Burung ini memiliki tubuh berukuran sekitar 30cm, berekor panjang dengan warna bulu cokelat kemerah-jambuan. Mirip Tekukur biasa. Perbedaan antara tekukur biasa dengan dederuk jawa adalah warna kepala yang lebih abu-abu, terdapat bercak hitam pada sisi leher dengan tepi putih. Bagian tengah membujur bulu ekor berwarna cokelat. Kedua sisi bulu ekor berwarna abu-abu dengan tepi agak putih. Burung ini memiliki iris berwarna jingga, paruh hitam dengan pangkal merah, kaki merah keunguan.[1]
Burung ini menyuarakan bunyi "kru-kruuu... kwok".[2] Terkadang sebelum berbunyi dengan suara tersebut, biasanya burung ini mengeluarkan suara seperti "tertawa" terlebih dahulu apabila dikelompokkan dengan sesamanya. Setelah itu burung ini mengangguk-anggukan badannya ke sesamanya sambil bersuara demikian sebagai tanda berinteraksinya.
Perilaku
Burung ini sering mengunjungi tempat-tempat terbuka seperti di pedesaan dekat hutan terutama di hutan mangrove dengan ketinggian hingga 600 mdpl. Ia juga dapat ditemui saat beristirahat pada pohon-pohon kecil, makan di daerah terbuka di atas permukaan tanah, berpasangan atau dalam kelompok-kelompok kecil.[2]
Dederuk jenis ini dipergunakan sebagai fauna identitas Kabupaten Bantul. Adapun juga, dederuk jawa dalam Bahasa Jawa artinya puter.[4] Burung ini juga sering digunakan dalam acara pertunjukan sulap tradisional, terutama yang berwarna putih.