Penemuan dan perkembangan awal
Pada awal abad ke-19, sedatif merupakan pengobatan yang paling umum untuk pasien mania. Alkaloid, salah satu sedatif yang paling banyak digunakan, diperkenalkan sebagai pengobatan antimanik melalui isolasi morfin dari opium oleh apoteker Jerman Friedrich Wilhelm Sertürner pada tahun 1805.[3] Alkaloid yang paling berhasil dalam pengobatan antimanik adalah bahan kimia yang diisolasi dari famili Solanaceae, yang merupakan famili tumbuhan yang dikenal karena efek halusinogennya. Salah satunya adalah Hyoscyamus, yang diisolasi oleh ahli kimia dari perusahaan Jerman E. Merck pada tahun 1839. Alkaloid lain yang disebut "hiosin" diisolasi oleh Albert Ladenburg di Jerman pada tahun 1880. Alkaloid tersebut menunjukkan sifat sedatif dan hipnotis, yang menjadi bahan populer yang digunakan dalam koktail psikotik untuk pasien antimanik.
Pada tahun 1832, seorang ahli kimia dari Giessen, Justus Liebig, mensintesis kloral hidrat.[4] Obat itu diakses sebagai hipnotis pada tahun 1869 oleh farmakolog Mathias Otto Liebreich. Pada tahun 1870, psikiater Amerika William J. Elstun melaporkan bahwa 5 pasien dari Rumah Sakit Indiana untuk Orang Gila membaik setelah menerima kloral hidrat. Obat ini segera menggantikan morfin dan alkaloid solanaceae dalam pengobatan antimanik karena kemudahannya untuk diminum.[5]
Pada akhir abad ke-19, seorang apoteker dari Montpellier yakni Antoine Balard, mengisolasi bromida.[4] Bromida pertama kali digunakan sebagai antikonvulsan, kemudian digunakan secara luas sebagai obat penenang di rumah sakit jiwa di Eropa.[6]
Pada tahun 1863, barbiturat disintesis oleh Adolf von Baeyer. Dari awal abad ke-20 hingga pertengahan 1950-an, barbiturat telah menjadi obat yang paling banyak digunakan dalam pengobatan antimanik.[7]
Selama tahun 1950-an dan akhir 1960-an, efikasi antimanik garam litium telah dibuktikan. Indikasi antimaniknya telah disahkan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) pada tahun 1970.[8]
Pada tahun 1995, asam valproat (suatu antikonvulsan) disetujui oleh FDA untuk indikasi antimaniknya. Karbamazepin (juga suatu antikonvulsan) juga dikembangkan, yang telah mendapatkan izin edar dari berbagai organisasi regulatori di seluruh dunia.
Sejak tahun 2000, berbagai obat antipsikotik telah mendapatkan izin edar dari FDA untuk indikasi antimaniknya. Obat-obatan tersebut antara lain olanzapin, risperidon, kuetiapin, ziprasidon, aripiprazol, dll.