Perlawanan terhadap paten benih
Vandana Shiva memimpin perlawanan terhadap benih tanaman, terutama di India. Ia melihat bahwa penggunaan paten dan kontrol korporasi terhadap benih adalah bentuk kekerasan kepada para petani. Melalui undang-undang dan peraturan terkait benih, paten, dan hak cipta, negara dan korporasi membangun imperialisme baru yang berbasis biologi. Di bukunya yang berjudul Making Peace With The Earth, Shiva banyak menceritakan kondisi para petani di berbagai belahan dunia yang mengalami kesulitan akibat paten benih yang dikuasai oleh perusahaan raksasa pertanian seperti Monsanto.[7]
Menurut Shiva, kekerasan pada petani termanifestasi melalui tiga hal. Pertama, pembajakan biologis (biopiracy) di mana paten membajak keanekaragaman hayati dan pengetahuan lokal. Kontribusi petani pada pembenihan dihapuskan, bahkan petani semakin kesulitan mengembangkan varietas sendiri. Varietas benih yang telah dikembangkan secara alami sekarang dipatenkan atas nama inovasi dan diklaim oleh korporasi sebagai "penemuan" mereka. Kedua, paten menghasilkan royalti atas dasar teknologi dan pembaruan. Produsen benih seperti Monsanto memaksa petani untuk membayar royalti atau lisensi atas penggunaan benih mereka, hingga menyebabkan banyak petani yang terjerat utang. Ketiga, organisme termodifikasi genetik (GMO) telah mengontaminasi tanah-tanah pertanian dan merugikan ribuan petani. Pengembangan varietas GMO telah menghilangkan keragaman varietas benih di seluruh dunia dan menghancurkan hak-hak petani atas pangan dan penghidupan.[7]
Secara singkat, para petani tidak diizinkan untuk mengembangkan varietas benih mereka sendiri, melainkan harus membelinya dari produsen benih yang mematok harga mahal. Benih-benih ini telah dimodifikasi secara genetik sehingga hanya bisa ditanam satu kali atau kehilangan efektivitasnya lagi ketika ditanam ulang. Petani harus terus-menerus mengeluarkan uang untuk membeli benih dan pupuk yang dipasok perusahaan-perusahaan ini. Ketika terjadi wabah penyakit atau gagal panen, petani lah yang menanggung sebagian besar kerugiannya.[7]
Sebagai contoh, ketika petani India membudidayakan kapas Bt, awalnya varietas kapas ini memang menjanjikan keuntungan. Namun, varietas ini ternyata tidak efektif terhadap hama, sehingga petani menggunakan pestisida dan insektisida untuk melawannya. Penggunaan benih GMO, pestisida, dan insektisida mendorong biaya dan menekan penghasilan petani hingga banyak petani yang terlilit utang dan bunuh diri. Tercatat lebih dari 270.000 petani kapas bunuh diri dari 1995 hingga 2014.[9] Sebagian aktivitas, termasuk Shiva, berargumen kasus bunuh diri massal ini tidak terlepas dari peningkatan biaya akibat penggunaan benih GMO dan pestisida. Oleh karena itu, Vandana Shiva dan organisasinya menolak segala jenis paten atau hak cipta atas benih tanaman dan mendorong terciptanya demokratisasi pangan dan pertanian.[7]
Ekofeminisme
Salah satu kontribusi besar Shiva pada bidang ekologi politik dan politik lingkungan adalah ekofeminisme, yakni sebuah perspektif tentang keterkaitan perempuan dengan alam semesta, di mana perempuan adalah bagian penting dalam upaya perlindungan dan penyelamatan bumi. Di banyak negara di dunia dan India, perempuan memainkan peran penting dalam pertanian, di mana perempuan secara tradisional dilibatkan dalam setiap tahap pertanian, sejak penanaman hingga panen. Perempuan juga punya peran tradisional dalam pengolahan makanan dan minuman untuk seluruh anggota keluarga. Di banyak negara, perempuan adalah pihak yang paling rentan terhadap kerusakan lingkungan seperti erosi, kelangkaan air, dan kelangkaan makanan. Dalam buku-bukunya, Shiva seringkali menggambarkan peran perempuan dalam berbagai sektor dan kondisi lingkungan. Misalnya, di India perempuan seringkali menjadi pihak yang ditugaskan mencari dan mengambil air, memasak, mengasuh anak, dan mengelola rumah tangga. Semua tugas perempuan ini berhubungan erat dengan lingkungan di sekitarnya sehingga peran perempuan tidak dapat diabaikan dalam konservasi.[7][8]