Daucus carota (nama umumnya wortel liar, atau Queen Anne's lace untuk sebutan di Amerika Utara) adalah tumbuhan berbunga di dalam famili Apiaceae. Tanaman ini berasal dari kawasan beriklim sedang di Eropa dan Asia barat daya, dan dinaturalisasikan ke Amerika Utara dan Australia.
Wortel-wortel yang terdomestikasi merupakan kultivar subspesies, Daucus carota subspesies sativus.
Deskripsi
Gugusan buah mengandung buah-buah berbentuk oval dengan spina kusut
Inflorens dan dedaunan
Daucus carota adalah herbaceous, tanaman dua tahunan yang agak bervariasi yang tumbuh di antara 30 dan 60cm, Karakteristik pada tanaman ini memiliki bulu yang kasar, serta batangnya yang padat dan kaku. Daunnya menyirip, yang terbagi denngan halus dan berenda, serta keseluruhan daunnya berbentuk segitiga, Daunnya berduri dan memiliki pola yang menyirip secara bergantian, terpisah membentuk garis-garis yang tipis. Bunganya kecil dan berwarna putih kusam, menggugus bunga payung yang datar dan padat. Lebar bunga payung terminal sekitar 3–4 inci (8–10cm).[2] Tunasnya dapat berwarna merah jambu, sedangkan pusat bunga payungnya dapat berupa bunga kemerahan atau ungu.[3]Daun pelindung yang lebih rendah memiliki tiga cabang atau menyirip, yang membedakan tanaman tersebut dari tanaman umbellifer berbunga putih lainnya. Saat bijinya bertumbuh, bunga payungnya melengkung di tepinya, sehingga terlihat lebih padat, dan menumbuhkan permukaan yang cekung. Buahnya kecil, kering, berjendul, berbentuk oval dan rata, dengan style yang pendek dan duri yang kusut, serta memiliiki bulu di sekitarnya sebagai pelindung.[4][2] Buahnya bicarpellate (memiliki dua mericarp). Endospermanya tumbuh sebelum embrio.[5] Bunga payung yang kering lepas dari tanaman, menjadi gulma raksasa.[6] Bunga merah kecil yang diwarnai dengan antosianin berfungsi untuk menarik perhatian serangga. Bunganya mekar dari bulan Mei hingga September.[7][8]
Mirip dengan conium maculatum yang mematikan, Daucus carota dibedakan oleh campuran daun tripinnate, bulu yang halus pada batang hijau yang kokoh dan pada daun-daunnya, sebuah akar yang baunya seperti wortel, dan kadangkala memiliki bunga merah tua yang tunggal di pusat bunga payung.[9][10]Conium maculatum juga berbeda karena cenderung memiliki tanda-tanda ungu pada batangnya, yang juga memiliki sedikit bulu pada batang hijau "Queen Anne's lace" (wortel liar) [11] Kedua tanaman tersebut tersebar oleh pendatang Eropa di Amerika Utara, sehingga menjadi tanaman berbunga liar yang sering ditemukan. Daucus carota sering kali dinamai "Queen Anne's lace", yang dinamai dari Ratu Anne dari Britania Raya.[12] Tanaman tersebut dinamai sedemikian rupa lantaran infloresensnya menyerupai renda, yang menonjolkan pakaian anggun saat ini. Bunga merah yang terletak di pusatnya dikatakan melambangkan tetesan darah saat Ratu Anne tertusuk jarum saat menjahit renda.[13]
Kegunaan
Sama seperti wortel yang dibudidayakan, akar D. carota dapat dimakan ketika masih muda, tetapi dengan cepat menjadi terlalu berkayu untuk dikonsumsi. Bunga-bunga terkadang dikelupas dan digoreng. Daun-daunnya serta biji-bijinya juga dapat dimakan.[2]
D. carota sangat mirip dengan conium maculatum, daun-daun dari wortel liar mungkin menyebabkan fitofotodermatitis,[14][15] jadi peringatan harus juga digunakan ketika menangani tanaman tersebut. Biji-biji dan bunga-bunganya telah digunakan sebagai sebuah metode dari kontrasepsi dan sebuah abortifasien selama berabad-abad, tetapi penelitian imliah masih belum mengkonfirmasi dampak-dampak tersebut serta tidak ada bukti yang menunjukkan keselamatan.[16][17][18] Jika digunakan sebagai sebuah bahan pewarna, bunga-bunganya menjadi lembut dan putih pucat.
D. carota, ketika baru dipotong, akan berubah warna tergantung pada warna air yang ditampung. Efek ini hanya terlihat pada "kepala" atau bunga tanaman. Anyelir merah juga memperlihatkan efek tersebut. Peristiwa ini sudah menjadi demonstrasi ilmu pengetahuan yang populer di sekolah dasar.
Gulma yang bermanfaat
Gulma yang bermanfaat ini bisa digunakan sebagai tanaman pendamping. Seperti kebanyakan anggota dari famili umbellifer, gulam ini menarik perhatian tawon ke bunga kecilnya dalam di tanah asalnya. Namun dimana tanaman tersebut diperkenalkan, ia menarik perhatian sangat sedikit tawon. Di Wisconsin di sebelah timur laut, kupu-kupu dan tawon berhasil menarik perhatian ketika memperkenalkan mentigi biru.[19] Spesies ini juga didokumentasikan untuk meningkatkan produksi tanaman tomat saat disimpan di dekatnya, dan dapat menyediakan iklim mikro pendingin, udara lembap untuk selada, ketika tumpang sari dengannya.[20] Sayangnya, negara bagian Amerika Serikat seperti Iowa, Michigan, dan Washington telah menyatakan gulma tersebut berbahaya,[21] dan dianggap sebagai hama yang serius di padang rumput. Gulma tersebut tetap ada di dalam kumpulan cadangan benih selama dua atau lima tahun.[22]
Rasa
Beberapa faktor-faktor yang berbeda dapat menyebabkan akar wortel memiliki metabolit abnormal (terutama 6-methoksimelein) yang dapat menghasilkan rasa pahit pada akarnya. Sebagai contoh, wortel memiliki rasa yang lebih pahit ketika tumbuh di dekat apel. Selain itu, etena dapat mudah menghasilkan stres, sehingga rasanya menjadi pahit.[23]
Budaya
Sejarah dari Daucus carota beserta dengan kultvasinya dalam bagian dunia yang berbeda dapat ditelusuri kembali melalui tulisan sejarah dan karya seni. Sebagai contoh, lukisan dari abad ke-16 dan ke-17, yang membantu memasarkan tanaman para petani, dapat menyediakan informasi mengenai riwayat wortel. Lukisan tersebut memperlihatkan akar kuning atau merah yang dibudidayakan di Turki, Afrika Utara, dan Spanyol. Akar jingga dibudidayakan di Belanda abad ke-17.[24]
Taksonomi
Wortel ini pertama kali dijelaskan secara resmi oleh Carl Linnaeus dalam karyanya 1753 Species Plantarum. Pada tahun 2016, sebuah tim internasional mengurutkan genom lengkap Daucus carota.[25]
Subspesies
Keluarga wortel yang dibudidayakan hanya Daucus carota.[26]
Wortel liar maupun domestiknya sam-sama berasal dari spesies yang sama, Daucus carota L. Terdapat beberapa subspesies dari Daucus carota yang telah berkembang dengan iklim dan atmosfer yang berbeda. Dua contoh wortel tersebut berasal dari Belanda. D. carota subsp. sativus, yang memiliki akar yang dapat memiliki beragam macam warna. Wortel tersebut memiliki akar yang tebal dan rasa yang lebih manis. Lingkaran duri di atas spina pada bubungan vallecular mericarpD. carota subsp. sativus matang dengan sangat baik. D. carota subsp. carota memiliki akar putih, tidak seperti D. carota subsp. sativus yang memiliki akar tipis, rasa pahit dan tidak dapat dimakan. Bunga payung di bagian tengah D. carota subsp. carota tidak berkembang dengan baik (tidak seperti di D. carota subsp. sativus) dan warna bunga beragam dari merah hingga ungu gelap.[27]
Tingkat keracunan
Melakukan kontak kulit dengan daun Daucus carota, apalagi daun yang basah, dapat menyebabkan iritasi kulit bagi beberapa orang.[15][28] Hal ini juga mungkin memiliki efek ringan pada kuda.
Senyawa falkarinol secara alami ditemukan pada Daucus carota sebagai perlindungan terhadap penyakit jamur. Uji laboratorium menunjukkan senyawa tersebut berracun bagi tikus dan kutu air Daphnia magna.[29] Konsumsi wortel yang normal tidak memiliki efek racun bagi manusia.[30]
↑Peterson, Roger Tory, andMargaret McKenny. A field guide to wildflowers: northeastern and north-central North America. Houghton Mifflin Harcourt, 1968. p. 48 Retrieved on 27 March 2017.
↑Contraception and Abortion from the Ancient World to the Renaissance, John M. Riddle, pg 58.
↑Peters, Emily (December 2014). "Wild Carrot Monograph"(PDF). Ember Peters, RHP Wild Current Herbalism. Diarsipkan(PDF) dari versi aslinya tanggal 2020-10-20. Diakses tanggal August 11, 2020.
↑Coxon, David T.; Curtis, R.Frank; Price, Keith R.; Levett, Gordon (August 1973). "Abnormal metabolites produced by Daucus carota roots stored under conditions of stress". Phytochemistry. 12 (8): 1881–1885. doi:10.1016/S0031-9422(00)91505-X.
↑Zeven, A. C.; Brandenburg, W. A. (1986-10-01). "Use of paintings from the 16th to 19th centuries to study the history of domesticated plants". Economic Botany (dalam bahasa Inggris). 40 (4): 397–408. doi:10.1007/BF02859650. ISSN0013-0001. S2CID24391862.
↑"Daucus carota". www.hort.purdue.edu. Diakses tanggal 2017-04-21.
↑Crosby, D.G.; Aharonson, N. (January 1967). "The structure of carotatoxin, a natural toxicant from carrot". Tetrahedron. 23 (1): 465–472. doi:10.1016/S0040-4020(01)83330-5. PMID6037290.
Bradeen, James M.; Simon, Philipp W. (2007). "Carrot". Dalam Cole, Chittaranjan (ed.). Vegetables. Genome Mapping and Molecular Breeding in Plants. Vol.5. New York, New York: Springer. hlm.162–184. ISBN978-3-540-34535-0.
Clapham, A. R.; Tutin, T. G.; Warburg, E. F. (1962). Flora of the British Isles. Cambridge University Press.
Mabey, Richard (1997). Flora Britannica. London: Chatto and Windus.
Rose, Francis (2006). The Wild Flower Key (edition revised and expanded by Clare O'Reilly). London: Frederick Warne. ISBN978-0-7232-5175-0.