Bumiayu (bahasa Jawa:ꦧꦸꦩꦶꦪꦪꦸcode: jv is deprecated , Sunda: ᮘᮥᮙᮤᮃᮚᮥ) merupakan sebuah kecamatan yang terletak di Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, Indonesia. Kecamatan ini menjadi pusat aktivitas masyarakat di bagian selatan Kabupaten Brebes, mencakup bekas wilayah Kawedanan Bumiayu, yakni Bumiayu, Tonjong, Sirampog dan Paguyangan. [1] serta beberapa wilayah diluarKawedanan Bumiayu seperti Bantarkawung dan Salem. Penduduk asli Bumiayu mayoritas adalah Suku Jawa dan menggunakan Bahasa Jawa dialek Bumiayu sebagai bahasa utama, terdapat juga minoritas penduduk Suku Sunda di sebagian desa pruwatan dan sebagian laren, karena bagian barat desa pruwatan terletak di barat sungai pemali, walaupun demikian hampir seluruh desa di Bumiayu terletak di timur sungai pemali.
Bumiayu terletak di Dataran Tinggi dan memiliki keunggulan strategis karena dilalui oleh jalur transportasi utama Tegal-Purwokerto dan merupakan lintasan jalur kereta api Jakarta-Cirebon-Purwokerto-Yogyakarta-Surabaya. Stasiun Bumiayu, yang terletak di Desa Talok, menjadi satu-satunya stasiun kereta api di kecamatan ini, menyediakan layanan transportasi jarak jauh yang efisien.
Bumiayu juga dikenal memiliki Terminal Bus di utara perempatan Langkap yang selalu ramai dengan penumpang, khususnya pada sore hari. Fasilitas ini memberikan kemudahan akses transportasi bagi masyarakat setempat.
Pasar Wage, sebuah pasar yang buka setiap lima hari sesuai dengan hari pasaran Kalender Jawa, menjadi salah satu daya tarik utama di Bumiayu. Kota ini, yang mayoritas penduduknya berprofesi sebagai pedagang, memiliki kawasan perdagangan yang membentang dari Talok hingga Jatisawit. Beberapa pasar yang terkenal di kota ini meliputi Pasar Talok, Pasar Induk Bumiayu, Pasar PKL Kalierang, Pasar Wage, dan Pasar Jatisawit.
Untuk mengatasi masalah kemacetan di Bumiayu, Pemerintah Kabupaten Brebes mengambil langkah dengan membangun jalan lingkar. Jalan ini dibangun di sebelah timur wilayah perkotaan Bumiayu, membentang dari Talok hingga Pagojengan Kecamatan Paguyangan, melintasi di bawah jembatan kereta api Sakalimalas atau Sakalibel. Inisiatif ini diharapkan dapat meningkatkan kelancaran lalu lintas di kota tersebut, memberikan dampak positif bagi masyarakat sekitar.
Asal nama
Legenda Asal-Usul Nama Bumiayu (Mataram, 1677)
Menurut sejarah lokal, nama Bumiayu berasal dari peristiwa pada akhir abad ke-17 yang melibatkan pelarian keluarga kerajaan Mataram Islam. Dikisahkan bahwa Adipati Anom (kelak naik takhta sebagai Sunan Amangkurat II, raja Mataram ke-5) sempat singgah di kawasan yang kini bernama Bumiayu saat melarikan diri menuju Tegal sekitar tahun 1677. Pada waktu itu, Adipati Anom terkesan melihat penduduk setempat – terutama para wanitanya – berparas “ayu” (cantik dalam bahasa Jawa). Konon sang pangeran spontan menyebut daerah tersebut sebagai “buminé wong ayu” yang berarti “negeri (tanah) orang-orang cantik”. Ungkapan inilah yang kemudian melekat dan berkembang menjadi nama Bumiayu. Sumber sejarah lokal ini diperkuat oleh narasi tradisional bahwa Adipati Anom lah yang memberikan nama Bumiayu karena terpesona akan keelokan alam dan penduduknya.
Versi Cerita Rakyat (Nyai Rantansari)
Versi lain yang tercatat dalam folklor setempat menambahkan unsur legenda mistis. Dalam cerita rakyat Brebes selatan disebutkan bahwa ketika rombongan kerajaan Mataram singgah di wilayah ini, Sunan Amangkurat (versi cerita menyebut Amangkurat I) berjumpa dengan sosok perempuan jelita bernama Nyai Rantansari di dekat sebuah candi keramat. Wanita misterius tersebut menghilang secara gaib, tetapi kecantikannya meninggalkan kesan mendalam. Konon karena terpesona oleh panorama alam yang indah beserta keberadaan wanita cantik tadi, sang Sunan menamai daerah itu Bumiayu. Cerita Nyai Rantansari ini bersifat legenda rakyat dan tercatat dalam antologi resmi folklore Brebes Selatan yang diterbitkan bekerja sama dengan Kemendikbud. Meskipun bernuansa mitos, inti kisahnya sejalan dengan versi sejarah bahwa nama Bumiayu dikaitkan dengan keelokan “ayu” yang ditemui penguasa Mataram di daerah tersebut.
Sumber Referensi Terpercaya
Penjelasan asal-usul nama Bumiayu di atas didukung oleh sumber-sumber reputabel. Artikel profil sejarah Bumiayu di Solopos (Espos Regional) mengulas bahwa penamaan Bumiayu “disematkan oleh Adipati Anom (Amangkurat II)” saat pelarian ke Tegal, setelah melihat kawasan yang “dipenuhi wanita berparas ayu”. Disebutkan pula bahwa “oleh karena itu, Adipati Anom menamakan kawasan tersebut sebagai Bumiayu”. Ini memberikan landasan semi-sejarah yang dapat dipertanggungjawabkan secara akademis, mengingat konteksnya bersesuaian dengan peristiwa Perang Trunajaya 1674–1680 yang memaksa keluarga Mataram melintasi wilayah Brebes selatan. Selain itu, Antologi Cerita Rakyat Brebes Selatan (2018) terbitan Balai Bahasa Kemendikbud Jawa Tengah juga merekam versi tutur mengenai asal-usul Bumiayu, lengkap dengan tokoh lokal Nyai Rantansari dan peran Sunan Amangkurat dalam menamai wilayah tersebut. Kedua kategori sumber ini – baik catatan sejarah lokal yang diterbitkan media arus utama maupun dokumentasi folklor resmi – konvergen pada kesimpulan yang sama: nama Bumiayu lahir pada era Mataram akibat kekaguman tokoh kerajaan terhadap kecantikan “ayu” di bumi atau negeri tersebut. Informasi dengan referensi kuat ini dapat dijadikan rujukan valid untuk memperbarui bagian “Asal Nama” di Wikipedia, memastikan isinya akurat dan berbasis bukti sejarah maupun tradisi lisan yang terpercaya.
Bumiayu memiliki beragam makanan khas yang mirip dengan kuliner di wilayah Banyumas. Beberapa makanan khas yang dikenal di daerah ini meliputi:
Mendhoan
Makanan utama
Mendhoan: Tempe yang diiris tipis, dilumuri tepung berbumbu, dan digoreng setengah matang.
Sogol: Olahan berbahan dasar singkong parut yang dikukus dan disajikan dengan parutan kelapa dan gula merah cair.
Kerupuk Rambak: Kerupuk yang dibuat dari kulit sapi atau kerbau yang dikeringkan, lalu digoreng hingga renyah.
Randem: Kudapan gorengan berbahan dasar singkong atau ubi yang dihaluskan dan diberi sedikit tepung sebelum digoreng.
Keong Kuah Pedas (Kraca): Masakan berbahan dasar keong sawah yang dimasak dengan kuah pedas berbumbu.
Bumbu Tahu: Masakan berbahan dasar tahu yang dimasak dengan kuah santan berbumbu khas.
Dage: Kudapan berbahan dasar ampas kacang yang difermentasi, dijamurkan, lalu digoreng dengan adonan tepung berbumbu.
Makanan tradisional lainnya
Selain itu, Bumiayu juga memiliki berbagai makanan tradisional yang masih ditemukan di beberapa tempat, seperti: timus, utri, kamir, lopis, klepon, ketan pencok, dan opak petis.
Stasiun Bumiayu (BMA) merupakan stasiun kereta api kelas II yang terletak di Dukuhturi, Bumiayu, Brebes. Stasiun yang berada pada ketinggian +236,45 m dpl ini terletak di Daerah Operasi V Purwokerto. Stasiun ini termasuk tipe sisi dan memiliki 3 jalur. Stasiun ini menjadi tempat naik turun penumpang kereta api di wilayah kecamatan ini.
Sekitar 1km ke arah timur dari stasiun ini terdapat Jembatan Sakalimolas yang memiliki panjang 280 meter, jembatan ini merupakan jembatan terpanjang di Daop 5 Purwokerto.
Berikut ini adalah kereta api yang berhenti di Stasiun Bumiayu.