Kerajaan Dwarawati (bahasa Thai:ทวารวดีcode: th is deprecated listenⓘ) adalah kerajaan Mon kuno yang berdiri sejak abad ke-7 hingga abad ke-11 di wilayah yang sekarang menjadi Thailand Tengah. Kerajaan ini disebutkan dalam catatan peziarah Tionghoa dari pertengahan abad ke-7 sebagai sebuah kerajaan Buddha bernama To-lo-po-ti yang terletak di sebelah barat Isanapura (sekarang Kamboja) dan di sebelah timur Sri Ksetra (Myanmar).[1]:76[2]:37 Penelitian arkeologi selama dua dasawarsa terakhir telah mengungkap adanya zaman "Purwa-Dwarawati" yang berlangsung dari abad ke-4 sampai abad ke-5 atau lebih awal lagi.[3]
Dwarawati juga merujuk pada sebuah kepangerananorang Mon yang memiliki budaya, gaya kesenian, dan konglomerasi yang berbeda. Pendatang Mon sebagai pedagang maritim mungkin telah mendirikan Peradaban Dwarawati sekitar 500 tahun SM di Lembah Menam, yang berlanjut pada munculnya zaman "Proto-Dwarawati" yang berlangsung dari abad ke-4 hingga abad ke-5, dengan berdirinya kepangeranan Chin Lin di dataran barat dan Tou Yuan di timur, yang mungkin berdiri lebih awal dari kepangeranan Chin Lin di barat.
Pusat awal Dwarawati diperkirakan berada di Ayojjhapura (kini menjadi wilayah Si Thep) atau Nakhon Pathom, ada juga yang menyebutkan di Avadhyapura (Si Mahosot). Namun, kekuatan dialihkan ke Lavapura di Lavo setelah pendudukan Tou Yuan pada tahun 647; beberapa pakar menyebutkan bahwa peralihan ini terjadi sekitar abad ke-10 dan 11 setelah jatuhnya Si Thep. Namun demikian, beberapa pendapat menyatakan Lavapura berpotensi menjadi kerajaan terpisah yang terkenal menjadi Kerajaan Lavo, seperti yang tersebut dalam beberapa catatan sejarah, tetapi berada di bawah lingkup pengaruh Dwarawati.
Kebangkitan Angkor di hilir cekungan Mekong sekitar abad ke-11 hingga 13, penaklukan yang dilakukan oleh Raja Sujita, raja Kerajaan Tambralingga terhadap Lembah Menam dan bagian atas Semenanjung Malaya yang juga merebut Lavo pada pertengahan abad ke-10, perang saudara yang berlangsung selama 9 tahun di Angkor pada permulaan abad ke-11, yang menyebabkan keruntuhan Lavo, serta pendudukan bangsa Pagan di Lembah Menam sekitar pertengahan abad ke-10. Semua kejadian itu merupakan penyebab dari ambruknya peradaban Dwarawati. Jean Boisselier memberi pandangan bahwa setelah kehilangan pengaruh atas lembah timur di Lavo hingga Angkor pada abad ke-10 hingga 11, kerajaan-kerajaan Dwarawati di dataran barat berlanjut kekuasaannya sampai permulaan abad ke-12, mungkin saat berada di bawah pengaruh Angkor dalam jangka pendek selama pemerintahan Raja Jayawarman VII (memerintah tahun 1181 hingga 1218). Setelah itu, negara memasuki zaman Xiān dengan kemunculan Kerajaan Suphannabhum, Phrip Phri, dan Ayodhya, dimana Ayodhya akhirnya mendapatkan kembali pengaruhnya atas Lavo sekitar abad ke-14.
Sejarah
Kebudayaan Dwarawati berpusat di sekitar kota berparit, dengan kota tertua di U Thong di Provinsi Suphan Buri. Situs utama lainnya termasuk Nakhon Pathom, Phong Tuk, Si Thep, Khu Bua, dan Si Mahosot.[3] Sebuah ukiran pada guci kerajaan menyebutkan nama raja-raja Dwarawati: Suryawikrama (673-688), Hariwikrama (688-695), dan Sihawikrama (695-718).[1]:86 Sebuah prasasti berbahasa Khmer bertahun 937 mendokumentasikan silsilah para pangeran dari Chanasapura yang dimulai dari Bhagadatta dan diakhiri oleh seorang Sundarawarman dan putra-putranya, Narapatisimhawarman dan Mangalawarman.[1]:122 Pada abad ke-12, Dwarawati mulai berada di bawah bayang-bayang Kekaisaran Khmer dan bagian tengah Semenanjung Indochina akhirnya diserbu oleh Raja Suryawarman II pada paruh pertama abad ke-12.[4] Kerajaan Dwarawati diteruskan oleh Haripunjaya di Thailand Utara sebelum akhirnya ditaklukkan oleh kerajaan TaiLanna pimpinan Mangrai yang Agung pada abad ke-13.[5]
Nama Dwarawati diambil dari sebuah koin bertuliskan śrī dvāravatī. Dalam bahasa Sanskerta, dvāravatī berarti "yang memiliki gerbang".[6]:301
Hanya sedikit yang diketahui tentang sistem pemerintahan Dwarawati. Diduga, negara ini merupakan konfederasi kedatuan alih-alih negara tersentralisasi yang mencakup daerah pesisir serta lembah Sungai Chao Phraya. Kerajaan Dwarawati bercorak Hindu-Buddha dengan tiga kota utama: Nakhon Pathom, Suphanburi, dan Praak Srigacha; serta kota-kota penting lainnya seperti U Thong, Chansen, Khu Bua, Pong Tuk, Mueang Phra Rot, Lopburi, Si Mahosot, Kamphaeng Saen, Dong Lakhon, U-Taphao, Ban Khu Mueang, dan Si Thep.[6]:303–312
Urutan kronologis sejarah Kerajaan Dwarawati disimpulkan melalui catatan pengelana Tionghoa dan perbandingan corak karya seni oleh para sejarawan. Item budaya Dwarawati yang baru diteliti menunjukkan awal mula tradisi budaya Dwarawati dapat ditelusuri hingga tahun 200 M.[7][3] Namun, bukti arkeologis, karya seni, dan prasasti (prasasti) lainnya menunjukkan bahwa periode utama Kerajaan Dwarawati berlangsung mulai abad ketujuh hingga kesembilan.[3] Kebudayaan dan pengaruh Dwarawati juga mencapai Thailand Timur Laut dan dataran rendah Laos sejak abad keenam. Situs-situs utama Dwarawati termasuk Mueang Fa Daet di Provinsi Kalasin dan Mueang Sema di Provinsi Nakhon Ratchasima.[8][9]
Peninggalan
Relief peninggalan Dwarawati, tahun 650-700 Masehi. Tiga musisi di sebelah kanan (dari tengah) sedang memainkan kecapi, simbal, dan celempung.
Kebudayaan Dwarawati sangat dipengaruhi oleh kebudayaan dari India, yang juga berperan utama dalam penyebaran agama dan seni Buddhis di wilayah tersebut. Relief candi menampilkan figur garuda, makara, dan naga. Selain itu, terdapat pula pahatan para musisi beserta alat musiknya, tahanan, wanita bersama pengawalnya, dan tentara yang menunjukkan kehidupan sosial penduduk Dwarawati. Artefak yang ditemukan terdiri dari tablet nazar, cetakan jimat, tembikar, wadah terakota, lampu gantung dari perunggu, anting-anting, lonceng, dan simbal.[6]:306–308
Arca Buddha bergaya Dwarawati. Peninggalan abad ke-8 hingga ke-9
Koin perunggu Denarius bergambar Kaisar Galia Romawi Victorinus (memerintah 269-271). Ditemukan di U Thong, Provinsi Suphan Buri, Thailand
Kompleks Candi Buddha Khao Khlang Nai Stupa di Si Thep, Provinsi Phetchabun. Stupa sentral, berbentuk persegi panjang dan menghadap timur dibangun dengan gaya arsitektur Dwarawati sekitar abad ke-6 hingga ke-7 Masehi.
↑David K. Wyatt dan Aroonrut Wichienkeeo. The Chiang Mai Chronicle, p.33
123Higham, C., 2014, Early Mainland Southeast Asia, Bangkok: River Books Co., Ltd., ISBN9786167339443
↑Glover, I. (2011). The Dvaravati Gap-Linking Prehistory and History in Early Thailand. Bulletin of the Indo-Pacific Prehistory Association, 30, 79-86.
Wikimedia Commons memiliki media mengenai Dvaravati.
Robert L. Brown, The Dvaravati Wheels of the Law and the Indianization of South East Asia. Studies in Asian Art and Archaeology, Vol. 18, Fontein, Jan, ed. Leiden and New York: E. J. Brill, 1996.
Elizabeth Lyons, “Dvaravati, a Consideration of its Formative Period”, R. B. Smith and W. Watson (eds.), Early South East Asia: Essays in Archaeology, History and Historical Geography, Oxford University Press, New York, 1979, pp.352–359.
Dhida Saraya, (Sri) Dvaravati: the Initial Phase of Siam's History, Bangkok, Muang Boran, 1999, ISBN974-7381-34-6
Swearer, Donald K. and Sommai Premchit. The Legend of Queen Cama: Bodhiramsi's Camadevivamsa, a Translation and Commentary. New York: State University of New York Press, 1998. ISBN0-7914-3776-0
Pierre Dupont, The Archaeology of the Mons of Dvāravatī, translated from the French with updates and additional appendices, figures and plans by Joyanto K.Sen, Bangkok, White Lotus Press, 2006.
Jean Boisselier, “Ū-Thòng et son importance pour l'histoire de Thaïlande [et] Nouvelles données sur l'histoire ancienne de Thaïlande”, Bōrānwitthayā rư̄ang MỮang ʻŪ Thō̜ng, Bangkok, Krom Sinlapakon, 2509 [1966], pp.161–176.
Peter Skilling, "Dvaravati: Recent Revelations and Research", Dedications to Her Royal Highness Princess Galyani Vadhana Krom Luang Naradhiwas Rajanagarindra on her 80th birthday, Bangkok, The Siam Society, 2003, pp.87–112.
Natasha Eilenberg, M.C. Subhadradis Diskul, Robert L. Brown (editors), Living a Life in Accord with Dhamma: Papers in Honor of Professor Jean Boisselier on his Eightieth Birthday, Bangkok, Silpakorn University, 1997.
C. Landes, “Pièce de l’époque romaine trouvé à U-Thong, Thaïlande”, The Silpakorn Journal, vol.26, no.1, 1982, pp.113–115.
John Guy, Lost Kingdoms: Hindu Buddhist Sculpture of Early Southeast, New York and Bangkok, Metropolitan Museum of Art and River Books, 2014, p.32.
Wārunī ʻŌsathārom. Mư̄ang Suphan bon sēnthāng kan̄plīanplǣng thāng prawattisāt Phutthasattawat thī 8 - ton Phutthasattawat thī 25 (History, development, and geography of the ancient city of Suphan Buri Province, Central Thailand, 8th-25th B.E.), Samnakphim Mahāwitthayālai Thammasāt, Krung Thēp, 2547.