Dalam matematika, teorema sisa Tiongkok menyatakan bahwa jika diketahui sisa pembagian suatu bilangan bulat oleh beberapa bilangan bulat, maka dapat diketahui sisa pembagian oleh darab dari bilangan-bilangan bulat tersebut, dengan syarat bahwa setiap pasang pembaginyasaling prima (atau dengan kata lain, tidak ada dua pembagi yang memiliki faktor persekutuan selain 1 maupun -1).[1]
Rumusan asli Sunzi: x≡ 2 (mod 3)≡ 3 (mod 5)≡ 2 (mod 7)memiliki penyelesaianx = 23+105k,dengan k adalah bilangan bulat
Teorema ini juga dikenal sebagai teorema Sunzi. Kedua nama dari teorema ini merujuk kepada pernyataan yang pertama kali muncul dalam Sunzi Suanjing, sebuah manuskrip Tiongkok yang ditulis pada abad ke-3 hingga abad ke-5 Masehi. Pernyataan pertama ini terbatas pada contoh berikut:
Jika diketahui
sisa pembagian dari ketika dibagi oleh ialah ,
sisa pembagian dari ketika dibagi oleh ialah , dan
sisa pembagian dari ketika dibagi oleh ialah
maka dapat ditentukan sisa pembagian dari ketika dibagi oleh (darab dari , , dan ) tanpa mengetahui nilai . Dalam contoh ini, sisa pembagiannya ialah . Lebih lanjut, sisa pembagian ini merupakan satu-satunya nilai positif yang kurang dari .
Teorema sisa Tiongkok banyak digunakan untuk perhitungan bilangan bulat yang besar, sebab teorema ini memungkinkan untuk mengganti perhitungan yang diketahui batas dari ukuran hasilnya dengan beberapa perhitungan serupa pada bilangan-bilangan bulat yang kecil.
Teorema sisa Tiongkok (saat diekspresikan menggunakan kekongruenan) juga berlaku pada setiap daerah ideal utama. Teorema ini telah diperumum untuk sembarang gelanggang, dengan perumusan yang melibatkan ideal dua sisi.
Pernyataan dari masalah ini muncul pertama kali dalam buku abad ke-5 Sunzi Suanjing karya matematikawan Tiongkok Sunzi.[3]
Ada beberapa benda yang jumlahnya tidak diketahui. Jika dihitung dengan kelipatan tiga, tersisa dua; dengan kelipatan lima, tersisa tiga; dan dengan kelipatan tujuh, tersisa dua. Berapa banyak benda tersebut?[4]
Hasil Sunzi tidak akan dianggap sebagai teorema menurut standar modern, sebab Sunzi hanya memberikan satu masalah spesifik tanpa menunjukkan cara menyelesaikannya maupun bukti dari kasus umum atau algoritma umum untuk menyelesaikan masalah tersebut.[5] Algoritma pertama untuk menyelesaikan masalah ini pertama kali dideskripsikan oleh Aryaphata (abad ke-6).[6] Kasus khusus dari teorema sisa Tiongkok juga diketahui oleh Brahmagupta (abad ke-7) dan muncul pada karya Fibonacci tahun 1202, Liber Abaci.[7] Hasil tersebut kemudian diperumum menjadi solusi utuh yang disebut Da-yan-shu (大衍術code: zh is deprecated ) dalam karya Qin Jiushao tahun 1247, Risalah Matematika dalam Sembilan Bab[8] yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris pada awal abad ke-19 oleh misionaris asal Britania Raya, Alexander Wylie.[9]
Misalkan adalah bilangan bulat sedemikian sehingga untuk setiap . Jika setiap koprima pasang demi pasang, maka terdapat tepat satu bilangan bulat sedemikian sehingga
nilai , dan
sisa pembagian dari oleh ialah untuk setiap .
Sistem kekongruenan simultan
Teorema sisa Tiongkok juga dapat dinyatakan dengan menggunakan kekongruenan
Teorema—Misalkan , , , menyatakan sembarang bilangan asli lebih . Didefinisikan . Jika dengan , maka untuk sembarang bilangan-bilangan bulat , , , , , sistem kekongruenan linier
memiliki penyelesaian, dan setiap dua penyelesaian dari sistem tersebut akan kongruen dalam modulo . Dengan kata lain, jika dan merupakan penyelesaian dari sistem tersebut, maka berlaku .[11]
Isomorfisma gelanggang
Teorema—Misalkan , , , menyatakan sembarang bilangan asli lebih . Didefinisikan . Jika dengan , maka pemetaan
Berdasarkan sudut pandang ini, maka untuk melakukan serangkaian operasi aritmetika pada , teorema sisa Tiongkok memungkinkan untuk melakukan perhitungan serupa pada masing-masing lalu memperoleh hasil akhirnya dengan menerapkan isomorfismanya (dari kanan ke kiri). Proses ini mungkin saja jauh lebih cepat dibandingkan perhitungan langsung, jika nilai dan banyaknya operasi cukup besar.
Bukti
Kewujudan dan ketunggalan penyelesaian dapat dibuktikan secara terpisah. Akan tetapi, bukti pertama dari aspek kewujudan penyelesaian (lihat di bawah) akan memanfaatkan informasi ketunggalan penyelesaian.
Ketunggalan
Misalkan dan merupakan penyelesaian dari sistem kekongruenan linier yang diberikan. Oleh karena dan memiliki sisa pembagian yang sama ketika dibagi oleh , maka selisih antar keduanya (yaitu ) merupakan kelipatan dari , untuk sembarang . Diketahui bahwa koprima dengan untuk setiap , maka juga merupakan faktor dari , sehingga dan akan kongruen dalam modulo . Jika dan bernilai nonnegatif dan kurang dari (seperti pada isi pernyataan pertama), maka haruslah bernilai .
Kewujudan (bukti pertama)
Perhatikan bahwa pemetaan
memetakan kelas-kelas kekongruenan modulo ke barisan kelas-kelas kekongruenan modulo . Bukti ketunggalan menunjukkan bahwa pemetaan tersebut bersifat injektif. Oleh karena domain dari pemetaan tersebut memiliki kardinalitas yang sama dengan kodomainnya, maka pemetaan tersebut juga bersifat surjektif, sehingga penyelesaiannya terjamin ada.
Pembuktian ini cukup sederhana, tetapi tidak menyediakan metode atau cara untuk mencari penyelesaiannya. Selain itu, pembuktian ini tidak dapat diperumum ke situasi lain, berbeda dengan kedua bukti berikut.
Kewujudan (bukti kedua)
Kewujudan penyelesaian dari sistem kongruensinya dapat dilakukan dengan konstruksi bilangan secara eksplisit.[13] Konstruksi ini melibatkan dua langkah berbeda, yaitu penyelesaian untuk kasus dua moduli, kemudian memperumum penyelesaian tersebut untuk sembarang moduli menggunakan induksi matematika.
Diberikan sistem kekongruenan linier
dengan koprima dengan . Berdasarkan identitas Bézout, maka terdapat bilangan bulat dan sedemikian sehingga
Nilai dari dan dapat dicari dengan menggunakan algoritma Euclid diperluas.
Pandang bilangan
Perhatikan bahwa
yang menunjukkan bahwa merupakan penyelesaian dari sistem yang diberikan.
Sekarang tinjau sistem kekongruenan linier
dengan untuk setiap . Telah ditunjukkan sebelumnya bahwa dua kekongruenan pertama memiliki suatu penyelesaian, yaitu . Himpunan penyelesaian dari dua kekongruenan pertama ini ialah himpunan semua bilangan bulat yang memenuhi
Oleh karena koprima dengan setiap lainnya, maka sistem kekongruenannya tereduksi menjadi kekongruenan simultan, yaitu
Penyelesaian sistemnya akan diperoleh dengan melakukan iterasi serupa yang berulang sebanyak kali.
Kewujudan (bukti ketiga)
Untuk mengonstruksikan penyelesaian, induksi pada banyaknya moduli tidaklah diperlukan. Namun, konstruksi langsung semacam ini akan melibatkan perhitungan yang lebih rumit dengan bilangan besar, yang membuat metode ini kurang efisien serta jarang digunakan. Walaupun demikian, interpolasi Lagrange merupakan kasus khusus dari konstruksi ini, yang diterapkan pada polinomial alih-alih bilangan bulat.
Misalkan menyatakan darab dari semua moduli selain . Oleh karena setiap koprima pasang demi pasang, maka akan koprima dengan . Berdasarkan identitas Bézout, maka terdapat suatu bilangan bulat dan sedemikian sehingga
Pandang bilangan
Jika , maka berdasarkan definisi dari , perhatikan bahwa merupakan kelipatan dari . Akibatnya,
untuk setiap , sehingga merupakan penyelesaian dari sistem yang diberikan.
Dauben, Joseph W. (2007), Katz, Victor J. (ed.), The Mathematics of Egypt, Mesopotamia, China, India and Islam: A Sourcebook[Matematika Mesir, Mesopotamia, Tiongkok, India dan Islam: Buku Sumber] (dalam bahasa Inggris), Princeton University Press, hlm.187–384, ISBN978-0-691-11485-9
Duchet, Pierre (1995). "Hypergraphs". Dalam Graham, R. L.; Grötschel, M.; Lovász, L. (ed.). Handbook of combinatorics[Buku pegangan kombinatorika] (dalam bahasa Inggris). Vol.1. Amsterdam: Elsevier. hlm.381–432. MR1373663.. Lihat Bagian 2.5, "Sifat Helly", hlm.393–394.
Gauss, Carl Friedrich (1986). Disquisitiones Arithemeticae (dalam bahasa Inggris). Diterjemahkan oleh Clarke, Arthur A. (Edisi kedua, telah diperbaiki). New York: Springer. ISBN0-387-96254-9.
Ireland, Kenneth; Rosen, Michael (1990), A Classical Introduction to Modern Number Theory[Pengantar Klasik menuju Teori Bilangan Modern] (dalam bahasa Inggris) (Edisi ke-2), Springer-Verlag, ISBN0-387-97329-X
Libbrecht, Ulrich (1973), Chinese Mathematics in the Thirteenth Century: the "Shu-shu Chiu-chang" of Ch'in Chiu-shao[Matematika Tiongkok Abad Tiga Belas: "Shu-shu Chiu-chang" karya Ch'in Chiu-shao] (dalam bahasa Inggris), Dover Publications Inc, ISBN978-0-486-44619-6
Rosen, Kenneth H. (1993), Elementary Number Theory and its Applications[Teori Bilangan Elementer beserta Penerapannya] (dalam bahasa Inggris) (Edisi ke-3), Addison-Wesley, ISBN978-0201-57889-8
Sengupta, Ambar N. (2012), Representing Finite Groups, A Semisimple Introduction[Merepresentasikan Grup Hingga, Pengantar Semisederhana] (dalam bahasa Inggris), Springer, ISBN978-1-4614-1232-8
Knuth, Donald (1997), The Art of Computer Programming[Seni Pemrograman Komputer] (dalam bahasa Inggris), vol.2: Seminumerical Algorithms (Edisi ketiga), Addison-Wesley, ISBN0-201-89684-2. Lihat Bagian 4.3.2 (hlm.286–291), latihan 4.6.2–3 (halaman 456).