Riedel masa kecil biasa disapa dengan nama 'Friz/Frits', berasal dari keluarga pedagang.[2] Ayahnya bernama Christian Emanuel Riedel dan ibunya bernama Anna Sabina (Riedel), dan memiliki 5 saudara. Ayahnya merupakan seorang padangan yang terhormat di Erfurt dan meninggal pada tahun 1799 ketika Friz masih kecil, tidak lama setelah saudara bungsunya lahir.[3][4] Riedel kecil dibaptis di Gereja Biara Augustinian Erfurt (Augustinerkirche), tempat yang sama di mana Martin Luther hidup sebagai seorang Augustinian.[3] Salah satu keponakan Riedel bernama Dyer F. Riedel tinggal di kota Gebesee dekat Erfurt.[2]
Suara lonceng St. Gregorius dari Utrecht atau juga dikenal dengan Kaufmannskirche (gereja pedagang) menandakan upacara pemakaman sang ayah. Kebajikan dan jasa ayahnya dikenang kembali dalam sambutan di pemakaman sang ayah. Ayahnya dimakamkan di tempat yang sama di mana kakek buyut Friz yang merupakan seorang pendeta terhormat beristirahat. [2] Di pemakaman ayahnya, Ibu Friz sangat sedih menahan rasa sakit kehilangan sang suami, tetapi dihibur oleh seorang pria tua yang dekat dengannya. Pria itu berbisik bahwa kepada ibu Friz bahwa, Ia dan anak-anaknya dapat tinggal dengannya dan Tuhan akan mencukupkan mereka. Sementara itu, sang nenek bersama dengan cucu-cucunya yang berada di toko menerima ungkapan duka dan doa dari orang-orang, "Nenek Müller, semoga Tuhan memberkatinya atas segalah kebaikannya" kemudian menenangkan Friz yang dipangkunya "Tenanglah sayang, ibumu akan segera kembali."[2]
Setelah kematian sang ayah, toko mereka di jual dan semua hutang sudah diselesaikan sedangkan keluarganya hanya menerima sedikit dari yang ayah mereka tinggalkan untuk mereka. Keluarga Friz sejak lama dikenal sebagai keluarga yang berdiakonia khususnya di Erfurt. Friz tumbuh bersama dengan keluarganya dalam kehidupan yang sederhana, taat, dan disiplin. Keluarganya menetapkan waktu bagi anak-anak dewasa untuk membaca satu pasal dalam Alkitab setiap sore dan seluruh keluarga pergi ke gereja setiap minggu pagi.[2]
Dalam sebuah catatan di NZG, Johann Friedrich Riedel menulis bahwa pada usianya yang ke-10, ia mendapatkan penyakit serius yang menyadarkan dirinya adalah orang berdosa dan tidak masuk dalam keselamatan, maka ia harus bertobat. Ia kemudian mengingat nasihat kakek buyutnya, Johannes Henricus Riedel, seorang pendeta di Kaufmannskirche (gereja pedagang) untuk menjadi seorang yang berbakti. Ia mengingat pesan kakek buyutnya ketika melihat potret kakek buyutnya di dalam gereja, yang tangan kiri memegang Alkitab yang terbuka di kaki salib dan tangan kanan menunjuk pada inskripsi Latin, "Filioli, diligamus eum, quoniam ipse prior amavit nos" (Anak-anakku, marilah kita mengasihi Dia, karena Dia terlebih dahulu mengasihi kita - band. 1 Yohanes 4:7-21).[2] Dari pesan itu, Riedel muda mulai bertekad untuk mengikuti jejak kakek buyutnya.
Sewaktu katekisasisidi (konfirmasi), Riedel muda melihat bahwa dirinya tidak pantas bagi Tuhan khususnya ketika akan menerima komuni pertamanya. Setelah merenung, ia kemudian meminta nasihat dari sang pendeta. Di pastoran/pastori, ia merasa lega dengan nasihat dari pendeta dan dalam pertemuan itu dihadiri oleh saudara-saudara dan orang tua baptisnya. Di samping itu, selama masa sekolah, ibunya kesulitan untuk memenuhi sekolah anak-anaknya sementara Riedel muda mengikuti magang sebagai seorang penjahit dan dianggap sudah ahli.[3][4]
Ketika Riedel berusia 18 tahun, ia mulai mengembara untuk mendapatkan pekerjaan. Ibunya sangat sedih melihat putra terakhirnya akan pergi sedangkan kakeknya berpesan untuk 'menjaga tingkah laku dan berjalanlah di jalan Tuhan'. Menuju gebang kota, Riedel bertemu dengan temannya Wilhelm Fils, seorang pembuat sabun. Merek berdua melakukan perjalanan bersama melewati Franconia, Schwaben , Bavaria, Tyrol hingga Steiemark.[5] Riedel dan Fils berencana singgah untuk waktu yang dalam di Gräz, ibu kota Steiemark sebuah wilayah di Austria. Di Gräz, Riedel bertemu dengan saudaranya. Akan tetapi, terjadi konflik antara kelompok Katolik dan Protestan di mana guru-guru dan teman-teman mereka yang Katolik mendesak orang-orang Protestan untuk masuk Katolik.[2][5] Riedel dan saudaranya kemudian bermigrasi menuju Hungaria dan mendapatkan pekerjaan dari orang-orang Protestan.[5]
Ketika di Hungaria, Riedel jatuh sakit yang dikenal dengan Morbus Hungaricus (penyakit Hungaria) atau tifus eksantematosa.[2][6] Ia kemungkinan tidak akan sembuh di Hungaria sementara itu saudaranya tidak ingin meninggalkan pekerjaannya. Dalam keadaan sakit, Riedel mengetuk pintu-pintu untuk mendapatkan pekerjaan tatapi kondisinya membuatnya ditolak sampai hampir kehabisan uang.[2] Ia kemudian mendapatkan seorang yang menerimanya di Liegnitz, meski demikian ia penghasilannya tidak mampu untuk membayar obat yang diresepkan dokter. Tuan tempat Riedel bekerja mengatakan bahwa Riedel sebaiknya menyurati ibunya supaya dapat dikirimkan uang untuk penyembuhannya, tetapi Riedel bersikeras tidak mau karena akan mempermalukan dirinya sendiri. Riedel kemudian mengatakan,[2]
"Ja wenn es nun wirklich zum Tode ginge? – Und wir müssen alle offenbar werden vor dem Richtstuhl Christi, auf daß ein jeglicher empfange nachdem er gehandelt hat bei Leibes Leben, es sei gut oder böse."
"Ya, bagaimana jika memang saat kematian itu benar-benar tiba? — Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Kristus, agar setiap orang menerima balasan sesuai dengan apa yang telah diperbuatnya selama hidup, entah itu baik maupun jahat."
— band. II Korintus 5:10
Keluarga
Riedel dua kali menikah, istri pertamanya bernama Maria Williams ( l. 1831 di Haruku – m. 15 Agustus 1841 di Manado), putri dari Richard Williams yang tinggal Haruku tahun 1810 – 1817 pada masa pemerintahan Inggris.[7] Riedel dan Maria menikah pada Mei 1831[2] di Ambon dan memiliki lima orang anak, seorang putra dan empat putri:
Johan Gerard Friedrich Riedel (l. 17 Februari 1832 di Manado – m. 15 Desember 1911 di Batavia), menikah dengan Susan Tower (l. 22 Juli 1841 di Ternate – m. 23 Mei 1914 di Batavia) pada 6 Agustus 1856 di Manado.[8][9][10]
Suzana Elvire Victorine Agathe(Riedel) Hegt (l. 23 Mei 1863 di Manado – m.?). Suzana menikah pada tanggal 4 Mei 1883 di Ambon dengan Cornelis Abraham van der Bel, letnan satu di O.I. tentara, tetapi bercerai pada 24 Juni 1895 di Surabaya. Suzana kemudian menikah kembali pada tanggal 30 Juni 1896 di Pasuruan dengan dr. Johannes NoordhoekHegt (l.? – m. 1915 [47 tahun]).[11]
Maria Juditha Riedel (l. 17 April 1834 di Manado – m. 19 Maret 1860 di Manado [25 tahun]). Maria menikah pada tahun 1850 dengan Walak distrik Tonsea, Ontfoort Johan Pelenkahu (l.? – m. 29 Maret 1870 di Manado).[12]
Antoinetta Sabiena Riedel (l. 5 Januari 1836 di Manado – m. 28 Maret 1862 di Manado [31 tahun]). Antoinetta dua kali menikah, pertama, pada 26 March 1852 in Manado dengan Hendrik Willem Nooij, tetapi meninggal dunia; kedua, pada 24 Maret 1858 di Manado, dengan Hessel J. Rooker (l. 27 Februari 1830 di Bovenkarspel – m. 4 April 1905 di Renkum) ini adalah pernikahannya keduanya dengan Antonietta dan ia adalah seorang misionaris di Tondano. Hessel menerima penghargaan kelas keempat (Perwira) Ordo Orange-Nassau pada tahun 1904.[13][14][15][16]
Johannes Hendrik Hiebink Rooker (l. 10 November 1866 di Tondano – m. 3 Juni 1943 di Schiedam). Seorang direktur di Kwekschool Kuranga dan Administrator Misi untuk Celebes (Sulawesi).[14] Johannes menikah pada tahun 1939 dengan Adriana Kruyt (l. 30 September 1868 di Surabaya – m. 1954 [86 tahun]) putri dari Albertus Christiaan Kruyt (l. 10 Oktober 1869 di Mojowarno – m. 19 Januari 1949 di Den Haag) seorang utusan NZG.[15][17]
Hendrik Willem Nooij, zendeling te TondanoJacoba SophiaRiedel (l. 2 Februari 1838 di Manado – m. 10 Maret 1860 Manado [22 tahun]). Jacoba menikah pada 10 Maret 1858 di Manado dengan Henricus Johannes Tendeloo (l. 20 Mei 1830 di Leiden – m.?).[18][19]
Henricus Johannes EmileTendeloo (l. 1860 – m.?). Henricus menikah pada 3 Oktober 1895 di Den Haag dengan Jeanne Cornélie Stamm'ler (l. 1869 – m.?).[20][21]
Amalia Frederika PaulinaRiedel (l. 14 Januari 1840 di Manado – m. 17 Desember 1887 di Ambon [47 tahun]). Amalia menikah pada 15 September 1861 di Manado dengan Nicolaas Graafland (l. 2 Maret 1827 di Rotterdam – m.11 Oktober 1898 di Buitenzorg [71 tahun]).[23][24] Pernikahan Graafland adalah yang kedua kalinya, sebelumnya Ia telah menikah pada 15 September 1861 di Manado dengan Dirkje CatharinaWesseling (l. 6 November 1820 di Rotterdam) tetapi meninggal dunia pada 7 Maret 1861 di Tanawangko dalam usia 40 tahun. Graafland tidak memiliki anak dari pernikahan pertamanya.[25][26]
Amelius Frederik PaulGraafland (l. 6 Agustus 1862 di Tanawangko – m. 15 Mei 1889 di Indragiri [26 tahun]. Amelius menikah pada 24 September 1883 di Friedrichroda, Jerman dengan Antonia Koenig. Tidak ada catatan yang menyebutkan nama anak-anak dari Amerlius dan Antonia.[27]
Eduard Wilem Gilles Graafland (l. 18 April 1868 di Tanawangko – m. 22 Mei 1924).[28]
Istri kedua Riedel bernama Elizabeth Andriet Magdalena (van Brakel) Riedel (l. 1820 – m. 18 Agustus 1850 di Tondano), menikah pada 27 Maret 1846 di Manado. Riedel dan Elizabeth tidak memiliki anak dari pernikahan ini.[3]
Riedel mulai menyerahkan tugas-tugas pada April 1850 dan digantikan Hendrik Willem Nooij pada Mei 1852. Sebelumnya, Nooij telah menikah dengan putri ketiga Riedel, Antoinetta Sabiena Riedel pada 26 Maret 1852.[3][13]
Riedel meninggal pada 12 Oktober 1860 dan dimakamkan di Tondano.[3][4][32][33][34]
Panggilan Misi
Pertobatan dan panggilan
Ketika Riedel mengalami sakit sewaktu di Liegnitz, ia merasa hatinya guncang. Kondisi ini membuat Riedel berjanji untuk menjadi seorang yang mengabdikan diri bagi Tuhan, ia berseru,[2]
"Herr, mein Gott, wenn du mich dieses Mal vom Tode errettest und mir die Gesundheit wieder schenkst, so will ich dir dienen und mein ganzes Leben sammt allen Kräften dir allein weihen."
"Tuhan, Allahku, jika Engkau menyelamatkanku dari kematian kali ini dan menyembuhkanku, maka aku akan melayani-Mu dan mempersembahkan seluruh hidupku beserta segala kekuatanku hanya kepada-Mu."
– Johann Friedrich Riedel: ein Lebensbild aus der Minahassa auf Celebes, hal. 12
Meski demikian, hatinya tetap tidak tenang dan merasa ditinggalkan. Setelah menanti cukup lama, Riedel sembuh dan bertekad untuk memenuhi janjinya. Pada suatu malam musim panas tahun 1818, Riedel, seorang pemuda yang baru sembuh, berjalan perlahan dan penuh renungan di luar gerbang kota Liegnitz. Ia berusaha menjalani hidup yang saleh dan menolak ajakan teman-temannya untuk berpesta, akan tetapi Riedel sudah berjanji untuk tidak lagi masuk ke kedai minum sebagaimana nazarnya. Namun, ia merasa selalu gagal mempertahankan niat itu dan menyebut hari-harinya sebagai “hari yang hilang”.[2]
Dalam perjalanan pulang, ia memberikan sebagian besar upah mingguannya kepada seorang pengemis buta. Di kamarnya, ia mencoba berdoa, tapi gagal merangkai kata-kata, hingga hanya bisa berkata pelan: “Aku tidak bisa berdoa.” Ia merasa frustrasi dengan kelemahan dirinya dan memutuskan mulai berpuasa agar bisa lebih tekun dalam doa.[2]
Riedel menjalani hidup keras dengan berpuasa, berdoa lama dalam posisi berlutut, dan taat beribadah meskipun fisiknya belum pulih. Hal ini membuat ia sering dicemooh teman-temannya. Pada bulan September 1818, ia memutuskan untuk meninggalkan Liegnitz dan menuju Breslau (atau Wrocław), dilandasi keresahan batin bahwa ia tetap berdosa meskipun sudah berusaha keras. Di sana, ia bertemu kelompok Kristen yang tulus.[5] Suatu waktu, ia mendengar nyanyian dan khotbah yang menyentuh hatinya tentang keselamatan oleh anugerah (sola gratia) yang kemudian mengubah hidupnya. Melalui komunitas ini, Riedel berkeinginan bertemu orang-orang yang belum mengenal Kristus dan bangsa bangsa-bangsa yang belum terjangkau Injil. Ia mulai tertarik untuk menjadi seorang misionaris setelah mendengar kisah-kisah dari seorang pemuda tentang pekerjaan misi di Berlin. Meski merasa belum layak, ia melihat inilah jalan terbaik untuk memenuhi nazarnya.[2]
Setelah bergumul dalam doa, Riedel memutuskan untuk pergi ke Berlin pada September 1821, meninggalkan Breslau dengan rasa syukur karena di kota itu ia mendapatkan kesembuhan tubuh dan jiwa.
Johannes Jänicke (*6 Juli 1748 di Berlin; † 21 Juli 1827 di Berlin), seorang pendeta Protestan (Lutheran) di Berlin
Pertemuan dengan Jänicke
Ketika di Berlin, Riedel menemui Pendeta Johannes Jänicke pada 22 September 1821.[2][4][5]Jänicke dikenal menyuarakan pertobatan dan penginjilan dam Ridel sendiri mengalami panggilan rohani seperti Jänicke. Riedel sendiri harus bersabar karena tidak bisa langsug masuk sekolah misi Jänicke, Berliner Missionsschule, sudah penuh (pada tahun 1824, sekolah misi ini menjadi Berliner Missionsgesellschaft- BMG).[35][36] Selama mengikuti ibadah di lingkungan gereja Jänicke, Riedel mendapatkan rumah rohani dan komunitas yang sejati di mana ia belajar. Di tempat ini juga Riedel bertemu dengan sahabatnya, Johann Gottlieb Schwarz yang berasal dari Königsberg.[5][37]
Pada 1 Oktober 1822, Riedel diterima masuk Berliner Missionsschule, yang merupakan sekolah misi Protestan pertama dan dibiayai sebagian besar dari sumbangan masyarakat. Riedel belajar di sekolah misi ini selama lima tahun di mana panggilannya untuk menjadi seorang misionaris semakin matang. Ia mendapatkan pendidikan teologis dan praktis yang komprehensif, termasuk pelayanan kasih, kunjungan ke orang sakit, dan pelatihan berkhotbah.[2] Sebelum Jänicke wafat pada 21 Juli 1827, ia sempat merekomendasikan Riedel dan sahabatnya Schwarz. kepada lembaga misi Belanda, Nederlandsch Zendeling Genootschap (NZG).[2][4] Pada pemakaman Jänicke, Riedel berjalan di depan sambil membawa Alkitab, melambangkan dedikasi hidup Jänicke pada firman Tuhan.[2]
Belajar di Rotterdam
Pada 13 November 1827, Riedel dan Schwarz meninggalkan Berlin untuk memulai perjalanan misi mereka. Mereka berpisah sementara untuk mengunjungi kampung halaman masing-masing. Riedel kembali ke Erfurt setelah 10 tahun, ibunya sangat bahagia ketika melihat Riedel dan salah satu saudara perempuannya (kemungkinan Juditha) telah menikah dengan temannya Wilhelm Fils, sedangkan salah satu saudara laki-lakinya, seorang pekerja textil (pewarna pakaian), juga tinggal di Erfurt.[2] Riedel tinggal beberapa minggu di Erfurt dan merayakan Natal bersama keluarganya. Pada hari ketiga setelah Natal (27 Desember 1827), ia melanjutkan perjalanan ke Belanda.
Perjalanan dari Erfurt ke Rotterdam sulit saat musim dingin, tetapi Riedel menyempatkan diri singgah di Wuppertal untuk bertemu komunitas pendukung misi. Ia juga berhenti di Wesel, kemudian tiba di Arnhem di mana ia berlatih bahasa Belanda. Dari sana ia menuju Zeist dan akhirnya mencapai Rotterdam, bersyukur telah selangkah lebih dekat ke tujuan misinya.
Sesampainya di Rotterdam, Riedel dan Schwarz tinggal bersama keluarga Oudshoff, anggota Gereja Reformed Belanda, dan menghabiskan 1,5 tahun (1828–1829) di sana.[2][38] Meskipun mereka berasal dari latar belakang Lutheran, mereka diterima dengan hangat oleh komunitas Reformed dan beribadah bersama mereka. Perbedaan denominasi tidak menjadi penghalang, karena keduanya memiliki semangat Injil dan pengabdian yang sama. Mereka juga mendapat kesempatan belajar teologi, keterampilan praktis pelayanan, serta memperdalam bahasa Belanda. Salah satu pengalaman rohani yang sangat berkesan bagi mereka adalah saat mereka diundang untuk ikut Perjamuan Kudus di gereja Reformed. Dalam catatan Riedel, ia menulis bahwa ia dan Schwarz menerima undangan itu dengan penuh rasa syukur. Meskipun awalnya merasa sedikit canggung karena perbedaan denominasi, mereka mengalami 'suasana persaudaraan yang mendalam dalam tubuh Kristus.' Riedel menyebut momen itu sebagai salah satu 'bentuk nyata dari kesatuan gereja yang sejati, yang melampaui batas-batas liturgi atau tradisi gerejawi.' Perjamuan Kudus itu memperkuat tekad dan semangat rohani mereka sebelum berangkat ke ladang misi.[2]
Pada Juli 1829, mereka dinyatakan siap diberangkatkan, dan setelah menjalani ujian akhir di Den Haag pada 21 September, mereka kemungkinan ditahbiskan pada 22 September.[2][5] Pada 5 Oktober 1829, mereka secara resmi mengikrarkan janji pelayanan seumur hidup dan menerima pengutusan misi serta Alkitab sebagai bekal rohani mereka. Sebelumnya, mereka direncanakan bertugas di Timor bersama seorang misionaris Belanda bernama Douwes.[2][37] Namun, karena permintaan mendesak dari misionaris Joseph Kam dan dukungan Gubernur Maluku, penugasan Riedel dan Schwarz dialihkan ke Celebes (Sulawesi) Utara, karena kebutuhan di sana yang mendesak.[4][32][34][38]
Malam harinya, mereka diberkati dalam pertemuan doa bulanan (monatliche Missionsbetstunde) yang biasa dilakukan Nederlandsch Zendeling Genootschap (NZG). Dalam ibadah itu, Ds. Dort dalam khotbahnya mengatakan "Marilah kita mengasihi Dia, karena Dia terlebih dahulu mengasihi kita", setelah itu memberkati mereka. Tuan de Vlies kemudian menyerahkan Alkitab kepada mereka.[2]
Keberangkatan mereka tertunda selama beberapa minggu dikarenakan belum ada kapal yang cocok tersedia. Akhirnya, pada 30 Oktober 1829, mereka berpamitan dengan dewan misi (mission-bestuur), dan setelah tiga minggu tambahan, mereka meninggalkan Rotterdam. Pada 23 November 1829, kapal De Jonge Adriana berlayar melewati Hellevoetsluis menuju Hindia Belanda, membawa Riedel dan Schwarz.[2]
Hindia Belanda
Tondano tahun 1821
Riedel dan Schwarz berangkat sebagai utusan NZG ke Hindia Belanda pada bulan November 1929 dan tiba di Batavia.[37] Setelah dari Batavia, mereka tidak langsung menuju ke Minahasa, tetapi singgah di Jawa. Riedel dan Schwarz melanjutkan perjalanan mereka ke Ambon, Maluku dan tiba pada 23 November 1830. Di Ambon, Riedel dan Schwarz menemui menemui Ds. Joseph Kam yang sebelumnya telah melakukan dua kali inspeksi ke Minahasa.[37][38] Inspeksi pertama dilakukan pada tahun 1812 oleh Ds. Kam sendiri. Inspeksi kedua dilakukan pada tahun 1821 Ds. Kam mengutus Ds. Lammert Lammers ke Kema dan Ds. D. Müller ke Manado, tetapi usaha keduanya tidak berlangsung lama karena meninggal. Diutusnya Riedel dan Schwarz disebabkan oleh desakan Ds. Gerrit Jan Hellendoorn untuk mengembangkan pendidikan dan taraf hidup di Minahasa.[39]Ds. Hellendoorn sendiri diutus oleh Ds. Kam ke Manado pada tahun 1827 untuk melayani, khususnya bagi warga Eropa.[32]
Perhentian di Jawa
Pada 19 Januari 1830, Riedel dan Schwarz tiba di Batavia, setelah menempuh pelayaran kurang dari dua bulan dari Eropa.[2][4][37][38] Mereka disambut dengan suasana alam tropis yang sangat berbeda dari musim dingin di tanah air mereka. Saat itu, Riedel merasakan dorongan yang kuat untuk memberitakan Injil kepada masyarakat Jawa yang belum mengenal Kristus.[2]
Di Batavia, mereka diterima oleh Ds. Busch, utusan dari Zending Rotterdam, dan kemudian tinggal di rumah Walter Henry Medhurst (1796–1857), seorang misionaris asal Inggris dari London Missionary Society.[1][2]Medhurst telah berkarya di Jawa sejak tahun 1821 dan dikenal atas usahanya dalam menerjemahkan buku-buku Kristen ke dalam bahasa daerah.[40] Ia juga membantu para misionaris baru memahami medan pelayanan yang berat: masyarakat yang mayoritas Muslim, serta kebijakan pemerintah kolonial Belanda yang tidak mendukung penginjilan terbuka. Selama tinggal di Batavia, para misionaris mulai mempelajari bahasa Melayu dan ikut serta dalam kegiatan pelayanan di sekitarnya, termasuk kunjungan ke Depok, daerah yang dihuni komunitas Kristen keturunan bekas budak yang telah dibebaskan oleh Cornelis Chastelein (1657–1714).[2][41][42]
Pada 10 Juli 1830, Riedel dan Schwarz berangkat ke Surabaya, pusat penting di Jawa Timur. Di sana mereka tinggal bersama Johannes Emde (1774–1859), seorang perajin jam asal Waldeck, Jerman, yang telah tinggal di Jawa sejak awal abad ke-19.[43] Emde dikenal karena semangat penginjilannya yang besar, meskipun ia bukan misionaris resmi. Ia menggunakan rumahnya dan sebuah Pendoppo (balai terbuka) untuk mengadakan kebaktian dan membagikan traktat Injil kepada penduduk sekitar. Para misionaris sangat terkesan dengan keberanian Emde, yang tetap setia melayani di tengah ejekan dan tekanan sosial. Keluarga Emde, termasuk istrinya dan putrinya Wilhelmine Emde, menyambut para tamu dengan kasih. Wilhelmine kelak menjadi pelayan aktif dalam gereja dan pendidikan Kristen di Surabaya.[2]
Pada 19 Oktober 1830, Riedel dan rekannya meninggalkan Surabaya menuju Ambon, dengan harapan dapat mencapai Sulawesi. Mereka dilepas dengan doa oleh keluarga Emde dan membekali mereka dengan makanan untuk perjalanan laut. Johannes Emde sendiri mengantar mereka hingga ke pelabuhan, memberikan doa berkat sebelum kembali ke rumahnya.[2] Riedel dan Schwarz berlayar menyusuri pantai pulau Madura dan singgah di Sumenep, ibu kota pulau tersebut, selama 5 hari. Di sana, mereka diterima dengan ramah oleh Sultan Sumenep, Sri Sultan Abdurrahman Pakunataningrat I (Raden Ario Notonegoro)[46] yang menunjukkan sikap terbuka terhadap Kekristenan dan bahkan memberikan komentar positif mengenainya. Schwarz mencatat bahwa Sumenep memiliki potensi besar untuk pelayanan misi, baik di kalangan orang Madura maupun umat Kristen setempat yang hanya menerima kunjungan tahunan dari pendeta yang datang dari Surabaya.[2]
Setelah dari Madura, perjalanan mereka mengalami hambatan karena cuaca buruk dan angin yang tidak bersahabat. Akhirnya, pada 30 November 1830, mereka tiba di Ambon.[2][37] Meskipun Ambon terkenal dalam buku geografi sebagai "pulau cengkeh", para misionaris tidak mencium aroma rempah seperti yang diharapkan. Mereka tiba di Teluk Ambon, yang membelah pulau menjadi dua semenanjung dan dilatarbelakangi oleh perbukitan hijau.
Di kota Ambon, mereka berharap bertemu dengan Domine Joseph Kam (1769–1833), yang sebelumnya telah diberi kabar tentang kedatangan mereka. Namun, Ds. Kam sedang dalam perjalanan menggunakan kapal pribadinya. Para misionaris disambut oleh Nyonya Kam, seorang wanita yang sangat mendukung pelayanan suaminya. Ia segera membantu para misionaris menyesuaikan diri, termasuk mencarikan guru bahasa Melayu dan mengadakan pelajaran rohani selama masa penantian.
Ds. Joseph Kam (diutus tahun 1813 dari Rotterdam oleh London Missionary Society) adalah sosok penting dalam sejarah Kekristenan di Maluku.[43] Ia tiba di Ambon pada masa pemerintahan Inggris (1810–1817) ketika kondisi gereja terabaikan meskipun mayoritas penduduk beragama Kristen. Setelah pulau dikembalikan kepada Belanda, Ds. Kam diangkat sebagai satu-satunya pendeta pemerintah di seluruh Gouvernement der Molukken, yang mencakup ratusan pulau. Ia membangun kembali gereja-gereja yang terbengkalai, mengadakan perjalanan misi ke pulau-pulau terpencil dengan kapalnya sendiri, dan membina generasi misionaris baru. Karena peran besarnya, ia dikenal sebagai "Rasul Maluku". Di samping itu, Nyonya Kam juga berperan aktif, khususnya dalam pendidikan anak perempuan dan pengajaran nilai-nilai Injil melalui sekolah menjahit yang ia kelola.[43][47][48]
Selama 5 bulan masa tinggal Riedel dan Schwarz di rumah Ds. Kam, mereka mengikuti berbagai kegiatan rohani, belajar bahasa Melayu, serta mengunjungi jemaat-jemaat di daerah terpencil bersama Ds. Kam.[2][37] Dalam proses itu, mereka melihat dua tantangan besar pelayanan di Hindia Timur: pengaruh Islam di pulau-pulau besar dan Jumlah umatKristen yang merosot di Maluku, termasuk di antara kaum “Amboinesen” dan “Burgers” (keturunan campuran Eropa–lokal yang sering hidup dalam kemalasan dan kesombongan sosial).[2]
Selama tinggal di Ambon, Riedel jatuh cinta pada Maria Williams, seorang gadis muda yang sering datang ke rumah Ds. Kam untuk membantu di sekolah. Ia adalah anak dari Richard Williams, mantan Residen Haruku. Maria adalah seorang perempuan yang tulus, tenang, dan memiliki pengalaman rohani. Setelah melalui pertimbangan dan doa, Riedel menikah dengan Maria pada Mei 1831.[2][3][7] Lima hari setelah pernikahan, Riedel dan istrinya, bersama Schwarz, berangkat menuju Manado, Celebes.
Perjalanan menuju Minahasa
Pada Mei 1831, Riedel dan istrinya, bersama Schwarz, meninggalkan Ambon menuju Minahasa di Pulau Celebes (Sulawesi). Ds. Kam tidak dapat menyertai mereka dalam perjalanan tersebut, meskipun Celebes sangat dekat di hatinya. Inisiatif untuk memulai misi di Celebes berasal dari dirinya. Ia hanya dapat mengiringi mereka dengan doa dan berkat, sebelum akhirnya wafat tiga tahun kemudian (1833) dengan tetap setia melayani hingga akhir hayatnya.
Pemandangan pulau Ternate dan Tidore
Perjalanan laut menuju Celebes diwarnai badai hebat dan gelombang tinggi. Kapal penuh sesak dengan penumpang dari berbagai latar belakang—Jawa, Tionghoa, Melayu, dan Bugis—sehingga sulit menemukan ketenangan untuk berdoa. Bagi Riedel, ini adalah pelayaran terakhirnya, dan juga yang paling berat. [2] Setelah 14 hari, mereka mencapai perairan Ternate, tetapi tidak dapat segera merapat karena cuaca buruk dan berlayar bolak-balik di sekitar pulau sepanjang malam. Saat pagi tiba, mereka menyaksikan Gunung Ternate(Gamalama) yang sedang erupsi, dengan semburan api dan suara gemuruh yang menggema. Beberapa jam kemudian, kapal berlabuh di Ternate, di mana mereka disambut oleh Johann Christoph Jungmichel (1787–1844), seorang misionaris asal Sachsen (Saxony), yang sebelumnya adalah murid dari Johannes Jänicke.[2][49][50]
Para tamu tinggal selama sembilan hari di rumah Jungmichel dan disambut dengan hangat oleh keluarganya. Jungmichel sendiri menghadapi keterbatasan dalam pelayanannya. Ia hanya dapat berkhotbah kepada jemaat berbahasa Belanda dan Melayu (sekitar 700 jiwa), karena misi kepada masyarakat MuslimTernate dilarang oleh penguasa Belanda demi menjaga hubungan baik dengan Sultan Ternate yang sangat memegang teguh Islam. Selama mereka di Ternate, gunung api terus menunjukkan aktivitas yang menandakan potensi letusan besar, setelah lebih dari dua puluh tahun tidak aktif.
Ketika akan menuju ke Celebes, mereka kembali menghadapi angin yang tidak bersahabat dan ampir seminggu lamanya kapal sulit maju, meski sudah dekat dengan tujuan akhir. Pada 8 Juni, ulang tahun ke-33 Riedel, mereka masih berada di laut, merenungkan perjalanan dan bersyukur atas penyertaan Tuhan, sambil menyerahkan masa depan pelayanan mereka kepada-Nya.[2] Saat hampir mencapai ujung utara Celebes, kapal mereka menghadapi ancaman bajak laut, yang menggunakan prahu. Kapten kapal, yang biasanya tenang, menunjukkan kekhawatiran besar karena daerah tersebut dikenal sebagai rute serangan bajak laut dari Mindanao. Saat jumlah prahu bertambah, kapal bersiap siaga dengan mempersenjatai diri. Melihat kesiapan itu, para bajak laut akhirnya mundur.[2] Rombongan Riedel dan Schwarz selamat dan kapal mereka akhirnya mengelilingi semenanjung utara Celebes dan, setelah sehari penuh pelayaran, memasuki Teluk Manado, tempat di mana mereka akan memulai karya misi mereka yang bersejarah.
Setelah dari Ambon, Riedel bersama Schwarz pergi di Minahasa. Mereka tiba pada 12 Juni 1831 tepatnya di Kema (tanggal 12 Juni kemudian diperingati sebagai Hari Perkabaran Injil dan Pendidikan Kristen oleh Gereja Masehi Injili di Minahasa). Perjalanan mereka dilanjutkan ke Manado untuk melakukan persiapan. Di Manado, Riedel bersama istrinya menemui Ds. Hellendoorn dan Residen Manado Daniel Francois Willem Pietermaat.[39][33][51] Mereka berkeliling Minahasa untuk menentukan pos pelayanan.[33][3] Riedel menetapkan pos pelayanan di Tondano sedangkan Schwarzmenetapkan pos pelayanannya di Langowan.[52][53] Selama masa persiapan, Riedel menetap selama tiga bulan pertama di Manado untuk belajar bahasa Tondano.[34] Setelah dianggap cukup, Riedel dan istrinya pergi ke Tondano dan tiba pada tanggal 14 Oktober 1831. Pada waktu itu sudah ada 200 orang Kristen di Tondano.[52]
Riedel melihat keimanan Kristiani belum mengakar pada orang Minahasa khususnya karena pengaruh agama lokal yang masih kuat. Di gereja tempat Riedel melayani, mulai mengalami pertumbuhan kehadiran ibadah setelah enam orang yang tidak memiliki tanah memilih menjadi Kristen.[52] Pertumbuhan iman mulai bertumbuh pesat di Tondano pada tahun 1837 setelah seorang pemimpin agama Loka di Rerer memutuskan untuk dibaptis menjelang kematiannya yang kemudian membuat gereja semakin dipenuhi orang.[52] Gereja itu awalnya hanya bisa menampung 600 jemaat kemudian dibangun kembali dengan kapasitas 2.000 setelah terkena gempa bumi.
Dalam catatan O.G. Sterkenburg, sekitar 50 tahun setelah kedatangan Riedel di Tondano, terdapat sekitar 125.000 orang Kristen dan 140 sekolah di Minahasa menjadikannya wilayah misi paling subur di penjuru Sulawesi.[52] Hal serupa sampaikan Ds. van Rijn di tahun-tahun sebelumnya.[54][55] Sterkenburg juga melihat suatu lingkungan sangat tertata dan indah di mana terdapat banyak pohon rimbun dan bunga mawar di depan rumah-ruamah warga serta orang-orang dengan penampilan yang bersih dan rapi.
Riedel melayani selama 31 tahun di Tondano hingga akhir hayatnya pada 12 Oktober 1860.[3][33]
12345Sterkenburg, O. G.; Metamorfoze Collectie Oude Kinderboeken (1904). Insulinde en de zending (dalam bahasa Nederlands). J.M. Bredée. Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)