Nyaah ka indung adalah nilai etika dalam filsafat masyarakat Sunda yang menempatkan kasih sayang kepada ibu sebagai fondasi utama pembentukan kepribadian manusia. Dalam bahasa Sunda, Nyaah berarti cinta atau kasih sayang, ka (kepada) dan indung (ibu), sehingga arti keseluruhannya adalah menyayangi atau berbakti kepada ibu. Bagi masyarakat Sunda, nyaah ka indung sering dipandang sebagai fondasi moral, sehingga siapa yang mampu menyayangi ibunya dengan tulus, diyakini akan mampu berbuat baik kepada sesama dan kepada kehidupan secara keseluruhan. Indung dalam hal ini dipandang bukan sekadar sosok biologis, melainkan sumber kehidupan, kebijaksanaan, dan keteladanan moral. Dalam pandangan ini, menghormati dan menyayangi ibu adalah bentuk kesadaran akan asal-usul diri serta pengakuan atas pengorbanan yang tak terhingga. Untuk melestarikan moto ini, gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi telah meluncurkan kurikulum Nyaah ka indung di sekolah dasar dan sekolah menengah di kabupaten Garut pada bulan Juli 2025 yang muncul sebagai solusi atas krisis moralitas dan putusnya hubungan antara anak dan ibu yang sering menjadi penyebab masalah sosial pada umumnya. [1]
Filsafat nyaah ka indung ini mengajarkan bahwa kebaikan manusia dapat diukur dari caranya memperlakukan seorang ibu: tutur kata yang lembut, sikap hormat, dan kesediaan merawatnya di masa tua. Kasih kepada ibu juga menjadi jalan menuju harmoni sosial, sebab dari rumah tangga yang dilandasi bakti kepada orang tua akan lahir individu yang berempati dan beradab. Dengan demikian, nyaah ka indung ini bukan hanya sebagai nilai keluarga, tetapi merupakan prinsip moral universal yang menumbuhkan kemanusiaan, keseimbangan batin, serta hubungan yang selaras antara manusia, sesama, dan kehidupan sosial dalam masyarakat luas.[2][3]