"Hanas" (Annas; disebut Ananus dalam tulisan Yosefus), putra seorang bernama Seth, dijadikan Imam Besar pada tahun 6-7 M oleh wali negeri Romawi, Kirenius (Quirinus; Cyrenius),[7] dan menjabat sampai tahun 14-15 M saat ia dipecat oleh wali negeri Romawi, Gratus.[8] Ia masih tetap disebut sebagai Imam Besar karena sesuai prinsip yang dicatat beberapa kali dalam Talmud,[9] sekali diangkat kepada jabatan suci, tidak bisa diturunkan, jadi Hanas menurut tradisi Yahudis tidak pernah disebut dengan gelar jabatan selain Imam Besar.[10] Namun, ketika Yesus ditangkap, Ia pertama-tama dihadapkan ke Hanas, baru kemudian ke Kayafas, Imam Besar saat itu (Yohanes 18:13), yang mengindikasikan bahwa Hanas dipandang lebih tinggi kedudukannya, karena setelah ia dipecat pada tahun 14-15 M, lima orang dari putra-putranya, antara lain, Eleazar (16 M), dan menantunya, Kayafas (25–37 M), menjabat sebagai Imam Besar,[11] sehingga ia masih sangat berpengaruh karena usia dan pengalamannya, serta dicatat oleh Lukas 3:2, baik Hanas dan Kayafas dengan sebutan Imam Besar.[10]
"Yohanes": Lightfoot berpendapat bahwa orang ini sama dengan Yohanan ben Zakai; seorang Rabi Yahudi terkenal, yang saat itu hidup di Yerusalem kejatuhan kota itu pada tahun 70 M, dan dikenal sebagai "imam",[12] dan selalu berada di Bait Suci,[13] tetapi dibantah karena Yohanan adalah seorang Farisi seumur hidupnya, sedangkan para keturunan Imam Besar itu adalah dari kelompok Saduki (Kis 5:17).[14] Gill mengusulkan Imam Besar Yohanes yang melayani sebagai imam selama 80 tahun dan akhirnya menjadi seorang Saduki.[15]
"Aleksander": Gill mengutip Yosefus bahwa ia adalah seorang Saduki yang sangat kaya dengan nama keluarga Lysimachus, dan mempunyai gelar "Alabark" (Yosefus, Antiq. l. 20. c. 5. sect. 2).[14]
Ayat 12
[Jawab Petrus, penuh dengan Roh Kudus:] "Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan." (TB)[16]
Para murid yakin bahwa kebutuhan terbesar setiap orang adalah keselamatan dari dosa dan murka Allah, dan mereka berkhotbah bahwa kebutuhan itu tidak dapat dipenuhi oleh seorang lain pun kecuali Kristus. Hal ini mengungkapkan sifat eksklusif dari Injil serta tanggung jawab gereja yang berat untuk menyampaikannya kepada semua orang. Apabila ada jalan keselamatan yang lain, gereja bisa bersantai. Akan tetapi, menurut Kristus sendiri (Yohanes 14:6), tidak ada pengharapan untuk keselamatan selain di dalam Kristus (lihat Kisah Para Rasul 10:43; 1 Timotius 2:5–6). Amanat inilah merupakan landasan tugas misioner.[17]
Ayat 25-26
Dan oleh Roh Kudus dengan perantaraan hamba-Mu Daud, bapa kami, Engkau telah berfirman: Mengapa rusuh bangsa-bangsa, mengapa suku-suku bangsa mereka-reka perkara yang sia-sia? Raja-raja dunia bersiap-siap dan para pembesar berkumpul untuk melawan Tuhan dan Yang Diurapi-Nya. (TB)[18]
Adapun kumpulan orang yang telah percaya itu, mereka sehati dan sejiwa, dan tidak seorangpun yang berkata, bahwa sesuatu dari kepunyaannya adalah miliknya sendiri, tetapi segala sesuatu adalah kepunyaan mereka bersama. (TB)[20]
Ayat 33
Dan dengan kuasa yang besar rasul-rasul memberi kesaksian tentang kebangkitan Tuhan Yesus dan mereka semua hidup dalam kasih karunia yang melimpah-limpah. (TB)[21]
"Kuasa yang besar" merupakan ciri khas dari khotbah dan kesaksian rasuli (bandingkan Kis 1:8) karena tiga alasan:[17]
1) Kesaksian rasuli berlandaskan Firman Allah (Kis 4:29) serta keyakinan bahwa Firman itu diberikan dengan pengilhaman Roh Kudus
2) Para rasul sadar bahwa mereka diutus dan ditugaskan oleh Yesus Kristus sendiri, yaitu Tuhan yang bangkit.
3) Roh Kudus, melalui para rasul (Kis 4:31), menimbulkan keinsafan besar di kalangan mereka yang mendengarkan Injil tentang dosa pribadi, kebenaran Kristus, dan penghakiman Allah (lihat Yohanes 16:8).[17]
Ayat 34
Sebab tidak ada seorangpun yang berkekurangan di antara mereka; karena semua orang yang mempunyai tanah atau rumah, menjual kepunyaannya itu, dan hasil penjualan itu mereka bawa (TB)[22]
Ayat 35
dan mereka letakkan di depan kaki rasul-rasul; lalu dibagi-bagikan kepada setiap orang sesuai dengan keperluannya. (TB)[23]
Ayat 32-35 catatan
Sejumlah komunitas Kristen menerapkan kebiasaan gereja perdana di Yerusalem, sebagaimana tercatat dalam Kisah Para Rasul 2 dan 4 sebagai petunjuk bagaimana mengaplikasikan perintah Yesus untuk mengasihi Allah dan sesama. Simple Way, Bruderhof,[24]Hutterit dan Rutba House semua mengambil inspirasi dari Kisah Para Rasul 4:32-35. The Bruderhof, suatu gerakan komunal internasional, terdiri dari para keluarga dan para bujangan, hidup dalam komunitas penuh yang berbagi harta milik; tidak ada yang memiliki sesuatu untuk diri sendiri dan semuanya menjadi milik bersama.[25]
Ayat 36
Demikian pula dengan Yusuf, yang oleh rasul-rasul disebut Barnabas, artinya anak penghiburan, seorang Lewi dari Siprus. (TB)[26]
"Yusuf": diterjemahkan dari bahasa Yunani Ἰωσὴφ (Iosef; "Yosef") atau Ἰωσὴς (Ioses; "Yoses") dalam naskah-naskah kuno bahasa Yunani.[27]
"Barnabas": berperan penting dalam awal kehidupan Paulus sebagai pemimpin orang percaya.[28]
Referensi
↑Willi Marxsen. Introduction to the New Testament. Pengantar Perjanjian Baru: Pendekatan kritis terhadap masalah-masalahnya. Jakarta:Gunung Mulia. 2008. ISBN 9789794159219.
↑Yosefus. Antiq. xviii. 2. 1. Kutipan: Ketika Kirenius telah mengambil uang Arkhelaus, dan ketika perpajakan telah berakhir, yang dilakukan pada tahun ke-37 kemenangan Caesar (Augustus) atas Antonius di Actium (2 September 31 SM; jadi peringatan tahun ke-37 jatuh pada tahun 6-7 M), ia menyingkirkan Joazar dari jabatan Imam Besar, yang martabatnya telah diberikan kepadanya oleh banyak orang, dan ia menunjuk Ananus, putra Seth, sebagai Imam Besar.
↑Yosefus. Antiq. xviii. 2. 2. Kutipan: ...Annius Rufus, yang dalam pemerintahannya, Caesar (Augustus) mati, kaisar kedua Romawi...Tiberius Nero ... menggantikannya... menjadi kaisar ketiga... mengutus Valerius Gratus menjadi prokurator Yudea, dan menggantikan Annius Rufus. Orang ini memecat Ananus dari jabatan Imam Besar, dan menunjuk Ismael, putra Phabi, menjadi Imam Besar. Ia juga memecatnya setelah sesaat, dan menahbiskan Eleazar, putra Ananus, yang sebelumnya menjadi Imam Besar, menjadi Imam Besar; jabatan ini ketika telah ia pegang selama setahun, Gratus memecat darinya, dan memberikan jabatan Imam Besar kepada Simon, putra Camithus; dan ketika ia memegang jabatan tidak lebih dari setahun, Yosef Kayafas dijadikan penggantinya.
↑Mishna Shekalim vi. 6, ed. princ. Jerus. Dikutip dalam Cambridge Bible for Schools and Colleges. Acts 4
123Cambridge Bible for Schools and Colleges. Acts 4.
↑Yosefus. Antiq. xx. 9. 1. Kutipan: Ananus yang paling tua ini adalah orang yang paling beruntung, karena ia mempunyai lima putra yang semua menjabat sebagai Imam Besar bagi Allah, dan ia sendiri menikmati jabatan itu dulu sekali.
↑Juchasin, fol. 20. 2. Dikutip dalam Gill's Exposition of the Entire Bible on Acts 4
↑T. Bab. Pesachim, fol. 26. 1. Dikutip dalam Gill's Exposition of the Entire Bible on Acts 4.