Kelurahan in Sulawesi Utara, 23x15px|border |alt=|link= Indonesia{{SHORTDESC:Kelurahan in Sulawesi Utara, 23x15px|border |alt=|link= Indonesia|noreplace}}
Wawalintouan adalah sebuah kelurahan di wilayah Kecamatan Tondano Barat, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara, Indonesia. Pemimpin kampung yang pertama adalah seseorang bernama Ratiandang, pada awal berdirinya kampung Wawalintouan pada tahun 1800-an. Dalam banyak laporan zendeling, Wawalintouan juga ditulis Wewalintouan. Pada masa kolonial, Wawalintouan masuk ke dalam Balak Tondano-Touliang yang disatukan Belanda pada tahun 1809.[1][2]
Wawalintouan dalam sejarahnya dikenal sebagai tempat pertemuan para dotu-dotu di Tondano. Dalam setiap pertemuan, mereka melakukan ritual di tempat tertentu. Sebelum dipenuhi dengan banyak pemukiman, diketahui bahwa di Wawalintouan terdapat banyak batu-batu besar. Selain itu, terdapat juga satu pohon besar di tengah-tengah Wawalintouan. Karena kampung Wawalintouan ini dianggap sebagai tempat pertemuan, dotu-dotu ini selalu duduk di atas batu-batu besar yang terletak di bagian utara, selatan, barat, dan timur, sesuai dengan wilayah tempat pertemuan mereka.
Pasar Tondano (Pasar Bawah) sekitar tahun 1920
Sebelum pertemuan dimulai, para dotu melakukan ritual minum timpa atau saguer. Minuman Saguer ini diletakkan dalam sebuah wadah yang terbuat dari bambu yang diikat dengan tali tali ijuk (tali gomutu) dan dilingkarkan di salah satu dahan atau cabang pohon besar. Kemudian, minuman ini diminum secara bergantian dengan cara melemparkan timpa atau saguer yang ada dalam wadah dari babu yang sudah diikat dengan tali ijuk. Kegiatan ini dikenal dengan istilah kase wayong atau kase ofor (memindahkan atau memberikan kepada yang lain).
Pasar Tondano di Wawalintouan tahun 1929
Seiring perkembangan bahasa dan zaman, istilah Wewayongan mengalami perubahan dan akhirnya menjadi Wawalintouan, yang artinya adalah tempat pertemuan. Hingga saat ini, Wawalintouan tetap menjadi tempat pertemuan bagi berbagai etnis yang berasal dari Minahasa dan suku yang lain serta menjadi pusat perdagangan di Tondano. Selain sebagai pusat perdagangan, Wawalintouan juga menjadi tempat transit antar kota dengan adanya Terminal Tondano.
Pendidikan
Di Wawalintouan juga terdapat beberapa lembaga pendidikan yakni:
Sekolah Dasar Negeri IV Tondano adalah salah satu sekolah yang tertua di Tondano. Sekolah ini dibuka pada tahun 1913 dengan nama Tondanosche School untuk menggantikan Europeesche Lagere School yang sudah tutup.[3][4] Sekolah ini masuk dalam kategori voortgezet en uitgebreid lager onderwijs, yaitu pendidikan lanjutan setelah sekolah dasar yang dipersiapkan untuk membentuk calon pegawai, guru, atau melanjutkan ke pendidikan yang lebih tinggi. Tondanosche School diperuntukkan bagi kaum bumiputra terkemuka dan kaya, anak-anak Eropa dan yang setara, dan orang-orang Oriental asing.[4]
Informasi tentang guru-guru dari Regeerings-Almanak voor Nederlandsch-Indië 1920: Tweede gedeelte: Kalender en personalia (Vol. 2):[5]
1915
A.J.H. Scherp - Hoofd der School (Kepala Sekolah) - 11 September 1915.
P.A.L. Enggemont - Guru - 15 September 1915.
J.M. Bijlo - Guru - 15 September 1915.
H.H. Korsten - Guru - 15 September 1915.
Th. Sorgdrager - Guru - 15 September 1915.
J.F. Gerungan - Guru Bumiputra (Inlandsch Onderwijzer) - 22 Juli 1916.
1918
J. Hommels - Hoofd der School (Kepala Sekolah) - 12 Juni 1918.
R.C. Lucas - Guru - 10 Januari 1916.
W. Kaligis - Guru Bumiputra - 20 Juni 1913.
A. Ranti - Guru Bumiputra - 14 Februari 1916.
J. Ponggawa - Guru Bumiputra - 27 November 1917.
H. Tombeng - Guru Bumiputra - 26 Juni 1918.
M.W. Warouw-Aguw - Guru Bumiputra - 20 Juni 1913.
Ch. J. Langevoort - Guru Menjahit Eropa (Europeesche Naailerares).
Sekolah ini menggunakan Bahasa Belanda sebagai pengantar hingga tahun 1951 pemerintah menjadikan Bahasa Indonesia sebagai pengantar. Gedung sekolah saat ini berfungsi sebagai SD IV Tondano dengan Tanggal SK Pendirian: 1910-01-01. Pada tahun 2000-an beberapa bangunan dari zaman Hindia Belanda sudah tidak tersisa.
Demografi
Wawalintouan merupakan daerah yang majemuk, suku Minahasa merupakan etnis lokal dan mayoritas di Wawalintouan kemudian diikuti dengan etnis lain seperti Sangir, Gorontalo, Jawa, dan Tionghoa.
Agama
Agama mayoritas di Wawalintouan adalah Kristen (Protestan dan Katolik) diikuti oleh Islam, Budhha dan Konghucu. Wawalintouan sendiri merupakan pusat wilayah/klasis (tingkatannya serupa keuskupan/diosis) bagi gereja-gereja GMIM di wilayah Tondano II yang mencakup Wawawalintouan, Tonkuramber, Rinegetan, Tuutu, Roong, Masarang, dan Paleloan. Adapun terdapat masjid terbesar di Tondano tidak jauh dari gereja Riedel, berseberangan dengan pasar Tondano.
Tedapat beberapa tempat ibadah di Wawalintouan yaitu:
Di sepanjang Jl. Sam Ratulangi dan Jl. Tombulu, terdapat kompleks pertokoan di mana separuh dari pertokoan yang menjual kebutuhan kebutuhan rumah tangga dan kuliner. Sisa-sisa dari pasar lama Tondano yang telah ada sejak tahun 1800-an terletak di samping jembatan masih dapat dilihat hingga sekarang meskipun kondisinya memprihatinkan. Saat ini pasar Tondano berada di samping taman pemakaman umum.
Pada tahun 80-an sampai 90-an di Wawalintouan sempat berdiri 3 bioskop, yaitu Bioskop President di Plaza Tondano, Bioskop Citra di Jl. Tountemboan, dan Bioskop Mini di Jl. Bioskop Mini. Namun bioskop-bioskop tersebut saat ini sudah tidak beroperasi dan hanya tertinggal gedungnya saja.
Lokasi Wawalintouan yang sebagian berada di ketinggian membuat beberapa tempat menjadi lokasi untuk mengobservasi kota Tondano yang sebagai besar berkontur datar. Pemandangan yang luas dapat diamati dari lokasi Gereja Riedel di samping terminal Tondano, taman makam pahlawan nasional Dr. Gerungan Saul Samuel Jacob Ratulangi, dan dari bukit di dekat mata air Lewet.
Terdapat dua gedung pertemuan di Wawalintouan yaitu Bangsal Riedel di Gereja Riedel dan Aula Serba Guna Salomo di Pusat Kegiatan Kristen (Pusgiat).
↑Nurliana, Nana; Manus, MPB; Manilet-Ohornella, G.A.; A., Ratnawati; Irsyam, Tri Wahyuning M. (1996). Peranan Wanita Indonesia di Masa Perang Kemerdekaan 1945 - 1950(PDF). Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional Proyek
Inventarisasi dan Dokumentasi Sejarah Nasional. hlm.20.Pemeliharaan CS1: Status URL (link)