ENSIKLOPEDIA
Uni (Perang Saudara Amerika)
Artikel atau sebagian dari artikel ini mungkin diterjemahkan dari Union (Perang Saudara Amerika) di en.wikipedia.org. Isinya masih belum akurat, karena bagian yang diterjemahkan masih perlu diperhalus dan disempurnakan. Jika Anda menguasai bahasa aslinya, harap pertimbangkan untuk menelusuri referensinya dan menyempurnakan terjemahan ini. Anda juga dapat ikut bergotong royong pada ProyekWiki Perbaikan Terjemahan. (Pesan ini dapat dihapus jika terjemahan dirasa sudah cukup tepat. Lihat pula: panduan penerjemahan artikel) |
Amerika Serikat | |
|---|---|
| 1861–1865 | |
Semboyan: E Pluribus Unum (Latin)code: la is deprecated "Out of many, one"code: en is deprecated "Dari banyak menjadi satu"code: id is deprecated | |
Lagu kebangsaan: "Hail, Columbia" (de facto) ("Salam, Columbia") "My Country, 'Tis of Thee" (de facto) ("Negeriku, Tentangmu") | |
Peta pembagian negara bagian dalam Perang Saudara Amerika (1861–1865).
| |
| Status | Negara sisa Pemerintah yang diakui di Amerika Serikat |
| Ibu kota | Washington, D.C. 38°53′N 77°1′W / 38.883°N 77.017°W / 38.883; -77.017 |
| Kota terbesar | Kota New York 40°43′N 74°0′W / 40.717°N 74.000°W / 40.717; -74.000 |
| Bahasa yang umum digunakan | |
| Agama | Kekristenan Mayoritas: Kristen Protestan Minoritas: Kristen Katolik Yahudi Agama penduduk asli Amerika |
| Demonim | Orang Union Orang Utara |
| Pemerintahan | Republik presidensial federal |
| Presiden | |
| Abraham Lincoln | |
• 1865 | Andrew Johnson |
| Ketua DPR | |
• 1861–1863 | Galusha A. Grow |
• 1863–1865 | Schuyler Colfax |
| Ketua MA | |
• 1861–1864 | Roger B. Taney |
• 1864–1865 | Salmon P. Chase |
| Legislatif | Kongres |
| Senat | |
| Dewan Perwakilan Rakyat | |
| Era Sejarah | Perang Saudara Amerika |
| 20 Desember, 1860–20 Mei, 1861 | |
| 4 Maret, 1861 | |
| 12 April–13, 1861 | |
| 1 Januari, 1863 | |
| 1864 | |
| 13 Juli–16, 1863 | |
| Maret 1865 | |
| 14 April, 1865 | |
| 9 April–6 November 1865 | |
| Mata uang | Dolar Amerika Serikat |
| Sekarang bagian dari | Amerika Serikat |
Selama Perang Saudara Amerika, Union Amerika atau Union, juga dikenal sebagai Utara, mengacu pada Amerika Serikat yang dipimpin oleh Presiden Abraham Lincoln. Itu ditentang oleh negara bagian-negara bagian di Konfederasi Amerika (K.A.) yang memisahkan diri, yang secara informal disebut "Konfederasi" atau "Selatan." Union ini dinamai berdasarkan tujuannya yang dinyatakan untuk melestarikan Amerika Serikat sebagai serikat konstitusional. "Union" digunakan dalam Konstitusi A.S. untuk merujuk pada pembentukan pendiri rakyat, dan negara bagian dalam Union. Dalam konteks Perang Saudara, itu juga sering digunakan sebagai sinonim untuk "negara bagian utara yang setia kepada pemerintah Amerika Serikat;"[1] dalam arti ini, Union terdiri dari 20 negara bagian bebas dan lima negara bagian perbatasan.
Union adalah istilah yang digunakan untuk merujuk pada pemerintah federal dan negara-negara bagian yang setia kepada Amerika Serikat selama Perang Saudara Amerika. Angkatan bersenjata dan penduduk sipilnya menentang pemisahan diri yang diduga dilakukan oleh negara-negara bagian yang memperbudak, yang membentuk Konfederasi Amerika setelah pemilihan Abraham Lincoln sebagai presiden Amerika Serikat pada tahun 1860. Pemerintahan Lincoln menegaskan keberlangsungan pemerintah federal dan keberlanjutan Konstitusi Amerika Serikat, dan menolak untuk mengakui pemerintah Konfederasi.
Negara Utara atau Union merupakan nama yang digunakan untuk merujuk pada sekelompok negara bagian di Amerika Serikat yang terletak di utara Garis Mason-Dixon, yang bergabung untuk berperang melawan Konfederasi Amerika selama Perang Saudara Amerika atas masalah perbudakan. Sebenarnya, Union mencakup negara bagian di Amerika Serikat Barat seperti California, Oregon, Nevada (setelah tahun 1864).
Banyak orang Amerika pada abad ke-19 umumnya menggunakan istilah "Union" untuk merujuk pada pemerintah federal Amerika Serikat atau persatuan negara-negara bagian dalam kerangka konstitusional federal. Union juga dapat merujuk pada rakyat atau wilayah negara-negara bagian yang tetap setia kepada pemerintah nasional selama perang.[2] Negara-negara bagian yang setia yang sebagian besar terletak di utara garis Mason-Dixon juga dikenal sebagai Utara, meskipun empat negara bagian perbatasan selatan dan negara bagian Virginia Barat di masa depan tetap setia kepada Union,[a] dan Orang Kulit Hitam Selatan dan banyak pendukung Unionis Selatan menentang pemisahan diri dan mendukung upaya perang Union.
Angkatan Darat Union adalah formasi baru yang sebagian besar terdiri dari unit negara bagian, bersama dengan unit dari Angkatan Darat A.S. reguler. Negara bagian-negara bagian perbatasan sangat penting sebagai basis pasokan untuk invasi Union ke Konfederasi, dan Lincoln menyadari bahwa dia tidak dapat memenangkan perang tanpa mengendalikan mereka,[1] terutama Maryland, yang terletak di utara ibukota nasional Washington, D.C. Amerika Serikat Timur Laut dan Amerika Serikat Barat Tengah bagian atas menyediakan sumber daya industri untuk perang mekanis yang menghasilkan sejumlah besar amunisi dan persediaan, serta pembiayaan untuk perang. Amerika Serikat Timur Laut dan Amerika Serikat Barat Tengah menyediakan sebagian besar tentara Angkatan Darat Union, makanan, kuda, dukungan keuangan, dan kamp pelatihan. Rumah sakit militer dan kamp penjara didirikan di seluruh Union. Sebagian besar negara bagian Utara memiliki gubernur dari Partai Republik yang dengan penuh semangat mendukung upaya perang dan menekan subversi anti-perang,[3] khususnya yang muncul pada tahun 1863–64.[1] Partai Demokrat sangat mendukung perang pada awal tahun 1861, tetapi pada tahun 1862, terpecah antara Demokrat Perang dan elemen anti-perang yang dikenal sebagai Demokrat Damai, yang dipimpin oleh ekstremis "Copperheads".[1][4] Partai Demokrat membuat keuntungan elektoral besar pada tahun 1862 dalam pemilihan negara bagian, terutama di New York. Mereka kehilangan tempat pada tahun 1863, terutama di Ohio. Pada tahun 1864, Partai Republik dan Demokrat Perang berkampanye di bawah bendera atau panji Partai Persatuan Nasional, yang juga menarik sebagian besar tentara,[1][5] dan mencetak kemenangan telak untuk Lincoln dan seluruh tiketnya melawan kandidat Demokrat George B. McClellan.
Tahun-tahun perang cukup makmur kecuali di mana pertempuran serius atau sengit dan perang gerilya melanda pedesaan. Hampir semua aksi militer terjadi di Konfederasi. Kemakmuran didorong oleh pengeluaran pemerintah yang besar dan penciptaan sistem perbankan nasional yang sama sekali baru. Negara bagian-negara bagian Union menginvestasikan banyak uang dan upaya dalam mengorganisir dukungan psikologis dan sosial untuk istri tentara, janda, dan anak yatim piatu tentara, dan untuk tentara itu sendiri. Sebagian besar tentara adalah sukarelawan, meskipun setelah tahun 1862 banyak yang mengajukan diri untuk melarikan diri dari wajib militer dan untuk mengambil keuntungan dari hadiah uang tunai yang ditawarkan dari negara bagian dan daerah. Perlawanan draft atau penolakan terhadap wajib militer cukup menonjol atau terkenal di beberapa kota besar, terutama di beberapa bagian Kota New York, dengan kerusuhan anti-draft besar-besaran pada Juli 1863 dan di beberapa distrik terpencil seperti daerah pertambangan batu bara di Pennsylvania Timur Laut.
Etimologi


Dalam konteks Perang Saudara Amerika, Union atau Amerika Serikat kadang-kadang disebut sebagai "Utara", baik dulu maupun sekarang, sebagai lawan dari Konfederasi atau Konfederasi Amerika, yang sering disebut sebagai "Selatan". Union (Amerika Serikat) tidak pernah mengakui legitimasi pemisahan Konfederasi dan setiap saat mempertahankan bahwa itu tetap sepenuhnya menjadi bagian dari Amerika Serikat. Dalam urusan luar negeri, Union adalah satu-satunya pihak yang diakui oleh semua negara lain, tidak ada yang secara resmi mengakui pemerintah Konfederasi. Istilah "Union" muncul dalam dokumen pemerintahan pertama Amerika Serikat, yaitu Piagam Konfederasi dan Union Abadi. Konstitusi selanjutnya tahun 1787 dikeluarkan dan diratifikasi bukan atas nama negara bagian, tetapi atas nama "Kami Rakyat Amerika Serikat, untuk membentuk Union yang lebih sempurna ..." Union, untuk Amerika Serikat, kemudian diulang dalam klausul-klausul seperti klausul Penerimaan ke dalam Union dalam Pasal IV, Bagian 3.
Bahkan sebelum perang dimulai, frasa "melestarikan Union" adalah hal yang biasa atau sudah umum digunakan, dan "Union negara bagian" telah digunakan untuk merujuk ke seluruh Amerika Serikat. Penggunaan istilah "Union" untuk diterapkan atau dirujuk pada pihak non-secessionist atau pihak yang tidak memisahkan diri membawa konotasi legitimasi sebagai kelanjutan dari entitas politik yang sudah ada sebelumnya.[6] Sebelum Perang Saudara Amerika, Amerika Serikat dikenal sebagai "persatuan federal 'Amerika Serikat", sebuah Union negara bagian yang dikendalikan oleh pemerintah federal di Washington, D.C.[7][8] Hal ini berlawanan dengan pemerintahan pertama KA, sebuah konfederasi negara-negara merdeka, yang berfungsi mirip dengan Uni Eropa.[9][10][11]
Konfederasi umumnya melihat Union sebagai lawan atau pihak yang menentang perbudakan, kadang-kadang menyebut mereka sebagai kaum abolisionis, seperti mengacu atau merujuk pada Angkatan Laut A.S. sebagai "armada abolisi" dan Angkatan Darat A.S. sebagai "pasukan abolisi".[12]
Pada tahun 2015 sejarawan Michael Landis menyerukan diakhirinya penggunaan istilah "Union", dengan menulis, "Penggunaan 'Union' sebagai pengganti 'Amerika Serikat,' secara implisit mendukung pandangan Konfederasi tentang pemisahan diri di mana bangsa Amerika Serikat runtuh.... Pada kenyataannya, bagaimanapun, Amerika Serikat tidak pernah berhenti eksis.... Dikotomi 'Union v. Konfederasi' memberikan kredibilitas pada eksperimen Konfederasi dan merusak atau melemahkan legitimasi Amerika Serikat sebagai entitas politik."[1][13] Pada tahun 2021, Army University Press atau Pers Universitas Angkatan Darat mencatat bahwa penggunaan kata "Union" diganti dengan "Federal Government" atau "Pemerintah Federal" dan "U.S. Government" atau "Pemerintah A.S.", karena Army University Press menyatakan ini "lebih akurat secara historis" sebagai "istilah 'Union'"[14] dan karena "istilah 'Union' selalu merujuk pada semua negara bagian secara bersama-sama."[15]
Sejarah Perang Sipil Amerika Serikat

Amerika Serikat. Itulah nama dari sebuah negara besar yang terletak di Benua Amerika di Amerika Utara. Ada banyak hal yang membuat negara tersebut bisa termahsyur di hampir setiap penjuru dunia. Mulai dari kemajuan teknologinya, budaya pop modernnya, popularitas para tokohnya, keberagaman penduduknya, pengaruh pentingnya dalam sejarah dunia, & lain-lain.[16]
Namun di luar semua kehebatannya tersebut, Amerika Serikat ternyata juga punya sisi gelap dalam sejarahnya. Karena pada masa lalu, penduduknya pernah saling bunuh dalam peristiwa yang dikenal sebagai "Perang Sipil Amerika Serikat".[16]
Perang Sipil Amerika Serikat (American Civil War) adalah perang saudara yang terjadi di Amerika Serikat (AS) pada tahun 1861 hingga 1865. Perang tersebut terjadi antara pemerintah pusat AS (biasa disingkat Union) melawan Konfederasi Amerika (Confederate States of America), negara pecahan AS yang didirikan oleh negara-negara bagian Selatan AS yang mendukung praktik perbudakan kulit hitam. Akibat perang tersebut, lebih dari setengah juta rakyat AS kehilangan nyawanya & kondisi negara tersebut - utamanya bagian Selatan - sempat porak poranda.[16]
Perang Sipil AS menjadi salah satu perang paling berpengaruh dalam sejarah peperangan di era modern karena taktik & teknologi yang digunakan dalam perang ini nantinya diadopsi oleh para pelaku perang di belahan dunia lain, khususnya Perang Dunia I.[16]
Sebagai contoh, Perang Sipil AS adalah perang pertama di mana metode parit sebagai garis pertahanan & taktik perang total digunakan. Teknologi-teknologi modern pada masa itu seperti telegram, jalur kereta api, & kapal uap juga banyak digunakan selama perang & berperan besar dalam menentukan alur serta hasil akhir dari peperangan.[16]

Latar belakang
Di abad ke-19, berdasarkan kondisi sosial ekonominya, AS bisa dibagi ke dalam 2 wilayah: wilayah Utara yang sektor industri serta infrastruktur modernnya berkembang pesat & wilayah Selatan yang relatif lebih tertinggal serta masih menggantungkan dirinya pada sektor pertanian, khususnya kapas.[16]
Di wilayah Selatan inilah, terdapat budak-budak kulit hitam yang dimiliki & diperkerjakan oleh para petani kaya setempat untuk membantu menggarap lahan pertanian. Dari segi taraf hidup & budaya, wilayah Utara juga dianggap lebih makmur & lebih liberal ketimbang wilayah Selatan yang dianggap lebih tradisional & lebih kolot.[16]
Kondisi sosial di AS pada abad ke-19 lantas memunculkan istilah "negara bagian bebas" (free states) untuk wilayah Utara & "negara bagian budak" (slave states) untuk wilayah Selatan. Akibat kritik & penolakan yang diperlihatkan wilayah Utara terhadap praktik perbudakan di wilayah Selatan, hubungan antara masyarakat kedua wilayah pun mulai menegang.[16]
Ketegangan antara kedua wilayah semakin menjadi-jadi ketika pada tahun 1819, daerah Missouri ingin menjadi negara bagian AS yang baru. Masalah muncul ketika terjadi perbedaan pendapat mengenai apakah Missouri sebaiknya diterima sebagai negara bagian bebas atau negara bagian budak.[16]
Sekedar info, di AS saat itu terdapat 11 negara bagian bebas & 11 negara bagian budak. Jika Missouri diterima sebagai negara bagian bebas, maka negara-negara bagian bebas akan menjadi kubu mayoritas dalam parlemen nasional & bisa mengancam kepentingan negara-negara bagian budak dalam parlemen nasional.[16]
Hal yang sebaliknya akan terjadi kalau Missouri diterima sebagai negara bagian budak. Belakangan, masalah soal status Missouri akhirnya terselesaikan setelah pada tahun 1821, daerah Maine di sebelah Utara menjadi negara bagian bebas yang baru, sementara Missouri diterima sebagai negara bagian budak.[16]

Memasuki tahun 1830-an, suara-suara yang menginginkan penghapusan aktivitas perbudakan semakin banyak seiring dengan menjamurnya gerakan abolisionisme di negara-negara bagian Utara. Penolakan terhadap aktivitas perbudakan semakin gencar menyusul terbitnya novel berjudul "Pondok Paman Tom" pada tahun 1852 yang bercerita tentang penderitaan seorang budak kulit hitam.[16]
Wilayah Selatan lantas merespon fenomena penolakan perbudakan tersebut dengan mengancam akan memerdekakan diri bila perbudakan sampai dihapuskan. Akibatnya, masalah perbudakan pun berkembang menjadi masalah sosial politik yang kompleks & dilematis.[16]
Bulan November 1860, Abraham Lincoln yang selama ini getol menenentang praktik perbudakan terpilih sebagai Presiden AS yang baru. Terpilihnya Lincoln lantas dianggap sebagai sinyal bahaya bagi negara-negara bagian budak yang ingin mempertahankan praktik perbudakan di wilayahnya.[16]
Maka, tidak lama setelah Lincoln memenangkan pemilu, 7 negara bagian di wilayah Selatan - Carolina Selatan, Mississippi, Florida, Alabama, Georgia, Louisiana, & Texas - memisahkan diri dari AS & mendirikan negara baru yang bernama "Konfederasi Amerika"' (Confederate States of America). Setahun kemudian atau tepatnya pada bulan Mei 1861, negara Konfederasi menetapkan Richmond, Virginia, sebagai ibu kotanya.[16]
Berjalannya perang
Front timur (1861-1863)
Walaupun negara Konfederasi sudah berdiri sejak tahun 1860, perang baru meletus pada tanggal 14 April 1861 setelah pada tanggal tersebut, pasukan Konfederasi berhasil menduduki Benteng (Fort) Sumter, Carolina Selatan.[16]
Jatuhnya Benteng Sumter ke tangan pasukan Konfederasi lantas dikuti dengan bergabungnya Negara Bagian Arkansas, Tennessee, Virginia, & Carolina Utara ke dalam Konfederasi sehingga sekarang, total ada 11 negara bagian yang menjadi anggota Konfederasi. Di pihak lawan, kemenangan pasukan Konfederasi direspon oleh Presiden Lincoln dengan memerintahkan perekrutan relawan perang besar-besaran & blokade di sekitar wilayah Konfederasi.[16]

Bulan Juli 1861, pertempuran berskala besar antara pasukan AS (Union) dengan Konfederasi akhirnya pecah di Sungai Bull Run, selatan ibu kota Washington, D.C., yang berakhir dengan kemenangan pasukan Konfederasi sehingga pasukan Union yang selamat terpaksa mundur ke ibu kota.[16]
Terhenyak dengan kekalahan tersebut, parlemen AS pun mengeluarkan resolusi yang menyatakan bahwa perang melawan Konfederasi dilakukan bukan untuk menghapus perbudakan, melainkan untuk menjaga keutuhan negara. Harapannya, resolusi tersebut akan membuat negara-negara bagian budak yang masih menjadi bagian dari Union mengurungkan niatnya untuk bergabung dengan Konfederasi.[16]
Bulan Maret 1862, pasukan Union yang berkekuatan 100.000 personil memulai "Kampanye Semenanjung" (Peninsular Campaign), serangan besar-besaran yang ditujukan untuk merebut Richmond, ibu kota dari Konfederasi, lewat semenanjung yang diapit oleh Sungai York & Sungai James yang terletak di pantai barat Konfederasi.[16]
Awalnya pasukan Union sukses melaju hingga tinggal berjarak beberapa kilometer dari Richmond. Namun, pada akhirnya keinginan pasukan Union untuk menguasai Richmond gagal terwujud setelah mereka berhasil dikalahkan oleh pasukan Konfederasi dalam pertempuran yang berlangsung selama 7 hari di akhir bulan Juni 1862.[16]
Kegemilangan pasukan Konfederasi di medan perang front timur masih berlanjut ketika di akhir Agustus 1962, mereka kembali terlibat pertempuran dengan pasukan Union di Sungai Bull Run. Dalam pertempuran tersebut, pasukan Konfederasi pimpinan Robert E. Lee secara cerdik memecah diri mereka menjadi 2.[16]
Sebagian pasukan Konfederasi dikirim untuk merebut gudang senjata lawan & memaksa pasukan Union untuk mengkonsentrasikan perhatiannya ke sana. Sementara sebagian lainnya yang berjumlah lebih banyak baru menampakkan diri sehari kemudian untuk melakukan serangan mendadak yang sukses memaksa sisa-sisa pasukan Union yang kekuatannya sudah menurun untuk mundur kembali ke Washington, D.C..[16]

Sukses memukul mundur pasukan Union di Sungai Bull Run, pasukan Konfederasi pimpinan Lee melanjutkan pergerakannya pada bulan September 1862 & berencana menyerbu Maryland dengan menyebrangi Sungai Potomac. Namun saat baru berada di anak Sungai Antietam, pasukan Konfederasi dicegat oleh pasukan Union sehingga pertempuran sengit pun tak terelakkan.[16]
Total, ada 23.000 korban jiwa yang timbul akibat pertempuran tersebut sehingga hari terjadinya pertempuran di Antietam menjadi hari paling berdarah dalam sejarah AS. Namun berkat pertempuran di Antietam pula, invasi pasukan Konfederasi ke Maryland gagal terwujud & popularitas Lincoln menanjak sehingga ia bisa mengumandangkan Proklamasi Emansipasi mengenai pembebasan budak di seluruh wilayah AS.[16]
Awal Juli 1863 adalah salah satu periode yang paling berdarah dalam Perang Sipil AS karena pada periode itu, terjadi pertempuran di Gettysburg, Pennsylvania. Awalnya pasukan Konfederasi ingin mencaplok Pennsylvania untuk mengancam kedudukan Washington, D.C. & mendapatkan pengakuan diplomatis dari negara-negara Eropa, tetapi di sana pihak Konfederasi mendapatkan perlawanan sengit dari pasukan Union.[16]
Setelah melalui pertempuran sengit selama 3 hari, pasukan Konfederasi terpaksa mundur dengan menanggung korban tewas 28.000 orang. Akibat pertempuran di Gettysburg pula, pasukan Konfederasi tidak bisa lagi melakukan invasi skala besar ke wilayah Utara.[16]
Front barat (1861-1863)
Fokus utama dari pertempuran-pertempuran di front barat adalah daerah sekitar Sungai Mississippi karena sungai yang bisa dilayari tersebut sangat vital sebagai jalur transportasi menuju Samudra Atlantik. Bulan Agustus 1861, pasukan Union berhasil dikalahkan di tepi anak Sungai Winson oleh pasukan Konfederasi yang berjumlah 2 kali lebih banyak.[16]
Namun, kegemilangan pasukan Konfederasi tidak bertahan lama setelah mereka mengalami kekalahan di Arkansas pada bulan Maret 1862, sehingga Negara Bagian Missouri tetap berada di bawah kendali pihak Union.[16]
Bulan April 1862, pasukan Union berhasil menguasai New Orleans tanpa perlawanan berarti sehingga pihak Union kini memiliki kontrol penuh atas Sungai Mississippi - minus daerah muara sungai hingga Kota Vicksburg karena adanya benteng milik pihak Konfederasi di kota tersebut.[16]
Pertempuran yang jauh lebih berdarah sendiri terjadi di Shiloh, Tennessee, pada awal bulan yang sama. Dalam pertempuran di Shiloh, pasukan Union awalnya berada dalam posisi terdesak karena tidak menyangka akan mendapatkan serangan mendadak dari pihak Konfederasi. Namun datangnya bala bantuan membuat pihak Union akhirnya bisa memenangkan pertempuran yang memakan korban tewas 23.000 jiwa di kedua belah pihak tersebut.[16]

Nasib baik masih menaungi pihak Union setelah pada bulan Desember 1862, pasukan Union berhasil mengalahkan pasukan Konfederasi di dekat Fayetteville, Arkansas. Kendati demikian, pasukan Union masih belum berhasil menaklukkan Vicksburg yang terletak di tepi timur Sungai Mississippi walaupun sudah melakukan penyerangan berkali-kali dari arah utara.[16]
Pihak Union lantas melakukan modifikasi taktik dengan cara menyelinap ke sebelah selatan Vicksburg dari tepi barat Sungai Mississipi & memutus jalur logistik kota tersebut sejak permulaan Mei 1862. Hasilnya, pasukan Konfederasi di Vicksburg mengibarkan bendera putih pada bulan Juli 1862 & seluruh Sungai Mississippi kini dikuasai oleh pihak Union.[16]
Bulan November 1863, pasukan Union kembali menorehkan catatan emas setelah berhasil mengalahkan pasukan Konfederasi di Chattanooga yang terletak di tepi sungai Tennessee, Negara Bagian Tennessee. Dalam pertempuran tersebut, pasukan Union melakukan serangan dari arah utara serta selatan sekaligus & sukses mendesak mundur pasukan Konfederasi ke Negara Bagian Georgia yang terletak di sebelah tenggara Tennessee.[16]
Berkat kemenangan dalam pertempuran di Chattanooga, seluruh wilayah Tennessee kini berada di bawah kendali pihak Union & jalur penyerbuan menuju Georgia serta Virginia - lokasi dari Richmond, ibu kota Konfederasi - menjadi terbuka lebar.[16]
Fase akhir peperangan (1864-1865)
Berkat kegemilangannya memimpin pasukan Union memenangkan pertempuran-pertempuran di front barat, Lincoln mengangkat Ulysses S. Grant sebagai pemimpin militer tertinggi pihak Union pada permulaan tahun 1964 untuk menaklukkan sisa-sisa wilayah Konfederasi.[16]
Grant kemudian mengajukan ide mengenai perang total (total war), yaitu taktik menghancurkan bangunan-bangunan penting milik pihak Konfederasi seperti rumah, lahan pertanian, & jalan raya untuk mengalahkan pihak Konfederasi sepenuhnya sehingga mereka tidak bisa lagi bangkit melawan. Rencana perang Grant tersebut lantas dikenal sebagai "Grant's Overland Campaign" (Kampanye Lewat Darat Milik Grant).[16]

Rencana perang total Grant dimulai dengan mengirimkan pasukan Union untuk melakukan serangan kilat lewat Wilderness, Virginia, pada awal Mei 1864. Namun, pasukan Konfederasi bergerak cepat & sukses memukul mundur pasukan Union di Wilderness.[16]
Grant lalu memerintahkan pasukannya bergerak ke Spotsylvania, tetapi pasukan Union kembali berhasil dipukul mundur oleh pasukan Konfederasi yang tiba di sana lebih dulu. Masih belum kapok, Grant kemudian menggerakkan pasukannya ke Cold Harbor yang lokasinya dekat dengan ibu kota Richmond, tetapi pasukan Union lagi-lagi berhasil dipukul mundur dengan jumlah korban tewas lebih dari 12.000 orang.[16]
Beralih ke sebelah selatan, pasukan Union yang berkekuatan 110.000 orang melakukan penyerbuan ke Georgia pada awal Mei 1864. Di sana, pasukan Union banyak melakukan taktik serangan sembunyi-sembunyi untuk menekan jumlah korban tewas. Perlahan tetapi pasti, pasukan Union semakin dekat dengan Kota Atlanta & berhasil memutus jalur logistik kota tersebut.[16]
Merasa putus asa, pihak Konfederasi lalu membumi hanguskan Kota Atlanta & meninggalkannya pada bulan September. Memasuki bulan Desember, giliran kota pesisir Savannah yang jatuh ke tangan pasukan Union. Berkat rentetan keberhasilan pasukan Union tersebut, popularitas Lincoln meroket sehingga ia sukses memenangkan pemilu presiden pada tahun yang sama.[16]
Tahun berganti, Konfederasi semakin terdesak karena kini Virginia menjadi satu-satunya negara bagian yang masih berada di bawah kendali mereka. Robert E. Lee naik menjadi pemimpin militer tertinggi pihak Konfederasi, tetapi hal tersebut tidak banyak mengubah alur peperangan.[16]
Hal tersebut bisa dilihat pada awal April 1865 di mana Kota Petersburg & ibu kota Richmond jatuh ke tangan pasukan Union yang sudah melakukan pengepungan di sekitar Petersburg sejak bulan Juni 1864. Lee & para pengikutnya yang masih tersisa lantas melarikan diri ke arah barat, tetapi ia juga sadar bahwa pasukan Konfederasi tidak akan sanggup bertempur lebih lama lagi.[16]
Tanggal 9 April 1865, Lee pergi ke Desa Appomattox, Virginia, untuk menyerah tanpa syarat. Menyerahnya Lee lantas dikuti dengan menyerahnya jenderal-jenderal pasukan Konfederasi yang lain. Jenderal Stand Watie menjadi jenderal pasukan Konfederasi terakhir yang menyerah pada tanggal 23 Juni 1865.[16]
Dengan menyerahnya jenderal-jenderal Konfederasi, Perang Sipil AS pun berakhir dengan kemenangan pihak Union & negara-negara bagian anggota Konfederasi kembali menjadi bagian dari AS. Sayang, berakhirnya Perang Sipil AS juga diwarnai dengan insiden tewasnya Presiden Lincoln akibat dibunuh oleh John Wilkes Booth, pendukung sistem perbudakan, pada tanggal 14 April 1865.[16]

Kondisi pasca perang
Perang Sipil AS adalah perang paling berdarah dalam sejarah AS karena jumlah korban tewas yang mencapai lebih dari 600.000 jiwa. Sementara mereka yang terluka di medan perang namun masih hidup banyak yang harus kehilangan anggota badannya.[16]
Salah satu penyebab tingginya korban tewas adalah akibat masih banyaknya penggunaan taktik dari era Perang Napoleon seperti berbaris & berlari ke arah pasukan musuh secara bersama-sama (charging). Padahal teknologi senapan pada masa Perang Sipil AS sudah lebih berkembang yang ditandai dengan semakin tingginya akurasi senapan & ditemukannya senjata api yang bisa menembak secara berulang-ulang dengan jeda waktu singkat.[16]
Ada beberapa faktor yang menyebabkan pihak Union bisa memenangkan perang. Dari segi jumlah penduduk & kemajuan infrastruktur, kubu Union memang lebih unggul sehingga peluang mereka untuk memenangkan perang sejak awal memang lebih besar.[16]
Selama perang sipil, pihak Union juga melakukan blokade di sekitar wilayah Konfederasi. Sebagai akibatnya, pihak Konfederasi tidak bisa mengekspor kapas yang notabene merupakan komoditas ekonomi andalannya.[16]
Pihak Konfederasi sendiri awalnya berharap Britania akan membantu Konfederasi supaya suplai kapasnya tetap lancar. Namun faktanya, Britania menolak untuk membantu pihak Konfederasi karena Britania menolak praktik perbudakan & masih melimpahnya stok kapas di Eropa serta daerah-daerah taklukan Britania.[16]
Sesuai keinginan Lincoln & para aktivitas abolisionis, aktivitas perbudakan akhirnya benar-benar dihapus secara resmi pada bulan Desember 1865 via Amandemen Ke-13 Konstitusi AS. Total, ada 4,7 juta budak kulit hitam yang dibebaskan semasa & sesudah perang sipil.[16]
Kendati demikian, tetap saja ada sejumlah orang yang tidak menyukai kebijakan pembebasan budak-budak kulit hitam. Imigran-imigran miskin dari Irlandia contohnya, menganggap orang-orang kulit hitam yang baru bebas sebagai saingan dalam mendapatkan pekerjaan. Di wilayah Selatan, kelompok-kelompok ekstrimis anti kulit hitam juga bermunculan tak lama sesudah perang sipil berakhir, salah satunya Ku Klux Klan (KKK).[16]

Perang Sipil AS juga meninggalkan setumpuk masalah baru pasca perang. Beberapa di antaranya adalah porak-porandanya sebagian wilayah AS, anjloknya taraf kemakmuran penduduk wilayah Selatan, & masih tingginya sentimen kebencian antara penduduk wilayah Utara dengan Selatan.[16]
Untuk menanggulangi masalah-masalah tersebut, sejak perang berakhir hingga tahun 1867, AS memasuki periode yang dikenal sebagai era Rekonstruksi (Reconstruction era). Sejumlah masalah berhasil diselesaikan selama periode tersebut, tetapi sebagian lainnya tetap tidak terselesaikan. Salah satu suara negatif bahkan menganggap kalau era Rekonstruksi tidak lebih sebagai upaya orang-orang di wilayah Utara untuk membalas dendam & memperkuat dominasinya atas wilayah Selatan.[16]
Ringkasan perang
Waktu & lokasi pertempuran
- Waktu: 1861-1865
- Lokasi: Amerika Serikat
Pihak yang bertempur
(Negara) - Amerika Serikat
melawan
(Daerah) - Konfederasi Amerika
Hasil akhir
- Kemenangan Amerika Serikat
- Negara Konfedarasi Amerika dibubarkan
Korban jiwa
Sekitar 620.000 jiwa
Sejarah penggunaan kapal selam di era Perang Sipil Amerika
Kapal selam merupakan momok bagi setiap kapal musuh. Kemampuan kapal ini untuk berenang di bawah permukaan air menyebabkan kapal selam sulit dideteksi oleh kapal-kapal yang berlayar di permukaan air. Berkat kemampuannya tersebut, kapal selam pun bisa keluar masuk perairan musuh tanpa ketahuan & menenggelamkan kapal musuh sebelum musuh sempat bereaksi.[17]
Penggunaan kapal selam sendiri ternyata sudah dikenal sejak sebelum abad ke-20, tepatnya dalam Perang Sipil Amerika yang berlangsung dari tahun 1861 hingga 1865. Dalam perang tersebut, baik Amerika Serikat maupun Konfederasi Amerika sama-sama memiliki unit kapal selam dalam militernya. Namun hanya kapal selam milik pihak Konfederasi yang berhasil menenggelamkan kapal milik musuh.[17]
Meskipun tergolong maju & inovatif pada masanya, kapal-kapal selam di masa Perang Sipil ternyata bukanlah kapal selam pertama yang pernah dioperasikan di wilayah AS. Saat Perang Revolusi Amerika masih berlangsung, pasukan pejuang kemerdekaan AS pernah mengoperasikan kapal selam mini yang bernama "Turtle".[17]
Namun tidak seperti kapal-kapal selam di masa Perang Saudara & sesudahnya, Turtle hanya bisa ditempati oleh 1 orang. Turtle dalam perjalanan sejarahnya juga tidak pernah menenggelamkan kapal musuh sama sekali.[17]

Kapal selam Union
Di masa Perang Sipil Amerika, Alligator adalah kapal selam yang lebih dulu dibuat. Pada awalnya, seorang imigran asal Prancis yang bernama Brutus de Villeroi mendatangi perwira AL Union pada tahun 1832 sambil mengendarai kapal selam ciptaannya. Merasa terkesan dengan kapal tersebut, AL Union kemudian meminta kepada Brutus untuk membuatkan kapal selam yang ukurannya lebih besar.[17]
Pada tanggal 1 Mei 1862, kapal selam tersebut selesai dibuat. Sebulan kemudian, kapal yang bersangkutan diberi nama "Alligator" karena wujudnya yang panjang & berwarna kehijauan nampak seperti hewan aligator yang sedang berenang. Alligator memiliki kapasitas angkut hingga 14 orang awak.[17]
Kendala utama bagi kapal selam yang mengangkut banyak orang sekaligus adalah kapal tersebut harus bisa menyediakan pasokan oksigen yang cukup bagi para awaknya. Untuk keperluan tersebut, Alligator pun dilengkapi dengan pipa yang mengarah ke permukaan air.[17]
Supaya bagian dalam kapal tidak dipenuhi oleh karbon dioksida, pipa tadi mengarah ke tangki yang berisi air kapur. Fungsi dari air kapur tersebut adalah untuk menyerap gas karbon dioksida karena kalsium dalam kapur memiliki sifat menyerap senyawa karbon dioksida. Jika airnya sudah berubah warna menjadi terlalu keruh, air kapur dalam tangki kemudian dibuang ke laut & diganti dengan yang baru.[17]
Tidak seperti kapal selam di masa kini, Alligator tidak dilengkapi dengan senjata peluncur torpedo atau semacamnya. Sebagai gantinya, Alligator dilengkapi dengan pintu khusus yang bisa dibuka & ditutup saat kapalnya sedang berada di dalam air. Saat hendak menyerang sasarannya, salah seorang awak kapal Alligator akan berenang keluar dari kapalnya, pergi memasang bom di kapal sasaran, & kemudian masuk kembali ke dalam kapal Alligator.[17]

Alligator pada awalnya digerakkan dengan tenaga dayung. Belakangan, Alligator dipasangi dengan baling-baling yang digerakkan memakai tenaga tangan supaya bisa melaju lebih cepat. Akibat keterbatasan teknologi & adanya kekhawatiran kalau kapal selam ini bakal jatuh ke tangan musuh, kapal selam ini tidak pernah diterjunkan dalam medan perang yang sesungguhnya.[17]
Sejak pertama kali diluncurkan, Alligator lebih banyak digunakan untuk melakukan pelayaran uji coba. Hingga kemudian pada tanggal 2 April 1863, Alligator terjebak dalam cuaca buruk saat sedang ditarik oleh kapal uap Sumpter. Untuk mengurangi beban kapal, Sumpter terpaksa melepaskan Alligator sehingga kapal selam tersebut terombang ambing sebelum akhirnya tenggelam.[17]
Kapal selam Konfederasi
Di pihak yang berseberangan, pihak Konfederasi juga berambisi memiliki kapal selamnya sendiri. Karena kapal selam memiliki kemampuan untuk menghancurkan sasarannya tanpa ketahuan, Konfederasi berharap bisa menggunakan kapal selam untuk menjebol blokade yang dibuat oleh kapal-kapal perang Union di sekeliling lepas pantai Konfederasi. Akibat blokade tersebut, Konfederasi tidak bisa melakukan hubungan dagang dengan negara-negara Eropa.[17]
Untuk keperluan tersebut, pihak Konfederasi pun menciptakan kapal selam Hunley pada tahun 1863. Nama "Hunley" pada kapal ini berasal dari nama Horace Lawson Hunley, pencipta kapal selam yang bersnagkutan. Oleh karena itulah, kapal selam Hunley juga dikenal dengan nama panjang "H. L. Hunley".[17]
Hunley digerakkan dengan memakai baling-baling bertenaga tangan manusia. Kapal ini memiliki kapasitas angkut 8 orang personil. Untuk memberikan pasokan udara bagi para awaknya, Hunley dilengkapi dengan sepasang pipa di bagian atasnya. Saat pipa tersebut bagian ujungnya berada di atas permukaan air, udara akan masuk ke dalam badan kapal melalui pipa.[17]

Kedua pipa tadi terhubung ke dalam sebuah kotak khusus yang dilengkapi dengan ubub (semacam penyembur udara yang menggunakan tenaga tangan). Saat udara yang ada dalam kapal yang sudah dipenuhi oleh karbon dioksida, awak kapal akan memompa ubub supaya udaranya tersembur ke luar kapal melalui salah satu pipa. Pasokan udara yang baru kemudian akan masuk ke dalam kapal melalui pipa yang lain.[17]
Hunley dilengkapi dengan torpedo tongkat (spar torpedo) sebagai persenjataan utamanya. Torpedo tongkat adalah sejenis tongkat panjang dengan bom di ujungnya. Bom tersebut juga dilengkapi dengan tali panjang yang menyangkut pada badan kapal Hunley.[17]
Hunley menyerang sasarannya dengan cara menyelam secara diam-diam hingga berada tepat di samping kapal sasarannya. Awak kapal Hunley sesudah itu akan mengarahkan tongkat supaya bagian ujungnya menyentuh badan kapal. Jika sudah, kapal selam Hunley kemudian akan memutar balik & berenang menjauhi kapal sasarannya.[17]
Saat sudah berada dalam jarak yang cukup jauh, kabel yang menghubungkan bom dengan kapal Hunley akan terputus. Saat itulah, pemicu bom langsung aktif sehingga bomnya langsung meledak. Dengan cara ini, Hunley bisa menenggelamkan kapal sasarannya sambil berada di luar radius ledakan.[17]

Penerus kapal-kapal yang gagal
Hunley sebenarnya bukanlah satu-satunya kapal selam yang diciptakan oleh Konfederasi. Sebelum Hunley diciptakan, sudah ada 2 kapal selam yang berhasil diciptakan oleh tokoh-tokoh Konfederasi yang memiliki keahlian di bidang perkapalan. Namun kapal-kapal selam tersebut semuanya tidak berumur panjang.[17]
Kapal selam pertama yang berhasil mereka buat diberi nama "Pioneer". Pada awal tahun 1862, mereka menaruh Pioneer di Danau Pontchartrain untuk keperluan uji coba. Namun hanya sebulan sesudah selesai dibuat, Konfederasi menghancurkan kapal Pioneer karena pasukan Union semakin dekat ke arah danau & mereka tidak ingin membiarkan Pioneer jatuh ke tangan pihak Union.[17]
Peristiwa tersebut tidak membuat pihak Konfederasi merasa jera. Beberapa bulan kemudian, Hunley yang dibantu oleh rekan-rekannya berhasil menciptakan kapal selam baru yang bernama "American Diver". Namun sebelum berhasil melancarkan serangan pertamanya, American Diver terjebak dalam cuaca buruk & tenggelam pada bulan Februari 1863.[17]
Peristiwa tersebut jelas membuat Hunley & rekan-rekannya merasa kecewa. Namun mereka tidak bisa terus menerus larut dalam kesedihan. Semakin tidak menguntungkannya situasi di medan perang menyebabkan Konfederasi harus menemukan cara untuk menembus blokade laut yang digalang oleh pihak Union.[17]

Maka, di tengah situasi terjepit tersebut, terciptalah kapal selam baru yang tidak lain adalah "Hunley". Pada bulan Juli 1863, kapal selam tersebut melakukan uji coba di hadapan para petinggi Konfederasi. Dalam uji coba tersebut, Hunley berhasil menenggelamkan kapal sasarannya.[17]
Merasa puas dengan uji coba tersebut, Hunley kembali menjalani sejumlah uji coba sebelum benar-benar diterjunkan di medan perang. Namun saat kapal tersebut menjalani uji coba pada tanggal 15 Oktober 1863, terjadi musibah yang merenggut korban jiwa. Dalam uji coba tersebut, Horace Hunley tewas bersama 7 awak kapal Hunley lainnya setelah kapal mereka gagal kembali ke permukaan air.[17]
Tragedi tersebut menyebabkan kapal Hunley sempat tidak lagi digunakan selama berbulan-bulan akibat tingginya resiko kematian bagi para awaknya. Namun masih berkecamuknya perang menyebabkan pihak Konfederasi memutuskan untuk kembali melirik kapal ini sebagai jalan keluar atas permasalahan mereka.[17]
Menyerang & menghilang
Tanggal 17 Februari 1864, Hunley melakukan serangan pertama & terakhirnya dalam Perang Sipil Amerika. Yang menjadi sasaran adalah kapal perang USS Housatonic milik pihak Union. Kapal Hunley berhasil mendekati sasarannya menjelang pukul 9 malam waktu setempat. Namun saat Hunley sedang memasang bom pada badan kapal Housatonic, ternyata ada awak kapal Housatonic yang memergoki kapal Hunley.[17]
Para awak kapal Housatonic spontan menembaki Hunley dengan memakai senapan. Namun karena badan kapal Hunley terbuat dari logam yang keras, tembakan mereka tidak berhasil menghentikan Hunley. Setelah selesai memasang bom, Hunley kemudian berenang menjauh. Tak lama kemudian, ledakan besar muncul di bagian bawah kapal Housatonic & menewaskan 5 orang awaknya.[17]

Ledakan tersebut juga membuat lambung kapal Housatonic mengalami kebocoran. Maka, para awak kapal Housatonic yang masih selamat beramai-ramai pergi menuju sekoci untuk meninggalkan kapal tersebut. Hanya dalam waktu kurang 5 menit setelah ledakan terjadi, kapal Housatonic tenggelam ke bawah laut. Berkat peristiwa ini, Hunley pun menjadi kapal selam pertama dalam sejarah yang berhasil menenggelamkan kapal musuh.[17]
Pencapaian membanggakan tersebut sayangnya langsung diikuti dengan peristiwa misterius yang menamatkan riwayat kapal Hunley. Sekitar 45 menit setelah kapal Housatonic tenggelam, kapal Hunley membuat sinyal cahaya biru sebagai isyarat kalau mereka berhasil melaksanakan misi mereka.[17]
Di kejauhan, prajurit Konfederasi yang sedang berjaga di Pulau Sullivan melihat sinyal cahaya tersebut & kemudian membuat sinyal cahaya balasan supaya para awak kapal Hunley bisa menggunakannya untuk berlayar kembali ke markas. Namun sesudah itu, kapal Hunley nyatanya tidak pernah nampak kembali. Dugaan kalau Hunley tenggelam di tengah laut bersama dengan 8 orang awaknya pun merebak.[17]
Bangkai kapal Hunley baru berhasil ditemukan pada tahun 1995. Lima tahun kemudian, kapal tersebut akhirnya diangkat dari laut & kemudian diteliti. Saat bagian dalam Hunley diperiksa, ilmuwan menemukan kalau jasad para awak kapal Hunley nampak masih duduk di tempatnya masing-masing.[17]

Jika kapal selam tenggelam setelah menjadi korban serangan, maka biasanya mayat para awaknya akan nampak menumpuk di dekat pintu kapal karena mereka beramai-ramai mencoba menyelamatkan diri. Namun pemandangan serupa tidak dijumpai pada kapal Hunley.[17]
Ilmuwan pun menduga kalau para awak kapal Hunley meninggal akibat mati lemas & kehabisan oksigen di dalam kapal. Mungkin Hunley pada awalnya ingin bersembunyi sejenak di bawah permukaan laut supaya aman dari serangan kapal-kapal Union yang lain. Namun akibat adanya kerusakan pada sistem sirkulasi udaranya, para awak kapal Hunley kehabisan oksigen di dalam kapal & akhirnya meninggal.[17]
Menurut pendapat lain, para awak kapal Hunley tewas karena kapalnya berada terlalu dekat dengan kapal musuh saat ledakan terjadi. Akibat terkena getaran kuat dari ledakan, para awak kapal Hunley tewas seketika atau kehilangan kesadaran, sehingga kapal yang mereka naiki tenggelam dengan sendirinya ke dasar laut. Namun pendapat ini tidak bisa menjelaskan kenapa sekitar 45 menit kemudian, ada sinyal cahaya yang diyakini berasal dari kapal Hunley.[17]
Setelah selesai memeriksa bangkai kapal Hunley & isinya, mayat para awak kapal Hunley kemudian dimakamkan pada tanggal 17 April 2004. Karena Hunley merupakan salah satu kapal selam terpenting dalam sejarah kemaritiman, prosesi pemakaman mereka dihadiri oleh ribuan orang dari dalam & luar AS. Sementara bangkai kapal Hunley sekarang menjadi obyek wisata di Pusat Pelestarian Warren Lasch, Negara Bagian Carolina Selatan, AS.[17]
Ukuran dan kekuatan

Berbeda dengan Konfederasi, Union memiliki kawasan industri dan perkotaan yang besar (Timur Laut), dan sistem komersial, transportasi dan keuangan yang lebih maju daripada pedesaan Selatan.[1][18] Selain itu, negara bagian-negara bagian Union memiliki keunggulan tenaga kerja lima banding dua pada awal perang.[19]
Tahun demi tahun, Konfederasi menyusut dan kehilangan kendali atas peningkatan jumlah sumber daya dan populasi. Sementara itu, Union atau Amerika Serikat mengubah potensi keuntungannya yang berkembang menjadi kekuatan militer yang jauh lebih kuat. Namun, sebagian besar kekuatan Union atau AS harus digunakan untuk membuat garnisun di daerah atau wilayah bekas Konfederasi yang ditaklukkan, dan untuk melindungi jalur kereta api dan titik-titik vital lainnya. Keuntungan besar Union dalam populasi dan industri akan terbukti menjadi faktor penting jangka panjang dalam kemenangannya atas Konfederasi, tetapi Union butuh waktu lama untuk sepenuhnya memobilisasi sumber daya ini.
Opini publik
Serangan terhadap Fort Sumter membuat atau menyatukan negara-negara bagian bebas atau Sang Utara untuk membela nasionalisme Amerika. Pada tahun 2008, sejarawan Universitas Columbia, Allan Nevins, menulis:
Gemuruh Sumter menghasilkan kristalisasi sentimen Utara yang mengejutkan.... Kemarahan melanda negeri ini. Dari segala penjuru datang berita tentang pertemuan massal, pidato, resolusi, penawaran dukungan bisnis, pengerahan kompi dan resimen, tindakan tegas gubernur dan badan legislatif.[20]
Russell McClintock menyatakan:
Pada saat itu, orang-orang Utara memang pantas heran dengan hampir bulatnya persatuan yang begitu cepat muncul setelah berbulan-bulan lamanya permusuhan dan perselisihan. Persatuan itu tidak akan bertahan sepanjang perang yang berkepanjangan yang akan datang—atau bahkan sepanjang tahun—tetapi pada saat persatuan itu terungkap nasionalisme Utara yang umum yang biasanya tersembunyi oleh pertempuran sengit yang lebih lazim terjadi di arena politik.”[21]
Sejarawan Michael Smith berpendapat bahwa sebagai medan perang dari tahun ke tahun, semangat republikanisme Amerika tumbuh lebih kuat dan menimbulkan ketakutan akan korupsi di kalangan pejabat tinggi. Para pemilih menjadi takut akan terpusatnya kekuasaan di Washington, pengeluaran yang berlebihan, dan keuntungan dari perang.[butuh rujukan] Kandidat Demokrat menekankan kekhawatiran ini. Para kandidat menambahkan bahwa modernisasi yang cepat menempatkan terlalu banyak kekuatan politik di tangan para pemodal dan industrialis dari Timur. Mereka memperingatkan bahwa penghapusan perbudakan akan membawa gelombang orang kulit hitam yang dibebaskan ke pasar tenaga kerja di Utara atau negara-negara bagian yang bebas.
Partai Republik menanggapi dengan tuduhan kekalahan. Mereka mendakwa Copperheads atas konspirasi kriminal untuk membebaskan tawanan perang Konfederasi dan memainkan semangat nasionalisme dan kebencian yang semakin besar terhadap pemilik budak, sebagai pihak yang bersalah dalam perang.[22]
Presiden Lincoln
Para sejarawan secara umum memuji "kejeniusan politik" Abraham Lincoln dalam menjalankan tugasnya sebagai presiden.[1][23] Prioritas pertamanya adalah kemenangan militer. Hal ini mengharuskan dia untuk menguasai keterampilan yang sama sekali baru sebagai ahli strategi dan diplomat. Dia mengawasi persediaan atau perbekalan, keuangan, tenaga kerja, pemilihan jenderal, dan jalannya strategi secara keseluruhan. Bekerja sama erat dengan politisi negara bagian dan lokal, dia mengumpulkan atau menggalang opini publik dan (di Gettysburg) mengartikulasikan misi nasional yang telah mendefinisikan Amerika sejak saat itu. Pesona dan kesediaan Lincoln untuk bekerja sama dengan musuh politik dan pribadi membuat Washington bekerja jauh lebih lancar daripada Richmond, ibu kota Konfederasi, dan kecerdasannya merapikan atau melancarkan banyak sisi kasar atau masalah. Kabinet Lincoln terbukti jauh lebih kuat dan efisien daripada kabinet Davis, karena Lincoln menyalurkan persaingan pribadi menjadi kompetisi untuk keunggulan daripada kehancuran bersama atau saling menghancurkan. Dengan William Seward di Departemen Luar Negeri, Salmon P. Chase di Departemen Keuangan, dan (dari tahun 1862) Edwin Stanton di Departemen Perang, Lincoln memiliki kabinet yang kuat dari orang-orang yang bertekad atau gigih. Kecuali untuk memantau penunjukan dan keputusan penting, Lincoln memberi mereka kebebasan untuk mengakhiri pemberontakan Konfederasi.[24]
Kongres
Kongres Republik meloloskan atau mengesahkan banyak undang-undang besar yang membentuk kembali ekonomi, sistem keuangan, sistem pajak, sistem pertanahan, dan sistem pendidikan tinggi negara. Ini termasuk: Tarif Morrill, Undang-Undang Kepemilikan Lahan, Undang-Undang Kereta Api Pasifik, dan Undang-Undang Perbankan Nasional.[1][25] Lincoln relatif sedikit memperhatikan undang-undang atau legislasi ini karena ia berfokus pada masalah perang, tetapi ia bekerja dengan lancar dengan para pemimpin kongres seperti Thaddeus Stevens (tentang perpajakan dan pengeluaran), Charles Sumner (tentang urusan luar negeri), Lyman Trumbull (tentang masalah hukum), Justin Smith Morrill (tentang hibah tanah dan tarif), dan William Pitt Fessenden (tentang keuangan).[26]

Masalah militer dan rekonstruksi adalah masalah atau hal lain. Lincoln, sebagai pemimpin faksi moderat dan konservatif dari Partai Republik, sering bersinggungan atau berselisih dengan Republik Radikal yang dipimpin oleh Stevens dan Sumner. Sejarawan Bruce Tap, menunjukkan bahwa Kongres menantang peran Lincoln sebagai panglima tertinggi melalui Komite Gabungan tentang Pelaksanaan Perang. Itu adalah komite gabungan dari kedua majelis yang didominasi oleh Partai Republik Radikal, yang mengambil garis keras terhadap Konfederasi. Selama Kongres ke-37 dan ke-38, komite menyelidiki setiap aspek operasi militer Union, dengan memberikan perhatian khusus untuk menemukan komandan yang bersalah atas kekalahan militer. Komite tersebut mengasumsikan kemenangan Union yang tak terhindarkan. Kegagalan dianggap menunjukkan motivasi jahat atau kegagalan pribadi. Komite tersebut tidak memercayai lulusan West Point, karena banyak alumni akademi tersebut adalah pemimpin tentara musuh. Anggota komite lebih menyukai jenderal politik dengan rekam jejak politik yang memuaskan. Beberapa anggota komite menyatakan bahwa lulusan West Point yang terlibat dalam manuver strategis adalah pengecut atau bahkan tidak setia. Itu akhirnya mendukung jenderal-jenderal yang tidak kompeten namun dapat diterima secara politik.[27]
Berlawanan

Oposisi datang dari Demokrat Copperhead, yang terkuat di Barat Tengah dan ingin membiarkan atau mengizinkan Konfederasi memisahkan diri. Di Timur, penentangan terhadap perang paling kuat di antara umat Kristen Katolik Irlandia, tetapi juga mencakup kepentingan bisnis yang terkait dengan Selatan atau negara-negara bagian yang memperbudak yang diwakili oleh August Belmont. Partai Demokrat sangat terbelah. Pada tahun 1861 sebagian besar Demokrat mendukung perang. Namun, partai semakin terpecah menjadi dua kubu, yaitu kaum atau kelompok moderat yang mendukung upaya perang, dan kelompok pendukung perdamaian, termasuk Copperheads, yang tidak mendukungnya. Partai Demokrat mencetak atau meraih kemenangan besar dalam pemilihan tahun 1862, dan memilih Horatio Seymour yang moderat sebagai gubernur New York. Mereka memperoleh 28 kursi di Dewan Perwakilan Rakyat, termasuk kursi Ketua Dewan Perwakilan Rakyat tetapi Partai Republik tetap memegang kendali Dewan Perwakilan Rakyat dan Senat.
Pemilihan legislatif Indiana tahun 1862 sangat sengit. Meskipun Partai Demokrat menguasai legislatif, mereka tidak mampu menghalangi upaya perang. Gubernur Republik Oliver P. Morton mampu mempertahankan kendali atas kontribusi negara bagian terhadap upaya perang meskipun mayoritas Demokrat berkuasa.[1][28] Washington sangat membantu pada tahun 1864 dalam mengatur cuti untuk memungkinkan tentara Hoosier kembali ke rumah sehingga mereka dapat memilih atau memberikan suara dalam pemilihan.[1][29] Di seluruh Utara pada tahun 1864, sebagian besar tentara memilih Partai Republik atau Partai Persatuan Nasional. Orang-orang yang sebelumnya Demokrat sebelum perang sering abstain atau memilih Partai Republik.[30]
Ketika rancangan undang-undang wajib militer federal diperketat, terjadi keresahan serius di antara basis-basis Copperhead, seperti orang Irlandia di distrik pertambangan batu bara Pennsylvania. Pemerintah lebih membutuhkan batu bara daripada wajib militer, sehingga pemerintah mengabaikan penghindaran wajib militer yang sebagian besar tidak disertai kekerasan di sana.[1][1][31][32] Kerusuhan Draf Kota New York yang disertai kekerasan pada tahun 1863 dipadamkan atau diredam oleh Angkatan Darat A.S. yang menembakkan peluru di jalan-jalan kota berbatu.[33][34]
Partai Demokrat menominasikan atau mencalonkan George McClellan, seorang Demokrat Perang untuk pemilihan presiden tahun 1864 tetapi memaksakan platform anti-perang kepadanya. Dalam hal Kongres, oposisi terhadap perang hampir tidak berdaya—seperti yang terjadi di sebagian besar negara bagian. Di Indiana dan Illinois para gubernur yang pro-perang menghindari badan legislatif anti-perang yang dipilih pada tahun 1862. Selama 30 tahun setelah perang, Partai Demokrat memikul beban karena telah menentang Lincoln yang menjadi martir, yang dipandang oleh banyak orang sebagai penyelamat Union dan penghancur perbudakan.[35]
Copperheads
Copperheads adalah faksi besar Demokrat Utara yang menentang perang, menuntut penyelesaian damai segera. Mereka mengatakan mereka ingin memulihkan "Union seperti semula," yaitu dengan Selatan dan dengan perbudakan tetapi mereka menyadari bahwa Konfederasi tidak akan pernah secara sukarela bergabung kembali dengan A.S.[1][36] Copperhead yang paling menonjol adalah Clement L. Vallandigham dari Ohio, seorang anggota kongres dan pemimpin Partai Demokrat di Ohio. Dia dikalahkan dalam pemilihan gubernur yang intens pada tahun 1863. Jaksa Republik di Barat Tengah menuduh beberapa aktivis Copperhead melakukan pengkhianatan dalam serangkaian persidangan pada tahun 1864.[37]
Copperheadisme adalah gerakan akar rumput, yang terkuat di daerah tepat di utara Sungai Ohio, serta di beberapa lingkungan etnis perkotaan. Beberapa sejarawan berpendapat bahwa gerakan ini mewakili elemen tradisionalis yang khawatir dengan modernisasi masyarakat yang cepat yang disponsori oleh Partai Republik. Gerakan ini mengambil inspirasi dari Demokrasi Jacksonian—dengan cita-cita yang mempromosikan konsep masyarakat agraris daripada industrialis. Weber (2006) berpendapat bahwa Copperheads merusak upaya perang Union dengan melawan wajib militer, mendorong desersi atau pembelotan dan membentuk konspirasi.[1][38] Namun, sejarawan lain mengatakan bahwa Copperheads adalah kekuatan oposisi yang sah yang diperlakukan tidak adil oleh pemerintah, menambahkan bahwa wajib militer telah tercela atau jelek dan bahwa Partai Republik sangat membesar-besarkan atau melebih-lebihkan konspirasi untuk alasan partisan.[1][39] Copperheadisme merupakan isu utama dalam pemilihan presiden tahun 1864—kekuatannya meningkat ketika pasukan Union berkinerja buruk dan melemah ketika mereka memenangkan atau meraih kemenangan besar. Setelah jatuhnya Atlanta pada bulan September 1864, keberhasilan militer tampak meyakinkan atau terjamin dan Copperheadisme runtuh.[36]
Prajurit
Merekrut relawan

Para pemuda yang antusias berbondong-bondong untuk bergabung dengan Angkatan Darat Union pada tahun 1861. Mereka datang dengan dukungan keluarga karena alasan patriotisme dan semangat. Washington memutuskan untuk mempertahankan angkatan darat reguler yang kecil; angkatan darat itu hanya memiliki 16.000 orang dan dibutuhkan untuk menjaga perbatasan. Namun, para perwiranya dapat bergabung dengan angkatan darat sukarelawan baru yang dibentuk sementara, dengan harapan bahwa pengalaman mereka akan mengarah pada promosi yang cepat. Namun, masalah dengan kesukarelawanan adalah kurangnya perencanaan, kepemimpinan, dan organisasi yang serius di tingkat tertinggi. Washington meminta bantuan negara bagian untuk mengirimkan pasukan, dan setiap gubernur Utara atau negara bagian bebas mulai mengumpulkan dan memperlengkapi resimen, dan mengirim tagihan ke Departemen Perang. Para prajurit dapat memilih perwira junior, sementara gubernur mengangkat atau menunjuk perwira senior, dan Lincoln menunjuk para jenderal. Biasanya, para politisi menggunakan organisasi lokal mereka untuk meningkatkan atau mengumpulkan pasukan dan berhak (jika cukup sehat) untuk menjadi kolonel. Masalahnya adalah Departemen Perang, di bawah kepemimpinan Simon Cameron yang tidak terorganisir, juga mengizinkan kepada kelompok-kelompok lokal dan swasta untuk mengumpulkan resimen. Hasilnya adalah kebingungan dan penundaan yang meluas.
Pennsylvania, misalnya, memiliki atau mengalami masalah akut. Ketika Washington memanggil 10 resimen lagi, cukup banyak orang yang mengajukan diri atau sukarela untuk membentuk 30 resimen. Namun, mereka tersebar di antara 70 unit baru yang berbeda, tidak ada satu pun dari mereka merupakan resimen yang lengkap. Masalah ini baru terselesaikan setelah Washington menyetujui kendali gubernur atas semua unit baru. Allan Nevins sangat pedas dalam analisisnya: "Seorang Presiden yang lebih tepat, sistematis, dan waspada daripada Lincoln, seorang Sekretaris yang lebih waspada dan berpikiran jernih daripada Cameron, akan mencegah kesulitan-kesulitan ini."[40]

Pada akhir tahun 1861, 700.000 tentara berlatih di kamp-kamp Union. Gelombang pertama di musim semi dipanggil hanya untuk 90 hari, kemudian para tentara pulang atau mendaftar kembali. Gelombang selanjutnya mendaftar untuk tiga tahun.
Para rekrutan baru menghabiskan waktu mereka untuk berlatih dalam formasi kompi dan resimen. Pertempuran di tahun pertama, meskipun penting secara strategis, melibatkan pasukan yang relatif kecil dan sedikit korban. Penyakit merupakan penyebab rawat inap atau kematian yang jauh lebih serius.
Pada beberapa bulan pertama, para prajurit mengenakan seragam berkualitas rendah yang terbuat dari bahan "buruk" atau "murahan", tetapi pada musim gugur, seragam wol yang kokoh—berwarna biru—menjadi standar. Pabrik-pabrik di negara itu diubah untuk memproduksi senapan, meriam, gerobak, tenda, perangkat telegraf, dan berbagai barang khusus lainnya yang dibutuhkan tentara.
Meskipun bisnis lesu atau menurun pada musim semi tahun 1861 karena ketakutan atau kekhawatiran perang dan boikot Selatan atau Konfederasi, pada musim gugur bisnis kembali membuka lowongan pekerjaan, menawarkan pekerjaan kepada kaum muda sebagai alternatif untuk membantu memenangkan perang. Sikap netralitas menjadi aturan pada tahun pertama, tetapi pada musim panas tahun 1862, banyak Demokrat telah berhenti mendukung upaya perang, dan kegiatan sukarela menurun tajam di daerah basis mereka.
Permintaan akan lebih banyak tentara terus berlanjut, sehingga negara bagian dan daerah menanggapi dengan menawarkan bonus uang tunai. Pada tahun 1863, undang-undang wajib militer diberlakukan, tetapi hanya sedikit orang atau pria yang benar-benar direkrut dan bertugas, karena undang-undang tersebut dirancang untuk membuat mereka menjadi sukarelawan atau menyewa pengganti. Yang lain bersembunyi atau meninggalkan negara. Dengan berlakunya Proklamasi Emansipasi pada Januari 1863, daerah dapat memenuhi kuota wajib militer mereka dengan mensponsori resimen mantan budak yang diorganisir di Selatan atau Konfederasi.[41]

Michigan sangat bersemangat untuk mengirim ribuan sukarelawan.[1][42] Sebuah studi tentang Kota Grand Rapids dan Kota Niles menunjukkan gelombang atau lonjakan nasionalisme yang luar biasa pada tahun 1861, yang membangkitkan antusiasme untuk perang di semua segmen masyarakat, dan semua kelompok politik, agama, etnis, dan pekerjaan. Namun, pada tahun 1862 korban semakin banyak, dan perang semakin difokuskan pada pembebasan para budak di samping mempertahankan Union. Demokrat Copperhead menyebut perang itu sebagai kegagalan, dan perang tersebut menjadi upaya Republik yang semakin partisan.[1][43] Pemilih Michigan tetap terbagi rata di antara partai-partai dalam pemilihan presiden tahun 1864.[44]
Motivasi para tentara
Michael Perman (2010) mengatakan bahwa para sejarawan memiliki dua pemikiran atau pendapat mengenai mengapa jutaan orang atau pria tampak begitu bersemangat untuk berjuang atau bertempur, menderita, dan mati selama empat tahun:
Beberapa sejarawan menekankan bahwa tentara Perang Saudara didorong oleh ideologi politik, memegang teguh keyakinan tentang pentingnya kebebasan, Union, atau hak-hak negara bagian, atau tentang perlunya melindungi atau menghancurkan perbudakan. Yang lain menunjukkan alasan yang kurang terang-terangan bersifat politis untuk berperang, seperti membela rumah dan keluarga, atau kehormatan dan persaudaraan yang harus dipertahankan atau dijaga ketika berperang bersama pria atau orang lain. Sebagian besar sejarawan setuju atau sepakat bahwa, apapun yang dipikirkannya ketika ia memasuki perang, pengalaman pertempuran sangat memengaruhinya dan terkadang memengaruhi alasan-alasannya untuk terus bertarung atau berperang.[45]
Perang birokrasi
Secara keseluruhan, pemerintah nasional, negara bagian, dan lokal menangani tumpukan dokumen secara efektif. Keterampilan yang dikembangkan di perusahaan asuransi dan keuangan membentuk dasar dari bentuk sistematis atau formulir, salinan, ringkasan, dan sistem pengarsipan sistematis yang digunakan untuk memahami sejumlah besar data manusia. Tokoh terkemuka dalam upaya ini, John Shaw Billings, kemudian mengembangkan sistem penyimpanan, penyortiran, dan penghitungan informasi numerik secara mekanis menggunakan kartu tebuk. Meskipun demikian, metodologi kuno harus diakui dan diatasi. Sebuah studi kasus ilustratif datang atau terjadi di New Hampshire, di mana jabatan penting ajudan jenderal negara bagian dipegang pada tahun 1861–64 oleh politisi senior Anthony C. Colby (1792–1873) dan putranya Daniel E. Colby (1816–1891). Mereka patriotik, tetapi kewalahan dengan kompleksitas tugas mereka. Negara bagian kehilangan jejak orang-orang yang mendaftar setelah tahun 1861; negara bagian tidak memiliki catatan personel atau informasi tentang sukarelawan, pengganti, atau wajib militer, dan tidak ada inventaris persenjataan dan persediaan. Nathaniel Head (1828–1883) mengambil alih pada tahun 1864, memperoleh anggaran dan staf kantor yang memadai, dan merekonstruksi dokumen yang hilang. Hasilnya, para janda, anak yatim piatu, dan veteran cacat atau penyandang disabilitas menerima pembayaran pascaperang yang telah mereka peroleh.[46]
Kondisi medis

Lebih banyak tentara yang meninggal karena penyakit daripada karena cedera atau luka pertempuran, dan jumlah yang lebih besar lagi mengalami cacat sementara akibat luka, penyakit, dan kecelakaan. Union menanggapi hal ini dengan membangun rumah sakit militer di setiap negara bagian.
Kebersihan kamp-kamp itu sangat buruk, terutama pada awal perang ketika orang-orang yang jarang jauh dari rumah dibawa bersama atau dikumpulkan untuk pelatihan dengan ribuan orang asing. Pertama-tama muncul epidemi penyakit masa kanak-kanak seperti cacar air, gondongan, batuk rejan, dan terutama, campak. Operasi di Selatan atau Konfederasi berarti lingkungan penyakit baru yang berbahaya, yang membawa diare, disentri, demam tifoid, dan malaria. Tidak ada antibiotik, jadi para ahli bedah meresepkan kopi, wiski, dan kina. Cuaca buruk, air yang buruk, tempat berlindung yang tidak memadai di barak musim dingin, dan pengawasan kamp yang buruk, dan rumah sakit kamp yang kotor menimbulkan korban jiwa.[1][47] Ini adalah skenario umum dalam perang sejak zaman dahulu kala, dan kondisi yang dihadapi Angkatan Darat Konfederasi bahkan lebih buruk. Apa yang berbeda di Union adalah munculnya penyelenggara medis yang terampil dan didanai dengan baik yang mengambil tindakan proaktif, terutama di Departemen Medis Angkatan Darat Amerika Serikat yang jauh lebih besar,[1][48] dan Komisi Sanitasi Amerika Serikat, sebuah badan swasta baru.[1][49] Banyak badan baru lainnya juga menargetkan kebutuhan medis dan moral tentara, termasuk Komisi Kristen Amerika Serikat, serta badan-badan swasta yang lebih kecil, seperti Asosiasi Pusat Wanita untuk bantuan bagi Orang Sakit dan Terluka di Angkatan Darat (WCAR), yang didirikan pada tahun 1861 oleh Henry Whitney Bellows, seorang pendeta Protestanisme Unitarian, dan reformis sosial Dorothea Dix. Permohonan pendanaan sistematis meningkatkan kesadaran publik serta jutaan dolar. Ribuan sukarelawan bekerja di rumah sakit dan panti jompo, yang paling terkenal adalah penyair Walt Whitman. Frederick Law Olmsted, seorang arsitek lanskap terkenal, adalah direktur eksekutif Komisi Sanitasi yang sangat efisien.[50]
Negara bagian dapat menggunakan uang pajak mereka sendiri untuk mendukung pasukan mereka, seperti yang dilakukan Ohio. Di bawah kepemimpinan Gubernur David Tod yang energik, seorang Demokrat Perang yang memenangkan jabatan dengan tiket koalisi "Partai Persatuan" dengan Partai Republik, Ohio bertindak dengan penuh semangat atau giat. Setelah pembantaian yang tak terduga di Pertempuran Shiloh pada bulan April 1862, Ohio mengirim tiga kapal uap ke tempat kejadian sebagai rumah sakit terapung yang dilengkapi dengan dokter, perawat, dan perlengkapan medis. Armada negara bagian diperluas menjadi 11 kapal rumah sakit, dan negara bagian mendirikan 12 kantor lokal di simpul transportasi utama, untuk membantu tentara Ohio yang bergerak bolak-balik.[51]
Komisi Kristen terdiri dari 6.000 relawan yang membantu para pendeta dalam banyak hal.[1][52] Misalnya, agen-agennya mendistribusikan atau membagikan Alkitab, menyampaikan khotbah, membantu mengirim surat ke rumah, mengajar orang atau para pria membaca dan menulis, dan mendirikan perpustakaan kamp.[53]
Angkatan Darat mempelajari banyak pelajaran dan memodernisasi prosedurnya,[1][54] dan ilmu kedokteran—khususnya bedah—membuat banyak kemajuan.[1][55] Dalam jangka panjang, pengalaman masa perang dari berbagai komisi Union memodernisasi kesejahteraan publik, dan menyiapkan panggung bagi filantropi komunitas skala besar di Amerika berdasarkan kampanye penggalangan dana dan sumbangan pribadi.[56]
Selain itu, perempuan memperoleh peran publik baru. Misalnya, Mary Livermore (1820–1905), manajer cabang Chicago dari Komisi Sanitasi AS, menggunakan keterampilan organisasi yang baru diperolehnya untuk memobilisasi dukungan bagi hak suara perempuan setelah perang. Ia berpendapat bahwa perempuan membutuhkan lebih banyak pendidikan dan kesempatan kerja untuk membantu mereka memenuhi peran mereka dalam melayani orang lain.[57]
Komisi Sanitasi mengumpulkan sejumlah besar data statistik, dan membuka permasalahan penyimpanan informasi untuk akses cepat dan pencarian pola data secara mekanis.[1][58] Pelopornya adalah John Shaw Billings (1838–1913). Seorang ahli bedah senior dalam perang, Billings membangun dua perpustakaan paling penting di dunia, Perpustakaan Kantor Ahli Bedah Umum (sekarang Perpustakaan Kedokteran Nasional) dan Perpustakaan Umum New York ; Ia juga menemukan cara untuk menganalisis data secara mekanis dengan mengubahnya menjadi angka dan melubanginya pada kartu tebuk komputer, yang kemudian dikembangkan oleh muridnya Herman Hollerith. Perusahaan Hollerith menjadi International Business Machines (IBM) pada tahun 1911.[59]
Tawanan perang
Kedua belah pihak mengoperasikan kamp penjara; mereka menangani sekitar 400.000 tawanan, tetapi banyak tahanan lain dengan cepat dibebaskan dan tidak pernah dikirim ke kamp. Kantor Catatan dan Pensiun pada tahun 1901 menghitung atau mencatat 211.000 orang Utara atau tentara Amerika Serikat yang ditangkap. Pada tahun 1861-1863 sebagian besar langsung dibebaskan bersyarat; setelah sistem pertukaran pembebasan bersyarat gagal pada tahun 1863, sekitar 195.000 dikirim ke kamp-kamp penjara Konfederasi. Beberapa mencoba melarikan diri tetapi hanya sedikit yang berhasil. Sebaliknya, 464.000 tentara Konfederasi ditangkap (banyak di hari-hari terakhir) dan 215.000 dipenjara. Lebih dari 30.000 tahanan Union dan hampir 26.000 tahanan Konfederasi meninggal dalam penahanan. Hanya sedikit lebih dari 12% tawanan di penjara Utara atau Amerika Serikat meninggal, dibandingkan dengan 15,5% untuk penjara Selatan atau Konfederasi.[60][61]
Kerusuhan wajib militer

Ketidakpuasan terhadap Undang-Undang Wajib Militer tahun 1863 menyebabkan kerusuhan di beberapa kota dan juga di daerah pedesaan. Sejauh ini yang paling penting adalah Kerusuhan Draf Kota New York pada tanggal 13 Juli hingga 16 Juli 1863.[1][62] Kaum Kristen Katolik Irlandia dan pekerja lainnya melawan polisi, milisi, dan unit tentara reguler hingga Angkatan Darat menggunakan artileri untuk menyapu atau membersihkan jalanan. Awalnya berfokus pada wajib militer, protes dengan cepat meluas menjadi serangan kekerasan terhadap orang kulit hitam di Kota New York, dengan banyak yang tewas di jalanan.[63]
Kerusuhan skala kecil pecah di distrik-distrik etnis Jerman dan Irlandia, dan di daerah-daerah sepanjang Sungai Ohio dengan banyak Copperhead. Kabupaten Holmes, Ohio adalah daerah parokial terpencil yang didominasi oleh orang Jerman Pennsylvania dan beberapa imigran Jerman baru. Daerah ini merupakan benteng Demokrat dan hanya sedikit orang atau pria yang berani berbicara mendukung wajib militer. Politisi lokal mencela Lincoln dan Kongres sebagai despotik, melihat undang-undang wajib militer sebagai pelanggaran otonomi lokal mereka. Pada bulan Juni 1863, kerusuhan skala kecil terjadi; kerusuhan tersebut berakhir ketika Angkatan Darat mengirimkan unit bersenjata.[64][65][66]
Ekonomi
Perekonomian Union tumbuh dan berkembang selama perang sambil menerjunkan atau mengerahkan angkatan darat dan angkatan laut yang sangat besar.[1][67] Partai Republik di Washington memiliki visi Whig tentang negara industri, dengan kota-kota besar, pabrik-pabrik yang efisien, pertanian yang produktif, semua bank nasional, semuanya terhubung oleh sistem kereta api modern, yang akan dimobilisasi oleh Kereta Api Militer Amerika Serikat. Selatan atau negara-negara bagian yang memperbudak telah menolak kebijakan seperti tarif untuk mempromosikan industri dan undang-undang kepemilikan tanah untuk mempromosikan pertanian karena perbudakan tidak akan menguntungkan atau mendapatkan manfaat. Dengan absennya Selatan atau perwakilan negara bagian yang memperbudak dan lemahnya Demokrat Utara, Partai Republik memberlakukan undang-undang mereka. Pada saat yang sama mereka memberlakukan pajak baru untuk membayar sebagian biaya perang dan menerbitkan sejumlah besar obligasi untuk membayar sebagian besar sisanya. Sejarawan ekonomi mengaitkan sisa biaya perang dengan inflasi. Kongres menulis program modernisasi ekonomi yang rumit yang memiliki tujuan ganda yaitu memenangkan perang dan secara permanen mengubah ekonomi.[1][68] Untuk daftar industrialis besar, lihat.
Membiayai perang
Pada tahun 1860, Departemen Keuangan merupakan operasi kecil yang mengelola atau mendanai operasi skala kecil pemerintah melalui penjualan tanah dan bea cukai berdasarkan tarif rendah.[1][69] Pendapatan masa damai tidak seberapa dibandingkan dengan biaya perang skala penuh tetapi Departemen Keuangan di bawah Menteri Keuangan yang baru, Salmon P. Chase, menunjukkan kecerdikan yang tidak biasa dalam menghadapi tantangan untuk membiayai perang tanpa melumpuhkan ekonomi.[1][70] Banyak pajak baru yang dikenakan dan selalu dengan tema patriotik membandingkan pengorbanan finansial dengan pengorbanan hidup dan anggota tubuh. Keberhasilannya berarti bahwa pemerintah dapat membayar pemasoknya dengan uang sungguhan dan mata uang yang mudah diperdagangkan, yang mendorong orang untuk menjual kepada pemerintah terlepas dari politik mereka. Sebaliknya, mata uang Konfederasi mengalami inflasi yang sangat buruk sehingga pada Februari 1864, satu dolar Konfederasi hanya bernilai empat sen emas.[71] Konfederasi memberikan surat promes kertas ketika menyita properti, sehingga banyak warga atau Konfederasi yang setia pun menyembunyikan kuda dan bagal atau keledai mereka daripada menukarkannya dengan uang kertas yang nilainya diragukan.[butuh rujukan] Secara keseluruhan, sistem keuangan Utara atau Union sangat berhasil mengumpulkan uang, mengubah patriotisme menjadi keuntungan, dan mendukung upaya perangnya, sementara sistem Konfederasi memiskinkan warganya atau patriotnya.[72]
Amerika Serikat membutuhkan atau menghabiskan $3,1 miliar untuk membayar tentara dan armada besar yang dikumpulkan untuk berperang dalam Perang Saudara—lebih dari $400 juta hanya pada tahun 1862 saja.[1][73] Selain tarif, sumber pendapatan terbesar sejauh ini berasal dari pajak cukai baru—semacam pajak pertambahan nilai—yang dikenakan pada setiap jenis barang manufaktur. Pajak atas minuman keras berkadar alkohol 100 proof, misalnya, adalah 20 sen per galon. Ini hampir sama dengan biaya produksi, sehingga menghasilkan tarif pajak 100%.[74] Setelah itu, muncullah tarif yang jauh lebih tinggi, yang dinaikkan pada hari-hari terakhir pemerintahan Buchanan dan dua kali lagi selama perang. Tarif ini dikenal sebagai tarif Morrill sesuai nama sponsornya. Selanjutnya muncullah pajak penghasilan pertama bangsa; hanya orang kaya yang membayar dan ditetapkan selama perang dan itu dicabut pada akhir perang.[butuh rujukan]

Selain pajak, sumber pendapatan utama kedua adalah obligasi pemerintah karena pendanaan perang juga membutuhkan penjualan obligasi pemerintah. Untuk pertama kalinya, obligasi dalam denominasi kecil dijual langsung kepada masyarakat atau publik, dengan publisitas dan patriotisme sebagai faktor kunci, seperti yang dirancang oleh bankir Jay Cooke. Uang kertas sebelum perang terdiri dari uang kertas bank. Bank-bank negara kehilangan kekuasaan untuk menerbitkan uang kertas. Hak untuk menerbitkan uang kertas ini dicabut dari bank-bank yang didirikan berdasarkan undang-undang negara dan hanya diberikan kepada bank-bank nasional yang baru didirikan. Hanya bank nasional yang bisa melakukan itu dan Chase membuatnya mudah untuk menjadi bank nasional; itu melibatkan pembelian dan penahanan obligasi federal dan pemodal bergegas untuk membuka bank-bank ini. Piagam bank baru diberi nomor di setiap kota, Chase memberi nomor pada mereka, sehingga kelompok perbankan yang mendapatkan piagam pertama di setiap kota dengan bangga menyebut diri mereka "First National Bank",[1] sedangkan yang lain harus mengadopsi nama yang lebih biasa, seperti Crocker Bank atau bahkan Fifth Third Bank.[75] Ketiga, pemerintah juga mencetak uang kertas untuk bersaing dengan uang kertas. Sementara uang kertas umumnya dicetak hanya di satu sisi, uang kertas pemerintah yang baru dicetak di bagian belakang dengan tinta hijau dan kemudian disebut "greenbacks" atau "uang kertas hijau".[76] Mereka menyebabkan kontroversi tak berujung karena mereka menyebabkan inflasi.
Tindakan perang yang paling penting di Utara mungkin adalah penciptaan atau pembentukan sistem bank nasional yang menyediakan mata uang yang baik atau stabil untuk ekspansi industri masa perang. Lebih penting lagi, ratusan bank nasional baru yang diizinkan buka diharuskan atau diwajibkan membeli obligasi pemerintah untuk membentuk bagian dari cadangan mereka. Dengan demikian, negara tersebut memonetisasi kekayaan potensial yang diwakili oleh pertanian, bangunan perkotaan, pabrik, dan bisnis, dan segera menyerahkan uang itu ke Departemen Keuangan untuk membantu pembiayaan perang.[77]
Tarif
Sekretaris Chase, meskipun merupakan pendukung perdagangan bebas sejak lama, bekerja sama dengan Morrill untuk meloloskan RUU tarif kedua pada musim panas tahun 1861, menaikkan tarif sebesar 10 poin lagi untuk menghasilkan lebih banyak pendapatan.[78] RUU-RUU selanjutnya ini terutama didorong oleh pendapatan untuk memenuhi kebutuhan perang, meskipun mereka mendapat dukungan dari para proteksionis seperti Carey, yang sekali lagi membantu Morrill dalam penyusunan RUU tersebut. Tarif Morrill tahun 1861 dirancang untuk meningkatkan pendapatan. Undang-undang tarif tahun 1862 tidak hanya berfungsi untuk meningkatkan pendapatan tetapi juga untuk mendorong pendirian pabrik-pabrik yang bebas dari persaingan Britania dengan mengenakan pajak pada impor Britania. Lebih jauh lagi, undang-undang ini melindungi pekerja pabrik Amerika dari pekerja Eropa yang dibayar atau bergaji rendah, dan sebagai bonus utama menarik puluhan ribu orang Eropa itu untuk berimigrasi ke Amerika untuk pekerjaan pabrik dan pengrajin dengan upah tinggi.[79]
Pendapatan bea cukai dari tarif mencapai $345 juta dari tahun 1861 sampai 1865 atau 43% dari semua pendapatan pajak federal. Konfederasi kehilangan sumber pendapatan ini karena blokade Union.
Hibah tanah
Pemerintah A.S. memiliki sejumlah besar tanah atau lahan subur yang baik atau luas (sebagian besar dari Pembelian Louisiana tahun 1803 dan Perjanjian Oregon dengan Britania tahun 1846). Tantangannya adalah menjadikan tanah itu atau membuat lahan tersebut berguna atau bermanfaat bagi orang-orang atau masyarakat dan menyediakan basis ekonomi untuk kekayaan yang akan melunasi hutang perang. Hibah tanah diberikan kepada perusahaan konstruksi kereta api untuk membuka dataran barat dan menghubungkannya ke California. Bersama dengan tanah atau lahan gratis yang diberikan kepada petani oleh Hukum Kepemilikan Lahan, tanah atau lahan pertanian murah atau berbiaya rendah yang disediakan oleh hibah tanah mempercepat perluasan pertanian komersial di Barat.
Undang-Undang Homestead tahun 1862 membuka tanah atau lahan domain publik secara gratis. Hibah tanah kepada perusahaan kereta api memungkinkan mereka bisa menjual lahan untuk pertanian keluarga (80 hingga 200 hektar) dengan harga rendah dan kredit diperpanjang. Selain itu, pemerintah mensponsori informasi segar atau baru, metode ilmiah, dan teknik terbaru melalui Departemen Pertanian yang baru dibentuk atau didirikan dan Undang-Undang Perguruan Tinggi Hibah Tanah Morrill.[80][81]
Pertanian
Pertanian merupakan industri tunggal terbesar dan makmur atau berkembang pesat selama perang.[1][1][82][83] Harga-harga tinggi, didorong oleh permintaan yang kuat dari angkatan darat dan dari Britania (yang bergantung pada gandum Amerika untuk seperempat dari impor makanannya). Perang bertindak sebagai katalis yang mendorong adopsi yang cepat dari mesin yang ditarik kuda dan peralatan atau alat-alat lainnya. Penyebaran cepat penemuan-penemuan baru-baru ini seperti mesin penuai atau mesin permanen dan mesin pemotong rumput membuat tenaga kerja menjadi efisien, bahkan ketika ratusan ribu petani berada di angkatan darat. Banyak istri menggantikan mereka dan sering berkonsultasi melalui surat tentang apa yang harus dilakukan; semakin mereka mengandalkan atau bergantung pada komunitas dan kerabat jauh untuk nasihat dan bantuan.[84]
Sang Union menggunakan ratusan ribu hewan. Angkatan Darat memiliki banyak uang untuk membelinya dari petani dan peternak, tetapi terutama di bulan-bulan awal kualitasnya beragam.[1][85] Kuda dibutuhkan untuk kavaleri dan artileri.[1][86] Bagal atau keledai menarik gerobak atau gerbong. Pasokan tetap bertahan atau terjaga, meskipun ada epidemi kelenjar atau sakit ingus atau glanders yang belum pernah terjadi sebelumnya, penyakit fatal atau mematikan yang membingungkan para dokter hewan.[1][87] Di Selatan, Angkatan Darat Union menembak semua kuda yang tidak diperlukan untuk menjauhkan mereka dari tangan Konfederasi.
Perdagangan kapas
Departemen Keuangan mulai membeli kapas selama perang, untuk pengiriman ke Eropa dan pabrik-pabrik di Utara. Para penjualnya adalah para pemilik perkebunan di Selatan yang membutuhkan uang tunai, terlepas dari patriotisme mereka. Dari kapas yang diselundupkan melalui blokade dan dijual di pelabuhan-pelabuhan di Meksiko, Bermuda, dan Bahama, sebanyak setengahnya dibeli oleh orang-orang Utara dan dikirim ke Boston, Philadelphia, dan New York.[88] Para pembeli Utara bisa mendapat untung besar dan para pembeli kapas yang mengikuti pasukan dan membeli kapas Selatan untuk dikirim melalui jalur darat membuat marah para komandan dan yang mengganggu tentara seperti Ulysses Grant. Dia menyalahkan para pedagang Yahudi dan mengusir mereka dari garis pasukannya pada tahun 1862, tetapi Lincoln dengan cepat menolak pertunjukan atau membatalkan tindakan antisemitisme ini. Para kritikus mengatakan perdagangan kapas membantu Selatan, memperpanjang perang, dan mendorong korupsi. Lincoln memutuskan untuk melanjutkan perdagangan tersebut karena takut Britania akan campur tangan jika produsen tekstilnya menolak bahan mentah atau kekurangan bahan baku. Tujuan lainnya adalah untuk mendorong semangat Unionisme yang terpendam di negara bagian-negara bagian perbatasan Selatan. Produsen tekstil Utara membutuhkan kapas untuk tetap berbisnis dan membuat seragam, sementara ekspor kapas ke Eropa menyediakan sumber emas yang penting untuk membiayai perang.[89]
Para pemimpin industri dan bisnis serta penemu militer
- Matthias W. Baldwin
- Benjamin Bates IV
- John Jacob Bausch
- Andrew Carnegie
- Gardner Colby
- Samuel Colt
- Jay Cooke
- George Henry Corliss
- William Wesley Cornell
- Erastus Corning
- John Crerar (industrialis)
- Charles I. du Pont
- James Buchanan Eads
- John Ericsson
- William P. Halliday
- Benjamin Tyler Henry
- Gouverneur Kemble
- Benjamin Knight
- Robert Knight (industrialis)
- Benedict Lapham
- David Leavitt (bankir)
- John Lenthall (pembuat kapal)
- Henry Lomb
- William Mason (pembuat lokomotif)
- William Metcalf (produsen)
- Samuel Morse
- Asa Packer
- Robert Parker Parrott
- Daniel Pratt (industrialis)
- George Pullman
- Christian Sharps
- David Sinton
- Horace Smith (penemu)
- Christopher Miner Spencer
- George Luther Stearns
- Henry J. Steere
- Ezekiel A. Straw
- John Edgar Thomson
- Cornelius Vanderbilt
- Ezra Warner (penemu)
- Daniel B. Wesson
- Rollin White
- Amos Whitney
- Oliver Winchester
- John F. Winslow
- George Worthington (pengusaha)
Masyarakat
Agama
Agama Kekristenan, terutama Kristen Protestan cukup kuat di Utara atau Union pada tahun 1860-an. Komisi Kristen Amerika Serikat mengirim agen ke kamp-kamp Angkatan Darat untuk memberikan dukungan psikologis serta buku, surat kabar, makanan dan pakaian. Melalui doa, khotbah, dan operasi kesejahteraan, agen-agen tersebut melayani kebutuhan rohani atau spiritual dan jasmani atau duniawi para prajurit saat mereka berusaha membawa prajurit atau orang-orang itu kepada cara hidup Kristen.[1][52] Sebagian besar gereja berusaha untuk mendukung prajurit mereka di medan perang dan terutama keluarga mereka di rumah. Sebagian besar retorika politik pada zaman atau era tersebut memiliki nada religius yang khas.[90]
Para pendeta Kristen Protestan di Amerika mengambil berbagai posisi. Secara umum, denominasi pietistik seperti Protestanisme Metodis, Protestanisme Baptis Utara, dan Protestanisme Kongregasionalis sangat mendukung upaya perang. Kristen Katolik, Protestanisme Episkopal, Protestanisme Lutheran, dan Protestanisme Presbiterian konservatif umumnya menghindari diskusi apa pun tentang perang, sehingga tidak akan memecah-belah keanggotaan mereka secara pahit. Protestanisme Quaker, meskipun memberikan dukungan kuat kepada gerakan abolisionis secara pribadi, menolak untuk mengambil posisi denominasional. Beberapa pendeta yang mendukung Konfederasi dikecam sebagai Copperheads, terutama di daerah perbatasan.[91][92]
Protestanisme Metodis
Banyak orang Utara baru saja menjadi religius (setelah Gerakan Kebangunan Rohani Kedua) dan agama merupakan kekuatan yang kuat atau berpengaruh dalam hidup mereka. Tidak ada denominasi yang lebih aktif dalam mendukung Union daripada Gereja Metodis Episkopal. Carwardine[1][93] berpendapat bahwa bagi banyak penganut Protestanisme Metodis, kemenangan Lincoln pada tahun 1860 menandai kedatangan kerajaan Allah di Amerika. Mereka tergerak untuk bertindak oleh visi kebebasan bagi para budak, kebebasan dari penganiayaan kaum abolisionis yang saleh, pembebasan dari cengkeraman jahat Kekuatan Perbudakan pada pemerintah Amerika dan janji arah baru bagi Union.[1][93] Penganut Protestanisme Metodis membentuk elemen utama dukungan populer bagi Republik Radikal dengan garis keras mereka terhadap orang kulit putih (kaukasia) Selatan. Penganut Protestanisme Metodis yang berbeda pendapat meninggalkan gereja.[1][94] Selama Rekonstruksi, penganut Protestanisme Metodis memimpin dalam membantu membentuk gereja-gereja Protestanisme Metodis untuk orang bebas dan pindah ke kota-kota Selatan bahkan sampai pada titik mengambil alih, dengan bantuan Angkatan Darat, bangunan-bangunan yang sebelumnya milik cabang selatan gereja.[95][96]
Majalah keluarga Protestanisme Metodis Ladies' Repository mempromosikan aktivisme keluarga Kristen. Artikel-artikelnya memberikan peningkatan atau pencerahan moral kepada perempuan dan anak-anak. Majalah ini menggambarkan Perang sebagai perang salib moral yang besar melawan peradaban Selatan yang dekaden yang dirusak oleh perbudakan. Majalah ini merekomendasikan kegiatan yang dapat dilakukan anggota keluarga untuk membantu perjuangan Union.[97]
Keluarga
Sejarawan Stephen M. Frank melaporkan bahwa makna menjadi seorang ayah bervariasi menurut status dan usia. Dia mengatakan bahwa sebagian besar pria menunjukkan komitmen ganda sebagai penyedia nafkah dan pengasuh, dan percaya bahwa suami dan istri memiliki kewajiban bersama atau timbal balik terhadap anak-anak mereka. Perang mengistimewakan atau mengutamakan maskulinitas, mendramatisir, dan melebih-lebihkan ikatan ayah-anak. Terutama pada lima tahap kritis dalam karier seorang prajurit (pendaftaran, pelatihan, pemberhentian, luka, dan kematian), surat-surat dari ayah yang tidak hadir mengartikulasikan seperangkat atau serangkaian cita-cita kejantanan atau maskulinitas abad ke-19 yang khas.[98]
Anak-anak
Terdapat banyak majalah anak-anak, seperti Merry's Museum, The Student and Schoolmate, Our Young Folks, The Little Pilgrim, Forrester's Playmate, dan The Little Corporal. Majalah-majalah ini menampilkan nuansa keagamaan Kristen Protestan dan "mempromosikan prinsip-prinsip kerja keras, kepatuhan atau ketaatan, kemurahan hati, kerendahan hati, dan kesalehan; menggembar-gemborkan manfaat kekompakan keluarga; dan menyediakan cerita petualangan ringan, hiburan yang polos, dan pengajaran".[1][99] Halaman-halamannya menampilkan informasi faktual dan anekdot tentang perang beserta kuis, permainan, puisi, lagu, potongan oratoris pendek untuk "deklamasi", cerita pendek, dan drama yang sangat pendek yang dapat dipentaskan oleh anak-anak. Majalah-majalah ini mempromosikan patriotisme dan tujuan perang Union, memupuk atau menumbuhkan sikap ramah atau baik terhadap budak yang dibebaskan, menghitamkan atau menjelekkan perjuangan Konfederasi, mendorong pembaca untuk mengumpulkan uang untuk dana kemanusiaan terkait perang, dan membahas atau menangani kematian anggota keluarga.[1][100] Pada tahun 1866, Perusahaan Milton Bradley menjual "The Myriopticon: A Historical Panorama of the Rebellion" yang memungkinkan anak-anak untuk menggelar pertunjukan di lingkungan sekitar yang menjelaskan perang. Pertunjukan ini terdiri dari gambar-gambar berwarna-warni yang diputar di atas roda dan termasuk tiket pra-cetak atau yang sudah dicetak, iklan poster, dan narasi yang dapat dibacakan dengan lantang di pertunjukan tersebut.[101]
Merawat anak yatim piatu korban perang merupakan fungsi penting bagi organisasi lokal maupun pemerintah negara bagian dan lokal.[1][102] Salah satu contoh negara bagian yang khas adalah Iowa, di mana "Iowa Soldiers Orphans Home Association" swasta beroperasi dengan pendanaan dari badan legislatif dan sumbangan publik. Mereka mendirikan panti asuhan di Davenport, Glenwood, dan Cedar Falls. Pemerintah negara bagian mendanai pensiun untuk para janda dan anak-anak tentara.[1][103] Sekolah-sekolah yatim piatu seperti Pennsylvania Soldiers' Orphan School, juga mencerminkan eksperimen kesejahteraan masyarakat atau publik yang lebih luas yang dimulai sebagai bagian dari dampak Perang Saudara. Sekolah-sekolah yatim piatu ini diciptakan atau didirikan untuk menyediakan tempat tinggal, perawatan, dan pendidikan bagi anak-anak yatim piatu dari tentara Perang Saudara. Sekolah-sekolah ini menjadi kebanggaan negara bagian, dengan anak-anak yatim piatu diarak di demonstrasi untuk menunjukkan kekuatan pendidikan patriotik.[104]
Semua negara bagian bebas atau Utara memiliki sistem sekolah umum gratis sebelum perang, tetapi tidak dengan negara bagian perbatasan. Virginia Barat mendirikan sistemnya pada tahun 1863. Meskipun mendapat perlawanan sengit atau penentangan keras, sistem ini menetapkan pendidikan yang hampir setara bagi anak-anak kulit hitam, yang sebagian besar adalah mantan budak.[1][105] Ribuan pengungsi kulit hitam membanjiri St. Louis, di mana Freedmen's Relief Society, Ladies Union Aid Society, Western Sanitary Commission, dan American Missionary Association (AMA) mendirikan sekolah untuk anak-anak mereka.[106]
Unionis di negara bagian Selatan dan Perbatasan

Orang-orang yang setia kepada pemerintah federal A.S. dan menentang pemisahan diri yang tinggal di negara bagian perbatasan (di mana perbudakan legal) dan negara bagian di bawah kendali Konfederasi, disebut Unionis. Konfederasi kadang-kadang menyebut mereka "Yankees Buatan Sendiri". Kelompok opini Unionis Selatan mencakup baik unionis tanpa syarat yang kesetiaannya kepada pemerintah nasional tidak diragukan lagi dan unionis bersyarat yang memiliki prioritas yang sama dengan banyak separatis, tetapi lebih memilih kompromi sektoral daripada perpecahan; namun, Unionis Selatan belum tentu simpatisan Utara dan banyak dari mereka atau unionis bersyarat, meskipun menentang dan gagal mencegah pemisahan diri, mendukung Konfederasi setelah dibentuk. Tennessee Timur tidak pernah sepenuhnya mendukung Konfederasi, dan Unionis di sana menjadi pemimpin negara bagian yang kuat atau berpengaruh, termasuk gubernur Andrew Johnson dan William G. Brownlow. Demikian pula, kantong-kantong besar Kentucky timur adalah Unionis dan membantu menjaga atau mencegah negara bagian tersebut agar tidak memisahkan diri.[1][107] Di Virginia barat, dengan sedikit budak dan pemilik budak, bersama dengan basis industri yang berkembang pada saat itu, dan kabupaten-kabupaten yang berbatasan dengan Ohio dan Pennsylvania adalah benteng Unionis, meskipun kabupaten-kabupaten pedalaman mendukung Richmond dan Konfederasi. Dengan bantuan angkatan darat Union, dan dukungan di Kongres, sehingga pemerintah Unionis di Wheeling mampu menciptakan negara bagian baru atau memisahkan diri, dan membentuk negara bagian Virginia Barat yang baru pada tahun 1863.[108] Namun, pemerintah negara bagian baru tersebut hanya menguasai setengah wilayahnya.[109] Angkatan Darat Union tetap berada di Virginia Barat hingga tahun 1869, menangani kerusuhan dan perlawanan terhadap negara bagian baru tersebut.[110]
Hampir 100.000 Unionis dari Selatan bertugas di Angkatan Darat Union selama Perang Saudara dan resimen Unionis dibentuk dari setiap negara bagian Konfederasi kecuali Carolina Selatan. Di antara unit-unit tersebut adalah Resimen Kavaleri Alabama ke-1, yang berfungsi sebagai pengawal pribadi William Sherman dalam perjalanannya ke laut. Unionis Selatan banyak digunakan sebagai pasukan paramiliter anti-gerilya.[1][111] Selama era Rekonstruksi (1865–1877), banyak Unionis Selatan menjadi "Scalawags", istilah yang merendahkan untuk pendukung kulit putih (kaukasia) Selatan dari Partai Republik.[112]
Perang gerilya
Selain konflik militer yang terorganisir, negara bagian-negara bagian perbatasan juga dilanda perang gerilya. Di negara bagian-negara bagian yang terpecah belah, tetangga sering menggunakan alasan atau dalih perang untuk menyelesaikan dendam pribadi dan mengangkat senjata melawan tetangga.
Missouri

Missouri adalah tempat lebih dari 1.000 pertempuran antara pasukan Union dan Konfederasi, dan sejumlah serangan gerilya dan penggerebekan atau penyerbuan yang tak terhitung atau tidak resmi oleh kelompok-kelompok informal pro-Konfederasi.[1][113] Missouri Barat menjadi tempat atau lokasi perang gerilya yang brutal selama Perang Saudara. Kelompok-kelompok pemberontak yang berkeliaran seperti Quantrill's Raiders dan orang-orang dari Bloody Bill Anderson meneror pedesaan, menyerang instalasi militer dan pemukiman sipil. Karena serangan yang meluas dan perlindungan yang ditawarkan oleh simpatisan Konfederasi, para pemimpin Federal mengeluarkan Perintah Umum No. 11 pada tahun 1863, dan mengevakuasi kabupaten-kabupaten di wilayah Jackson, Cass, dan Bates. Mereka memaksa warga atau penduduk keluar guna mengurangi dukungan bagi para gerilyawan. Kavaleri Union dapat menyapu dan melacak gerilyawan Konfederasi, yang tidak lagi memiliki tempat untuk bersembunyi dan orang-orang serta infrastruktur untuk mendukung mereka. Dalam waktu singkat, angkatan darat memaksa hampir 20.000 orang, sebagian besar wanita, anak-anak, dan orang tua, untuk meninggalkan rumah mereka. Banyak yang tidak pernah kembali dan kabupaten-kabupaten yang terkena dampak mengalami kehancuran ekonomi selama bertahun-tahun setelah berakhirnya perang.[1][114] Keluarga-keluarga mewariskan kisah pengalaman pahit mereka turun-temurun dari beberapa generasi—kakek-nenek Presiden A.S. masa depan Harry Truman terperangkap atau terjebak dalam penggerebekan atau serangan udara, dan dia akan menceritakan bagaimana mereka ditahan di kamp konsentrasi.[115]
Beberapa unit perampok atau penjarah menjadi geng kriminal terorganisir setelah perang. Pada tahun 1882, perampok bank dan mantan gerilyawan Konfederasi Jesse James terbunuh di Saint Joseph, Missouri. Kelompok-kelompok main hakim sendiri muncul di daerah-daerah terpencil di mana penegakan hukum lemah, untuk menangani pelanggaran hukum yang tersisa dari fase perang gerilya. Misalnya, Bald Knobbers adalah istilah untuk beberapa kelompok main hakim sendiri penegak hukum dan ketertiban di Ozarks. Dalam beberapa kasus, mereka juga beralih ke aktivitas geng ilegal.[116]
Kentucky
Sebagai tanggapan terhadap meningkatnya masalah kampanye gerilya yang terorganisir secara lokal sepanjang tahun 1863 dan 1864, pada bulan Juni 1864, Mayor Jenderal Stephen G. Burbridge diberi komando atas negara bagian Kentucky. Ini memulai periode kontrol militer yang panjang yang akan berlangsung hingga awal 1865, dimulai dengan hukum darurat militer yang disahkan oleh Presiden Abraham Lincoln. Untuk menenangkan Kentucky, Burbridge dengan keras atau tegas menekan ketidaksetiaan dan menggunakan tekanan ekonomi sebagai paksaan. Kebijakan gerilyanya, yang mencakup eksekusi publik terhadap empat gerilyawan atas kematian warga negara Union yang tidak bersenjata, menyebabkan kontroversi terbesar. Setelah berselisih dengan Gubernur Thomas E. Bramlette, Burbridge diberhentikan pada bulan Februari 1865. Konfederasi mengingatnya sebagai "Penjagal Kentucky".[117]
Negara bagian-negara bagian Union
Daftar artikel Wikipedia tentang negara bagian-negara bagian Union dan kota-kota besar:
- California
- Connecticut
- Delaware*
- Illinois
- Indiana
- Iowa
- Kansas
- Kentucky†*
- Maine
- Maryland*
- Massachusetts
- Michigan
- Minnesota
- Missouri†*
- Nevada
- New Hampshire
- New Jersey
- New York
- Ohio
- Oregon
- Pennsylvania
- Rhode Island
- Vermont
- Virginia†*
- Virginia Barat*
- Wisconsin
* Negara bagian-negara bagian perbatasan yang masih menerapkan perbudakan pada tahun 1861
†Memiliki dua pemerintahan negara bagian, satu pendukung Union dan satu pendukung Konfederasi, keduanya mengklaim sebagai pemerintahan yang sah di negara bagian mereka. Pemerintahan Konfederasi Kentucky dan Konfederasi Missouri tidak pernah memiliki kendali yang signifikan setelah tahun 1862, meskipun Konfederasi menguasai lebih dari setengah wilayah Kentucky dan bagian selatan Missouri pada awal perang.
Virginia Barat berpisah atau memisahkan diri dari Virginia dan menjadi bagian dari Union selama perang, pada tanggal 20 Juni 1863. Nevada juga bergabung dengan Union selama perang, menjadi negara bagian pada tanggal 31 Oktober 1864.
- Negara bagian di perbatasan: Di Kentucky dan Missouri, faksi pro-pemisahan mendeklarasikan diri sebagai bagian dari Selatan dan negara-negara bagian tersebut diklaim oleh Konfederasi, dan pemerintah negara bagian Utara atau Union dan Konfederasi sama-sama menyatakan negara bagian tersebut adalah bagian dari wilayahnya.
Kansas bergabung dengan negara bagian Utara atau Union pada tanggal 29 Januari 1861 setelah krisis pemisahan berawal namun sebelum serbuan ke Fort Sumter.
Teritori-teritori Union
Teritori-teritori yang dikuasai Union pada bulan April 1861 adalah:[1][118]
- Teritori Colorado
- Teritori Dakota
- Teritori Indian (disengketakan atau diperebutkan dengan Konfederasi)
- Teritori Nebraska
- Teritori Nevada (menjadi negara bagian pada tahun 1864)
- Teritori New Mexico
- Teritori Arizona (dipisahkan pada tahun 1863)
- Teritori Utah
- Teritori Washington
- Teritori Idaho (dipisahkan pada tahun 1863)
- Teritori Montana (dipisahkan pada tahun 1864)
- Teritori Idaho (dipisahkan pada tahun 1863)
Teritori Indian melihat atau mengalami perang saudaranya sendiri, karena suku-suku besar memperbudak atau memiliki budak dan mendukung Konfederasi.[1][119]
Lihat juga
Catatan kaki
Referensi
- 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 "Union (American Civil War)". Wikipedia (dalam bahasa Inggris). September 15, 2022.
- ↑ "Books and Manuscript Submission Guide". Army University Press. Diarsipkan dari asli tanggal Mei 29, 2023. Diakses tanggal April 28, 2021.
- ↑ Smith, Michael T.; Engle, Stephen D. (2018). "Review of 'Gathering to Save a Nation: Lincoln and the Union's War Governors', Engle, Stephen D". Louisiana History: The Journal of the Louisiana Historical Association. 59 (3): 361–363. ISSN 0024-6816. JSTOR 26564816.
- ↑ Thomas, Benjamin P. [in Inggris] (2008). Abraham Lincoln: A Biography (dalam bahasa Inggris). SIU Press. hlm. 377. ISBN 9780809328871. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- ↑ Thomas, Benjamin P. (2008). Abraham Lincoln: A Biography (dalam bahasa Inggris). SIU Press. hlm. 428. ISBN 9780809328871.
- ↑ Stampp, Kenneth M. (1980). "The Concept of a Perpetual Union". The Imperiled Union: Essays on the Background of the Civil War. hlm. 30.
- ↑ Charles Daniel Drake (1864). Union and Anti-Slavery speeches, delivered during the Rebellion, etc. hlm. 219–220, 222, 241.
- ↑ The New-York Review. George Dearborn & Company. 1841. hlm. 202.
- ↑ W. W. Gaunt (1864). The Statutes at Large of the Provisional Government of the Confederate States of America: From the Institution of the Government, February 8, 1861 to Its Termination, February 18, 1862, Inclusive. Arranged in Chronological Order, Together with the Constitution for the Provisional Government and the Permanent Constitution of the Confederate States, and the Treaties Concluded by the Confederate States with Indian Tribes. D & S Publishers, Indian Rocks Beach. hlm. 1–2.
- ↑ Robert S. Rush; William W. Epley (2007). Multinational Operations, Alliances, and International Military Cooperation. U.S. Government Printing Office. hlm. 21, 27.
- ↑ John T. Ishiyama (2011). Comparative Politics: Principles of Democracy and Democratization. John Wiley & Sons. hlm. 214.
- ↑ The war of the rebellion: a compilation of the official records of the Union and Confederate armies. 1. Vol. 14. hlm. 185–1, 015. Diakses tanggal Maret 19, 2016.
- ↑ Landis, Michael (September 9, 2015). "A Proposal to Change the Words We Use When Talking About the Civil War". Smithsonian Magazine. Diakses tanggal Januari 30, 2022.
- ↑
- ↑ "Books and Manuscript Submission Guide". Army University Press. Diarsipkan dari asli tanggal Mei 29, 2023. Diakses tanggal April 28, 2021.
- 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 "Sejarah Perang Sipil Amerika Serikat". Republik Eusosialis Tawon. 2013-03. Diakses tanggal 2026-02-15.
- 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 "Sejarah Penggunaan Kapal Selam di Era Perang Sipil Amerika". Republik Eusosialis Tawon. 2021-11. Diakses tanggal 2026-04-26.
- ↑ Donald, David Herbert [in Inggris]; Randall, J. G. [in Inggris] (1961). The Civil War and Reconstruction (Edisi 2nd). hlm. 3–13. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- ↑ Gary W. Gallagher [in Inggris] (2001). The American Civil War: The War in the East 1861 – May 1863. Osprey Publishing. hlm. 22. ISBN 9781841762395. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- ↑ Nevins, Allan (1959). The War for the Union: The Improvised War 1861–1862. vol. 5.
- ↑ McClintock, Russell (2008). Lincoln and the Decision for War: The Northern Response to Secession. hlm. 255. pp. 254–274 provide details of support across the North.
- ↑ Smith, Michael Thomas (2011). The Enemy Within: Fears of Corruption in the Civil War North.
- ↑ Goodwin, Doris Kearns [in Inggris] (2005). Team of Rivals: The Political Genius of Abraham Lincoln. Simon and Schuster. ISBN 9780684824901. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- ↑ Paludan, Phillip Shaw [in Inggris] (1994). The Presidency of Abraham Lincoln. hlm. 21–48. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- ↑ Leonard P. Curry, Blueprint for Modern America: Nonmilitary Legislation of the First Civil War Congress (1968)
- ↑ Robert Cook, "Stiffening Abe: William Pitt Fessenden and the Role of the Broker Politician in the Civil War Congress", American Nineteenth Century History, June 2007, Vol. 8, Issue 2, pp. 145–167.
- ↑ Bruce Tap, "Inevitability, masculinity, and the American military tradition: the committee on the conduct of the war investigates the American Civil War", American Nineteenth Century History, (2004) 5#2 pp. 19–46.
- ↑ Kenneth M. Stampp, Indiana Politics during the Civil War (1949) "Indiana Politics during the Civil War Online Book at Questia Online Library". Diarsipkan dari versi asli pada Mei 25, 2012. Diakses tanggal Oktober 23, 2011. Pemeliharaan CS1: BOT: status url asli tidak diketahui (link)
- ↑ Steven E. Woodworth (2011). This Great Struggle: America's Civil War. Rowman & Littlefield. hlm. 311. ISBN 9781442210875.
- ↑ Jonathan W. White (2014). Emancipation, the Union Army, and the Reelection of Abraham Lincoln. LSU Press. hlm. 116. ISBN 9780807154588.
- ↑ Arnold Shankman, "Draft Resistance in Civil War Pennsylvania." Pennsylvania Magazine of History and Biography (1977) pp. 190–204. online
- ↑ Robert M. Sandow, Deserter Country:Civil War Opposition in the Pennsylvania Appalachians (2009)
- ↑ Adrian Cook (1974). The Armies of the Streets: The New York City Draft Riots of 1863. University Press of Kentucky. ISBN 9780813112985.
- ↑ Dupree, A. Hunter; Fishel, Leslie H. (1960). "An Eyewitness Account of the New York Draft Riots, July, 1863". The Mississippi Valley Historical Review. 47 (3): 472–479. doi:10.2307/1888878. JSTOR 1888878.
- ↑ Joel Silbey, A respectable minority: the Democratic Party in the Civil War era, 1860–1868 (1977) "A Respectable Minority: The Democratic Party in the Civil War Era, 1860-1868 by Joel H. Silbey". Diarsipkan dari versi asli pada Mei 25, 2012. Diakses tanggal Oktober 23, 2011. Pemeliharaan CS1: BOT: status url asli tidak diketahui (link)
- 1 2 Cowden, Joanna D. (1983). "The Politics of Dissent: Civil War Democrats in Connecticut". The New England Quarterly. 56 (4): 538–554. doi:10.2307/365104. JSTOR 365104.
- ↑ Lewis J. Wertheim, "The Indianapolis Treason Trials, the Elections of 1864 and the Power of the Partisan Press." Indiana Magazine of History 1989 85(3): 236–250.
- ↑ Jennifer L. Weber, Copperheads: The Rise and Fall of Lincoln's Opponents in the North (2006)
- ↑ Frank L. Klement, Lincoln's Critics: The Copperheads of the North (1999)
- ↑ Nevins, Allan (1959). War for the Union: Vol 5. The Improvised War, 1861–1862. hlm. 235.
- ↑ Gallman, J. Matthew [in Inggris] (1994). The North Fights the Civil War. hlm. 56–73. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- ↑ Robert E., Mitchell, "Civil War Recruiting and Recruits from Ever-Changing Labor Pools: Midland County, Michigan, as a Case Study", Michigan Historical Review, 35 (Spring 2009), 29–60.
- ↑ Martin J. Hershock, "Copperheads and Radicals: Michigan Partisan Politics during the Civil War Era, 1860–1865", Michigan Historical Review (1992) 18#1 pp 28–69
- ↑ Peter Bratt, "A Great Revolution in Feeling: The American Civil War in Niles and Grand Rapids, Michigan," Michigan Historical Review (2005) 31#2 pp 43–66.
- ↑ Michael Perman and Amy Murrell Taylor, ed. (2010). Major Problems in the Civil War and Reconstruction. Cengage. hlm. 178. ISBN 978-0618875207.
- ↑ Richard F. Miller, ed., States at war: a reference guide for Connecticut, Maine, Massachusetts, New Hampshire, Rhode Island, and Vermont in the Civil War (2013) 1: 366–367
- ↑ Kenneth Link, "Potomac Fever: The Hazards of Camp Life", Vermont History, April 1983, Vol. 51 Issue 2, pp 69–88
- ↑ Mary C. Gillett, The Army Medical Department, 1818–1865 (1987)
- ↑ William Quentin Maxwell, Lincoln's Fifth Wheel: The Political History of the U.S. Sanitary Commission (1956)
- ↑ Justin Martin, Genius of Place: The Life of Frederick Law Olmsted (2011) pp 178–230
- ↑ Eugene E. Roseboom, The Civil War Era, 1850–1873 (1944) p 396
- 1 2 Cannon, M. Hamlin (1951). "The United States Christian Commission". The Mississippi Valley Historical Review. 38 (1): 61–80. doi:10.2307/1898252. JSTOR 1898252.
- ↑ Hovde, David M. (1989). "The U.S. Christian Commission's Library and Literacy Programs for the Union Military Forces in the Civil War". Libraries & Culture. 24 (3): 295–316. JSTOR 25542169.
- ↑ Frank R. Freemon, "Lincoln finds a surgeon general: William A. Hammond and the transformation of the Union Army Medical Bureau." Civil War History (1987) 33#1 pp: 5–21.
- ↑ Shauna Devine, Learning from the Wounded: The Civil War and the Rise of American Medical Science (2014).
- ↑ Robert H. Bremner, "The Impact of the Civil War on Philanthropy and Social Welfare," Civil War History, December 1966, Vol. 12 Issue 4, pp 293–303
- ↑ Wendy Hamand Venet, "The Emergence of a Suffragist: Mary Livermore, Civil War activism, and the Moral Power of Women", Civil War History, June 2002, Vol. 48 Issue 2, pp 143–164 in Project MUSE Diarsipkan March 4, 2016, di Wayback Machine.
- ↑ James H. Cassedy, "Numbering the North's Medical Events: Humanitarianism and Science in Civil War Statistics", Bulletin of the History of Medicine, Summer 1992, Vol. 66 Issue 2, pp 210–233
- ↑ Carleton B. Chapman, Order out of chaos: John Shaw Billings and America's coming of age (1994)
- ↑ James Ford Rhodes (1904). History of the United States from the Compromise of 1850: 1864–1866. Harper & Brothers. hlm. 507–8.
- ↑ Michael B. Chesson, "Prison Camps and Prisoners of War", in Steven E. Woodworth, ed. The American Civil War (1996), pp 466–478 "Archived copy". Diarsipkan dari asli tanggal Juni 18, 2018. Diakses tanggal September 17, 2017. Pemeliharaan CS1: Salinan terarsip sebagai judul (link)
- ↑ Barnet Schecter, The Devil's Own Work: The Civil War Draft Riots and the Fight to Reconstruct America (2005)
- ↑ The New York City Draft Riots Diarsipkan June 29, 2011, di Wayback Machine. In the Shadow of Slavery: African Americans in New York City, 1626–1863, by Leslie M. Harris
- ↑ Kenneth H. Wheeler, "Local Autonomy and Civil War Draft Resistance: Holmes County, Ohio", Civil War History, (1999) 45@2 pp 147–158
- ↑ Shannon Smith Bennett, "Draft Resistance and Rioting." in by Maggi M. Morehouse and Zoe Trodd, eds., Civil War America: A Social and Cultural History with Primary Sources (2013) ch. 1
- ↑ Shannon M. Smith, "Teaching Civil War Union Politics: Draft Riots in the Midwest." OAH Magazine of History (2013) 27#2 pp: 33–36. online
- ↑ Emerson David Fite, Social and industrial conditions in the North during the Civil War (1910) online edition
- ↑ Heather Cox Richardson, The Greatest Nation of the Earth: Republican Economic Policies during the Civil War (1997)
- ↑ Jane Flaherty, "'The Exhausted Condition of the Treasury' on the Eve of the Civil War", Civil War History, (2009) 55#2 pp. 244–277 in Project MUSE
- ↑ Niven, John (1995). Salmon P. Chase: a biography. Oxford University Press. hlm. 331. ISBN 9780195364385.
- ↑ Ball, Douglas B. (1991). Financial failure and Confederate defeat. Urbana and Chicago: University of Illinois Press. hlm. 189.
- ↑ Flaherty, Jane (2009). The revenue imperative. Pickering & Chatto. ISBN 9781851968985.
- ↑ Jerry W. Markham, A financial history of the United States (2001) vol 3 p 220
- ↑ Smith, H. Edwin (1914). The United States federal internal tax history from 1861 to 1871. Hart, Schaffner & Marx prize essays.XVI. Boston: Houghton Mifflin Company. hlm. 190.
- ↑ Bray Hammond, Sovereignty and the Empty Purse: Banks and Politics in the Civil War (1970).
- ↑ Wesley C. Mitchell, A history of the greenbacks: with special reference to the economic consequences of their issue: 1862–65 (1903) online edition
- ↑ Hammond, Sovereignty and the Empty Purse: Banks and Politics in the Civil War (1970).
- ↑ Richardson, 100, 113
- ↑ Huston, James L. (1983). "A Political Response to Industrialism: The Republican Embrace of Protectionist Labor Doctrines". The Journal of American History. 70 (1): 35–57. doi:10.2307/1890520. JSTOR 1890520.
- ↑ Harold M. Hyman, American Singularity: The 1787 Northwest Ordinance, the 1862 Homestead and Morrill Acts, and the 1944 GI Bill (U of Georgia Press, 2008)
- ↑ Sarah T. Phillips et al. "Reflections on One Hundred and Fifty Years of the United States Department of Agriculture," Agricultural History (2013) 87#3 pp 314–367.
- ↑ Fite, Social and industrial conditions in the North during the Civil War, (1910) pp 1–23; Paludan, A People's Contest" pp 159–169
- ↑ Paul W. Gates, Agriculture and the Civil War (1965) covers 1850–1870
- ↑ J.L. Anderson, "The Vacant Chair on the Farm: Soldier Husbands, Farm Wives, and the Iowa Home Front, 1861–1865," Annals of Iowa, Summer/Fall 2007, Vol. 66 Issue 3/4, pp 241–265
- ↑ Gervase Phillips, "Warhorses of the U.S. Civil War", History Today (December 2005) 55#12 online
- ↑ Spencer Jones, "The Influence of Horse Supply Upon Field Artillery in the American Civil War", Journal of Military History, (April 2010), 74#2 pp 357–377,
- ↑ Sharrer, G. Terry (1995). "The Great Glanders Epizootic, 1861–1866: A Civil War Legacy". Agricultural History. 69 (1): 79–97. JSTOR 3744026. PMID 11639801.
- ↑ Owsley, Frank (1931). King Cotton Diplomacy. University of Chicago Press. hlm. 264–266.
- ↑ David S. Surdam, "Traders or traitors: Northern cotton trading during the Civil War", Business & Economic History, Winter 1999, Vol. 28 Issue 2, pp 299–310 online Diarsipkan May 16, 2013, di Wayback Machine.
- ↑ Randall M. Miller, Harry S. Stout and Charles Reagan Wilson, eds. Religion and the American Civil War (Oxford University Press, 1998) p 4
- ↑ Timothy L. Wesley. The Politics of Faith during the Civil War (Louisiana State University Press, 2013)
- ↑ George C. Rable, God's Almost Chosen Peoples: A Religious History of the American Civil War (University of North Carolina Press, 2010).
- 1 2 Carwardine, Richard (2000). "Methodists, Politics, and the Coming of the American Civil War". Church History. 69 (3): 578–609. doi:10.2307/3169398. JSTOR 3169398. S2CID 154489893.
- ↑ Morrow, Ralph E. (1956). "Methodists and "Butternuts" in the Old Northwest". Journal of the Illinois State Historical Society. 49 (1): 34–47. JSTOR 40189481.
- ↑ Sweet, William W. (1915). "Methodist Church Influence in Southern Politics". The Mississippi Valley Historical Review. 1 (4): 546–560. doi:10.2307/1886955. JSTOR 1886955.
- ↑ Morrow, Ralph E. (1954). "Northern Methodism in the South during Reconstruction". The Mississippi Valley Historical Review. 41 (2): 197–218. doi:10.2307/1895802. JSTOR 1895802.
- ↑ Kathleen L. Endres, "A Voice for the Christian Family: The Methodist Episcopal 'Ladies' Repository' in the Civil War", Methodist History, January 1995, Vol. 33 Issue 2, pp. 84–97,
- ↑ Frank, Stephen M. (1992). ""Rendering Aid and Comfort": Images of Fatherhood in the Letters of Civil War Soldiers from Massachusetts and Michigan". Journal of Social History. 26 (1): 5–31. doi:10.1353/jsh/26.1.5. JSTOR 3788810.
- ↑ James Marten, Children for the Union: The War Spirit of the Northern Home Front (2004) p. 17
- ↑ James Marten, "For the good, the true, and the beautiful: Northern children's magazines and the Civil War", Civil War History, March 1995, Vol. 41 Issue 1, pp 57–75
- ↑ James Marten, "History in a Box: Milton Bradley's Myriopticon," Journal of the History of Childhood & Youth, Winter 2009, Vol. 2 Issue 1, pp 5–7
- ↑ Marten, Children for the Union pp 107, 166
- ↑ George Gallarno, "How Iowa Cared for Orphans of Her Soldiers of the Civil War", Annals of Iowa, January 1926, Vol. 15 Issue 3, pp 163–193
- ↑ James Marten, "Children and Youth during the Civil War Era," (New York University Press) Winter 2012, pp 188–195
- ↑ F. Talbott, "Some Legislative and Legal Aspects of the Negro Question in West Virginia during the Civil War and Reconstruction", West Virginia History, January 1963, Vol. 24 Issue 2, pp 110–133
- ↑ Lawrence O. Christensen, "Black Education in Civil War St. Louis," Missouri Historical Review, April 2001, Vol. 95 Issue 3, pp 302–316
- ↑ Kent Dollar et al. eds. Sister States, Enemy States: The Civil War in Kentucky and Tennessee (2009)
- ↑ William A. Link, "'This Bastard New Virginia': Slavery, West Virginia Exceptionalism, and the Secession Crisis," West Virginia History, Spring 2009, Vol. 3 Issue 1, pp 37–56
- ↑ Curry, Richard O. A House Divided, A Study of Statehood Politics and the Copperhead Movement in West Virginia, Univ. of Pittsburgh Press, 1964, pp. 46–54
- ↑ Journal of the Senate of the State of West Virginia for the Sixth Session, Commencing January 21, 1868, John Frew, Wheeling, 1868, p. 10
- ↑ Richard N. Current, Lincoln's Loyalists: Union Soldiers from the Confederacy (1994)
- ↑ James Alex Baggett, The Scalawags: Southern Dissenters in the Civil War and Reconstruction (2003)
- ↑ Michael Fellman, Inside War: The Guerrilla Conflict in Missouri during the Civil War (1989)
- ↑ Sarah Bohl, "A War on Civilians: Order Number 11 and the Evacuation of Western Missouri", Prologue, April 2004, Vol. 36 Issue 1, pp 44–51
- ↑ Michael R. Gardner, et al. Harry Truman and Civil Rights: Moral Courage and Political Risks (2003) p. 4
- ↑ Elmo Ingenthron and Hartman, Bald Knobbers: Vigilantes on the Ozarks Frontier (1988)
- ↑ Louis De Falaise, "General Stephen Gano Burbridge's Command in Kentucky," Register of the Kentucky Historical Society, April 1971, Vol. 69 Issue 2, pp 101–127
- ↑ Ray C. Colton, The Civil War in the Western Territories: Arizona, Colorado, New Mexico and Utah (1984)
- ↑ John Spencer and Adam Hook, The American Civil War in Indian Territory (2006)
Bibliografi
atau dalam Bahasa Indonesia: Bibliografi homefront Perang Saudara Amerika.
Survei
- Cashin, Joan E. ed. The War Was You and Me: Civilians in the American Civil War (2001),
- Fellman, Michael et al. This Terrible War: The Civil War and its Aftermath (2nd ed. 2007), 544 page university textbook
- Flaherty, Jane (Juni 2009). ""The Exhausted Condition of the Treasury" on the Eve of the Civil War". Civil War History. 55 (2): 244–277. doi:10.1353/cwh.0.0058. ISSN 1533-6271 – via Project MUSE.
- Ford, Lacy K., ed. A Companion to the Civil War and Reconstruction. (2005). 518 pp. 23 essays by scholars excerpt and text search
- Gallman, J. Matthew. The North Fights the Civil War: The Home Front (1994), survey
- Gallman, J. Matthew. Northerners at War: Reflections on the Civil War Home Front (2010), essays on specialized issues
- Heidler, David and Jeanne Heidler, eds, Encyclopedia of the American Civil War: A Political, Social, and Military History (2002) 2740pp
- McPherson, James M. Battle Cry of Freedom: The Civil War Era (1988), 900 page survey; Pulitzer prize
- Nevins, Allan. War for the Union, an 8-volume set (1947–1971). the most detailed political, economic and military narrative; by Pulitzer Prize winner; vol 1–4 cover 1848–61; vol 5. The Improvised War, 1861–1862; 6. War Becomes Revolution, 1862–1863; 7. The Organized War, 1863–1864; 8. The Organized War to Victory, 1864–1865
- Resch, John P. et al., Americans at War: Society, Culture and the Homefront vol 2: 1816–1900 (2005)
Politik
- Bogue, Allan G. The Congressman's Civil War (1989)
- Carman, Harry J. and Reinhard H. Luthin. Lincoln and the Patronage (1943), details on each state
- Donald, David Herbert. Lincoln (1999) the best biography; excerpt and text search
- Engle, Stephen D. Gathering to Save a Nation: Lincoln and the Union's War Governors (u of North Carolina Press, 2016). 725 pp.
- Fish, Carl Russell (1902). "Lincoln and the Patronage". The American Historical Review. 8 (1): 53–69. doi:10.2307/1832574. ISSN 0002-8762. JSTOR 1832574 – via JStor.
- Gallagher, Gary W. The Union War (2011), emphasizes that the North fought primarily for nationalism and preservation of the Union
- Goodwin, Doris Kearns. Team of Rivals: The Political Genius of Abraham Lincoln (2005) excerpts and text search, on Lincoln's cabinet
- Green, Michael S. Freedom, Union, and Power: Lincoln and His Party during the Civil War. (2004). 400 pp.
- Harris, William C. Lincoln and the Union Governors (Southern Illinois University Press, 2013) 162 pp.
- Hesseltine, William B. Lincoln and the War Governors (1948)
- Kleppner, Paul. The Third Electoral System, 1853–1892: Parties, Voters, and Political Culture (1979), statistical study of voting patterns.
- Lawson, Melinda. Patriot Fires: Forging a New American Nationalism in the Civil War North (University Press of Kansas, 2002).
- Luthin, Reinhard H. The first Lincoln campaign (1944) on election of 1860
- Neely, Mark. The Divided Union: Party Conflict in the Civil War North (2002)
- Paludan, Philip S. The Presidency of Abraham Lincoln (1994), thorough treatment of Lincoln's administration
- Rawley, James A. The Politics of Union: Northern Politics during the Civil War (1974).
- Richardson, Heather Cox. The Greatest Nation of the Earth: Republican Economic Policies during the Civil War (1997) online edition
- Silbey, Joel. A Respectable Minority: The Democratic Party in the Civil War Era (1977).
- Smith, Adam I. P. No Party Now: Politics in the Civil War North (Oxford University Press, 2006)
- Smith, Michael Thomas. The Enemy Within: Fears of Corruption in the Civil War North (2011) online review
- Weber, Jennifer L. Copperheads: The Rise and Fall of Lincoln's Opponents in the North (2006) excerpt and text search
Konstitusional dan legal
- Hyman, Harold. A More Perfect Union: The Impact of the Civil War and Reconstruction on the Constitution (Alfred A. Knopf, 1973)
- Neely, Jr., Mark E. The Fate of Liberty: Abraham Lincoln and Civil Liberties (Oxford University Press, 1991); won the 1992 Pulitzer Prize for History.
- Neely, Jr., Mark E. Lincoln and the Triumph of the Nation: Constitutional Conflict in the American Civil War (University of North Carolina Press, 2011); covers the U.S. and the Confederate constitutions and their role in the conflict.
- Paludan, Phillip S. (Oktober 1972). "The American Civil War Considered as a Crisis in Law and Order". The American Historical Review. 77 (4): 1013–1034. doi:10.2307/1859506. ISSN 0002-8762. JSTOR 1859506 – via JStor.
Ekonomis
- Brandes, Stuart. Warhogs: A History of War Profits in America (1997), pp. 67–88; a scholarly history of the munitions industry; concludes profits were not excessive
- Clark, Jr., John E. Railroads in the Civil War: The Impact of Management on Victory and Defeat (2004)
- Cotterill, R. S. "The Louisville and Nashville Railroad 1861–1865," American Historical Review (1924) 29#4 pp. 700–715 in JSTOR
- Fite, Emerson David. Social and industrial conditions in the North during the Civil War (1910) online edition, old but still quite useful
- Hammond, Bray. "The North's Empty Purse, 1861–1862," American Historical Review, October 1961, Vol. 67 Issue 1, pp. 1–18 in JSTOR
- Hill, Joseph A. "The Civil War Income Tax," Quarterly Journal of Economics Vol. 8, No. 4 (July 1894), pp. 416–452 in JSTOR; appendix in JSTOR
- Lowenstein , Roger. Ways and Means: Lincoln and His Cabinet and the Financing of the Civil War (2022); major scholarly survey; online review
- Merk, Frederick. Economic history of Wisconsin during the Civil War decade (1916) online edition
- Smith, Michael Thomas. The Enemy Within: Fears of Corruption in the Civil War North (2011) details on Treasury Department, government contracting, and the cotton trade
- Weber, Thomas. The northern railroads in the Civil War, 1861–1865 (1999)
- Wilson, Mark R. The Business of Civil War: Military Mobilization and the State, 1861–1865. (2006). 306 pp. excerpt and text search
- Ziparo, Jessica. This grand experiment: When women entered the federal workforce in Civil War–Era Washington, DC (UNC Press Books, 2017).
- Zonderman, David A. "White Workers and the American Civil War." Oxford Research Encyclopedia of American History (2021).
Intelektual dan budaya
- Aaron, Daniel. The Unwritten War: American Writers and the Civil War (2nd ed. 1987)
- Brownlee, Peter John et al., eds. Home Front: Daily Life in the Civil War North (2013) online review
- Foote, Lorien and Kanisorn Wongsrichanalai. So Conceived and So Dedicated: Intellectual Life in the Civil War Era North (2015)
- Gallman, J. Matthew. Defining Duty in the Civil War: Personal Choice, Popular Culture, and the Union Home Front (2015) how civilians defined their roles. online review
- Fredrickson, George M. The Inner Civil War: Northern Intellectuals and the Crisis of the Union (1993)
- Stevenson, Louise A. The Victorian Homefront: American Thought and Culture, 1860–1880 (1991)
- Wilson, Edmund. Patriotic Gore: Studies in the Literature of the American Civil War (1962)
Medis
- Adams, George Worthington. Doctors in Blue: The Medical History of the Union Army in the Civil War (1996), 253pp; excerpt and text search
- Clarke, Frances M. War Stories: Suffering and Sacrifice in the Civil War North (University of Chicago Press, 2012)
- Grant, S.-M. "'Mortal in this season': Union Surgeons and the Narrative of Medical Modernisation in the American Civil War." Social History of Medicine (2014)
- Maxwell, William Quentin. Lincoln's Fifth Wheel: The Political History of the U.S. Sanitary Commission (1956) online edition
- Schroeder-Lein, Glenna R. The Encyclopedia of Civil War Medicine (2012) excerpt and text search
Balapan
- McPherson, James M. Marching Toward Freedom: The Negro's Civil War (1982); first edition was The Negro's Civil War: How American Negroes Felt and Acted During the War for the Union (1965),
- Quarles, Benjamin. The Negro in the Civil War (1953), standard history excerpt and text search
- Voegeli, V. Jacque. Free But Not Equal: The Midwest and the Negro during the Civil War (1967).
Agama dan etnis
- Brodrecht, Grant R. "Our Country: Northern Evangelicals and the Union during the Civil War and Reconstruction." Ph.D. diss., University of Notre Dame, 2008.
- Burton, William L. Melting Pot Soldiers: The Union Ethnic Regiments (1998)
- Kamphoefner, Walter D. "German-Americans and Civil War Politics: A Reconsideration of the Ethnocultural Thesis." Civil War History 37 (1991): 232–246.
- Kleppner, Paul. The Third Electoral System, 1853–1892: Parties, Voters, and Political Culture (1979).
- Miller, Randall M., Harry S. Stout and Charles Reagan Wilson, eds. Religion and the American Civil War (1998) online edition
- Miller, Robert J. Both Prayed to the Same God: Religion and Faith in the American Civil War. (2007). 260pp
- Moorhead, James. American Apocalypse: Yankee Protestants and the Civil War, 1860–1869 (1978).
- Noll, Mark A. The Civil War as a Theological Crisis. (2006). 199 pp.
- Stout, Harry S. Upon the Altar of the Nation: A Moral History of the Civil War. (2006). 544 pp.
Sejarah sosial dan demografi
- Brownlee, Peter John, et al. Home Front: Daily Life in the Civil War North (University of Chicago Press, 2013) 193 pp. heavily illustrated.
- Morehouse, Maggi M. and Zoe Trodd, eds. Civil War America: A Social and Cultural History with Primary Sources (2013), 29 short essays by scholars excerpt
- Raus, Edmund J. Banners South: Northern Community at War (2011), about Cortland, New York
- Vinovskis, Maris A., ed. Toward a Social History of the American Civil War: Exploratory Essays (1991), new social history; quantitative studies
- Vinovskis, Maris A., ed. "Have Social Historians Lost the Civil War? Some Preliminary Demographic Speculations," Journal of American History Vol. 76, No. 1 (June 1989), pp. 34–58 in JSTOR
- Veit, Helen Zoe, ed. Food in the Civil War Era: The North (Michigan State University Press, 2014)
Prajurit
- Geary James W. We Need Men: The Union Draft in the Civil War (1991).
- Geary James W. "Civil War Conscription in the North: A Historiographical Review." Civil War History 32 (September 1986): 208–228.
- Hams, Emily J. "Sons and Soldiers: Deerfield, Massachusetts, and the Civil War," Civil War History 30 (June 1984): 157–71
- Hess, Earl J. "The 12th Missouri Infantry: A Socio-Military Profile of a Union Regiment," Missouri Historical Review 76 (October 1981): 53–77.
- Cimbala, Paul A. and Randall M. Miller, eds. Union Soldiers and the Northern Home Front: Wartime Experiences, Postwar Adjustments. (2002)
- Costa, Dora L., and Matthew E. Kahn. "Cowards and heroes: Group loyalty in the American Civil War." Quarterly Journal of Economics 118.2 (2003): 519-548. Statistical study based on sample of 32,000 Union soldiers. online
- Current, Richard N. (1992). Lincoln's Loyalists: Union Soldiers from the Confederacy. Oxford, England: Oxford University Press. ISBN 0-19-508465-9.
- McPherson, James. For Cause and Comrades: Why Men Fought in the Civil War (1998), based on letters and diaries
- Miller, William J. Training of an Army: Camp Curtin and the North's Civil War (1990)
- Mitchell; Reid. The Vacant Chair. The Northern Soldier Leaves Home (1993).
- Rorabaugh, William J. "Who Fought for the North in the Civil War? Concord, Massachusetts, Enlistments," Journal of American History 73 (December 1986): 695–701 in JSTOR
- Roseboom, Eugene H. The Civil War Era, 1850–1873 (1944), Ohio
- Scott, Sean A. "'Earth Has No Sorrow That Heaven Cannot Cure': Northern Civilian Perspectives on Death and Eternity during the Civil War," Journal of Social History (2008) 41:843–866
- Wiley, Bell I. The Life of Billy Yank: The Common Soldier of the Union (1952)
Negara bagian dan lokal
- Appleton's Annual Cyclopedia...1863 (1864), detailed coverage of events in all countries; online; for online copies see Annual Cyclopaedia. Each year 1861 to 1902 includes several pages on each U.S. state.
- Tucker, Spencer, ed. American Civil War: A State-by-State Encyclopedia (2 vol 2015) 1019pp excerpt
- Aley, Ginette et al. eds. Union Heartland: The Midwestern Home Front during the Civil War (2013)
- Bak, Richard. A Distant Thunder: Michigan in the Civil War. (2004). 239 pp.
- Baker, Jean H. The Politics of Continuity: Maryland Political Parties from 1858 to 1870 (1973)
- Baum, Dale. The Civil War Party System: The Case of Massachusetts, 1848–1876 (1984)
- Bradley, Erwin S. The Triumph of Militant Republicanism: A Study of Pennsylvania and Presidential Politics, 1860–1872 (1964)
- Castel, Albert. A Frontier State at War: Kansas, 1861–1865 (1958)
- Cole, Arthur Charles. The Era of the Civil War 1848–1870 (1919) on Illinois
- Coulter, E. Merton. The Civil War and Readjustment in Kentucky (1926),
- Current, Richard N. The History of Wisconsin: The Civil War Era, 1848–1873 (1976).
- Dee, Christine, ed. Ohio's war: the Civil War in documents (2006), primary sources excerpt and text search
- Dilla, Harriette M. Politics of Michigan, 1865–1878 (Columbia University Press, 1912) online at Google books
- Gallman, Matthew J. Mastering Wartime: A Social History of Philadelphia During the Civil War. (1990)
- Hall, Susan G. Appalachian Ohio and the Civil War, 1862–1863 (2008)
- Holzer, Harold. State of the Union: New York and the Civil War (2002) Essays by scholars
- Hubbard, Mark. Illinois's War: The Civil War in Documents (2012) excerpt and text search
- Karamanski, Theodore J. Rally 'Round the Flag: Chicago and the Civil War (1993).
- Leech, Margaret. Reveille in Washington, 1860–1865 (1941), Pulitzer Prize
- Miller, Richard F. ed. States at War, Volume 1: A Reference Guide for Connecticut, Maine, Massachusetts, New Hampshire, Rhode Island, and Vermont in the Civil War (2013) excerpt
- Miller, Richard F. ed. States at War, Volume 2: A Reference Guide for New York in the Civil War (2014) excerpt
- Nation, Richard F. and Stephen E. Towne. Indiana's War: The Civil War in Documents (2009), primary sources excerpt and text search
- Niven, John. Connecticut for the Union: The Role of the State in the Civil War (Yale University Press, 1965)
- O'Connor, Thomas H. Civil War Boston (1999)
- Parrish, William E. A History of Missouri, Volume III: 1860 to 1875 (1973) (ISBN 0-8262-0148-2)
- Pierce, Bessie. A History of Chicago, Volume II: From Town to City 1848–1871 (1940)
- Schouler, William (1868). A History of Massachusetts in the Civil War. Boston: E.P. Dutton & Co. ISBN 9781582180014. OCLC 2662693.
- Ponce, Pearl T. Kansas's War: The Civil War in Documents (2011) excerpt and text search
- Raus, Edmund J. Banners South: Northern Community at War (2011) about Cortland, New York
- Roseboom, Eugene. The Civil War Era, 1850–1873, History of Ohio, vol. 4 (1944) online, Detailed scholarly history
- Siddali, Silvana R. Missouri's War: The Civil War in Documents (2009), primary sources excerpt and text search
- Stampp, Kenneth M. Indiana Politics during the Civil War (1949)
- Taylor, Paul. "Old Slow Town": Detroit during the Civil War (Detroit: Wayne State University Press, 2013). x, 248 pp.
- Thornbrough, Emma Lou. Indiana in the Civil War Era, 1850–1880 (1965)
- Ware, Edith E. Political Opinion in Massachusetts during the Civil War and Reconstruction, (1916). full text online
Wanita dan keluarga
- "Bonnet Brigades at Fifty: Reflections on Mary Elizabeth Massey and Gender in Civil War History," Civil War History (2015) 61#4 pp. 400–444.
- Anderson, J. L. "The Vacant Chair on the Farm: Soldier Husbands, Farm Wives, and the Iowa Home Front, 1861–1865," Annals of Iowa (2007) 66: 241–265
- Attie, Jeanie. Patriotic Toil: Northern Women and the American Civil War (1998). 294 pp.
- Bahde, Thomas. "'I never wood git tired of wrighting to you.'" Journal of Illinois History (2009). 12:129-55
- Cashin, Joan E. "American Women and the American Civil War" Journal of Military History (2017) 81#1 pp. 199–204.
- Giesberg, Judith. Army at Home: Women and the Civil War on the Northern Home Front (2009) excerpt and text search
- Giesberg, Judith Ann. "From Harvest Field to Battlefield: Rural Pennsylvania Women and the U.S. Civil War," Pennsylvania History (2005). 72: 159–191
- Harper, Judith E. Women during the Civil War: An Encyclopedia. (2004). 472 pp.
- McDevitt, Theresa. Women and the American Civil War: an annotated bibliography (Praeger, 2003).
- Marten, James. Children for the Union: The War Spirit on the Northern Home Front. Ivan R. Dee, 2004. 209 pp.
- Massey, Mary. Bonnet Brigades: American Women and the Civil War (1966), excellent overview North and South; reissued as Women in the Civil War (1994)
- "Bonnet Brigades at Fifty: Reflections on Mary Elizabeth Massey and Gender in Civil War History," Civil War History (2015) 61#4 pp. 400–444.
- Giesberg, Judith. "Mary Elizabeth Massey and the Civil War Centennial." Civil War History 61.4 (2015): 400–406. online
- Rodgers, Thomas E. "Hoosier Women and the Civil War Home Front," Indiana Magazine of History 97#2 (2001), pp. 105–128 in JSTOR
- Silber, Nina. Daughters of the Union: Northern Women Fight the Civil War. (Harvard UP, 2005). 332 pp.
- Venet, Wendy Hamand. A Strong-Minded Woman: The Life of Mary Livermore. (U. of Massachusetts Press, 2005). 322 pp.
Sumber utama
- American Annual Cyclopaedia for 1861 (N.Y.: Appleton's, 1864), an extensive collection of reports on each state, Congress, military activities and many other topics; annual issues from 1861 to 1901
- Appletons' annual cyclopedia and register of important events: Embracing political, military, and ecclesiastical affairs; public documents; biography, statistics, commerce, finance, literature, science, agriculture, and mechanical industry, Volume 3 1863 (1864), thorough coverage of the events of 1863
- Angle, Paul M. and Earl Schenck Miers, eds. Tragic Years, 1860–1865: A Documentary History of the American Civil War—Vol. 1 1960 online edition
- Carter, Susan B., ed. The Historical Statistics of the United States: Millennial Edition (5 vols), 2006; online at many universities
- Commager, Henry Steele, ed. The Blue and the Gray. The Story of the Civil War as Told by Participants. (1950), excerpts from primary sources
- Dee, Christine, ed. Ohio's War: The Civil War in Documents. (2007). 244 pp.
- Freidel Frank, ed. Union Pamphlets of the Civil War, 1861–1865 (2 vol. 1967)
- Hesseltine, William B., ed. The Tragic Conflict: The Civil War and Reconstruction (1962), excerpts from primary sources online edition
- Marten, James, ed. Civil War America: Voices from the Home Front. (2003). 346 pp.
- Risley, Ford, ed. The Civil War: Primary Documents on Events from 1860 to 1865. (2004). 320 pp.
- Siddali, Silvana R. Missouri's War: The Civil War in Documents (2009), 256pp excerpt and text search
- Sizer, Lyde Cullen and Jim Cullen, ed. The Civil War Era: An Anthology of Sources. (2005). 434 pp.
- Smith, Charles Winston and Charles Judah, eds. Life in the North during the Civil War: A Source History (1966)
- Voss-Hubbard, Mark, ed. Illinois's War: The Civil War in Documents (2013) online review
- diaries, journals. reminiscences
- "The Peoples Contest: A Civil War era digital archiving project", access to primary sources from Pennsylvania, especially newspapers and other resources
Pranala luar
- Lincoln Administration links Diarsipkan 2015-08-01 di Wayback Machine.
- Civil War Soldiers
- Abraham Lincoln online Diarsipkan 2011-05-14 di Wayback Machine., texts
- "Home Front: Daily Life in the Civil War North" visual exhibit at the
- "Financial Measures," by Nicolay and Hay (1889)
- "Lincoln Reelected," by Nicolay and Hay (1889)
- "First Plans for Emancipation," by Nicolay and Hay (1889)
- "Emancipation Announced," by Nicolay and Hay (1889)

