Kesultanan Tidore mencapai puncak kejayaan pada masa pemerintahan Sultan Nuku (1780-1805 M). Sultan Nuku dapat menyatukan Ternate dan Tidore untuk bersama-sama melawan Belanda yang dibantu Inggris. Belanda kalah serta terusir dari Tidore dan Ternate. Sementara itu, Inggris tidak mendapat apa-apa kecuali hubungan dagang biasa. Sultan Nuku memang cerdik, berani, ulet, dan waspada. Sejak saat itu, Tidore dan Ternate tidak diganggu, baik oleh Portugal, Spanyol, Belanda maupun Inggris sehingga kemakmuran rakyatnya terus meningkat. Wilayah kekuasaan Tidore cukup luas, meliputi Pulau Seram, sebagian Halmahera, Raja Ampat, dan sebagian Papua. Pengganti Sultan Nuku adalah adiknya, Sultan Zainal Abidin. Ia juga giat menentang Belanda yang berniat menjajah kembali Kepulauan Maluku.
Aspek Kehidupan Ekonomi dan Sosial
Sebagai kerajaan yang bercorak Islam, masyarakat Tidore dalam kehidupan sehari-harinya banyak menggunakan hukum Islam. Hal itu dapat dilihat pada saat Sultan Nuku dari Tidore dengan De Mesquita dari Portugal melakukan perdamaian dengan mengangkat sumpah di bawah kitab suci Al-Qur’an.
Putra Sultan Tidore bersama seorang controleur dan seorang warga Belanda (sekitar tahun 1900).[1]
Kemunduran Kesultanan Tidore disebabkan karena diadu domba dengan Kesultanan Ternate yang dilakukan oleh bangsa asing (Spanyol dan Portugis) yang bertujuan untuk memonopoli daerah penghasil rempah-rempah tersebut. Setelah Sultan Tidore dan Sultan Ternate sadar bahwa mereka telah diadu Domba oleh Portugal dan Spanyol, mereka kemudian bersatu dan berhasil mengusir Portugal dan Spanyol ke luar Kepulauan Maluku. Namun kemenangan tersebut tidak bertahan lama sebab VOC yang dibentuk Belanda untuk menguasai perdagangan rempah-rempah di Maluku berhasil menaklukkan Ternate dengan strategi dan tata kerja yang teratur, rapi dan terkontrol dalam bentuk organisasi yang kuat.
Daftar Raja dan Sultan Tidore
Istana Kesultanan Tidore (Kadato Kie) di Tidore.Singgasana Sultan dan Permaisuri TidorePresidenJoko Widodo mendapat plakat setelah menerima anugerah gelar adat dari Sultan Husein Syah di Istana Kesultanan Tidore, 8 Mei2015[2].
Kolano Syahjati alias Muhammad Naqil bin Jaffar Assidiq
Kolano Bosamawange
Kolano Syuhud alias Subu
Kolano Balibunga
Kolano Duko adoya
Kolano Kie Matiti
Kolano Seli
Kolano Matagena
1334-1372: Kolano Nuruddin
1372-1405: Kolano Hasan Syah
1495-1512: Sultan Ciriliyati alias Djamaluddin
1512-1526: Sultan Al Mansur
1526-1535: Sultan Amiruddin Iskandar Zulkarnain
1535-1569: Sultan Kiyai Mansur
1569-1586: Sultan Iskandar Sani
1586-1600: Sultan Gapi Baguna
1600-1626: Sultan Mole Majimo alias Zainuddin
1626-1631: Sultan Ngora Malamo alias Alauddin Syah; memindahkan pemerintahan dan mendirikan Kadato (Istana) Biji Negara di Toloa
1631-1642: Sultan Gorontalo alias Saiduddin
1642-1653: Sultan Saidi
1653-1657: Sultan Mole Maginyau alias Malikiddin
1657-1674: Sultan Saifuddin alias Jou Kota; memindahkan pemerintahan dan mendirikan Kadato (Istana) Salero di Limau Timore (Soasiu)
1674-1705: Sultan Hamzah Fahruddin
1705-1708: Sultan Abdul Fadhlil Mansur
1708-1728: Sultan Hasanuddin Kaicil Garcia
1728-1757: Sultan Amir Bifodlil Aziz Muhidin Malikul Manan
1757-1779: Sultan Muhammad Mashud Jamaluddin
1780-1783: Sultan Patra Alam
1784-1797: Sultan Hairul Alam Kamaluddin Asgar
1797-1805: Sultan Syaidul Jehad Amiruddin Syaifuddin Syah Muhammad El Mab’us Kaicil Paparangan Jou Barakati Nuku
1805-1810: Sultan Zainal Abidin
1810-1821: Sultan Motahuddin Muhammad Tahir
1821-1856: Sultan Achmadul Mansur Sirajuddin Syah; pembangunan Kadato (Istana) Kie
1856-1892: Sultan Achmad Syaifuddin Alting
1892-1894: Sultan Achmad Fatahuddin Alting
1894-1906: Sultan Achmad Kawiyuddin Alting alias Shah Juan; setelah wafat, terjadi konflik internal (Kadato Kie dihancurkan) hingga vakumnya kekuasaan