Pada tahun 1980, setelah Israel mendeklarasikan Yerusalem sebagai ibu kotanya, Ekuador memindahkan kedutaannya dari Yerusalem ke Tel Aviv.[3]
Ekuador mengutuk Perang Gaza 2014 dan menarik duta besarnya dari Israel.[3] Presiden Rafael Correa membatalkan perjalanan ke Israel karena perang tersebut.[4] Negara ini juga mengumumkan rencana untuk membuka kedutaan besar di Ramallah.[5]
Pada bulan Desember 2015, Presiden Rafael Correa dari Ekuador secara resmi mengakui Palestina.[6] Negara ini merupakan negara kelima di Amerika Latin yang menjalin hubungan diplomatik dengan Palestina.[6][7] Negara ini mendukung pembentukan negara Palestina yang merdeka di sepanjang perbatasan tahun 1967.[8]
Byron Vinicio Suquilanda Valdivieso, Duta Besar Ekuador untuk Negara Palestina, bertemu dengan Perdana Menteri Palestina Mohammad Shtayyeh pada 3 Maret 2022.[9]Veronica Abad, wakil presiden Ekuador, mengumumkan pada November 2023 bahwa ia akan mengunjungi Israel untuk merundingkan perdamaian antara Israel dan Hamas atas instruksi Presiden Daniel Noboa.[10][11] Ekuador telah menyatakan solidaritas dengan Israel setelah serangan Hamas.[12]
Ekuador mengakui Palestina sebagai Negara dengan garis perbatasan tahun 1967, pada tanggal 24 Desember 2010.[13][14][15]