Ismailiyah (bahasa Arab: الإسماعيليونal-Ismā'īliyyūn; bahasa Urdu: اسماعیلیIsmā'īlī, bahasa Persia: اسماعیلیانEsmā'īliyān) adalah salah satu mazhab dalam Islam Syi'ah.[1] Jumlah penganutnya adalah yang terbesar kedua setelah mazhab Dua Belas Imam (Itsna 'Asyariah). Sebutan Ismailiyah diperoleh pengikut mazhab ini karena penerimaan mereka atas keimaman Isma'il bin Ja'far sebagai penerus dari Ja'far ash-Shadiq.[2]
Sejarah
Teologi Ismailiyah pernah menjadi yang terbesar di antara mazhab-mazhab Islam Syi'ah, dan mencapai puncak kekuasaan politiknya pada masa kekuasaan Dinasti Fatimiyah pada abad ke-10 sampai dengan ke-12 Masehi. Ajaran Ismailiyah, yang juga dikenal dengan nama mazhab Tujuh Imam. Ajaran Ismailiyah memiliki ciri penekanan pada aspek batiniah dari agama Islam.
Dibandingkan dengan perkembangan ajaran Dua Belas Imam yang pemikirannya berorientasi pada aspek lahiriah, yaitu akhbar dan ushul, maka dapat dikatakan ajaran Syi'ah berkembang ke dua arah yang berbeda: ajaran Ismailiyah yang lebih menekankan kemistisan sifat sang Imam dan kemistisan jalan menuju Allah dan ajaran Dua Belas Imam yang lebih menekankan pemahaman atas syariah dan sunnah dari Ahlul Bait.
Meskipun terdapat beberapa kelompok pecahan dalam Ismailiyah, seperti Nizari. Mereka adalah pengikut dari Aga Khan, yang merupakan kelompok Ismailiyah dengan jumlah penganut terbesar. Di antara kelompok-kelompok yang ada memang terdapat perbedaan dalam hal kebiasaan ibadah, akan tetapi umumnya secara teologi spiritual tetap sesuai dengan kepercayaan imam-imam awal Ismailiyah.
Diperkirakan terdapat 2,5 juta penganut aliran Ismailiyah.[3] Namun, ada pula yang menyebutkan bahwa jumlah penganutnya berada di antara 5 hingga 15 juta jiwa.[4]
Pecahan
Agama Druze dianggap sebagai salah satu pecahan aliran ini.[5][6][7][8]
Referensi
↑Spencer C. Tucker; Priscilla Roberts (2008). The Encyclopedia of the Arab-Israeli Conflict: A Political, Social, and Military History. ABC-Clio. hlm.917. ISBN978-18-5109-842-2.
↑Steinberg, Jonah (2011). Isma'ili Modern: Globalization and Identity in a Muslim Community. University of North Carolina Press. hlm.35. ISBN9780807834077.
↑Hunter, Shireen (2010). The Politics of Islamic Revivalism: Diversity and Unity: Center for Strategic and International Studies (Washington, D.C.), Georgetown University. Center for Strategic and International Studies. University of Michigan Press. hlm.33. ISBN9780253345493. Druze – An offshoot of Shi'ism; its members are not considered Muslims by orthodox Muslims.
↑Yazbeck Haddad, Yvonne (2014). The Oxford Handbook of American Islam. Oxford University Press. hlm.142. ISBN9780199862634. While they appear parallel to those of normative Islam, in the Druze religion they are different in meaning and interpretation. The religion is considered distinct from the Ismaili as well as from other Muslims belief and practice... Most Druze do not identify as Muslims..
↑"Ismāʿīliyyah". Encyclopædia Britannica. 20 Januari 2017. The Druze, who live mostly in Syria, Lebanon, and Israel, are also Ismāʿīlī in origin.
↑"Druze in Syria". Harvard University. The Druze are an ethnoreligious group concentrated in Syria, Lebanon, and Israel with around one million adherents worldwide. The Druze follow a millenarian offshoot of Isma'ili Shi'ism. Followers emphasize Abrahamic monotheism but consider the religion as separate from Islam.