Pada tahun 2019, Kebijakan pembangunan militer Indonesia memasuki fase ketiga dalam kerangka Kebijakan Kekuatan Pokok Minimum atau Minimum Essential Force (MEF). Salah satu kebutuhan MEF bagi TNI Angkatan Laut adalah penyediaan kapal bantu rumah sakit.[2][3]
Sebelum kelas Sudirohusodo, TNI Angkatan Laut sudah memiliki dua kapal rumah sakit; KRI dr. Soeharso (990) yang sudah aktif dalam layanan sejak tahun 2003; dan KRI Semarang (594) yang sudah aktif dalam layanan sejak tahun 2019. Namun, kedua kapal tersebut awalnya didesain dan dibangun sebagai Landing Platform Dock (LPD), dimana KRI dr.Soeharso konversi sebagai kapal rumah sakit multiguna pada tahun 2007;[4] sedangkan KRI Semarang ditugaskan sebagai kapal bantu rumah sakit untuk sementara, karena fungsi dan tujuan utamanya adalah sebagai tambahan Landing Platform Dock bagi TNI Angkatan Laut.[5] Oleh karena itu, TNI Angkatan Laut membutuhkan kapal lain yang memegang dirancang dan dibangun sejak awal khusus untuk kegunaan kapal rumah sakit, yang bersifat mobile dan dapat dipindahkan kapan saja ke daerah terdampak bencana untuk melakukan tanggap darurat bencana, dan untuk kegiatan kemanusiaan lainnya.[6][7]
Kelas Sudirohusodo menggunakan desain lambung umum yang sama dengan Landing Platform Dock kelas Makassar milik TNI Angkatan Laut. Kapal kelas ini memiliki panjang 124 meters, lebar 21,8 meter, dan bobot benaman sekitar 7.290 ton. Sepasang mesin utama 5.420kW dapat mendorong kapal-kapal rumah sakit ini hingga kecepatan 18 knot. Dengan kecepatan jelajah 12 knot, kapal-kapal ini dapat mencapai jarak sejauh 10.000 mil laut atau daya tahan melaut maksimum selama 30 hari, memastikan dukungan medis berbasis laut yang berkelanjutan bagi pasukan Indonesia yang ditempatkan serta warga sipil yang membutuhkan. Seperti kelas Makassar yang menjadi basisnya, kapal ini juga dirancang untuk memiliki dek penerbangan untuk dua helikopter dan hanggar untuk satu helikopter guna mendukung keperluan transportasi udara atau evakuasi medis udara.[15][16]
Modifikasi yang dilakukan agar kapal-kapal tersebut dapat menjalankan perannya sebagai rumah sakit terapung meliputi penghapusan seluruh persenjataan, juga penghapusan dek sumur beserta pintu buritan/ramp untuk mengakomodasi infrastruktur dan fasilitas medis di dalam kapal, guna meningkatkan kapasitas dan kemampuan yang berkaitan dengan perannya sebagai kapal pembantu rumah sakit.[17]
Karena sifat kapal besar yang memerlukan waktu untuk docking dan undocking, kapal ini juga dirancang dengan infrastruktur evakuasi laut di sisi kiri dan kanan untuk mengakomodasi sistem davit dengan peralatan evakuasi lautnya; seperti kapal ambulans, LCVP dan RHIB; sehingga mempercepat proses evakuasi laut dari dan ke kapal rumah sakit.[15][16]
Kapal-kapal kelas ini memiliki panjang 124 m (406 ft 10 in) dan lebar 21,8 m (71 ft 6 in). Mereka memiliki bobot perpindahan 7.290 ton (7.170 ton panjang). Mereka memiliki kecepatan maksimum 18 knot (33 km/jam; 21 mph), kecepatan jelajah 14 knot (26 km/jam; 16 mph), dan kecepatan ekonomis 12 knot (22 km/jam; 14 mph). Kapal-kapal tersebut dapat berlayar hingga 30 hari dan 10.000 mil laut (19.000 km; 12.000 mil).[18][19][20]
Kapasitas
KRI dr. Wahidin Sudirohusodo berlabuh di Port Moresby, Papua Nugini untuk menyediakan layanan kesehatan untuk masyarakat PNG, 18 November 2024.[21][22]KRI dr. Radjiman Wedyodiningrat (992) menerima kunjungan dari delegasi Kementerian Pertahanan Jepang, 15 Oktober 2025.[23]
Dengan bobot perpindahan penuh 7.290 ton, kapasitas kapal-kapal di kelas tersebut bisa membawa 643 orang, termasuk 159 pasien (atau 124 tempat tidur, 350 tempat tidur tambahan dalam Kasus Darurat), 4 ambulans (OFE), 3 rumah sakit keliling (OFE), 1 dekompresi keliling (OFE), 1 mobile X Ray (OFE) juga dengan 2 unit LCVP, 1 unit RHIB, 2 unit Kapal Ambulans,[24] dan bisa membawa 3 helikopter dengan MTOW masing-masing 11 ton.[25][note 1]
Kemampuan
Tim medis dari KRI dr. Wahidin Sudirohusodo (991) melaksanakan prosedur operasi C-section pada seorang pasien, 24 November 2022.[27]Team kesehatan Port Visit Task Force memberikan layanan CT Scan kepada seorang masyarakat PNG diatas KRI dr. Wahidin Sudirohusodo, 18 November 2024.[21][28]Personil medis KRI dr. Radjiman Wedyoningrat (992) mengevakuasi dan merawat korban dari tenggelamnya kapal KM Maju Jaya, di perairan utara Pulau Bangka, Jumat, 11 Juli 2025.[29]
Kapal ambulans dari KRI dr. Wahidin Sudirohusodo selama uji cobanya.
RHIB dari KRI dr. Wahidin Sudirohusodo selama latihan Hands On.
LCVP 992-2 daru KRI dr. Radjiman Wedyoningrat mengantar mahasiswa ke Pulau Pramuka, 10 April 2023.
Lihat juga
missing name
missing name
Catatan
↑Owner Furnished Equipment (OFE) adalah praktik dalam konstruksi dan proyek di mana pemilik proyek membeli dan menyediakan peralatan dan material tertentu langsung kepada kontraktor untuk dipasang.[26]