tahun 1921.[7]
Alasan yang sering dikemukakan para tetua dan tokoh adat Naipospos yang ada di daerah Sipoholon, antara lain sebagai berikut.[8]
Belum pernah Sipoholon dijadikan marga, sedangkan Naipospos dan Marbun dijadikan marga
Belum ada yang mengetahui dan dapat menuturkan kisah hidup Sipoholon secara jelas beserta dengan jejak rekamnya
Hingga saat ini, Parsadaan Toga Sipoholon sebagai kumpulan resmi marga Sibagariang, Hutauruk, Simanungkalit, dan Situmeang, tidak dapat terbentuk di kampung halaman Sipoholon, oleh karena ditentang oleh tetua dan tokoh adat Naipospos di Sipoholon, apalagi tugu Toga Sipoholon tidak pernah ada
Urutan Keturunan Naipospos
Terlepas dari kontroversi jumlah putra kandung Raja Naipospos, penulisan urutan marga-marga keturunan Raja Naipospos sering juga menjadi perdebatan di kalangan keturunan Raja Naipospos. Beberapa kalangan sering kurang terima Marbun menjadi putera bungsu dengan alasan bahwa Situmeang adalah yang paling akhir lahir di antara keturunan Raja Naipospos. Sedangkan di lain pihak, sesuai dengan adat-istiadat yang umumnya berlaku di kebanyakan daerah di Tanah Batak selalu menuliskan urutan keturunan dari istri pertama, kedua, dan seterusnya, jika memiliki istri lebih dari satu orang.[9]
Persoalan ini sering ditengahi para tetua dan tokoh adat antar marga-marga keturunan Naipospos dengan sebuah padan. Padan adalah sebuah istilah untuk ikatan janji setia dalam tata nilai masyarakat Batak. Dalam praktiknya, marga Hutauruk menjadi selevel dengan marga Marbun Lumbanbatu, marga Simanungkalit menjadi selevel dengan marga Marbun Banjarnahor, dan marga Situmeang menjadi selevel dengan marga Marbun Lumbangaol. Maka akibat padan ini, dengan sendirinya marga Marbun Lumbanbatu menjadi abang marga Simanungkalit dan Situmeang, karena Hutauruk telah menjadi selevel dengan Marbun Lumbanbatu. Marga Situmeang dan Marbun Lumbangaol bersama-sama otomatis menjadi yang bungsu. Sedangkan marga Sibagariang tetap diperlakukan sebagai yang sulung di antara seluruh marga-marga keturunan Raja Naipospos.[10]
Bagan stratifikasi tutur sapa antar marga keturunan Naipospos berdasarkan janji khusus (padan) yang disepakati
↑"BUKTI-BUKTI HAK SULUNG SIBAGARIANG". Donda Hopol (Sibagariang) adalah putera sulung (siangkangan ni) Raja Naipospos, tulisan Ricardo Parulian Sibagariang.