Kastel Gifu (岐阜城code: ja is deprecated , Gifu-jō) adalah istana Jepang yang terletak di Gifu, Prefektur Gifu, Jepang. Bersama dengan Gunung Kinka dan Sungai Nagara, istana ini merupakan salah satu simbol utama kota tersebut. Istana ini juga dikenal sebagai Kastel Inabayama (稲葉山城code: ja is deprecated , Inabayama-jō). Kastel Gifu telah ditetapkan sebagai Situs Bersejarah Nasional pada tahun 2011.[1]
Gambaran umum
Kastel Gifu terletak di Gunung Kinkazan di timur laut pusat kota Gifu, menghadap Sungai Nagara. Sebelum banjir besar pada tahun 1586, Sungai Kiso mengalir di utara di bekas alirannya saat ini dan jauh lebih dekat ke kastel, menjadikan Kastel Gifu dilindungi oleh dua sungai besar. Kastel ini juga mengendalikan jalur utama menuju Provinsi Mino di jalan raya Tōkaidō yang menghubungkan ibu kota historis Kyoto dengan provinsi-provinsi di timur negara Jepang.
Sejarah
Pemandangan kompleks kastel yang meliputi seluruh Gunung Kinka dari atas hingga bawah (lukisan dari periode Edo)
Kastel Gifu pertama kali dibangun oleh klan Nikaidō antara tahun 1201 dan 1204 di periode Kamakura.[2][3] Awalnya dibangun sebagai benteng kecil, bangunan pertahanan ini dibangun kembali dalam skala yang jauh lebih besar pada periode Muromachi oleh Saitō Toshinaga (wafat 1460). Toshinaga pernah menjabat sebagai shugo di Provinsi Mino, tetapi karena konflik internal, klan Saitō digantikan oleh klan Toki. Kehormatan klan tersebut dipulihkan berkat usaha seorang petualang dari Kyoto yang bernama Saitō Dōsan. Saitō Dōsan, yang juga dikenal sebagai "Ular Berbisa dari Mino", dengan kejam mengalahkan musuh-musuhnya, mengusir klan Toki, bahkan berjaya menangkal serbuan dari Provinsi Owari yang dipimpin oleh Oda Nobuhide. Saitō Dōsan terbunuh dalam pemberontakan yang dilancarkan oleh putranya sendiri, Saitō Yoshitatsu. Meski Yoshiyasu menunjukkan potensi sebagai penguasa, ia meninggal pada usia 34 tahun, mewariskan Kastel Inabayama kepada putranya, Saitō Tatsuoki.
Selama periode Sengoku, seorang samurai yang mengabdi pada klan Saitō bernama Takenaka Hanbei pergi ke Kastel Inabayama, dengan dalih hendak mengunjungi saudaranya yang sakit. Ternyata itu merupakan tipu dayanya, karena sebenarnya ia pergi ke kastel dengan maksud untuk membunuh Saitō Tatsuoki. Ketika Hanbei menyerangnya, Tatsuoki sangat kebingungan—mengira pasukan musuh telah datang untuk menyerangnya—lalu melarikan diri. Dengan demikian, Takenaka Hanbei memperoleh Kastel Inabayama dengan relatif mudah hanya dengan 13 pengikut. Kemudian, ia mengembalikan kastel tersebut kepada tuannya, tetapi Tatsuoki telah kehilangan reputasi dan kehormatan yang tak terkira karena dianggap kabur sebagai pengecut dari istana dan banyak pengikutnya meninggalkan dirinya.
Pada tahun 1567, Oda Nobunaga melakukan serangan ke Provinsi Mino dari Kastel Sunomata, membawa pasukannya menyeberangi Sungai Kiso, dan langsung menuju kota Inoguchi (sekarang Gifu) yang segera disambut dukungan dari banyak mantan pengikut Saitō di perjalanan. Nobunaga mengepung Kastel Inabayama pada tanggal 13 September. Meski para pembela mengalami keruntuhan moral karena melihat panji-panji pengikut Saitō di antara pasukan penyerang, kastel yang berlokasi di puncak gunung itu masih berada dalam posisi yang hampir tak tertembus. Pengepungan berlangsung sekitar dua pekan. Menjelang akhir pengepungan, seorang pengawal Nobunaga, Kinoshita Tōkichirō, memimpin sekelompok kecil pasukan mendaki tebing curam, memasuki kastel dari sisi belakang yang tak dikawal, dan membuka gerbang depan, memungkinkan pasukan penyerang untuk masuk. Setelah Tatsuoki melarikan diri, Nobunaga menjadikan kastel tersebut sebagai basis operasi utamanya.[4]
Nobunaga mengganti nama benteng tersebut menjadi "Kastel Gifu,"[3] mengikuti cara yang dicontohkan dalam tradisi Tionghoa kuno. Nobunaga kemudian melanjutkan renovasi kastel menjadi struktur yang jauh lebih mengesankan dan megah daripada sebelumnya. Ia membangun sebuah tenshu di puncak gunung dan membawa banyak batu besar untuk memperkuat bentengnya. Luis Frois, seorang misionaris Yesuit terkenal dari Portugal, diundang secara pribadi oleh Nobunaga untuk mengunjungi kastel tersebut. Setelah tinggal sebentar di Gifu, Frois memuji keindahan kastil yang luar biasa. Nobunaga menjadikan Istana Gifu sebagai kediaman utamanya selama sekitar sepuluh tahun, hingga pembangunan Istana Azuchi rampung pada tahun 1579. Seluruh kompleks kastel membentang dari atas ke bawah gunung, dengan menara utama di puncaknya. Kastel Gifu diberikan kepada putranya, Oda Nobutada, yang juga terbunuh bersama ayahnya oleh pasukan Akechi Mitsuhide dalam insiden Honnoji pada tahun 1582. Toyotomi Hideyoshi kemudian menyerahkan istana tersebut kepada putra ketiga Nobunaga, Oda Nobutaka. Namun, Nobutaka kemudian mendukung Shibata Katsuie melawan Hideyoshi dan dipaksa untuk melakukan seppuku di Kastel Gifu. Hideyoshi kemudian menugaskan Oda Hidenobu, putra Nobutada, sebagai penanggung jawab Kastel Gifu. Setelah kematian Hideyoshi, Hidenobu mengabaikan keberatan para pengikutnya, dengan berpihak pada Ishida Mitsunari melawan pasukan Tokugawa Ieyasu.
Pertempuran Kastel Gifu pada tahun 1600 menjadi pembuka bagi Perang Sekigahara dan Kastel Gifu jatuh setelah dikepung hanya selama satu hari. Hidenobu diusir dan menghabiskan sisa hidupnya sebagai biksu di Gunung Kōya.
Setelah berdirinya Keshogunan Tokugawa, Kastel Gifu diberikan kepada menantu Ieyasu, Okudaira Nobumasa. Namun, karena kondisinya yang buruk, Nobumasa memutuskan untuk menghapus Kastel Gifu dan pindah ke kaki gunung, dan membangun Kastel Kanō pada tahun 1603. Beberapa struktur Kastel Gifu, seperti yagura berlantai tiga yang terbesar, dibongkar dan dibangun kembali di lokasi yang baru.[2]
Menara utama dibangun kembali pada tahun 1910-an dengan bahan bangunan kayu yang diambil dari jembatan tua di seberang Sungai Nagara. Menara utama hangus terbakar dalam sebuah kecelakaan pada tahun 1943. Versi menara utama Kastel Gifu yang ada saat ini adalah struktur beton dan baja yang dibangun pada tahun 1950-an berdasarkan gambar dan cetak biru asli, meski dengan beberapa perubahan.
Masa kini
Kastel Gifu dan lautan awan
Di dalam menara utama yang telah direkonstruksi terdapat museum tiga lantai yang berisi pameran sejarah kastel.[3] Melalui koleksi peta, senjata, gambar, dan artefak lainnya yang dipertunjukkan, pengunjung dapat mengenal riwayat Kastel Gifu. Di lantai atas kastel terdapat dek observasi[3] dengan pemandangan panorama 360 derajat area sekitarnya, termasuk Sungai Nagara serta Nagoya. Pada sejumlah kesempatan di setiap tahun, kastel ini juga dibuka untuk kunjungan wisata di malam hari, menyajikan pemandangan kilauan lampu kota yang menakjubkan.[5] Menara Gifu 43 yang baru dibuka juga menyuguhkan pemandangan panorama kota dan buka hingga larut malam sepanjang tahun; namun, pemandangannya terbatas hanya pada beberapa arah mata angin. Lampu, jalan setapak, dan rambu-rambu yang ditambahkan pada tahun 2005 membuat kunjungan ke istana ini menjadi lebih nyaman dan informatif.[6]
Museum Arsip Kastel Gifu
Saat pengunjung membayar biaya masuk ke Kastel Gifu, mereka juga mendapatkan akses masuk ke Museum Arsip Kastel Gifu, yang terletak sekitar 70 meter (230ft) dari pintu masuk Kastel Gifu. Di dalam museum, pengunjung akan menemukan lebih banyak arsip yang berkaitan dengan Kastel Gifu dan para penghuninya di masa lalu. Lantai kedua berfokus pada alat musik dari masa lalu dan masa modern Jepang. Terdapat pula gambar-gambar kastel dari seluruh negeri yang dipajang di dinding museum.
Jam operasional
Pemandangan dari atas kastel
Jam buka normal
16 Maret–11 Mei: 09.30 hingga 17.30
12 Mei–16 Oktober: 08.30 hingga 17.30
17 Oktober–15 Maret: 09.30 hingga 16.30
Wisata malam
28 April–6 Mei: hingga 21.30
14 Juli–31 Agustus: hingga 22.00
1 September–14 Oktober: hingga 21.30 (Hanya Sabtu, Minggu, dan hari libur)
15 Oktober–30 November: hingga 18.30
Akses
Kereta Gantung Gunung Kinka
Gunung Kinkazan menawarkan jalur pendakian dengan berbagai tingkat kesulitan menuju Kastel Gifu dengan durasi pendakian sekitar satu jam.[7] Pengunjung juga dapat menggunakan Kereta Gantung Gunung Kinka yang dimulai dari Taman Gifu menuju puncak gunung, di mana lokasi kastel hanya berjarak beberapa menit berjalan kaki.[8]
Untuk ke Taman Gifu, pengunjung dapat naik bus umum yang dioperasikan oleh Gifu Bus di Stasiun Gifu atau Stasiun Meitetsu Gifu. Perjalanan dengan bus memakan waktu sekitar 15 menit menuju halte pemberhentian di Taman Gifu dan Museum Sejarah.[9]
Benesch, Oleg and Ran Zwigenberg (2019). Japan's Castles: Citadels of Modernity in War and Peace. Cambridge: Cambridge University Press. hlm.374. ISBN9781108481946.
De Lange, William (2021). An Encyclopedia of Japanese Castles. Groningen: Toyo Press. hlm.600 pages. ISBN978-9492722300.