Kisah Para Rasul 6 (disingkat Kis 6) adalah bagian Kitab Kisah Para Rasul dalam Perjanjian Baru di AlkitabKristen. Ditulis oleh Lukas, seorang Kristen yang merupakan teman seperjalanan Rasul Paulus.Buku yang memuat bab ini tidak disebutkan namanya, tetapi tradisi Kristen awal menegaskan bahwa Lukas juga menulis buku ini dan Injil Lukas.[1][2][3] Buku ini mencatat penetapan tujuh diaken pertama,[4] dan pekerjaan salah satu dari mereka, Stefanus. Joseph T. Lienhard merujuk pada "siklus Stefanus" yang terlihat jelas dalam hubungan yang disengaja antara penetapan tujuh diaken dan narasi tentang Stefanus dalam bab ini dan bab 7.[5]
Pada masa itu, ketika jumlah murid makin bertambah, timbullah sungut-sungut di antara orang-orang Yahudi yang berbahasa Yunani terhadap orang-orang Ibrani, karena pembagian kepada janda-janda mereka diabaikan dalam pelayanan sehari-hari.[6]
"Pelayanan" (bahasa Yunani:διακονίᾳcode: el is deprecated , diakonia) untuk janda merupakan tanggung jawab keluarga mendiang suami atau kerabat lainnya, atau di kalangan murid-murid, dilakukan bersama oleh jemaat. Namun ini menjadi bibit perselisihan di antara murid-murid yang berbudaya Yunani dan Yahudi, sehingga perlu diselesaikan dengan pengangkatan diaken.[7]
Usul itu diterima baik oleh seluruh jemaat, lalu mereka memilih Stefanus, seorang yang penuh iman dan Roh Kudus, dan Filipus, Prokhorus, Nikanor, Timon, Parmenas dan Nikolaus, seorang penganut agama Yahudi dari Antiokhia.[8]
Dengan keputusan rapat jemaat, 7 orang dipilih menjadi diaken (=pelayan) pertama. Ketujuh orang ini mempunyai nama Yunani, jadi rupanya termasuk ke dalam golongan orang-orang Yahudi yang berbahasa Yunani, sama seperti mereka yang bersungut-sungut dan menyulut perpecahan di ayat 1. Ini merupakan tindakan jemaat yang bijaksana dan penuh kasih bagi mereka yang menyampaikan keluhan untuk janda-janda.[7]
Ayat 7
Firman Allah makin tersebar, dan jumlah murid di Yerusalem makin bertambah banyak; juga sejumlah besar imam menyerahkan diri dan percaya.[9]
Diperkirakan ada sekitar 8000 imam di Yerusalem. Kebanyakan bukan dari keluarga Imam Besar Yahudi, melainkan orang-orang dari suku Lewi yang mempunyai tugas-tugas di Bait Allah sebagaimana Zakharia, ayah Yohanes Pembaptis. Pelayanan mereka di Bait Allah menjadi lebih sungguh-sungguh setelah mereka mengakui Yesus sebagai Mesias, karena mereka lebih memahami makna di balik ritual yang mereka kerjakan.[7]
Referensi
↑Willi Marxsen. Introduction to the New Testament. Pengantar Perjanjian Baru: Pendekatan kritis terhadap masalah-masalahnya. Jakarta:Gunung Mulia. 2008. ISBN 9789794159219.
↑John Drane. Introducing the New Testament. Memahami Perjanjian Baru: Pengantar historis-teologis. Jakarta:Gunung Mulia. 2005. ISBN 979-415-905-0.