ENSIKLOPEDIA
Tata cara berperang dalam perang salib
Perang Salib, dengan ciri khasnya pada sistem perekrutan, logistik, dan strategi, merupakan elemen pusat dari gerakan Perang Salib sejak awal mulanya di akhir abad ke-11.[1]
Latar belakang

Awal mula gerakan Perang Salib dipicu oleh seruan Paus Urbanus II di Konsili Clermont pada 27 November 1095, yang mengajak untuk melakukan ekspedisi militer demi melindungi umat Kristen Timur dari kekuasaan Muslim yang saat itu ada di bawah kepemimpinan Turki Seljuk.[2][3] Di periode ini, karakter peperangan di Eropa Barat ditentukan oleh tanah sebagai sumber kekayaan utama, kapasitas struktur pemerintahan yang masih terbatas, kendala teknologi yang umumnya lebih menguntungkan pihak bertahan daripada penyerang, serta faktor geografis dan iklim.[4]
Rencana Paus Urbanus II benar-benar belum pernah ada sebelumnya, di mana ia mengobarkan perang suci yang menurutnya direstui Tuhan dan menjanjikan imbalan spiritual bagi siapa saja yang mau angkat senjata demi iman mereka. Rencana tersebut mendapatkan respon dari para kritikusnya, Sigebert dari Gembloux, langsung menyadari bahwa Urban berniat mengubah pasukan duniawi (militia mundi) menjadi tentara Allah (militia Dei).[5]
Melanjutkan penjelasan pada akhir abad ke-11, hampir dua pertiga wilayah Kristen kuno sudah dikuasai oleh umat Muslim, termasuk kawasan-kawasan penting seperti Palestina, Suriah, Mesir, dan Anatolia. Perang Salib, yang diluncurkan untuk membendung perluasan wilayah ini, awalnya sempat membuahkan hasil dengan mendirikan negara Kristen di Palestina dan Suriah.[1] Namun, kekuatan negara-negara Islam yang terus tumbuh akhirnya berhasil membalikkan keadaan. Memasuki abad ke-14, Kesultanan Utsmaniyah (Turki Ottoman) sudah menancapkan pengaruhnya di Balkan dan masuk lebih dalam ke Eropa, meskipun berulang kali coba dihalau.[2][3]
Pada akhir abad ke-11 juga, kepausan berhasil memperkuat dominasinya di dunia Kristen Barat lewat Reformasi Gregorian, sebuah gerakan radikal yang bertujuan untuk membebaskan Gereja dari campur tangan penguasa sekuler (kaum awam). Karena para penguasa sekuler sudah lama mengklaim hak untuk melantik pejabat gereja, reformasi ini memicu ketegangan hebat antara otoritas gereja dan penguasa duniawi, yang paling jelas terlihat dalam Kontroversi Pelantikan (Investiture Controversy). Paus-paus reformis seperti Leo IX dan Gregory VII mengerahkan pasukan militer untuk melawan musuh-musuh mereka, atau untuk menghadapi penguasa Muslim di Iberia dan Sisilia. Langkah ini pun kembali membangkitkan minat terhadap teologi perang dalam Kristen.[6][7]
Dasar pemikiran teologi ini berakar dari ajaran Agustinus, seorang teolog Romawi akhir. Ia berpendapat bahwa konflik bersenjata bisa dikategorikan sebagai perang yang adil (just war) jika diumumkan oleh otoritas yang sah demi tujuan yang benar, seperti membela diri atau merebut kembali aset yang dirampas.[8] Selain itu, perang tersebut harus dilakukan dengan batasan yang jelas dan hanya menjadi jalan terakhir setelah semua upaya damai menemui jalan buntu. Di bawah kepemimpinan kepausan yang reformis ini, para teolog lebih jauh berargumen bahwa paus, sebagai wakil Tuhan di bumi, sah secara hukum untuk merestui perang. Mereka juga menyatakan bahwa siapa pun yang maju berperang dengan niat yang murni sebenarnya sedang melakukan sebuah tindakan kasih.[9]
Pada abad pertengahan, dunia Kristen Barat terdiri atas berbagai entitas politik yang terpisah. Kekaisaran Romawi Suci dan Kerajaan Prancis, yang berkembang dari pecahan Kekaisaran Karoling, terbagi ke dalam sejumlah wilayah dengan tingkat otonomi yang berbeda-beda. Di Prancis terdapat wilayah seperti Normandia, Flandria, dan Anjou, sementara di kawasan Jerman terdapat pemecahan wilayah distrik seperti Saxonia dan Bavaria. Selain itu, kawasan Eropa Barat dan Tengah juga mencakup sejumlah kerajaan Katolik lainnya, termasuk Inggris, Denmark, Polandia, Hungaria, Sisilia, Aragon, dan Leon-Kastila.[10]
Setelah runtuhnya Kekaisaran Karoling, muncul kelompok elite militer yang berasal dari berbagai latar belakang sosial. Sebagian berasal dari keluarga bangsawan, sementara lainnya berasal dari kalangan prajurit yang memperoleh kedudukan melalui dinas militer. Kelompok ini dikenal sebagai ksatria, yakni pasukan berkuda berat yang memainkan peran penting dalam peperangan pada masa itu. Dalam perkembangannya, gereja turut memengaruhi nilai dan norma yang dianut oleh para ksatria melalui konsep kesatriaan (chivalry), yang menekankan pengabdian kepada agama, perlindungan terhadap kelompok rentan, serta pembatasan penggunaan kekerasan di antara sesama umat Kristen.[11][12]
Sementara itu, kawasan Mediterania tetap mempertahankan tradisi perkotaan yang relatif kuat dibandingkan wilayah Eropa lainnya. Meningkatnya perdagangan jarak jauh sejak awal abad ke-11 turut mendorong pertumbuhan sejumlah kota pelabuhan, seperti Venesia, Pisa, Genoa, dan Marseille.[13] Kota-kota tersebut kemudian berkembang menjadi pusat perdagangan dan pelayaran yang berpengaruh di kawasan Mediterania.
Gerakan Perang Salib
Seruan Paus Urbanus untuk membebaskan Yerusalem memicu antusiasme yang meluas di berbagai lapisan masyarakat abad pertengahan. Gerakan ini tidak hanya memobilisasi para ksatria, tetapi juga ribuan rakyat jelata yang tidak bersenjata.
Perang Salib pertama
Kelompok rakyat jelata ini berangkat lebih awal pada tahun 1096, melakukan aksi kekerasan anti-Yahudi di Eropa Tengah, dan mengalami kerugian yang sangat besar. Banyak dari mereka yang tidak pernah sampai ke Anatolia, sementara kelompok yang berhasil mencapainya habis dibantai oleh pasukan Turkoman dalam Pertempuran Civetot.[14][15]

Pasukan utama yang terdiri dari para ksatria baru berangkat belakangan pada tahun 1096 di bawah pimpinan tokoh-tokoh seperti Godefroy dari Bouillon, Raymond dari Saint-Gilles, dan Bohemond dari Taranto. Melalui kerja sama dengan Kekaisaran Bizantium, mereka berhasil meraih kemenangan besar atas pasukan Turkoman di Nicea, Dorylaeum, dan Antiokhia. Mereka merebut Yerusalem pada 15 Juli 1099 dan mengalahkan pasukan Kekhalifahan Fatimiyah di Ascalon tidak lama kemudian. Meskipun awalnya berjanji untuk mengembalikan wilayah yang ditaklukkan kepada Bizantium, para tentara salib justru mendirikan wilayah kekuasaan mereka sendiri, yaitu wilayah Edessa, Kepangeranan Antiokhia, dan Kerajaan Yerusalem.[16][17]
Perluasan gerakan
Seiring berjalannya waktu, Perang Salib berkembang menjadi sebuah gerakan yang makin terinstitusionalisasi dengan hak-hak istimewa tertentu, terutama indulgensi (pengampunan dosa) Perang Salib, serta metode pendanaan, khotbah, dan perekrutan yang kian terorganisasi. Paus Urbanus II sebelumnya telah menetapkan preseden bagi Perang Salib regional dengan memberikan imbalan spiritual kepada umat Kristen di Iberia yang bertempur demi merebut kota Tarragona. Keberhasilan di Syam (Levant) menginspirasi ekspedisi-ekspedisi baru, termasuk Perang Salib 1101 dan pembentukan wilayah Tripoli yang dibantu oleh kekuatan maritim Italia.
Perkembangan krusial dalam gerakan ini adalah kemunculan ordo-ordo militer. Komunitas monastik (biara) ini memadukan kaul tradisional umat Kristen, yaitu kemiskinan, kesucian diri, dan ketaatan, dengan komitmen untuk membela dunia Kristen. Ksatria Templar (Knights Templar), yang didirikan sekitar tahun 1119 di bawah pimpinan Hugues de Payens, merupakan ordo militer pertama. Bernard dari Clairvaux, seorang abas (kepala biara) Cistercian yang berpengaruh, menyusun aturan ordo ini dan berhasil mendapatkan pengakuan resmi dari paus. Sementara itu, Ksatria Hospitaller (Knights Hospitaller), yang awalnya merupakan lembaga amal, mulai mengambil alih fungsi-fungsi militer pada dekade 1130-an.[18]
Jatuhnya Edessa (The Fall of Edessa)

Peristiwa jatuhnya Edessa ke pihak Turkoman, Zengi, pada tahun 1144 memicu Perang Salib Kedua yang dipimpin oleh Konrad III dari Jerman dan Louis VII dari Prancis. Paus Eugenius III, yang dipengaruhi oleh Bernard dari Clairvaux, memperluas hak-hak istimewa Perang Salib ke kampanye militer melawan suku Wend yang menganut paganisme, yang sekaligus memulai Perang Salib Utara.[19] Kegagalan ekspedisi ini melemahkan antusiasme terhadap Perang Salib dan mempermudah penyatuan wilayah Muslim di Suriah dan Mesir di bawah komando panglima suku Kurdi, Saladin (Shalahuddin al-Ayyubi).[20] Kemenangan Saladin atas pasukan Yerusalem dalam Pertempuran Hattin pada tahun 1187 membuka jalan bagi penaklukan kilat terhadap sebagian besar wilayah kekuasaan Tentara Salib. Perang Salib Ketiga, yang dipimpin oleh Richard I dari Inggris dan Philip II dari Prancis, berhasil merebut kembali sebagian wilayah pesisir, tetapi gagal merebut Yerusalem.[21] Para ksatria Jerman yang tetap tinggal di Tanah Suci setelah perang tersebut kemudian mendirikan ordo militer baru, yaitu Ksatria Teutonik (Teutonic Knights).[22]
Sejak akhir abad ke-12, Perang Salib terjadi di antara sesama umat Kristiani yang tujuannya berfokus melawan para penguasa Kristen, termasuk Alfonso IX dari León dan Markward dari Anweiler.[23] Pengalihan rute Perang Salib Keempat ke Konstantinopel pada tahun 1203 berujung pada berdirinya Kekaisaran Latin di bekas wilayah Bizantium.[24] Pada tahun 1209, Paus Inosensius III mengobarkan Perang Salib Albigensia untuk melawan kaum Katar (Cathars), sebuah gerakan dualisme yang menolak otoritas kepausan.[25] Di Iberia, kemenangan tentara salib dalam Pertempuran Las Navas de Tolosa (1213) menjadi titik balik yang krusial.[26] Sebaliknya, Perang Salib di wilayah Syam membuahkan hasil yang buruk bagi umat Kristiani, yakni Perang Salib Kelima gagal di Mesir (1221), Perang Salib Keenam sempat merebut kembali Yerusalem melalui jalur negosiasi, namun hanya untuk sementara waktu sedangkan Perang Salib Ketujuh dan Perang Salib Kedelapan yang dipimpin oleh Louis IX dari Prancis berakhir dengan kekalahan.[27]
Akhir Perang Salib
Setelah mengalahkan bangsa Mongol pada dekade 1260-an, Kesultanan Mamluk bangkit menjadi kekuatan Muslim utama di Timur Tengah dan berhasil mengakhiri keberadaan negara-negara Tentara Salib pada tahun 1291.[28] Kejatuhan wilayah-wilayah tersebut sempat menginspirasi berbagai rencana untuk merebut kembali Tanah Suci. Namun, tidak ada ekspedisi besar yang terlaksana karena otoritas kepausan mulai merosot akibat konflik dengan Prancis, yang kemudian berujung pada kendali Prancis atas Kepausan Avignon. Kendati demikian, Perang Salib anti-Muslim tetap berlanjut di kawasan Mediterania dan Eropa Tenggara melalui pembentukan "liga suci" untuk melawan angkatan laut Muslim, serta melawan Kekaisaran Ottoman sejak akhir abad ke-14.[29] Di Iberia, Perang Salib berakhir pada tahun 1492 seiring dengan jatuhnya Keamiran Granada.[26]
Di kawasan Baltik, Ksatria Teutonik memimpin perang melawan kaum pagan sejak pertengahan abad ke-13, menaklukkan Prusia dan Livonia, serta mendirikan sebuah negara ordo. Ketika Preussenreisen (perjalanan ke Prusia) menjadi tren yang populer di kalangan ksatria sejak sekitar tahun 1300, para tentara salib dari seluruh Eropa Katolik berbondong-bondong bergabung dalam kampanye militer mereka. Namun, keputusan Lituania untuk memeluk agama Kristen setelah tahun 1386 melenyapkan landasan ideologis Perang Salib Utara. Di masa Reformasi Protestan, wilayah Prusia (1525) dan Livonia (1561) akhirnya disekularisasi.[30]
Indulgensi Perang Salib juga terkadang diberikan kepada musuh-musuh politik kepausan, termasuk kaum pemberontak Sisilia dan sekutu Aragon mereka setelah peristiwa Sicilian Vespers (Pemberontakan Vesper Sisilia). Kelompok-kelompok yang menolak doktrin utama Katolik, seperti kaum Hussit di Bohemia, juga menghadapi kampanye Perang Salib.[31] Perang melawan Ottoman yang direstui oleh paus terus berlanjut hingga akhir abad ke-17.[32]
Perekrutan tentara
Pasukan Perang Salib, sama seperti kesatuan militer abad pertengahan lainnya, sebagaimana dicatat oleh sejarawan Christopher Tyerman, direkrut melalui kombinasi antara antusiasme, loyalitas, ambisi, pemaksaan, dan uang. Tanggung jawab praktis terkait perekrutan dan komando pasukan umumnya berada di tangan para penguasa lokal dan elit regional. Orang-orang yang memiliki status atau keahlian profesional bertugas berdasarkan kesepakatan yang dinegosiasikan, sementara bawahan mereka wajib untuk mengikuti. Meskipun secara teori bersifat sukarela, pada praktiknya Perang Salib sangat bergantung pada jaringan hubungan vasal (ketundukan feodal), ikatan kekerabatan, identitas regional, hubungan komunitas, hierarki, serta daya tarik berupa upah, kenaikan pangkat, dan keuntungan material.[33]
Merekrut prajurit untuk melakukan perjalanan jauh yang sering kali menempuh jarak lebih dari 4.000 kilometer, memerlukan alasan yang jelas dan persuasif. Urbanus II mempresentasikan ekspedisi ini sebagai praelia sancta, sebuah perang suci yang diperintahkan oleh Tuhan. Pandangan ini tercermin dalam seruan Deus vult (Tuhan menghendakinya), yang menurut laporan dipekikkan berulang kali oleh massa setelah pidatonya di Clermont. Sejak sekitar tahun 1150, otoritas kepausan yang dipengaruhi oleh para ahli hukum kanonik mulai menyusun argumen hukum yang lebih formal. Salah satu tokoh tersebut, Inosensius III, menggambarkan Tanah Suci sebagai wilayah Kristen yang ditebus melalui pengorbanan Kristus dan telah dirampas secara tidak sah oleh umat Muslim, sebagaimana tertuang dalam bula Quia maior. Sementara itu, Perang Salib melawan kelompok Kristen sendiri dibenarkan sebagai langkah yang diperlukan untuk memulihkan perdamaian. Kaum pagan dianggap berada di luar hukum kodrat sehingga dipandang sebagai target penaklukan yang sah. Gagasan tentang pembalasan dendam atas tanah Kristen yang dirampas, penderitaan umat Kristen, dan pembunuhan para tentara salib, telah muncul sejak awal dalam narasi Perang Salib Pertama serta dalam surat-surat Bernard dari Clairvaux.[34]
Logistik
Sejak awal kemunculannya, Perang Salib telah berbeda dari sebagian besar kampanye militer pada masa itu karena adanya mobilisasi aksi yang terkoordinasi di berbagai wilayah yang luas. Rincian mengenai ekspedisi-ekspedisi besar diperdebatkan secara terbuka dalam pertemuan-pertemuan resmi, seperti di Vézelay dan Speyer sebelum Perang Salib Kedua, serta dalam dewan pemimpin di Soissons menjelang Perang Salib Keempat. Pasukan Perang Salib umumnya bergerak melalui jalur perdagangan dan rute ziarah yang sudah ada. Persiapan perang juga sering kali melibatkan pengiriman utusan atau pengintai untuk menyurvei medan operasi, seperti yang dilakukan oleh Godfrey dari Wiesenbach dan Henry dari Dietz dari Jerman, serta Richard Barre dari Inggris menjelang Perang Salib Ketiga.[35]
Pengalihan rute Perang Salib Keempat mendorong Paus Inosensius III untuk mengambil alih tanggung jawab langsung atas perencanaan strategis dan logistik dalam Konsili Lateran Keempat pada tahun 1215. Langkah ini menetapkan preseden bagi Konsili Lyon Pertama di bawah pimpinan Inosensius IV pada tahun 1245, serta bagi pengumpulan Konsili Lyon Kedua oleh Gregorius X pada tahun 1274. Kendati demikian, pengawasan kepausan terhadap Perang Salib sebenarnya terbatas. Hal ini terlihat dari kampanye militer yang dilancarkan oleh para prelat (pejabat tinggi gereja) dan warga kota Jerman melawan Livonia tanpa adanya persetujuan dari paus.[36][37]
Pihak yang menjadi musuh
Fatimiyah
Pada awal Perang Salib Pertama, pasukan Kekhalifahan Fatimiyah, yang berkekuatan lebih dari 20.000 personel, merupakan tentara reguler (standing force) terbesar di Timur Tengah. Jumlah pasukan dalam suatu kampanye militer dapat bertambah dengan adanya pasukan bantuan (auxiliaries) dan sukarelawan. Kendati demikian, kebutuhan untuk menjaga pos-pos garnisun biasanya membatasi jumlah tentara yang dikerahkan ke medan tempur melawan negara-negara Tentara Salib menjadi sekitar 12.000 orang. Pasukan kavaleri mereka sebagian besar terdiri dari orang-orang Kristen Armenia yang dipersenjatai dengan tombak atau lembing, pedang, gada atau kapak, dan belati. Baju zirah, termasuk zirah cincin (mail hauberks) dan zirah lempeng (lamellar cuirasses), diproduksi langsung di bengkel-bengkel kerja milik negara.[38]
Meskipun ada larangan berdagang dari pihak kepausan, Dinasti Fatimiyah tetap berhasil memperoleh pasokan senjata dari para pedagang Italia. Walaupun memiliki perlengkapan yang baik, pasukan kavaleri mereka umumnya menunjukkan moral bertempur yang lebih rendah dibandingkan dengan pasukan Franka.[39] Pasukan Fatimiyah juga rutin didukung oleh kavaleri ringan, terutama pasukan bantuan Turkoman yang dipasok oleh para penguasa Suriah seperti Toghtekin dari Damaskus. Namun, terbatasnya lahan penggembalaan membatasi pengerahan unit Turkoman dalam jumlah besar. Hal ini mendorong Fatimiyah untuk mempekerjakan kavaleri ringan Badawi, yang terkenal sering menyerang pihak yang kalah setelah pertempuran, bahkan terkadang menyerang pihak yang menyewa mereka sendiri.[38]
Perekrutan pasukan infanteri utamanya mengandalkan prajurit budak dan tentara bayaran dari wilayah subsahara Afrika, yang dikenal sebagai Sudānī (orang Sudan),[40] yang sebagian di antaranya beragama Kristen atau menganut kepercayaan tradisional. Selain itu, budak-budak dari Armenia dan Franka juga bertugas sebagai prajurit pejalan kaki. Pasukan berkulit hitam jarang mencapai pangkat tinggi, dan para penulis kontemporer masa itu, terutama Usama ibn Munqidh, sering kali melontarkan kritik rasis terhadap kemampuan militer mereka.
Rivalitas antara unit-unit infanteri yang ditempatkan di distrik-distrik Kairo yang berbeda, seperti unit Rayhānīya dan Juyūshī, bahkan bisa menyulut bentrokan hebat yang menimbulkan korban jiwa dalam jumlah besar. Pasukan infanteri Fatimiyah biasanya dipersenjatai dengan panah, gada, pentungan, tombak panjang (pikes), dan pedang. Pasukan berzirah ringan ditempatkan di posisi tengah dan sering kali ditugaskan untuk mengacaukan gerak maju pasukan ksatria Tentara Salib. Di belakang mereka berdiri pasukan tombak dan pemanah; pasukan tombak akan berlutut agar bidang tembak para pemanah tidak terhalang. Pasukan kavaleri berat kemudian akan maju menyerang melalui celah-celah di barisan infanteri, dengan dukungan dari kavaleri ringan yang diposisikan di sektor sayap atau belakang.[41] Sementara itu, armada laut Fatimiyah sebagian besar diawaki oleh para pelaut dari Sisilia dan Libya, bersama dengan pasukan dari suku Berber dan Arab.[40]
Negara-negara muslim Suriah
Kekuatan militer dari negara-negara Muslim di Suriah sebagian besar diambil dari suku nomaden Turkoman, kelompok yang dipandang dengan rasa takut sekaligus hina oleh penduduk yang menetap di perkotaan. Mereka utamanya merupakan pemanah berkuda yang sangat lincah dan berzirah ringan. Mereka menunggangi kuda poni berukuran kecil dan dilatih untuk mengacaukan formasi musuh atau melakukan serangan lintas batas yang mengganggu, meskipun kesatuan elit kavaleri berzirah berat juga terkadang diterjunkan ke medan laga.
Berbeda dengan masyarakat perkotaan di sekitarnya, masyarakat Turkoman tidak mengenal batas yang tegas antara prajurit dan warga sipil; sebagian besar penggembala diharapkan siap bertempur kapan pun dibutuhkan. Walaupun jumlah tenaga militer dari kaum nomaden ini sangat melimpah, pasukan semacam itu jarang dapat dipertahankan dalam suatu kampanye militer yang panjang, karena mereka cenderung membubarkan diri setelah operasi militer yang sukses selesai dilaksanakan.
Pasukan Muslim Suriah ini terdiri dari unit militer tetap yang disebut 'askar, baik dari suku Turkoman maupun Kurdi, dan didukung oleh tentara bayaran yang disewa. Suku Kurdi, secara khusus, memiliki reputasi yang sangat baik dalam hal kemampuan memainkan pedang yang luar biasa. Seiring dengan meningkatnya intensitas kontak dengan para ksatria Barat yang berzirah berat, peran dari kavaleri elit ini menjadi kian penting pada akhir abad ke-12.
Referensi
- 1 2 "Crusades | Definition, History, Map, Significance, & Legacy | Britannica". Encyclopedia Britannica (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2026-06-28.
- 1 2 Lloyd 2002, hlm. 35–37.
- 1 2 Lock 2006, hlm. 20.
- ↑ France 1999, hlm. 1.
- ↑ Tyerman 2015, hlm. 29–30, 303 (note 3).
- ↑ Jaspert 2006, hlm. 24–26.
- ↑ Phillips 2014, hlm. 18–19.
- ↑ Jaspert 2006, hlm. 15.
- ↑ Phillips 2014, hlm. 19.
- ↑ Jaspert 2006, hlm. 2–3.
- ↑ Jaspert 2006, hlm. 16–18.
- ↑ Backman 2022, hlm. 250–252.
- ↑ Backman 2022, hlm. 238–239.
- ↑ Lock 2006, hlm. 139–140.
- ↑ Barber 2004, hlm. 115–117.
- ↑ Barber 2004, hlm. 117–118.
- ↑ Lock 2006, hlm. 140–141.
- ↑ Phillips 2014, hlm. 67–74.
- ↑ Madden 2013, hlm. 50–59.
- ↑ Jaspert 2006, hlm. 73.
- ↑ Madden 2013, hlm. 72–91.
- ↑ Jotischky 2017, hlm. 219.
- ↑ Phillips 2014, hlm. 184.
- ↑ Lock 2006, hlm. 87, 160–161.
- ↑ Barber 2004, hlm. 168–174.
- 1 2 Madden 2013, hlm. 117.
- ↑ Jotischky 2017, hlm. 232–241, 247–253.
- ↑ Holt 2004, hlm. 86–92.
- ↑ Jaspert 2006, hlm. 58–61.
- ↑ Jaspert 2006, hlm. 125–131.
- ↑ Jaspert 2006, hlm. 137–143.
- ↑ Madden 2013, hlm. 194.
- ↑ Tyerman 2015, hlm. 127–128.
- ↑ Tyerman 2015, hlm. 29–40.
- ↑ Tyerman 2015, hlm. 231–238.
- ↑ Tyerman 2015, hlm. 240.
- ↑ Lock 2006, hlm. 91, 106, 118.
- 1 2 Tibble 2020, hlm. 217–219.
- ↑ Tibble 2020, hlm. 214–217.
- 1 2 Nicolle 1996, hlm. 58.
- ↑ Tibble 2020, hlm. 219–222.
Bibliografi
- Backman, Clifford R. (2022) [2009]. The Worlds of Medieval Europe (Edisi Fourth). Oxford University Press. ISBN 978-0-1975-7153-8.
- Barber, Malcolm (2004) [1992]. The Two Cities: Medieval Europe 1050–1320 (Edisi Second). Routledge. ISBN 978-0-4151-7415-2.
- Christiansen, Eric (1997) [1980]. The Northern Crusades (Edisi Second). Penguin Books. ISBN 978-0-14-026653-5.
- France, John (1999). Western Warfare in the Age of the Crusades, 1000–1300. Cornell University Press. ISBN 978-0-8014-3671-0.
- Holt, P. M. (2004). The Crusader States and their Neighbours. Pearson Education. ISBN 978-0-5823-6931-3.
- Irwin, Robert (2002) [1999]. "Islam and the Crusades, 1096–1699". Dalam Riley-Smith, Jonathan (ed.). The Oxford History of the Crusades. Oxford University Press. hlm. 211–257. ISBN 978-0-1928-0312-2.
- Jaspert, Nikolas (2006) [2003]. The Crusades. Routledge. ISBN 978-0-4153-5968-9.
- Jotischky, Andrew (2017) [2004]. Crusading and the Crusader States (Edisi Second). Routledge. ISBN 978-1-1388-0806-5.
- Lloyd, Simon (2002) [1999]. "The Crusading Movement, 1096–1274". Dalam Riley-Smith, Jonathan (ed.). The Oxford History of the Crusades. Oxford University Press. hlm. 35–67. ISBN 978-0-1928-0312-2.
- Lock, Peter (2006). The Routledge Companion to the Crusades. Routledge Companions to History. Routledge. doi:10.4324/9780203389638. ISBN 978-0-415-39312-6.
- Madden, Thomas F. (2013). The Concise History of the Crusades. Critical Issues in World and International History (Edisi Third). Rowman & Littlefield. ISBN 978-1-4422-1575-7.
- Nicolle, David (1996). Christian Europe and its Neighbours. Medieval Warfare Source Book. Vol. 2. Arms and Armour Press. ISBN 978-1-85409-307-3.
- Phillips, Jonathan (2014) [2002]. The Crusades, 1095–1204. Seminar Studies (Edisi Second). Routledge. ISBN 978-1-4058-7293-5.
- Tibble, Steve (2020) [2018]. The Crusader Armies. Yale University Press. ISBN 978-0-3002-5322-1.
- Tyerman, Christopher (2015). How to Plan a Crusade. Penguin Books. ISBN 978-0-2419-5465-2.