Pi'il Pesenggiri (Pesenggiri, Pusanggiri) merupakan satu pedoman dan pandangan hidup dari masyarakat suku Lampung dan Komering di wilayah Sumatera bagian selatan. Konsep dari arti Pi'il Pesenggiri adalah suatu jalinan sosial dan hubungan kemasyarakatan dari satu individu dengan individu lainnya secara filosofi dan etik.[1]
Pi'il Pesenggiri merupakan landasan berpikir, bertindak dan berperilaku ideal manusia Lampung dimanapun berada. Pi'il Pesenggiri didalamnya terdapat nilai-nilai dan norma yang mengatur tata hidup masyarakat Lampung. Pi'il Pesenggiri merupakan nilai-nilai luhur dan hakiki yang menunjukkan kepribadian serta jati diri dari masyarakat Lampung, karena nilai-nilai luhur yang ada di dalam falsafah hidup tersebut sesuai dengan kenyataan hidup masyarakat Lampung.[2]
Terdapat beberapa aspek dalam Piil Pesenggiri yaitu Bejuluk Beadok (gelar kehormatan), Nemui Nyimah (ramah tamah dalam menyambut tamu), Nengah Nyampogh (mudah berbaur dalam masyarakat), dan Sakai Sambayan (tolong menolong dan bergotong royong).[3]
Piil Pesenggiri sebagai jalan hidup orang Lampung terkodifikasi dan tertuang dalam kitab Kuntara Raja Niti di Lampung dan Kuntara Raja Asa di Komering. Kitab Kuntara Raja Niti dan Kuntara Raja Asa merupakan sebuah pedoman bagi para tetua adat dan bangsawan dalam menjalankan kebijaksanaannya. Kuntara Raja Niti mengatur kehidupan sosial kemasyarakatan rumpun Lampungic di Sumbagsel.
Sejarah
Kuntara Raja Niti mengatur kehidupan sosial kemasyarakatan rumpun Lampungic di Sumbagsel utamanya Lampung dan Komering. Kuntara Raja Niti dan Kuntara Raja Asa dikodifikasi oleh para Perwatin dalam kerapatan adat Saibatin Penyimbang, yang mana disana terdapat kelima falsafah hidup Jelma Lampung yang termaktub didalamnya sebagai saripati dari Kuntara Raja Niti. Piil Pesenggiri merupakan norma kodifikasi dan tertuang dalam kitab Kuntara Raja Niti di Lampung dan Kuntara Raja Asa di Komering. Sebagai pedoman, Kuntara Raja Niti adalah pegangan bagi para pemimpin adat dalam menjalankan kebijakan dilingkungan adat dalam yurisdiksinya.
Lima falsafah hidup ini adalah: Piil Pusenggiri; merupakan prinsip harga diri dan kebanggaan akan marwah dan kedaulatan diri. Bejuluk Beadok; karakteristik dan kedudukan sosial, memegang martabat dan kapabilitas dalam kehidupan. Nemui Nyimah; bermakna membangun silaturahmi dan hubungan baik dengan lingkungan dan sesama, lalu Nengah Nyampogh; berkontribusi dalam kehidupan sosial dan membangun keselarasan dengan semesta, dan kemudian Sakai Sambayan; yakni semangat kebersamaan dan gotong royong, saling bersinergi dalam mencapai tujuan dan kemaslahatan bersama.
Pokok Ajaran
Piil-Pesenggiri, mengandung ajaran: Berani dan bertanggung jawab dalam menjalankan kebenaran dan tangguh dalam menghadapi tantangan dalam kehidupan. Kebijaksanaan adalah merupakan bagian dari kemuliaan dan kehormatan diri.
Juluk-Adok, mengandung ajaran: Selalu menggunakan nama-nama panggilan yang baik terhadap diri sendiri maupun orang lain. Panggilan yang baik bukan saja membuat orang lain terhormat, tetapi juga menunjukan diri yang bermartabat.
Nemui-Nyimah, mengandung ajaran: Senang berkunjung dan dikunjungi dengan sikap yang ramah dan pemurah. Berkunjung dan dikunjungi bagian dari sikap saling menghormati.
Nengah-Nyampogh, mengandung ajaran: Selalu bergaul ditengah masyarakat. Memperluas hubungan persahabatan dan kekeluargaan dengan semua orang.
Sakai-Sambayan, mengandung ajaran: Senang tolong-menolong dan bergotong-royong dalam hubungan persaudaraan dan kekeluargaan. Sehingga persoalan bersama dapat diselesaikan pula secara bersama-sama.
Piil Pesenggiri dalam Pantun
Terdapat pesan nasihat dan ajaran Pi'il Pesenggiri pada pantun tradisional (adi-adi) masyarakat Lampung seperti berikut ini:
Tandani Jelma Lampung, wat Piil-Pusanggiri
Cirinya orang Lampung, memiliki Piil Pesenggiri
Hina Mulia kehitung, wat liom ghega dighi
Kehinaan dan Kemuliaan akan selalu diperhitungkan, memiliki malu dan harga diri
Juluk-Adok gham pegung, nemui-nyimah muaghi
Juluk-Adok kita pegang, Nemuy Nyimah dalam persaudaraan