Kehidupan
Masa Kesultanan Tidore
Ia lahir sebagai seorang pangeran di Kesultanan Tidore, ia ikut serta dalam perlawanan terhadap Perusahaan Hindia Timur Belanda yang ingin menaklukkan Maluku,[4] tepatnya di Patani bersama ayahnya.[5]
Pada tahun 1770, sebuah insiden besar terjadi di Semenanjung Ngolopopo, dikenal sebagai Pero atau Potong Tali. Dalam peristiwa tersebut, banyak tentara Belanda tewas akibat tertimbun batu. Tuan Guru memimpin gerilya melawan Belanda dari Semenanjung Patani, Pulau Gebe (Halmahera Tengah), hingga Kepulauan Raja Ampat. Di sana, ia bekerja sama dengan Raja Salamati (Arfaan) dan Raja Waigeo (Amir Tajuddin).[6]
Semasa di Kesultanan Tidore ia juga dikenal sebagai orang yang taat beragama dan hafal Al-Quran di luar kepala.[2]
Ditangkap kolonial Belanda
Pada 6 April 1780, ia dengan luka disekujur tubuhnya digiring sepasukan tentara VOC menuju pelabuhan tempat sebuah kapal melego jangkar. Di bawah todongan bedil serdadu Kompeni, ia melangkah pelan, meniti satu demi satu tangga kapal. Sebelum memasuki perut kapal ia menyempatkan diri berpaling ke daratan, ke arah kerumunan penduduk yang menyaksikan dengan wajah muram dan mata merah. Sejenak tampak bibirnya itu berkomat-kamit. Setelah itu dia berbalik lalu lenyap di balik kayu-kayu kapal. Dan tangis orang-orang di daratan pun pecah.[2] Ia tertangkap dan dideportasi bersama tiga saudaranya yaitu Abdurrauf, Badaruddin, dan Nurul Imam. Abdullah diasingkan ke Ternate, Ambon, Batavia,[6] hingga akhirnya ke Pulau Robben di Koloni Tanjung sebagai tahanan negara selama Perang Inggris-Belanda Keempat dari tahun 1780 hingga 1784.[4] Dalam arsip Belanda, ia dijuluki Baditen Rollen (bandit).[7]
Tatkala sudah transit di Ternate, Abdullah muda dibawa ke Batavia untuk menjalani peradillan. Hasilnya, hukuman berat dijatuhkan atasnya, ia dibuang (dipenjara) ke Cape Town.[8]
Pada 6 April 1780, ia tiba di Cape Town, Afrika Selatan[9] dengan kapal VOC Zeepard.[7] VOC sengaja membuang Sultan Abdullah ke tempat yang paling jauh. Karena ia dituduh sebagai tokoh yang sangat berbahaya,[2] yang berkonspirasi dengan pemerintah Inggris.[9] Ia dibuang demi mengubur semangat perlawanan rakyat Tidore, sumber semangat nonkooperatif rakyat harus disingkarkan sejauh mungkin. VOC memilih sebuah penjara di Pulau Robben sebagai tempat paling cocok baginya.[2]
Selama diasingkan ia menulis 6 mushaf Al-Qur'an berdasarkan ingatannya.[5] 30 Juz Al-Quran ditulisnya di lembaran berukuran 30 x 41 cm, setebal sekitar 12 cm itu lalu dibalut dengan sampul dari kulit berwarna coklat. Alquran tersebut ia pakai sebagai sarana menyebarkan ajaran Islam di Afrika Selatan.[10]
Dibebaskan
1791, setelah 11 tahun di Afrika Selatan, Belanda membebaskan Sultan dan mengizinkan sultan kembali ke Tidore dengan syarat tidak melakukan perlawanan terhadap VOC. Sultan menolak mentah-mentah tawaran Belanda. Bahkan ia meneruskan perjuangannya di Afrika Selatan, yakni berjuang melawan praktik perbudakan yang dilakukan Belanda.[2]
Ketika Tanjung Harapan pertama kali dikuasai Inggris pada tahun 1795, Gubernur Inggris, Jenderal Craig, bersikap lebih ramah terhadap umat Islam dan memberi mereka izin untuk membangun masjid.[11] Awalnya Abdullah mendirikan madrasah pertama di Afrika Selatan, tempat ia mengajar, di gudang milik Coridon van Ceylon yang dibebaskan di Jalan Dorp, Bo-Kaap.[12] Madrasah ini memberikan motivasi bagi Islamisasi para budak Melayu Tanjung,[13] dan sangat populer di kalangan komunitas kulit hitam yang telah merdeka.[11] Atas jasanya, Abdullah mendapatkan gelar kehormatan Tuan Guru. Di lahan yang sama, akhirnya ia mendirikan masjid pertama di Afrika Selatan bernama Masjid Auwal di Bo-Kaap pada tahun 1794, masjid bawah tanah pertama di negara itu, yang ia pimpin hingga wafatnya.[5][13]
Di madrasah tersebut, para siswa diajarkan ajaran-ajaran Al-Qur'an, membaca serta menulis bahasa Arab. Dari madrasah inilah para imam terkemuka seperti Abdol Bazier, Abdol Barrie, Achmat van Bengalen, Imam Hadjie, dan lainnya menerima pendidikan Islam mereka. Keberadaan lembaga pendidikan Muslim yang begitu kuat menjadi sumber kekhawatiran bagi otoritas Cape Town, bahkan kekhawatiran tersebut dikemukakakan oleh Gubernur Inggris di Cape Town waktu itu, Earl of Caledon.[11]
Sebagai seorang ahli hukum dari mazhab Syafi'i, risalah-risalah hukumnya menjadi karya utama bagi Muslim Melayu Tanjung pada abad ke-19.[11]