Huma betangRumah panjang atau huma betang di Kal-teng
Huma betang adalah falsafah hidup masyarakat Dayak Ngaju yang berakar dari tradisi rumah panjang sebagai pusat kehidupan sosial mereka. Lebih dari sekadar bangunan fisik, Huma betang ini mencerminkan nilai kebersamaan, kesetaraan, dan harmoni, sehingga simbol kerukunan dari rumah panjang ini diabadikan sebagai nama dari gedung Wakil Presiden di IKN dengan nama Huma Betang Umai. Masyarakat yang tinggal dalam satu rumah besar ini (terutama banyak terdapat di wilayah Kalimantan Tengah) harus mampu menjaga kerukunan meskipun berasal dari latar belakang suku, kelompok, keluarga, atau kebiasaan yang berbeda. Dari sini lahir prinsip bahwa perbedaan bukanlah alasan untuk berbeda pendapat ataupun konflik, melainkan pada kekayaan yang perlu dirawat bersama melalui sikap tenggang rasa.[1]
Nilai Huma betang juga mengajarkan pentingnya musyawarah untuk menyelesaikan persoalan. Keputusan tidak boleh diambil sepihak karena berdampak pada seluruh penghuni rumah. Kesabaran, toleransi, dan saling menghormati menjadi dasar interaksi sosial. Selain itu, terdapat etikagotong royong, di mana setiap individu berkewajiban dalam membantu pekerjaan bersama demi kelangsungan hidup komunitas.[2]
Falsafah Huma betang ini menekankan bahwa manusia hanya dapat hidup bermartabat jika dapat menjaga keseimbangannya dengan alam. Pengelolaan hutan, sungai, dan ladang harus dilakukan secara arif agar dapat dinikmati oleh generasi berikutnya. Dengan demikian, Huma Betang bukan hanya sebagai sistem pemukiman atau tempat tinggal, tetapi juga sebagai pandangan hidup yang menempatkan kebersamaan, keadilan, dan kelestarian sebagai inti kehidupan manusia.[3][4]
Rumah Huma betang
Indonesia sebagai negara kepulauan memiliki beragam budaya, ras, suku bangsa, agama dan bahasa, masing masing memiliki keistimewaan dan keunikan tersendiri yang tidak didapatkan di tempat lain. Salah satu yang istimewa dari budaya di Indonesia ini ada Provinsi Kalimantan Tengah. Sebagai Provinsi terluas kedua di Indonesia setelah Papua, dengan luas wilayah seluas 153.444 m 2, provinsi Kalimantan Tengah kaya dengan Sumber Daya Alam dan Budaya maupun tempat wisata. Salah satu yang menarik dari budaya di Kalimantan Tengah adalah rumah adat Dayak atau Rumah Betang yang dalam bahasa asli Kalimantan biasa disebut HUMA BETANG. Huma Betang ini merupakan tempat tinggal asli suku dayak yang biasa ditemui di pedalaman dekat dengan hulu sungai. Konsep daripada rumah ini adalah hidup bersama secara berkelompok dan memiliki ukuran cukup panjang lebih dari 100 m dan banyak memiliki pintu sebagai tanda masing masing kepala keluarga yang tinggal di dalamnya.[5]
Huma (yang artinya rumah dalam bahasa Dayak Ngaju) Betang memiliki arti mengedepankan musyawarah dan mufakat kesetaraan sesama manusia, kebersamaan, kekeluargaan/ persaudaraan, persatuan dan taat pada hukum, sehingga tidak salah jika Huma Betang ini sebagai simbol kerukunan warga Kalimantan Tengah. Huma Betang ini umumnya berbentuk panggung yang dibangun dengan ketinggian tiga sampai lima meter dari permukaan tanah. Adapun bahan yang dipakai untuk membuat rumah betang adalah dari kayu Ulin (eusideroxylon zwageri), kayu ini memilki karakteristik yang kuat berwarna gelap tidak mudah lapuk, dan tahan terhadap air laut . Kayu Ulin ini banyak dipakai sebagai bahan bangunan khususnya untuk rumah yang dibangun di atas tanah berawa seperti di Kalimantan Tengah.[5][6]
Fakta unik yang dapat kita temui dari Huma Betang ini adalah memilki anak tangga yang berjumlah ganjil, hal ini merupakan kepercayaan yang tidak bisa ditawar lagi dan memiliki makna agar penghuni rumah betang mudah mendapatkan rezeki dan dijauhkan dari mara bahaya. Jika diperhatikan di depan rumah betang ini terdapat beberapa patung berbentuk manusia (Sapundu) yang diukir dengan ukiran khas Suku Dayak Ngaju Kalimantan Tengah yang memilki fungsi untuk mengikat hewan ternak yang akan dikurbankan saat ada upacara adat yang dikenal dengan sebutan Upacara Tiwah.[7]