Adat Pepadun adalah sistem adat dan budaya yang dianut oleh kelompok masyarakat Lampung Pepadun, salah satu dari dua subsuku utama dalam masyarakat Lampung selain Saibatin. Adat ini berpusat pada prinsip musyawarah, kesetaraan sosial, serta pencapaian gelar adat melalui upacara tertentu yang dikenal dengan sebutan cangget pepadun atau naik pepadun. Dalam sistem sosial masyarakat Lampung, adat Pepadun mencerminkan struktur yang lebih demokratis dan terbuka dibandingkan sistem adat Saibatin yang bersifat aristokratis.[1]
Sejarah dan Asal Usul
Asal-usul Adat Pepadun berakar dari tradisi Sekala Brak di dataran tinggi Lampung Barat. Istilah “Pepadun” berasal dari kata “padun” yang berarti singgasana atau tempat duduk kehormatan bagi seorang pemimpin adat. Dalam konteks budaya, Pepadun menggambarkan sistem sosial yang memberikan kesempatan kepada seseorang untuk memperoleh gelar kehormatan adat melalui proses musyawarah dan pengakuan masyarakat. Sistem ini muncul sekitar abad ke-17 hingga ke-18 Masehi, ketika masyarakat pedalaman Lampung mulai membentuk struktur sosial yang mandiri dan egaliter.[2]
Struktur Sosial
Dalam Adat Pepadun, masyarakat dibagi ke dalam beberapa lapisan sosial berdasarkan gelar adat yang diperoleh melalui upacara resmi. Gelar tersebut disebut suttan atau radin untuk laki-laki dan indatu untuk perempuan. Gelar ini tidak diwariskan secara turun-temurun, melainkan diperoleh melalui proses “naik pepadun” yang melibatkan musyawarah adat, pemberian persembahan, serta pengakuan dari tokoh adat. Hal ini menandakan bahwa sistem Pepadun bersifat meritokratis, di mana kehormatan diperoleh melalui jasa, perilaku, dan partisipasi dalam kegiatan sosial.[3]
Upacara Naik Pepadun
Upacara naik pepadun merupakan inti dari pelaksanaan adat ini. Prosesi ini melibatkan rangkaian ritual adat seperti begawi, cangget, dan pembacaan piil pesenggiri (falsafah hidup masyarakat Lampung). Upacara ini menandai pengukuhan seseorang sebagai pemangku adat dengan gelar tertentu. Dalam prosesi tersebut, peserta akan duduk di atas singgasana pepadun sebagai simbol diterimanya dalam struktur sosial adat. Nilai-nilai yang ditanamkan dalam upacara ini antara lain tanggung jawab sosial, kepemimpinan, dan penghormatan terhadap leluhur.[4]
Falsafah dan Nilai
Adat Pepadun berpijak pada falsafah hidup masyarakat Lampung yang dikenal dengan istilah piil pesenggiri, yang berarti harga diri dan kehormatan diri. Falsafah ini mencakup lima nilai utama: nemui nyimah (toleransi dan keramahan), nengah nyappur (sosialisasi), sakai sambayan (gotong royong), bejuluk beadek (memiliki nama dan gelar), serta piil pesenggiri itu sendiri. Kelima prinsip ini menjadi pedoman moral dan sosial dalam kehidupan masyarakat Pepadun, baik dalam konteks keluarga maupun bermasyarakat.[5]
Perbandingan dengan Adat Saibatin
Berbeda dengan Adat Saibatin yang menganut sistem hierarki ketat berdasarkan garis keturunan bangsawan, Adat Pepadun bersifat terbuka bagi setiap individu untuk memperoleh gelar adat. Hal ini menjadikan Pepadun lebih egaliter dan demokratis. Namun, kedua sistem ini tetap berlandaskan nilai moral dan spiritual yang sama, yaitu penghormatan terhadap leluhur, adat istiadat, dan keseimbangan sosial.[6]
↑Hadikusuma, H. (1995). *Adat Istiadat Daerah Lampung*. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.
↑Sutrisno, B. (2018). *Struktur Sosial dan Kepemimpinan dalam Adat Pepadun Lampung*. Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora, 9(2), 145–160. https://doi.org/10.23960/jish.v9i2.2037
↑Wulandari, A. (2021). *Makna Simbolik Upacara Naik Pepadun dalam Budaya Lampung*. Jurnal Antropologi Indonesia, 42(1), 92–107. https://doi.org/10.7454/jai.v42i1.1278
↑Rahardjo, S. (2022). *Piil Pesenggiri sebagai Etika Sosial dalam Masyarakat Lampung Pepadun*. Jurnal Filsafat dan Budaya Nusantara, 7(3), 200–213. https://doi.org/10.31002/jfbn.v7i3.2756
↑Fauzi, M. (2020). *Perbandingan Struktur Sosial Saibatin dan Pepadun di Lampung*. Jurnal Budaya dan Sejarah Nusantara, 2(2), 77–90. https://doi.org/10.24832/jbsn.v2i2.1054
↑Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. (2015). *Warisan Budaya Takbenda Indonesia: Adat Pepadun*. Jakarta: Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya.
Artikel ini tidak memiliki konten kategori. Bantulah dengan menambah kategori yang sesuai sehingga artikel ini terkategori dengan artikel lain yang sejenis.