Biorhiza pallida atau lebih dikenal sebagai tawon empedu apel ek, merupakan salah satu spesies tawon empedu dari keluarga Cynipidae. Serangga ini termasuk dalam suku Cynipini, kelompok tawon yang berperan dalam pembentukan empedu berbentuk apel pada pohon ek. Empedu tersebut muncul ketika betina meletakkan telur di dalam tunas daun, yang kemudian memicu jaringan tanaman membengkak saat larvanya berkembang di dalamnya. Spesies ini memiliki persebaran yang luas di seluruh Eropa.[1][2]
Deskripsi
Biorhiza pallida memiliki siklus hidup yang rumit, dimulai dari generasi agamik betina yang bereproduksi melalui partenogenesis tanpa jantan selama musim dingin hingga awal musim semi, lalu dilanjutkan oleh generasi musim panas yang terdiri dari jantan dan betina yang kawin dan menghasilkan telur fertil. Betina agamik yang tidak bersayap berukuran sekitar 4,8–6,3 mm dengan kepala cokelat keemasan, mata cokelat, oseli oranye, antena lima belas segmen berwarna cokelat oranye, serta toraks, kaki, dan gaster yang membulat dan berwarna cokelat kekuningan. Sementara itu, tawon jantan dan betina pada generasi musim panas berukuran lebih kecil, sekitar 2–3,5 mm, memiliki tubuh cokelat keemasan yang agak tembus cahaya, sayap bening dengan urat gelap dan rambut pucat, serta mata besar dan gelap pada betina namun lebih pucat pada jantan; keduanya juga dapat dibedakan dari bentuk gasternya, yang sempit pada jantan dan lebih lebar dengan ovipositor pada betina.[3]
Siklus hidup
Generasi betina agamik yang menetas pada musim dingin akan memanjat batang pohon ek seperti Quercus robur dan Quercus petraea ketika musim semi tiba. Mereka kemudian meletakkan telur di tunas muda sambil menyuntikkan racun yang memicu pembengkakan dan pelunakan jaringan daun. Setelah telur menetas, larva mengeluarkan zat tambahan yang merangsang pertumbuhan jaringan tanaman hingga terbentuklah empedu berbentuk bola. Empedu ini dapat membesar hingga sekitar 5 cm, awalnya lunak dan berdaging sebelum akhirnya mengering dan menjadi seperti kertas. Struktur tersebut menyediakan tempat yang aman dan kaya nutrisi, bahkan dapat menampung hingga tiga puluh larva. Dalam waktu dua hingga tiga bulan, jantan dan betina muncul dari empedu yang berbeda, lalu setelah kawin, betina turun ke tanah untuk bertelur di akar-akar kecil pohon ek. Di sana terbentuk empedu bulat kecil di akar, dan setelah melalui satu musim dingin sebagai larva, lahirlah kembali generasi betina agamik tanpa sayap yang kemudian naik ke batang untuk melanjutkan siklus.[4][5]