Sungai Siak memiliki tiga anak sungai besar yakni Sungai Tapung Kiri, Sungai Tapung Kanan, dan Sungai Mandau. Sungai Siak memiliki panjang kurang lebih mencapai 345km. Area Sungai yang dapat dilayari 240km. Di Sungai Siak juga hidup jenis reptil yakni buaya dan beberapa kali ditemukan oleh warga.[2][3][4][5]
Anak sungai
Sungai Siak memiliki beberapa anak sungai, di antaranya:
Sungai Siak memiliki nama lain yakni Sungai Jantan. Pada masa Kerajaan Siak Sri Indrapura, Sungai Siak menjadi sarana transportasi utama karena melintasi wilayah strategis perdagangan. Sungai Siak menjadi saksi kemajuan kota Pekanbaru dan kota Siak Sri Indrapura sampai saat ini.
Pada masa Kerajaan Siak Sri Indrapura, Sungai Siak dimaanfaatkan sebagai jalur transportasi untuk mengeluarkan hasil hutan dan rempah-rempah yang akan dibawa ke Selat Malaka. Keberadaan Sungai Siak digunakan sebagai alat transportasi dalam mendistribusikan hasil bumi dari pedalaman dan dataran tinggi Minangkabau ke wilayah pesisir di Selat Malaka. Pada abad ke-18, wilayah Senapelan, cikal bakal Kota Pekanbaru, di tepi Sungai Siak, menjadi pasar (pekan) bagi para pedagang dari dataran tinggi Minangkabau.[7]
Sungai ini adalah sudah terdalam di Indonesia, sehingga dapat dilalui oleh kapal-kapal besar seperti kapal tanker dan kapal peti kemas. Pada sehiliran sungai ini terdapat banyak pabrik di antaranya pabrik kelapa sawit, pabrik pengolahan kayu dan juga pabrik kertas.[8] Kedalamannya dahulu mencapai 30 meter, tetapi akibat pendangkalan kini tinggal sekitar 18 meter. Pendangkalan ini disebabkan oleh abrasi dan endapan yang dibawa oleh hulu Sungai Siak.
Sungai ini mengalir di wilayah tengah pulau Sumatra yang beriklim hutan hujan tropis (kode: Af menurut klasifikasi iklim Köppen-Geiger).[10] Suhu rata-rata setahun sekitar 23°C. Bulan terpanas adalah Oktober, dengan suhu rata-rata 25°C, and terdingin Januari, sekitar 22°C.[11] Curah hujan rata-rata tahunan adalah 2673mm. Bulan dengan curah hujan tertinggi adalah November, dengan rata-rata 418mm, dan yang terendah Januari, rata-rata 106mm.[12]
Ekologi dan lingkungan
Masyarakat sekitar Sungai Siak telah lama memanfaatkan sungai ini sebagai jalur pelayaran dan sumber perikanan, baik dengan memancing maupun menjala. Sebagai sungai terdalam di Indonesia, Sungai Siak juga banyak dilintasi oleh kapal tanker, kapal kayu, perahu cepat dan kapal peti kemas.
Pencemaran
Keadaan lingkungan sekitar Sungai Siak telah banyak berubah sejak perusahaan dan industri berdiri disekitar aliran Sungai Siak. Berdasarkan temuan dari tim Ekspedisi Sungai Nusantara (ESN) menemukan fakta bahwa Sungai Siak sudah tercemar bahan kimia klorin dan fosfat dan mikroplastik. Pada 2022, penelitian dilakukan ESN bersama Mahasiswa Pecinta Alam Fakultas Ekonomi Universitas Riau dan Badan Teritori Telapak Riau pada tanggal 1 - 3 Juli 2022.[13]
Pencemaran di Sungai Siak disebabkan oleh sampah plastik, kegiatan pertanian, limbah rumah tangga, limbah industri, dan peternakan. Sungai ini merupakan satu dari 15 sungai prioritas di Indonesia, yang melewati batas daya tampung beban pencemaran.[14]