Singapore Airlines adalah pelanggan peluncuran (launch customer) Airbus A380 — pesawat penumpang terbesar di dunia — serta Boeing 787-10, dan versi ultra-jauh Airbus A350-900. Maskapai ini berada di 15 maskapai teratas di dunia dalam hal kilometer pendapatan penumpang,[1] dan peringkat kesepuluh di dunia untuk penumpang internasional yang dibawa. Singapore Airlines terpilih sebagai Awak Kabin Maskapai Terbaik Dunia versi Skytrax 2019.[2] Maskapai ini juga meraih posisi kedua dan keempat sebagai Maskapai Terbaik Dunia dan Maskapai Terbersih Dunia masing-masing untuk tahun 2019.[3]
Concorde Singapore Airlines-British Airways pada 1979
Pada 1963, terbentuk Federasi Malaysia yang mengubah maskapai menjadi Malaysian Airways. Pemisahan Singapura dari Federasi terjadi pada 1965 dan pada 1966 Malaysian Airways mengubah namanya menjadi Malaysia-Singapore Airlines (MSA). Tahun berikutnya terjadi ekspansi yang cepat dalam armada dan rute maskapai, termasuk pembelian pesawat Boeing pertama MSA, Boeing 707, serta pendirian kantor pusat baru di Singapura. Boeing 737 ditambahkan ke armada segera setelah itu.
Operasi MSA terhenti pada 1972 saat terjadi perselisihan pendapat antara kedua pihak. Malaysia lebih menekankan penerbangan domestik sedangkan Singapura memilih jalur internasional. Walaupun terjadi pemisahan, para pramugari Singapore Airlines atau biasa disebut Singapore Girls tetap menggunakan baju kebaya yang ikonik.
Singapore Airlines
Singapore Airlines Tower
Perkembangan pesat terjadi pada tahun 1970-an saat Singapore Airlines menghadirkan Boeing 747 dalam armadanya. Pada bulan Desember 1977, British Airways dan SIA berbagi Concorde untuk penerbangan antara London dan Singapura melalui Bahrain. Pesawat Concorde G-BOAD BA ini dicat dengan corak Singapore Airlines di sisi kiri dan corak British Airways di sisi kanan.[4] Pada 1980-an, Amerika Serikat, Kanada, dan Eropa ditambahkan pada jaringan rute Singapore Airlines. Layanan diperluas ke selatan Afrika pada 1990-an ketika maskapai memulai penerbangan ke Johannesburg di Afrika Selatan; Cape Town dan Durban kemudian ditambahkan.
Pada tanggal 6 April 2012, Singapore Airlines memensiunkan armada 747 terakhirnya setelah 40 tahun beroperasi. Penerbangan peringatan pulang pergi terakhir dioperasikan dari Singapura ke Hong Kong dengan nomor penerbangan masing-masing SQ747 dan SQ748.[5]
Pada tanggal 15 April 2014 Singapore Airlines mengumumkan bahwa mereka akan menjadi sponsor utama Formula 1 untuk Grand Prix Singapura, mengambil alih Singtel yang telah mensponsori acara tersebut sejak 2008.[6] Pada Agustus 2015, maskapai mengumumkan bahwa mereka akan memperpanjang sponsornya 2 tahun lagi hingga 2017. Pada April 2020, SIA mengumumkan bahwa mereka akan terus mensponsori acara tersebut hingga tahun 2021.[7]
Singapore Airlines sangat terdampak akibat pandemi COVID-19. Pada 23 Maret 2020, Singapore Airlines (SIA) mengumumkan bahwa bersama dengan SilkAir, Singapore Airlines akan memangkas 96% kapasitasnya. Sekitar 138 pesawat Singapore Airlines dan SilkAir akan dikandangkan.[8] Selain itu, pada 24 Maret, SIA mengumumkan langkah-langkah lebih lanjut untuk membantu mengurangi biaya sementara sebagian besar armada dilarang terbang.
Selama tahun 2021 dan 2022, SIA secara bertahap kembali membuka destinasinya di seluruh dunia seiring dengan pulihnya industri penerbangan, dengan beberapa destinasi kembali ke frekuensi penerbangan sebelum pandemi.[9] Lamaran pekerjaan awak kabin juga telah pulih ke tingkat sebelum pandemi.[10]
Singapore Airlines terbang ke 62 destinasi internasional (termasuk destinasi musiman) di 32 negara di 5 benua (per Mei 2020) dari hub utamanya di Singapura. India dan Amerika Serikat adalah negara dengan destinasi tertinggi dengan jumlah masing-masing enam destinasi.
Code Sharing
Singapore Airlines juga melakukan code sharing ke berbagai tujuan dengan maskapai-maskapai berikut:[11]
Singapore Airlines mengoperasikan sebagian besar armada pesawat berbadan lebar, hingga pengenalan kembali Boeing 737 pada Maret 2021 setelah merger dengan SilkAir.
Per September 2024, Singapore Airlines mengoperasikan pesawat berikut:[26]
2 pesanan diubah menjadi 787-8 dan ditransfer ke Scoot.[45]
3 pesanan dikonversi dari Scoot 787-9 pada Mei 2023.[37]
Termasuk 9V-SCP, Boeing 787 Dreamliner ke-1000 yang dibuat.
21 Mei 2024 – Singapore Airlines Penerbangan 321, sebuah Boeing 777-300ER (terdaftar sebagai 9V-SWM) dengan 211 penumpang dan 18 awak pesawat dari Bandara Heathrow London menuju Bandara Changi di Changi, Singapura, dialihkan ke Bandara Suvarnabhumi di Bangkok setelah mengalami turbulensi hebat dalam perjalanan di atas wilayah udara Myanmar.[52] Dari 229 orang di dalamnya, 1 penumpang meninggal dunia akibat serangan jantung. Seluruh 228 penumpang lainnya selamat, tetapi 104 penumpang dan awak pesawat terluka.