Tanaman ini berupa semak atau pohon kecil yang dapat mencapai tinggi hingga 6 meter dan diameter batang hingga 50 sentimeter. Daunnya selalu hijau, berbentuk jarum, tersusun dalam lingkaran tiga, berwarna hijau kebiruan, dengan panjang 4–10 milimeter dan lebar 1–3 milimeter, serta memiliki pita stomata putih ganda yang dipisahkan oleh tulang tengah hijau di permukaan bagian dalam. Tanaman ini merupakan tumbuhan berumah ganda, artinya individu jantan dan betina terpisah. Kerucut bijinya menyerupai buah beri yang awalnya hijau lalu kemudian matang menjadi oranye-merah setelah 18 bulan dengan lapisan lilin merah muda yang bervariasi. Kerucut ini berbentuk bulat, berdiameter 6–9 mm, dan memiliki tiga hingga enam sisik yang tersusun dalam satu atau dua lingkaran tiga, dengan tiga sisik besar masing-masing berisi satu biji. Penyebaran biji terjadi ketika burung memakan kerucut, mencerna sisik berdaging, dan mengeluarkan biji keras melalui kotorannya. Kerucut jantan berwarna kuning, panjang 2–3 mm, dan gugur segera setelah melepaskan serbuk sari di awal musim semi.[3][4]
Taksonomi
Tanaman ini pertama kali diterbitkan dengan nama Juniperus oxycedrus var. brevifolia Seubert sebagai varietas dalam Flora Azorica pada tahun 1844. Nama tersebut kemudian dinaikkan tingkatnya menjadi Juniperus brevifolia (Seub.) Antoine melalui publikasi Antoine pada tahun 1857 dalam Die Cupressineen‑Gattungen: Arceuthos, Juniperus u. Sabina pada halaman 16, sehingga menjadi nama sah. Saat ini, dalam basis data taksonomi seperti Plants of the World Online dari Kebun Botani Kew, Juniperus brevifolia (Seub.) Antoine diterima sebagai nama resmi.[5]
Konservasi
Spesies ini tergolong rentan di wilayah aslinya akibat kombinasi penebangan historis untuk kayu bernilai tinggi dan persaingan dari tanaman invasif yang diperkenalkan. Di Pulau Graciosa, Juniperus brevifolia telah punah, sementara di pulau-pulau lain populasinya masih menghadapi ancaman kepunahan. Penurunan jumlah tanaman terutama disebabkan oleh fragmentasi habitat pilihannya, yaitu hutan laurel, yang terjadi akibat kolonisasi pulau dan tekanan dari kegiatan penggembalaan.[6][7]
↑Fernández-Palacios, José María; de Nascimento, Lea; Otto, Rüdiger; Delgado, Juan D.; García-del-Rey, Eduardo; Arévalo, José Ramón; Whittaker, Robert J. (10 December 2010). "A reconstruction of Palaeo-Macaronesia, with particular reference to the long-term biogeography of the Atlantic island laurel forests". Journal of Biogeography. 38 (2): 226–246. doi:10.1111/j.1365-2699.2010.02427.x. S2CID86477003.