Tockus ruahae atau yang juga dikenal sebagai julang paruh-merah tanzania adalah spesies burung rangkong dari keluarga Bucerotidae. Burung ini berada di Tanzania bagian tengah dan ditemukan oleh Robert Glen dan Sue Stolberger di Taman Nasional Ruaha.[1][2] Kelima burung julang paruh merah ini sebelumnya dianggap sebagai spesies yang sama.[3]
Deskripsi
Rangkong ini merupakan salah satu rangkong terkecil. Rangkong dewasa memiliki kepala berwarna abu-abu kecokelatan dan leher abu-abu dengan penutup telinga bergaris putih. Rangkong ini memiliki garis putih lebar di belakang mata, bergaris abu-abu tipis, dari atas mata hingga tengkuk. Punggungnya berwarna hitam dengan garis putih di tengah dan bagian bawahnya berwarna putih. Bulu penutupnya berwarna cokelat jelaga, masing-masing dengan bintik putih besar di tengah, dan bulu penutup sekunder yang lebih besar sebagian besar berwarna putih.
Bulu terbangnya berwarna hitam dengan bintik-bintik putih kecil di bulu primer tengah, bulu sekunder luar berwarna hitam, bulu sekunder dalam berwarna putih dengan dasar hitam, bulu penutupnya berwarna cokelat tua dengan tepi krem yang sempit.
Paruhnya berwarna merah dengan dasar kuning yang sempit. Matanya berwarna kuning dengan kulit hitam di sekitar mata dan kulit wajah berwarna merah muda. Kaki dan telapak kakinya berwarna abu-abu.
Rangkong muda akan terlihat sama dengan rangkong dewasa, tetapi paruhnya akan berubah warna menjadi sama dengan rangkong dewasa dalam waktu satu tahun. Rangkong muda akan sama dengan rangkong dewasa, tetapi matanya berwarna abu-abu, yang akan berubah menjadi cokelat seiring bertambahnya usia. Paruhnya agak kecil, tetapi lebih oranye dengan bercak hitam di pangkal rahang bawah pada kedua jenis kelamin. Penutup sayapnya berwarna krem bertepi halus.[4]
Panggilannya adalah serangkaian suara kotek yang dimulai dengan nada tunggal, kemudian menjadi lebih keras dan lebih tegas, dengan nada ganda.[5]
Sebaran dan habitat
Julang paruh-merah tanzania dapat ditemukan di Tanzania bagian tengah. Ia biasanya ditemukan beristirahat atau bersarang di pepohonan di hutan atau sabana, tempat makanannya melimpah.[6]
Burung ini ditemukan sabana terbuka berhutan dengan tutupan tanah yang jarang, terutama di area yang sering diinjak-injak oleh hewan buruan atau ternak. Ia secara umum ditemukan di dataran banjir aluvial dengan pepohonan besar sesekali, dan di hutan mopane (Colophospermum mopane). Burung julang ini berkeliaran ke habitat yang lebih terbuka di musim kemarau.[4]
Perilaku
Rangkong ini biasanya bersifat teritorial, ditemukan berpasangan atau dalam kelompok keluarga kecil, tetapi dapat berkumpul dalam kawanan di musim kemarau. Ia menghabiskan banyak waktu berlarian di tanah, dan secara teratur berjemur serta mandi debu. Ia dikenal terbang dengan mengepakkan sayap dan meluncur langsung, kembali bertengger di pohon-pohon dekat batang pohon atau cabang-cabang besar, dan kembali ke tempat bertengger favoritnya di wilayah perkembangbiakan musim panas setiap malam.[4]
Makanan
Burung ini sebagian besar memakan serangga, mamalia kecil, dan jarang, biji-bijian dan buah-buahan.[4]
Sebagian besar makanan diambil dari tanah dengan cara menggali tanah gembur, detritus, atau kotoran herbivora menggunakan paruhnya. Ia jarang mengejar mangsa dengan berjalan kaki, tetapi terutama memakan serangga kecil, terutama kumbang, semut, rayap, atau lalat beserta telur atau larvanya. Di musim panas, makanannya sering kali dilengkapi dengan artropoda yang lebih besar, termasuk belalang, kelabang, rayap alate, kalajengking, dan laba-laba unta. Terkadang ia memakan vertebrata kecil, termasuk reptil, bahkan telur dan anak burung (misalnya, burung pentet dada-merah dan quelea paruh-merah), atau mengais bangkai hewan pengerat. Mereka terkadang memakan biji-bijian dan buah-buahan kecil, misalnya pohon gembala (Boscia spp.) dan pohon gabus (Commiphora spp.).[4]
Perkembangbiakan
Julang paruh-merah tanzania adalah burung monogami, penyendiri, dan teritorial. Jantan dan betina beraksi bersama-sama, mengangguk-angguk ke atas dan ke bawah dengan kepala tertunduk dan sayap menempel erat pada tubuh.
Mereka akan bersarang di rongga alami di pohon, setinggi 0,3–9 m. Betina akan memeriksa lubang sarang dan seringkali diberi makan dan dibawakan oleh pejantan untuk proses pacaran. Pintu masuk sarang seringkali hanya selebar 30–40mm, ditutup oleh betina dari dalam, menggunakan kotorannya sendiri, untuk menyempitkan celah vertikal selebar 10–15mm. Diameter rongga sarang 200–250mm. Kebanyakan sarang memiliki lubang keluar di atas ruang utama. 2-7 butir telur akan diletakkan dalam interval 2-4 hari. Betina akan tetap berada di sarang selama masa inkubasi dan diberi makan oleh pejantan.
Betina meninggalkan sarang ketika anak burung tertua berusia 16-24 hari dan membantu pejantan mengantarkan makanan. Anak-anak burung akan menutup kembali pintu masuk sarang. Masa bersarang adalah 39-50 hari dan kemudian anak burung rangkong tetap bersembunyi di dekat sarang selama beberapa hari setelah terbang sebelum bergabung dengan burung dewasa untuk mencari makan.[4]