Indonesian Air Transport (IAT atau kadang disebut INDAT) adalah maskapai penerbangan dan perusahaan penerbangan yang berbasis di Jakarta, Indonesia. Maskapai ini menyediakan berbagai layanan penerbangan baik untuk industri minyak, gas, dan pertambangan di dalam dan luar negeri di Indonesia dan Asia Tenggara. Basis utamanya adalah Bandar Udara Internasional Halim Perdanakusuma, Jakarta.[1] Perusahaan juga memiliki hub sekunder untuk klien industri minyak dan gasnya di Bandar Udara Sultan Aji Muhammad Sulaiman, Kalimantan Timur, dan mengoperasikan layanan terjadwal terbatas dari Bandar Udara Internasional Ngurah Rai di Pulau Bali hingga Pulau Lombok dan Flores. Indonesia Air Transport terdaftar dalam kategori 1 oleh Otoritas Penerbangan Sipil Indonesia untuk kualitas keselamatan penerbangan.[2] Perusahaan ini menyediakan transportasi penumpang dan kargo udara, layanan penyewaan dan penyewaan pesawat, perbaikan pesawat, dan fasilitas pelatihan. IAT juga memasok peralatan teknis penerbangan dan suku cadang. Maskapai ini mengoperasikan berbagai jenis pesawat sayap tetap dan helikopter.[3]
Operasi lainnya termasuk pekerjaan sewa pariwisata, pemetaan foto dan misi survei magnometer, layanan jet eksekutif, dukungan operasi medis dan medevac, kebutuhan kargo udara termasuk operasi dari landasan udara yang pendek atau tidak diperbaiki, fasilitas pemeliharaan di Jakarta dan Balikpapan dan Kalimantan Timur. Indonesia Air Transport memiliki sertifikasi dari Departemen Perhubungan Republik Indonesia dan Eurocopter mengklaim lebih dari 20.000 jam terbang aman dengan helikopter SA365 Dauphin C2.[4]
Sejarah
Maskapai ini didirikan dan mulai beroperasi pada tahun 1968, awalnya untuk melayani penerbangan bagi perusahaan minyak milik negara Pertamina dan kontraktor asing perusahaan minyak lainnya. Maskapai ini dioperasikan oleh PT Indonesia Air Transport (didirikan 2020), yang merupakan hasil spin-off dari perusahaan asli bernama PT MNC Energy Investments Tbk (d/h PT Indonesia Air Transport Tbk) yang tercatat di Bursa Efek Indonesia.[5] Sejak Oktober 2024 perusahaan ini tidak lagi menjadi bagian grup MNC.[6]
Pada 17 Januari 2026, Sebuah Pesawat ATR 42-500, Registrasi sebagai PK-THT, Tabrak dekat Daerah Maros dengan 11 Orang di dalam. Awalnya Pernerbangaan ini Menghilang Kontak. [8]