Kastel Sunpu (駿府城code: ja is deprecated , Sunpu-jō) adalah sebuah istana Jepang di Shizuoka, Prefektur Shizuoka, Jepang. Kastel ini juga dijuluki "Kastel Pulau Terapung".[1] Kastel Sunpu memiliki beberapa nama lain seperti Kastel Fuchu (府中城code: ja is deprecated , Fuchū-jō) atau Kastel Shizuoka (静岡城code: ja is deprecated , Shizuoka-jō).
Sejarah
Pada zaman Muromachi, klan Imagawa telah memerintah Provinsi Suruga dari markas mereka di Sunpu (di pusat Kota Shizuoka modern). Tidak pasti kapan tepatnya Kastel Imagawa Sunpu dibangun di lokasi ini.
Tokugawa Ieyasu
Setelah Imagawa Yoshimoto dikalahkan dalam Pertempuran Okehazama pada tahun 1560, Provinsi Suruga jatuh ke tangan klan Takeda, dan kemudian ke Tokugawa Ieyasu, yang menghabiskan masa mudanya di Sunpu sebagai sandera Yoshimoto.
Pada tahun 1585, Ieyasu membangun Kastel Sunpu baru di lokasi yang kurang lebih sama dengan bekas kediaman Imagawa yang berbenteng.[2] Ia menetap di kastel tersebut pada tahun 1586, bersama selir kesayangannya, Ratu Saigō, dan kedua putra mereka, Hidetada dan Tadayoshi.[3] Ratu Saigo meninggal di Kastel Sunpu pada tahun 1589. Setelah kekalahan klan Hōjō Akhir di Pertempuran Odawara oleh Toyotomi Hideyoshi, Ieyasu terpaksa menukar daerah kekuasaannya di Tōkai dengan provinsi-provinsi di Wilayah Kantō, serta memberikan Kastel Sunpu kepada pengikut Toyotomi, Nakamura Kazuichi pada tahun 1590.
Selepas kekalahan Toyotomi di Pertempuran Sekigahara, Ieyasu kembali menduduki Istana Sunpu. Setelah terbentuknya Keshogunan Tokugawa, Ieyasu menyerahkan gelar shōgun kepada putranya, Tokugawa Hidetada, dan menyingkir ke Sunpu, di mana ia mendirikan pemerintahan bayangan untuk mempertahankan kekuasaan yang efektif atas negara dari balik layar. Sebagai bagian dari kebijakan Tokugawa untuk melemahkan kekuatan ekonomi para pesaing potensial, para daimyo dari seluruh negeri dipanggil untuk membangun kembali Kastel Sumpu pada tahun 1607 dengan sistem parit tiga lapis, menara utama, dan istana. Ketika kastel ini terbakar pada tahun 1610, para daimyo disuruh untuk membangunnya kembali, kali ini dengan menara utama berlantai tujuh.
Kastel ini dikunjungi oleh John Saris dalam misi perdagangan Inggris pertama ke Jepang pada tahun 1613. Saris bersama William Adams menemui Ieyasu di sini untuk bertukar hadiah dan menegosiasikan persyaratan agar Perusahaan Hindia Timur Britania Raya dapat berdagang dengan Jepang.
Periode Edo Akhir
Setelah kematian Ieyasu pada tahun 1616, Kastel Sunpu tetap menjadi pusat pemerintahan untuk daerah Sunpu dan sekitarnya, yang sebagian besarnya merupakan teritori tenryō yang diperintah langsung oleh shogun di Edo.
Selama periode ini, serangkaian pengawas yang ditunjuk ditempatkan di Kastel Sunpu untuk bertugas sebagai pengelola wilayah tersebut. Para pejabat ini disebut Sunpu jōdai (駿府城代code: ja is deprecated ) atau Sushū Rioban, dan paling sering ditunjuk dari kalangan Ōbangashira.[4]
Pada tahun 1635, sebagian besar kota Sunpu terbakar hebat, yang turut menghanguskan bangunan Kastel Sunpu. Pada tahun 1638, istana, gerbang, yagura, dan struktur lainnya dibangun kembali, tetapi yang perlu diperhatikan adalah, menara utama tidak dibangun kembali, karena Sunpu diperintah oleh seorang administrator, bukan oleh daimyō.
Era Modern
Setelah Restorasi Meiji, shogun terakhir Tokugawa Yoshinobu, mengundurkan diri dari jabatannya dan ingin pindah ke Sunpu untuk pensiun. Namun, ia tidak diizinkan untuk menempati Kastel Sunpu, melainkan diberi bekas kantor Sunpu Daikansho untuk dijadikan tempat tinggal. Pewarisnya, Tokugawa Iesato, sempat diangkat sebagai daimyo "Domain Shizuoka" (700.000 koku) pada tahun 1868 hingga penghapusannya setahun kemudian pada tahun 1869.
Pada tahun 1871, pendidik Amerika Edward Warren Clark tiba di Shizuoka untuk mengajar sains. Tak lama kemudian, ia memerintahkan pembangunan rumah bergaya Amerika di lahan bekas kastel.[5] Pada tahun 1873, Clark meninggalkan Shizuoka menuju Tokyo. Sebuah sekolah bergaya Barat, Shizuhatasha (atau Shizuhatanoya) didirikan di rumah yang telah dibangun untuk Clark; dan seorang misionaris Kanada, Davidson McDonald, dipekerjakan untuk mengurusnya.[6] McDonald kemudian membantu mendirikan Universitas Aoyama Gakuin di Tokyo.[7]
Lahan kastel menjadi milik Pemerintah Kota Shizuoka sejak tahun 1889. Sebagian besar sistem parit diuruk, dan sebagian halamannya diubah menjadi taman, atau digunakan sebagai kantor pemerintahan prefektur. Pada tahun 1896, sebagian besar lahan kastel bagian dalam diserahkan kepada Angkatan Darat Kekaisaran Jepang dan dijadikan pangkalan Resimen Infanteri ke-34 Tentara Kekaisaran Jepang.
Pada tahun 1949, pangkalan militer dirubuhkan, dan lahan tersebut diserahkan kepada pemerintah kota, yang mengubahnya menjadi "Taman Sunpu".[1] Proyek pemugaran pada tahun 1989 dan 1996 membangun kembali Tatsumi Yagura dan gerbang timur.
Kobayashi, Sadayoshi; Makino, Noboru (1994). 西郷氏興亡全史 [Complete History of the Rise and Fall of the Saigo Clan] (dalam bahasa Japanese). Tokyo: Rekishi Chosakenkyu-jo. Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
Benesch, Oleg and Ran Zwigenberg (2019). Japan's Castles: Citadels of Modernity in War and Peace. Cambridge: Cambridge University Press. hlm.374. ISBN9781108481946.
De Lange, William (2021). An Encyclopedia of Japanese Castles. Groningen: Toyo Press. hlm.600 pages. ISBN978-9492722300.