Doho : nama Joho atau Doho memiliki akar kata dan makna yang merujuk pada wilayah awal yang dibangun atau menjadi pusat pemerintahan/peradaban dan berasal dari akar bahasa sanskerta, khususnya “Daha”, yang maknanya berkaitan dengan kota suci atau pusat peradaban. Nama ini mencerminkan warisan budaya Hindu-Buddha yang kuat di Jawa, dan sering menjadi titik awal sejarah peradaban lokal.
Karangnongko : Nama Dusun berasal dari dua kata yaitu "Karang" yang menjadi kata dasar untuk pekarangan dan "nongko" pohon buah nangka. Dahulu, daerah ini banyak pohon buah nangka yang ukurannya sangat besar dan hampir tersebar di setiap pekarangan warga. Pohon-pohon nangka yang besar itu banyak yang sudah ditebangi karena dikawatirkan menimpa rumah warga, Namun di beberapa sudut pekarangan warga masih bisa ditemukan pohon nangka masih dirawat dan diremajakan.
Gayam : Dalam budaya Jawa, gayam bermakna sebagai lambang ketenteraman dan ketenangan.Hal ini dikarenakan nama gayam berasal dari kata "Nggayuh" atau meraih sesuatu dan kata "ayem" yang berarti damai atau tenang. Secara linguistik, "gayam" diartikan sebagai upaya atau usaha untuk menciptakan suasana damai dan sejahtera dalam kehidupan bermasyarakat serta Menciptakan ketenangan dalam diri. Di dusun gayam juga terdapat pohon gayam yang dapat kita jumpai pada area tepian sungai, dekat kawasan embung yang terdapat mata air.
Jetis : Sesuai dengan arti kata “Jetis” yang bermakna “letupan” bahwa di lokasi ini pada masa lalu menjadi tempat terjadinya pertempuran yang diiringi dengan letupan atau tembakan dan ledakan. Dusun ini menjadi lokasi pertama yang dilewati ketika memasuki desa, sehingga menjadi tempat pertahanan sebelum musuh memasuki desa.
Saren : Bubur saren, atau jenang saren, adalah makanan dari tepung ketan dan abu merang. Rasanya manis, gurih, dan hangat karena rempah.
Wates : Nama Wates dalam bahasa Jawa berarti "batas". Posisi Wates kemudian menjadi titik perbatasan dengan wilayah Desa lain.
Ngasem Legi : merujuk pohon asem yang banyak terdapat di pinggiran dusun
Randusari : Nama ini merujuk pada Dusun yang memiliki banyak pohon randu. Kata "randu" berasal dari bahasa Jawa yang berarti pohon kapuk (Ceiba pentandra). Pohon ini banyak ditanam disekitar dusun. Kata "sari" dalam bahasa Jawa berarti inti, saripati, atau inti sari. Hal ini dapat diartikan bahwa Dusun Randusari memiliki tanah yang subur dan kaya akan nutrisi. Kata "randu" dalam bahasa Jawa juga diartikan persimpangan jalan. bahwa Dusun Randusari terletak di persimpangan jalan yang strategis.
Sejarah
Pada awal 1900-an wilayah vital di Wonogiri saat itu yaitu poros jalan Wonogiri-Sidoharjo-Jatisrono-Purwantoro-Badegan-Ponorogo. Desa Doho termasuk wilayah yang dilewati, Ditinjau dari segi ekonomi, kawasan ini termasuk kawasan yang penting di seluruh onderafdeling Wonogiri.
Dari sejumlah daerah di Mangkunegaran, Wonogiri-lah yang mendapat perhatian khusus dalam pembangunan jalan dan jembatan. Hal itu disebabkan karena daerah Wonogiri masih banyak daerah yang terisolir dengan dunia luar. Dengan pembangunan jalan-jalan dapat dibuka isolasi di pelosok-pelosok wilayah Mangkunegaran di bagian selatan. Pembangunan jalan yang terpenting adalah pembangunan jalan Wonogiri-Jatisrono-Purwantoro dan dari situ ke perbatasan Praja Mangkunegaran dengan Karisidenan Madiun. Banyak pasar terdapat di tepi jalan wilayah ini melewati district/kawedanan yang saat itu barangkali merupakan daerah yang makmur dan banyak sumber daya alam yang diambil. Oleh karena itu maka pemerintah Hindia, setelah berunding dengan Pemerintah Mangkunagaran, mengambil keputusan untuk memperbaiki jalan Ponorogo-Wonogiri dengan memindahkan ke jalan-jalan baru dan melingkar.
Jaringan jalan-jalan di wonogiri awalnya masih sangat sederhana dan terdiri dari jalan pos, jalan besar, jalan kuda. Wilayah ini merupakan daerah yang tanahnya tidak rata atau daerah yang berbukit-bukit, dan berkelok-kelok sehingga menyulitkan akses pembangunan jalan yang modern. Untuk keperluan itu maka direncanakan dilakukan perbaikan jalan yang dipimpin oleh Ir. Van Oordt dari Madiun melalui surat izin yaitu surat Keputusan Pemerintah (Gouvernements Besluit) No.36 Tgl. 12 November 1913.
Pembangunan jembatan besar yang menghubungkan Wonogiri-Ponorogo dimulai pada Mei 1913 yang dilaksanakan oleh arsitek Mangkunagaran dengan biaya f 55.000,- dan selesai pada tahun 1915.
Pada tahun 1918 masehi atau 1852 Tahun Jawa bertepatan pada tahun 1340 hijriah, pemerintah Belanda mulai memasang batas desa untuk pembagian jatah tanah kepada penduduk desa dengan melakukan verifikasi tanah. Untuk pembagian tanah tersebut, setiap keluarga mendapatkan jatah tanah:
perkarangan (p) satu patok
sawah (s) satu patok
dengan tegal (d) satu patok
Pembagian tanah tersebut dilakukan dengan pengundian lotre, penduduk tidak boleh memilih sendiri.
Pemerintahan
Desa Doho dipimpin oleh seorang kepala desa, yaitu Bapak Agus Suhartono, SH. sejak tahun 2013.
Kantor Desa (Balai Desa) Doho terletak di Dusun Doho Lor yang memiliki alamat surat:
Jl. Watu Gede km.2 , Doho Lor, RT 001 RW 001, Desa Doho, kecamatan Girimarto, kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah, kode pos (57683)
Desa Doho berada pada ketinggian 310 – 360 meter dari permukaan laut, memiliki luas wilayah 1.138 Hektar. Suhu udara rata-rata di wilayah berkisar antara 22°–30°C. Keadaan alamnya sebagian besar berbentuk lembah-lembah dan bukit-bukit. Dalam pemanfaatannya, sebagian besar wilayah ini dibuat menjadi Sawah Terasering dengan sistem irigasi tadah hujan yang mengandalkan pasokan air hujan untuk pertaniannya.
Tampilkan zoomed out
Tampilkan zoomed mid
Tampilkan zoomed in
Desa ini memiliki jarak 6km ke pusat kecamatan dan 16km ke ibukota Kabupaten Wonogiri. Desa ini dapat diakses oleh kendaraan umum seperti bus dan minibus maupun kendaraan pribadi seperti mobil dan sepeda motor.
Batas Wilayah
Desa Doho merupakan sebagian dari wilayah Kecamatan Girimarto, Kabupaten Wonogiri, Provinsi Jawa Tengah yang letaknya berada di ujung paling selatan di Kecamatan Girimarto, berbatasan dengan desa yang se-wilayah di Kecamatan Girimarto dan juga berbatasan langsung dengan desa di dua Kecamatan lainnya, yaitu Ngadirojo dan Sidoharjo.
Adapun batas Desa Kerjo Lor adalah sebagai berikut:
Menurut Klasifikasi iklim Köppen, Desa Doho memiliki iklim musontropis. Sama seperti wilayah lain di Indonesia, musim hujan di Doho dimulai bulan Oktober hingga Maret, dan musim kemarau bulan April hingga September.
Curah hujan maksimum terjadi pada bulan Desember–Februari dengan Januari sebagai bulan terbasah dan curah hujan minimum berlangsung pada bulan Juli-September dengan Agustus sebagai bulan terkering. Sebagian tanah pertaniannya diolah hanya saat memasuki musim penghujan dan saat musim kemarau lahan pertanian sangat minim pasokan air. Pola tanam di wilayah ini, yakni padi-padi, padi-palawija, dan padi-bera. Dibeberapa titik juga terdapat lahan sawah lebak namun jumlahnya terbatas
Rata-rata curah hujan di Doho adalah 1700–2200mm. Suhu udara relatif konsisten sepanjang tahun, dengan suhu rata-rata 25 derajat Celsius. Suhu udara tertinggi adalah 30,4 derajat Celsius, sedangkan terendah adalah 19.7 derajat Celsius. Rata-rata tekanan udara adalah 1010,9 MBS dengan kelembaban udara 80%. Kecepatan angin 4 Knot dengan arah angin 240 derajat
Pada tahun 2018 dibangun Embung untuk membantu masyarakat dalam menampung persediaan air yang akan digunakan untuk pertanian saat musim kemarau. Embung Doho memiliki volume 15.000 meter kubik atau mampu menampung 15 juta liter air hujan.[5]
Transportasi
Berikut adalah jalur alternatif transportasi Umum kereta dan bus untuk menuju Desa Doho, Girimarto, Wonogiri dari Kota Surakarta (Solo):
1. Jalur Bus Antar Kota (AKAP/AKDP)
Opsi menggunakan bus AKAP yang memilih rute dari jarak jauh.
Bus Jurusan Jakarta: Terdapat 2 jadwal perjalanan, bus malam (jam 18.00 - 20.00) atau bus siang (07.00 - 13.00) yang melewati Wonogiri menuju Purwantoro ataupun rute sebaliknya bisa menjadi pilihan jika Anda ingin kenyamanan lebih, namun biasanya tarifnya lebih mahal karena mengikuti tarif jarak jauh.
Bus Lokal (Solo - Wonogiri - Purwantoro): Masih tersedia bus ekonomi AC yang melayani rute ini secara reguler sepanjang hari. dari jam 5.00 s/d 17.00
2. Jalur Bus Trans Jateng (Solo - Wonogiri) + Angkutan Umum
Opsi bus modern dengan jadwal yang sangat padat (setiap 10-20 menit).
Rute Bus: Naik Trans Jateng Koridor 7 dari Terminal Tirtonadi Solo atau halte-halte sepanjang jalan (seperti Halte Balai Kota atau Halte Pasar Gede) menuju Terminal Tipe C Wonogiri.
Jadwal: Mulai pukul 05.00 WIB hingga keberangkatan terakhir dari Solo pukul 18.00 WIB.
Lanjutan ke Desa Doho: Setibanya di Terminal Wonogiri, pindah ke Angkutan Umum (Minibus/Elf) jurusan Purwantoro atau mencari angkutan yang langsung masuk ke arah Doho, Girimarto.
3. Jalur Kereta Api (KA Batara Kresna) + Angkutan Umum
Opsi paling ekonomis dan bebas macet dari pusat kota Solo menuju Wonogiri.
Rute Kereta: Naik KA Batara Kresna dari Stasiun Purwosari atau Stasiun Solo Kota menuju Stasiun Wonogiri.
Jadwal Keberangkatan dari Solo:
06.00 WIB (Tiba di Wonogiri 07.00 WIB)
10.00 WIB (Tiba di Wonogiri 11.00 WIB)
Harga Tiket: Rp4.000,- (dapat dibeli via aplikasi Access by KAI).
Lanjutan ke Desa Doho: Dari Stasiun Wonogiri (dekat Pasar Kota), lanjutkan dengan Angkutan Umum jurusan Wonogiri - Purwantoro yang beroperasi jam 05.00 s/d 17.00. Anda bisa turun di persimpangan menuju Girimarto/Doho.
Jika Anda menggunakan kendaraan pribadi dari Solo (Surakarta) menuju Desa Doho, Girimarto, Anda memiliki dua pilihan rute utama yang masing-masing menawarkan kondisi jalan yang berbeda.
Berikut adalah rincian opsinya:
1. Rute Utama: Via Solo – Wonogiri Kota – Ngadirojo (Terfavorit)
Ini adalah jalur yang paling umum digunakan karena jalan lebar dan penanda jalan yang sangat jelas.
Rute: Solo – Sukoharjo – Wonogiri Kota – Ngadirojo – Sidoharjo.
Jarak: ±46 km.
Waktu Tempuh: ±1 jam 25 menit.
Panduan Jalan:
Dari Solo, arahkan kendaraan ke selatan menuju Kota Wonogiri via Sukoharjo.
Sesampainya di Wonogiri Kota, ambil jalur ke arah Ponorogo/Purwantoro (melewati Ngadirojo).
Lurus terus hingga melewati Pasar Lama Sidokriyo.
Sekitar 1 km dari pasar tersebut, perhatikan sisi kiri (utara) jalan. Anda akan melihat Gapura Watu Gede dan bongkahan batu besar. Itulah gerbang masuk menuju Desa Doho.
2. Rute Jalur Utara: Via Solo – Jatipuro – Girimarto (Jalur Alternatif)
Jalur ini lebih sepi dari bus besar dan truk, melewati daerah perbukitan yang asri namun jalan lebih sempit dan berkelok.
Rute: Solo – Pasar Kliwon – Bekonang – Jatipuro (Karanganyar) – Girimarto.
Jarak: ±45 km.
Waktu Tempuh: ±1 jam 20 menit.
Panduan Jalan:
Dari Solo, arahkan kendaraan ke arah Bekonang lalu terus ke selatan menuju Jatipuro.
Dari Jatipuro, ikuti jalan menuju arah Girimarto.
Rute ini akan membawa Anda masuk ke Desa Doho dari sisi utara/atas.
Penduduk
Jumlah Penduduk:
1171 Laki Laki; 1151 Perempuan
Jumlah KK:
787 KK
Penduduk Desa Doho pada umumnya adalah petani yang menggarap sawah sendiri maupun sawah milik orang lain, setelah musim tanam selesai terdapat kebiasaan merantau atau boro. Kata boro sendiri merupakan kependekan dari kata ngalemboro yang berarti mengembara. Menjelang masa panen tanaman, para kaum boro itu akan pulang. Usai panen mereka masih lanjut menggarap sawahnya dulu. Setelah masa tanam lewat, mereka kembali ke perantauan. Kaum boro bisa dibilang merata di hampir semua wilayah.
Pekerjaan (kaum boro) yang kuat ada tiga, penjual mi ayam bakso, buruh pabrik, dan pekerja bangunan atau kontruksi. Tapi rata-rata pedagang dan usahanya jadi sukses.
Selain itu ada juga yang bekerja sebagai guru, sopir, wiraswasta, PNS, TNI dan POLRI.
Pendidikan
Desa Doho mempunyai dua sekolah dasar yaitu SDN 1 Doho yang terletak di Dusun Randusari dan SDN 2 Doho yang terletak di Dusun Karangnongko.
Ekonomi
Kegiatan ekonomi lebih mudah dilakukan dengan adanya perputaran barang yang cepat. Dalam
mendapatkan sembako yang dibutuhkan, masyarakat bisa mencari barang barang kebutuhannya di warung disetiap dusun. Jumlah warung yang ada di desa Doho ada sekitar 20 warung juga termasuk UKM produksi yang mengolah hasil panen pertanian dan peternakan masyarakat untuk diproses kembali sehingga nilai jualnya menjadi lebih tinggi dan bisa untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat.
Di Desa Doho juga sudah terdapat Badan usaha milik desa (BUMDes Doho Bersinar) yang bertugas sebagai lembaga pengungkit perekonomian desa melalui peningkatan layanan umum dan mengoptimalkan asset desa.[6] Selain itu, BUMDes memiliki peran sebagai pendukung kegiatan usaha dan perekonomian masyarakat desa melalui fasilitasi kegiatan ekonomi produktif desa seperti pemasaran dan distributor untuk penyediaan bahan baku produksi.[7]
Pertanian dan Perkebunan
termasuk daerah yang subur untuk ditanami.
Dengan curah hujan serta kelembaban udara yang mencukupi,
hasil pertanian dan perkebunan menjadi sesuatu yang tidak terpisahkan dari daerah ini.
Hasil pertanian mayoritas di Desa Jatimarto,
misalnya:
Di Desa Doho terdapat tiga tempat penggilingan padi yang dimiliki perorangan, yang terdapat di dusun doho lor, Wates dan karangnongko.
Terdapat satu penggilingan padi dan satu gudang LDPM yang dimiliki Gapoktan yang terdapat di dusun Gayam dan Jetis yang melayani 7 kelompok tani yang tersebar disetiap dusun di Desa Doho.
Peternakan
Hewan ternak yang umum di pelihara adalah sapi, kambing, kelinci dan ayam.
Perdagangan dan Jasa
Desa ini memiliki jarak 6km ke pasar Kecamatan Girimarto dan 17km ke pasar kota Kabupaten Wonogiri.
Terdapat juga pasar hewan Sidoharjo yang berjarak 3Km dari desa, Sudah ada pasar modern seperti Alfamart dan Indomaret dan beberapa warung makan yang berada 1Km sebelah selatan desa di Pasar Lama Sidokriyo
Dalam Wilayah Desa juga memiliki satu tempat cuci motor dan satu bengkel yang berada di dusun Karangnongko dan Gayam. Jasa lain seperti organizer persewaan Kajang, AC dan Genset untuk pesta.
Pariwisata
Embung menjadi objek wisata baru di Desa Doho.[8] Setiap harinya banyak pengunjung yang berdatangan untuk minum kopi atau hanya sekadar berkeliling melihat pemandangan sekitar embung. Kegiatan lainnya yang biasa dilakukan pengunjung adalah jogging, voli dan olahraga lainnya .
Pembangunan embung tersebut melibatkan berbagai pihak, di antaranya Coca-Cola Foundation, Yayasan Obor Tani serta Pemerintah Kabupaten Wonogiri. Dana pembangunan embung air yang menawarkan objek agrowisata itu dibiayai melalui dana corporate social responsibility (CSR), Di sekitar embung juga ditanami sayuran dan buah-buahan. Ketika sudah berbuah, pengunjung bisa ikut serta dalam kegiatan petik buah.
Embung yang awalnya dibangun untuk kepentingan irigasi pertanian ini, kini berkembang sebagai kawasan wisata. Dalam pengembangan sektor pariwisata sudah dibentuk Pokdarwis yaitu lembaga yang didirikan warga desa yang anggotanya terdiri dari para pelaku kepariwisataan yang memiliki kepedulian dan tanggung jawab serta berperan sebagai penggerak untuk menciptakan iklim yang kondusif bagi berkembangnya kepariwisataan di wilayah desa mereka serta mewujudkan Sapta Pesona.[9]
Untuk memupuk kreativitas masyarakat, Desa Doho memiliki karang taruna disetiap dusun. Tujuan adanya karang taruna ini yaitu menyediakan panggung untuk masyarakat agar semakin kreatif, edukatif, produktif, dan sering melakukan kegiatan praktis seni budaya dengan pembinaan pengembangan serta pemberdayaan dalam upaya tercapainya kesejahteraan sosial