Cagar Alam Telaga Ranjeng atau biasa juga diucapkan Telaga Renjeng adalah kawasan cagar alam yang berlokasi di desa Pandansari, kecamatan Paguyangan, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. Telaga ini dibangun pada tahun 1924, berada di bawah kaki Gunung Slamet dan merupakan bagian dari kawasan cagar alam milik Perhutani Pekalongan Timur.
Telaga Ranjeng pertama kali ditunjuk sebagai kawasan cagar alam berdasarkan Besluit Gubernur Jenderal Hindia Belanda No. 25 tanggal 11 Januari 1925, seluas 48,5 Ha. Status tersebut diperkuat kembali dengan SK Penunjukan Menteri Kehutanan No. SK.3 5 9/MenHut-II/2004 tanggal 1 Oktober 2004.[1]
Geografi
Cagar Alam Telaga Ranjeng, keberadaannya dikelilingi oleh Perkebunan Teh Kaligua juga beberapa pemukiman warga seperti, Kalikidang yang letaknya lebih tinggi 20 meter dibagian lereng atas. Embel dan Gronggongan yang berada 100 meter persis di bawah lereng utara telaga Ranjeng.[2]
Kawasan konservasi memiliki topografi berbukit, bergelombang dan pegunungan, terdiri dari batuan tertier dan kwarter yang berasal dari gunung berapi, sedangkan jenis tanahnya latosol. Cagar alam ini berada pada ketinggian sekitar 1500 meter di atas permukaan laut dengan temperatur harian berkisar antara 13°-27°C, dengan curah hujan rata-rata 600–1100mm/tahun.
Hidrologi
Cagar Alam Telaga Ranjeng merupakan bagian dari sistem hidrologi DAS Pemali. Letaknya berada di kawasan hulu DAS Pemali, sebelah timur lereng komplek Gunung Slamet. Aliran kecil yang berada disekitarnya mengalir hingga bergabung bersama dengan aliran utamanya menuju pesisir utara melalui aliran Kali Keruh, anak Sungai Pemali.[3]
Telaga berfungsi sebagai reservoir alami dengan luas sekitar 18,5 ha atau 37,5% dari total luas cagar alam, dengan bentuk permukaan yang memanjang sekitar 1100 meter. Sumber air telaga berasal dari tangkapan air hujan dan mata air bawah tanah dari lereng selatan.[2]
Keanekaragaman hayati
Flora
Cagar Alam Telaga Ranjeng mempunyai tipe ekosistem hutan hujan tropika pegunungan dan tipe ekosistem perairan berupa telaga, dengan flora penyusunnya Ande-andean (Antidesma tetrandrum), Anggrung (Trema orientale), Bancetan, Baros (Garcinia sp.), Berasan (Tarenna incerta), Cemara Batu (Casuarina sp.), Cemara Nyamplung (Casuarina sp.), Cengkek (Planchonella obovata), Dempul (Glochidion sp.), Gembleb, Geringging (Weinmannia blumei), Jerukan (Xanthophyllum excelsum), Kayu Putihan, Kebeg (Ficus sp.), Kemiren (Hernandia peltata), Kemiri (Aleurites moluccana), Kemiri Sepet, Kendung (Helicia javanica), Kina (Chinchona sp.), Kopeng (Ficus ribes), Pasang (Quercus sp.), Pelah (Dysoxylum alliaceum), Pinus (Pinus merkusii), Puspa (Schima walichii), Rukem (Flacourtia sp.), Sahang (Schefflera aromatica), Suren (Toona sureni).
Fauna
Keragaman fauna yang ada antara lain Bangau Hitam (Ciconia episcopus), Elang Bido (Spilornis cheela), Burung Sesap Madu (Melliphagidae), Ayam Hutan (Gallus sp.), Bajing (Sundasciurus sp.), Burung Bubut (Centropus sp.), Ciblek (Prinia familiaris), Cici Goci (Cisticola sp.), Gelatik Batu (Parus major), Burung Hantu (Otus sp.), Kacer ( Copsychussa ularis ) , Kutilang (Pycnonotus aurigaster), Burung Pleci, Plentet (Lanius schach), Prenjak (Prinia subflava), Burung Puyuh (Turnix sp.), Burung Siung (Macronous sp.), Sriti (Collocalia esculenta), Burung Trinil (Tringa sp.), Tengkek (Halcyon chloris), Ikan Lele (Clarias batrachus) dan Wader (Puntius sp.).[4]
Mitologi lokal
Cagar alam tersebut memiliki luas empat puluh delapan setengah hektare terdiri dari hutan damar dan pinus yang mengelilingi telaga, yang sebelumnya merupakan tempat mandi para tokoh kerajaan di Jawa. Daya tarik dari Telaga Ranjeng adalah udara pegunungan yang sejuk, hutan lindung, cagar alam, serta terdapat beribu-ribu ikan lele yang jinak dan dianggap keramat, yang dianggap sebagai penghuni telaga.[butuh rujukan] Konon ikan lele penunggu Telaga Ranjeng yang memiliki kedalaman tiga meter, hanya bisa diajak bermain -main dan tidak diperkenankan untuk diambil meski hanya satu ekor. Penunggu telaga menceritakan pernah ada seorang wisatawan yang mencoba mengambilnya tetapi sampai di rumah orang tersebut kemudian sakit-sakitan baru sembuh setelah mengembalikan ikan lele ke Telaga Ranjeng. Benar atau tidaknya cerita tersebut, yang jelas Telaga Ranjeng merupakan aset wisata yang memiliki daya tarik tersendiri sehingga dibutuhkan peran serta masyarakat sekitar dan pemerintah untuk mengembangkan tempat tersebut.[butuh rujukan]