Sejak 29 Oktober 2023, bandara ini tidak lagi melayani penerbangan jet komersial berjadwal setelah seluruh layanannya dialihkan ke Bandar Udara Internasional Kertajati di Kabupaten Majalengka; operasionalnya terbatas pada pesawat baling-baling rute intra-Jawa, penerbangan militer, dan kegiatan sekolah penerbangan.[2] Pada tahun 2026, pemerintah memutuskan untuk mereaktivasi bandara ini bagi penerbangan jet komersial, dengan target operasi terbatas mulai 17 Agustus 2026 dan operasional penuh mulai 17 September 2026.[3]
Pada tahun 1920 Belanda mendirikan sebuah lapangan terbang yang diberi nama Luchtvaart Afdeling atau Vliegveld Andir. Setelah tahun 1942, lapangan terbang tersebut kemudian di ambil alih oleh Jepang sampai tahun 1945. Ketika Indonesia telah merdeka, keadaan lapangan udara pada saat itu sempat mengalami keadaan vakum dari tahun 1945 hingga tahun 1949. Setelah itu, lapangan terbang tersebut di ambil alih oleh AURI sebagai pangkalan militer pada tahun 1969 sampai 1973. Sampai akhirnya tahun 1973 lapangan terbang tersebut boleh dipergunakan untuk penerbangan komersial.[4]
Sebuah PesawatLion Air sedang dalam kondisi parkir untuk dicek dan dirawat keadaannya agar pesawat tersebut layak untuk melanjutkan Penerbangannya.
Pada tahun 1974 mulai dilakukan kegiatan pelayanan lalu lintas dan angkutan udara komersial secara resmi yaitu dengan berdirinya kantor Perwakilan Direktorat Jenderal Perhubungan Udara dengan nama Stasiun Udara Husein sastranegara Bandung untuk kepentingan kegiatan penerbangan komersial sipil. Selanjutnya pada tahun 1983 berdasarkan Keputusan Menteri Perhubungan Nomor: KM 68/HK 207/PHB-83 tanggal 19 Februari 1983, klasifikasi Pelabuhan Udara ditingkatkan dari kelas III mejadi kelas II. Pada Tahun 1994 dilaksanakan Pengalihan Pengelolaan Bandar Udara dari Departemen Perhubungan kepada PT Angkasa Pura II sesuai PP RI Nomor 26 Thn 1994 tanggal 30 Agustus 1994 tentang Penambahan Penyertaan modal Negara RI ke dalam Modal sahan PT Angkasa Pura II.[4]
Perubahan Nama Pangkalan
Bertepatan dengan peringatan HUT ke-7 RI, Kepala Staf Angkatan Udara Komodor Udara Soerjadi Soerjadarma mengeluarkan Surat Keputusan Nomor: 76/48/Pen.2/KS/52 tanggal 17 Agustus 1952, yang berisi tentang perubahan nama-nama lapangan udara militer terbesar. Nama pangkalan udara yang lama diubah dengan nama para pelopor Angkatan Udara sebagai tanda penghargaan dan penghormatan atas pengorbanan dan jasa-jasa mereka dalam menegakkan kemerdekaan RI umumnya dan AURI khususnya. Tokoh-tokoh yang diabadikan adalah Komodor Muda Udara Anumerta Agustinus Adisutjipto menggantikan nama Pangkalan Udara Maguwo (Yogyakarta), Komodor Muda Udara Anumerta Prof. DR. Abdulrachman Saleh menggantikan nama Pangkalan Udara Bugis (Malang), Komodor Muda Udara Anumerta Halim Perdanakusuma menggantikan nama Pangkalan Udara Tjililitan (Jakarta), dan Opsir Udara I Anumerta Husein Sastranegara menggantikan nama Pangkalan Udara Andir (Bandung).
Penutupan dan reaktivasi penerbangan komersial
Pada 11 Juli 2023, Presiden Joko Widodo mengumumkan bahwa seluruh penerbangan komersial dari Bandar Udara Husein Sastranegara akan dialihkan ke Bandar Udara Internasional Kertajati mulai Oktober 2023.[5] Penerbangan jet komersial berjadwal berakhir pada 29 Oktober 2023. Setelah itu, bandara hanya melayani penerbangan pesawat baling-baling rute intra-Jawa, penerbangan militer, dan kegiatan sekolah penerbangan, sehingga aktivitas bandara menjadi jauh lebih sepi.[2][6]
Pada tahun 2026, seiring masih rendahnya jumlah penumpang di Kertajati, pemerintah memutuskan untuk mereaktivasi Bandar Udara Husein Sastranegara bagi penerbangan jet komersial.[7] Surat Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan Nomor AU.102/1/8/DRJU.DAU/2026 yang terbit pada Juni 2026 mengizinkan bandara ini melayani angkutan udara niaga berjadwal dan tidak berjadwal, baik dalam maupun luar negeri, dengan pesawat jet maupun baling-baling.[8]
Kementerian Perhubungan menyiapkan dua skenario reaktivasi: skenario pertama berupa operasi jet terbatas (penerbangan bisnis dan charter) mulai 17 Agustus 2026, dan skenario kedua berupa operasional penuh yang melayani pesawat Boeing 737-800 dan Airbus A320 dengan sistem slot management mulai 17 September 2026.[3] Persiapan yang dilakukan meliputi pelapisan ulang (overlay) landas pacu dan taxiway, rekonstruksi apron, perbaikan atap terminal, serta peningkatan kategori Pertolongan Kecelakaan Penerbangan dan Pemadam Kebakaran (PKP-PK) dari kategori 5 menjadi kategori 7.[9]
Menurut Wali Kota Bandung Muhammad Farhan, delapan rute domestik direncanakan dilayani saat bandara kembali beroperasi, yaitu Medan, Padang, Pekanbaru, Batam, Balikpapan, Pontianak, Denpasar, dan Makassar.[10] Pemerintah menyatakan Bandara Kertajati tetap akan dioptimalkan, antara lain sebagai pusat kegiatan industri penerbangan seperti fasilitas perawatan pesawat (MRO).[11]
Maskapai Penerbangan dan Tujuan
Suatu Terminal di Bandara Husein Sastranegara Bandung
Taksi Primkopau Husein Sastranegara memberlakukan tarif tetap ke berbagai macam tujuan di kota Bandung dan daerah sekitarnya termasuk Cimahi. Berbeda dengan bandara lainnya di Indonesia, hanya Taksi Primkopau Husein Sastranegara yang diperbolehkan untuk mengantarkan penumpang. Tiket taksi dapat dibeli di loket di pintu keluar bandara baik domestik atau internasional. Bagaimanapun juga, seluruh taksi diperbolehkan untuk mengantarkan penumpang menuju bandara.
Angkutan kota yang dikenal juga dengan angkot, tersedia setiap saat menuju ke terminal umum. Angkot merupakan alternatif transportasi paling ekonomis. Angkutan kota (angkot) yang melintasi kawasan Husein Sastranegara ini menuju ke Terminal Cicaheum, Ciroyom, Cibeureum, Caringin, Cijerah dan Kota Cimahi.
Angkot dari bandara ini sangat mudah didapat karena lokasi bandara yang sangat dekat dengan pusat kota. Bahkan dengan berjalan kaki, hanya dibutuhkan waktu 10-menit untuk menuju jalan utama yang terlayani oleh angkot.
Dengan berjalan dengan jarak 200-meter, anda akan menemui Stasiun Andir. Saat ini, kereta api lokal Bandung Raya tidak berhenti di Stasiun Andir. Namun, setelah renovasi besar-besaran, akan ada rencana untuk mengaktifkan kembali stasiun tersebut.
Kecelakaan
Senin, 6 April 2009: Pesawat jenis Fokker-27 milik TNI AU jatuh dan menabrak hanggar ACS (aircraft services) milik PT Dirgantara Indonesia, Senin (6/4). Kecelakaan tersebut menewaskan seluruh penumpang sebanyak 24 orang, masing-masing 6 awak, 18 anggota Paskhas TNI AU.[12]
Berikut kronologi jatuhnya pesawat Fokker-27 di Bandara Husein Sastranegara Bandung.
1. Pukul 08.40: Pesawat berangkat dari Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta.
2. Pukul 09.00: Pesawat mendarat di Lanud Husein Sastranegara, Bandung.
3. Pukul 09.30: Dimulai misi orientasi penerjunan sesi satu untuk 17 penerjun.
4. Pukul 12.36: Pesawat take off untuk penerjunan sesi dua untuk 17 penerjun lainnya.
- Cuaca buruk membuat pilot memutuskan mendaratkan kembali pesawat di Husein.
5. Pukul 12.58: Pesawat diduga tersambar petir dan jatuh menimpa hanggar PT Dirgantara Indonesia dan meledak.
- Kondisi 24 awak dan penumpang mengenaskan dengan tubuh terpisah-pisah.
- Pesawat menimpa dua pesawat di dalam hanggar, yaitu Deraya Air NC 212200 dan Batavia Air Boeing 737. Dua pesawat lainnya, Adam Air Boeing 737 dan CN 235 milik PT DI, tidak terkena kerusakan parah.