Musafir Tiongkok yang pernah mengunjungi Nusantara pada abad VII, yaitu I Tsing yang merupakan seorang peziarah Buddha, dalam catatannya menyatakan pernah singgah di To-Lang P'o-Hwang ("Tulangbawang"), suatu kerajaan di pedalaman Chrqse (Pulau Sumatra).[2]
Dr. J. W. Naarding memperkirakan pusat kerajaan ini terletak di hulu Way Tulang Bawang (antara Menggala dan Pagar Dewa) kurang lebih dalam radius 20 km dari pusat Kota Menggala.[2]
Seiring dengan makin berkembangnya kerajaan Che-Li-P'o Chie (Sriwijaya), nama Kerajaan Tulang Bawang semakin memudar. Tidak ada catatan sejarah mengenai kerajaan ini yang ada adalah cerita turun temurun yang diketahui oleh penyimbang adat, tetapi karena Tulang Bawang menganut Adat Pepadun, yang memungkinkan setiap khalayak untuk berkuasa dalam komunitas ini, maka Pemimpin Adat yang berkuasa selalu berganti ganti Trah. Hingga saat ini belum diketemukan benda benda arkeologis yang mengisahkan tentang alur dari kerajaan ini.[3]
Daftar leluhur
Berikut adalah nama-nama leluhur yang hidup pada masa sesudah Kerajaan Tulang Bawang (Wilayah sepanjang aliran Sungai Way Tulang Bawang serta anak sungainya, Way Kiri dan Way Kanan).[4][5]
↑Hadikusuma, Hilman; Barusman, R. M.; B. A Arifin, Razi; Soebadio, Haryati; S. Susanto, Astrid; M. D, Sagimun; Abu, Rifai; Safiun, Anrini; Melalatoa, Junus (1980-09-20). Adat dan istiadat Daerah Lampung (dalam bahasa Inggris). Hilman Hadikusuma, R. M. Barusman, Razi B. A Arifin, Haryati Soebadio, Astrid S. Susanto, Sagimun M. D, Rifai Abu, Anrini Safiun, Junus Melalatoa, Meutia Swasono, Rosmawati Rosmawati, Gatot Murniatno, Nelly Tobing, Syamsidar Syamsidar, Endang Parwieningrum. Jakarta: Pusat Penelitian Sejarah dan Budaya.
12Suwondo, Bambang; Bukri, Bukri; Sayuti, Husin; Soepangat, Soepangat (2018-10-11). Sejarah Daerah Lampung (dalam bahasa Inggris). Pusat Penelitian Sejarah dan Budaya: Pusat Penelitian Sejarah dan Budaya Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.