Gusti Kanjeng Ratu Maduretno (bahasa Jawa:ꦩꦢꦸꦉꦠ꧀ꦤcode: jv is deprecated , translit.Maduretna; lahir 12 April 1978 dengan nama Gusti Raden Ajeng Nurkamnari Dewi[1]) adalah keluarga kerajaan Kesultanan Yogyakarta. Ia merupakan putri ketiga dari Hamengkubuwana X, penguasa Yogyakarta dengan istrinya Hemas.
Masa kecil dan pendidikan
Nurkamnari Dewi menghabiskan masa kecil awalnya di kompleks perumahan Pabrik Gula Madukismo di Kasihan, Bantul. Karena kesibukkan tugas kerajaan dan politik, ia mengikuti orangtuanya pindah dari Kaliurang di Pakem, Sleman ke perumahan tersebut pada rentang akhir 1970-an hingga awal 1980-an bersama kerabat kerajaan lainnya.[2] Setelah kurang lebih satu dekade tinggal di Madukismo, keluarga tersebut kemudian memutuskan untuk pindah ke Keraton Yogyakarta pada Februari 1988.
Maduretno dan suaminya Purbodiningrat saat mengikuti prosesi kirab pernikahan saudarinya Hayu dengan Notonegoro, Oktober 2013.
Pada 9 Mei 2008, Nurkamnari Dewi menikah dengan Yun Prasetyo. Pernikahan mereka digelar di Keraton Yogyakarta dan menjadi Pernikahan Agung ketiga putri Hamengubuwana X setelah kakaknya Pembayun menikah pada 28 Mei 2002. Sesuai adat keraton, sebelum menikah, calon mempelai pria diangkat menjadi abdi dalem kraton dengan gelar dan nama Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) Purbodiningrat, sementara gelar mempelai wanita menyesuaikan menjadi Gusti Raden Ayu (GRAy) Purbodiningrat.[1]
Pernikahan Nurkamnari Dewi dan Yun Prasetyo di keraton dihadiri oleh pejabat-pejabat penting negara termasuk PresidenSusilo Bambang Yudhoyono dan Wakil PresidenJusuf Kalla. Urutan acara pernikahan sesuai dengan tradisi yang berlaku di kraton dengan pengecualian, tidak ada prosesi kirab.[7]
Hingga saat ini, pasangan Purbodiningrat dan Maduretno belum dikaruniai anak.
Kiprah di keraton
Maduretno (atas, kedua dari kanan) bersama keluarga kakak dan para adiknya di Keraton Yogyakarta.
Sebagai putri dalem, Maduretno menjalankan fungsi-fungsi formal dalam tata kelola internal Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Sebagai putri tengah, ia memiliki peran yang terdefinisi dalam pelaksanaan berbagai agenda dan upacara adat keraton. Maduretno terlibat dalam koordinasi dan penyelenggaraan ritual-ritual besar keraton, seperti pelaksanaan upacara Garebeg yang menandai hari Maulid Nabi Muhammad, upacara Tingalan Jumenengan Dalem (peringatan naik takhta raja), serta upacara siklus hidup bagi anggota kerabat keraton. Keterlibatannya dalam aktivitas seremonial ini merupakan bagian dari tanggung jawabnya dalam menjalankan fungsi kelembagaan Keraton sebagai pusat pelestarian tradisi dan budaya Jawa.
Di samping tugas-tugas seremonial, Maduretno juga mengemban perwakilan dan tugas administratif. Ia sering ditugaskan untuk mewakili ayahnya dalam menerima kunjungan resmi, baik dari pejabat pemerintah, delegasi kebudayaan, maupun tokoh masyarakat. Penugasan ini terkait dengan fungsi keraton dalam menjaga hubungan eksternal dan menjalankan komunikasi publik. Selain itu, ia juga terlibat dalam pengelolaan dan pengawasan aspek-aspek budaya dan pendidikan yang berada di bawah naungan keraton, termasuk kegiatan yang berfokus pada pelestarian aset budaya, seperti naskah kuno dan benda-benda pusaka. Keterlibatannya berorientasi pada pemeliharaan dan promosi warisan budaya keraton.
Maduretno turut memiliki peran dalam kegiatan bisnis dan kelembagaan di luar keraton. Bersama saudara-saudaranya, ia tercatat aktif dalam beberapa entitas usaha, termasuk PT Yogyakarta Tembakau Indonesia[8] dan Nurkadhatyan Spa.[9] Selain itu, Maduretno menduduki posisi sebagai komisaris di PT Buana Alam Tirta. Perusahaan ini merupakan pengelola resmi dari Kebun Binatang Gembira Loka di Yogyakarta.[10] Peran ini menunjukkan keterlibatannya dalam sektor swasta dan pengembangan fasilitas pariwisata regional.
Gelar dan gaya
Nurkamnari Dewi lahir dengan gelar kebangsawanan Jawa Gusti Raden Ajeng (GRAj), gelar yang disematkan kepada para putri penguasa sebelum menikah. Sebelum pernikahannya pada 2008, calon suaminya diberi gelar da nama baru oleh Hamengubuwana X menjadi Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) Purbodiningrat. Perubahan nama suaminya berdampak pada nama Nurkamnari Dewi, nama dan gelarnya kemudian berganti mengikuti nama suaminya menjadi Gusti Raden Ayu (GRAy) Purbodinigrat.
Pada tahun 2008, ia menerima kenaikan gelar dan perubahan nama menjadi Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Maduretno sementara suaminya menerima gelar Kanjeng Pangeran Harya (KPH).[11][12] Penganugerahan gelar ini digelar dalam upacara wisudhan dalam rangka Tumbuk Ageng peringatan ulang ke-64 ayahnya di Bangsal Kencono, Keraton Yogyakarta. Dalam situasi yang sama, kakak keduanya, GRAy Suryokusumo, juga diwisuda menjadi Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Condrokirono.[11][12] Dalam lingkungan keraton dan masyarakat, penyandang gelar Gusti Kanjeng Ratu biasanya disapa dengan "Gusti" atau "Gusti Ratu" sebagai tanda penghormatan.